Headline »

June 15, 2018 – 2:49 pm | Edit Post

Share this on WhatsApp
PERTANYAAN :
Bagaimana ya akhi hukum air sulingan dan air yang diberi kaporit.
Sherlock Hamdoen
JAWABAN :

Air Sulingan

Sebelumnya perlu dibedakan terlebih dahulu antara dzat najis dan dzat mutanajis. Dzat najis adalah yang murni najis, …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Headline, Majelis Ifta'

Nafkah dan Permasalahannya

Submitted by on December 26, 2017 – 1:48 am

Suami sebagai pemimpin rumah-tangga bertanggung jawab memenuhi kebutuhan anggota keluarganya. Di antara tugas penting yang wajib dipenuhi suami adalah memberikan nafkah yang layak bagi Istri. Dalam al Quran disebutkan:

{وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ} [البقرة: 233]

Dan kewajiban ayah memberi Makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. (QS al Baqarah: 233)

Nafkah adalah hak istri, ia boleh menuntut suami untuk memberikan nafkah. Suami berdosa jika mampu namun tidak mau memberikan nafkah.

Nafkah tidak wajib dengan akad melainkan dengan tamkin (penyerahan diri dari istri). Sebelum tamkin, nafkah tidak wajib. Rasulullah SAW menikahi Sayidatuna Aisyah ra yang berusia enam tahun, berhubungan ketika usianya sembilan tahun. Tidak dinukilkan bahwa Beliau SAW menafkahi Sayidah Aisyah ra sebelum itu. Jika nafkah wajib dengan akad, pastinya Beliau SAW akan memberikannya.

Yang dimaksud dengan tamkin adalah penyerahan diri istri sepenuhnya untuk melayani kebutuhan seksual suami dan untuk ditempatkan di tempat mana pun yang dikehendaki suami.

Istri bisa menyodorkan diri untuk tamkin kepada suami secara langsung, setelah itu suami wajib menafkahinya. Jika ia menyodorkan diri untuk tamkin kepada suami yang berada jauh, istri tidak berhak mendapatkan nafkah sampai suami atau wakilnya datang membawanya atau sampai berlalu jangka waktu yang cukup bagi suami untuk melakukan perjalanan mengambil istrinya.

Jika setelah akad istri tidak menawarkan diri untuk tamkin sampai berlalu waktu yang lama, ia tidak berhak menerima nafkah. Ini sebagaimana yang terjadi antara Nabi SAW dengan Sayidah Aisyah ra.

Tamkin bisa dilakukan dengan ucapan. Apabila istri belum baligh atau gila maka yang menyerahkan istri kepada suami adalah walinya.

Tamkin harus dilakukan dengan sepenuhnya. Seandainya istri hanya rela melayani kebutuhan seksual suami di malam hari saja, atau tidak sudi menempati tempat yang ditunjukan suami tanpa uzur, ia tidak berhak menerima nafkah. Jika istri menolak tempat yang ditunjuk suami karena tidak aman atau karena jalan menujunya tidak aman maka ia tetap wajib dinafkahi.

Istri yang melakukan tamkin wajib diberi nafkah jika mungkin untuk melayani aktivitas seksual suami walaupun dengan selain persetubuhan dan walaupun suaminya masih kecil. Jadi istri yang tidak bisa disetubuhi karena sakit, gila atau karena ada penghalang dalam organ genital jika telah tamkin wajib dinafkahi sebab suami masih bisa melakukan aktivitas seksual selain persetubuhan seperti meraba, memeluk atau lainnya. Berbeda jika istri masih kecil, belum layak untuk disetubuhi. Suami tidak wajib menafkahinya bahkan jika walinya menyerahkan kepadanya. Karena tidak mungkin bagi suami melakukan aktivitas seksual dengan anak kecil.

Waktu wajibnya nafkah

Nafkah wajib diberikan kepada istri setiap hari dengan terbitnya fajar. Bila istri taat pada suami di pagi hari maka ia berhak mendapatkan nafkah. Jika di pagi hari istri tidak tunduk pada suami (nusyuz), ia tidak berhak menerima nafkah walau pun kembali taat di siang hari.

Apabila suami ingin  melakukan perjalanan panjang, istri boleh meminta suami untuk meninggalkan nafkah yang cukup selama ia pergi. Jika tuntutan ini sampai kepada hakim, ia harus melarang suami pergi kecuali jika meninggalkan nafkah untuk istrinya atau mewakilkan orang untuk menafkahi atau menceraikannya. Membiarkan suami pergi jauh tanpa meninggalkan nafkah dapat membuat istri menderita, terlebih jika istrinya termasuk miskin, tidak ada yang menafkahi selain suaminya.

Ukuran Nafkah

Ukuran nafkah yang wajib dikeluarkan tergantung pada keadaan ekonomi suami. Jika suami tergolong tidak mampu maka yang wajib adalah memberikan satu mud (± 0,75 kg) makanan pokok yang umum di daerah istrinya bermukim bukan daerah suaminya bermukim. Jika suami tergolong kaya maka wajib memberikan dua mud (± 1,5 kg) dan jika termasuk golongan menengah wajib menyerahkan satu setengah mud (± 1,125 kg) makanan pokok. Adanya perbedaan ini berdasarkan firman Allah :

÷,ÏÿYã‹Ï9 rèŒ 7pyèy™ `ÏiB ¾ÏmÏFyèy™ ( `tBur u‘ωè% Ïmø‹n=tã ¼çmè%ø—Í‘ ÷,ÏÿYã‹ù=sù !$£JÏB çm9s?#uä ª!$# 4

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. (QS ath Thalaq: 7)

Jika istri masih kecil atau gila maka nafkah diberikan kepada walinya.

Pemberian makanan pokok beserta lauknya dihukumi wajib jika istri tidak makan bersama suami. Jika istri rela makan bersama suami setiap hari sebagaimana adatnya, maka suami tidak wajib memberi nafkah makanan. Hampir semua umat muslim dari masa Nabi SAW sampai kini menerima dan melakukan hal itu. Begitupula jika ada orang lain menyajikan makanan kepada keduanya sebagai penghormatan bagi suami, maka gugur kewajiban nafkah makanan.

Jika istri tidak rela namun dipaksa makan bersama suami, atau jika istri belum baligh atau gila makan bersama suami tanpa izin dari wali maka tidak gugur kewajiban nafkah suami. Ketika itu makanan yang diberikan suami dianggap pemberian sukarela yang tidak bisa dikembalikan.

Jika istri mengira makanan yang diberikan adalah hadiah sedangkan suami meniatkannya sebagai nafkah maka yang dibenarkan adalah suaminya.

LAUK

Selain berkewajiban memberikan makanan pokok seperti beras, suami juga wajib memberikan lauk yang sesuai dengan adat di daerah tersebut seperti samin, cuka, tempe, tahu, ikan dan lainnya. Ukuran dan bentuk lauk yang wajib disesuaikan dengan adat yang berlaku. Apabila suami dan istri berselisih mengenai ukurannya, hakim menentukan ukurannya berdasarkan ijtihad dengan memperhatikan kondisi ekonomi suami.

Suami juga wajib menyediakan daging sesuai dengan adat yang berlaku. Jika penduduk daerah tersebut menyediakan daging seminggu sekali atau dua minggu sekali, suami wajib memberikan sesuai adat. Yang utama diberikan di hari Jumat atau Jumat dan Selasa. Pada hari di mana suami memberikan daging, tidak wajib untuk memberikan lauk-pauk lain bila daging itu  cukup untuk sehari.

Bahan makanan seperti garam, bahan bakar memasak dan air minum termasuk hal yang wajib disediakan sesuai adat. Buah-buahan juga wajib disediakan untuk istri. Mengenai jumlah, jenis dan waktunya dikembalikan kepada adat. Pada hari raya, suami wajib membelikan kue-kue dan makanan yang biasa disajikan di hari itu. Jika istri terbiasa meminum kopi atau teh, suami wajib menyediakannya. Suami juga wajib menyediakan lampu ketika malam sesuai dengan adat.

Intinya mengenai yang wajib disediakan suami dikembalikan kepada adat. Jika di daerah tersebut berlaku adat untuk menyediakan lauk atau makanan tertentu di satu waktu maka suami wajib menyediakannya sesuai dengan keadaan ekonominya.

Wajib pula bagi suami membayar upah masak jika istri tidak terbiasa memasak sendiri di samping menyediakan peralatan memasak, makan dan minum seperti piring, gelas, panci dan lainnya.

Istri tidak wajib melayani suami dalam urusan lain selain kebutuhan seksual. Jadi istri tidak wajib memasak, menyapu atau perbuatan lain yang tidak berhubungan dengan kegiatan seksual. Jika istri menolak melakukan itu semua, ia tetap berhak menerima nafkah.

Pakaian

Suami wajib memberikan seperangkat pakaian baru yang cukup bagi istri setiap awal musim sesuai dengan adat. Ulama fiqih membagi musim menjadi dua dalam satu tahun; musim dingin dan musim panas. Musim semi (jika ada) masuk ke dalam musim dingin dan musim gugur masuk ke dalam musim panas.

Yang wajib disediakan suami adalah gamis (pakaian yang menutupi semua badan) kecuali jika adatnya wanita di daerah tersebut memakai semacam sarung dan baju atasan, maka yang wajib diberikan adalah pakaian yang sesuai adat. Wajib pula bagi suami memberikan semacam sarung, celana, penutup kepala (kerudung) dan sandal. Mengenai jenisnya disesuaikan dengan adat daerah tersebut. Sedangkan mengenai kualitas dikembalikan kepada kemampuan suami. Jika istri tidak terbiasa memakai sandal di dalam rumah, tidak wajib untuk memberikan sandal.

Jika pada satu daerah umumnya pakaian tidak bisa bertahan selama semusim karena sangat panas atau buruknya kualitas pakaian di sana maka wajib memberikan pakaian sesuai dengan adat di sana. Begitupula jika dalam satu daerah umumnya pakaian bisa tahan selama setahun seperti pakaian tebal atau kulit maka diikuti adat pemberian pakaian di daerah tersebut.

Wajib bagi suami memberikan selimut secukupnya bila udara sangat dingin meski pun bukan di musim dingin. Di musim dingin diwajibkan memberikan tambahan jubah yang dapat menghangatkan. Suami juga wajib memberikan perlengkapan pakaian seperti kancing, benang, ongkos tukang jahit, dan lainnya.

Untuk keperluan tidur, suami wajib menyediakan kasur serta bantal. Jika mereka terbiasa tidur di atas dipan, suami wajib memberikan dipan. Kasur dan dipan tidak wajib diberikan tiap musim, cukup diperbaiki jika rusak sesuai dengan adat.

Pakaian, jika tidak bisa bertahan setahun, harus diberikan kepada istri setiap awal musim. Jika pakaian itu rusak di tengah musim, suami tidak wajib membelikan yang baru walaupun rusaknya bukan karena kecerobohan istri.

Alat kebersihan      

Suami wajib memberikan alat kebersihan. Yaitu yang dapat menghilangkan kotoran dan bau tak sedap dari badan dan pakaian istri meskipun suami berada jauh dari istri. Yang wajib diberikan  seperti sabun, sampo, sisir, siwak, tusuk gigi dan lainnya. Jika istri terbiasa meminyaki rambut dan tubuh, suami wajib menyediakannya sesuai adat.

Suami juga wajib menyediakan air untuk mandi wajib yang disebabkan olehnya, seperti mandi karena persetubuhan atau nifas. Adapun air untuk mandi haid, ihtilam, membasuh najis tidak wajib disediakan suami. Begitupula wajib menyediakan air wudhu jika suami membatalkan wudhu istrinya dengan menyentuh.

Parfum tidak wajib dirikan kecuali untuk menghilangkan bau tidak sedap, tidak wajib pula celak, obat serta ongkos dokter. Namun ketika sakit, istri tetap berhak mendapatkan makanan, lauk, pakaian dan alat kebersihan.

Ketika nafkah itu diserahkan kepada istri maka ia menjadi hak istri. Suami tidak boleh mengambilnya kecuali dengan kerelaan dari istri.

Tempat tinggal

Suami wajib menyediakan tempat tinggal yang layak dan aman bagi jiwa dan harta istrinya. Yang dimaksud layak adalah sesuai dengan adat yang berlaku baik berupa rumah atau kamar atau selainnya seperti tenda bagi orang badui, atau rumah kayu. Yang diperhatikan dalam masalah tempat tinggal adalah keadaan istri bukan suami karena istri yang diwajibkan untuk tetap berada di dalamnya.

Tidak mengapa jika tempat tinggal itu hasil dari meminjam atau menyewa. Boleh pula suami tinggal di rumah istri dengan kerelaan istri atau karena istri tidak mau pindah. Suami juga boleh tinggal di rumah ayah dari istrinya dengan izin. Jika demikian maka tidak wajib bagi suami memberikan uang sewa. Jika suami tinggal di rumah istri tanpa ada pembicaraan, dan tanpa ada penolakan dari pihak istri untuk dipindah maka suami wajib mebayar uang sewa.

Pembantu

Apabila istri termasuk yang terbiasa dilayani dalam keluarganya maka wajib bagi suami walau pun miskin untuk menyediakan seorang pelayan bagi istri. Semua yang bisa melayani dan halal untuk saling melihat dengan istri bisa menjadi pelayan seperti wanita yang disewa, atau mahram dari istri atau anak kecil lelaki yang belum mendekati baligh. Istri tidak boleh dilayani oleh lelaki bukan mahram yang baligh atau yang mendekati baligh, wanita kafir dzimmi, atau oleh suaminya sendiri sebab istri merasa malu dan dianggap suatu cela jika dilayani suaminya sendiri.

Nafkah dan keperluan pelayan yang melayani istri ditanggung oleh suami. Tugas pelayan istri adalah melakukan pekerjaan yang berkaitan dengan kebutuhan istri seperti membawakan air untuk mandi dan minum, menuangkan air ke badan istri, mencuci baju istri atau masak untuk makanan istri. Adapun pekejaan yang berkaitan dengan suami seperti mencuci baju suami dan memasak untuk suami itu bukan tugas pelayan istri. Suami boleh melakukan sendiri atau mengupah orang lain untuk melakukannya.

Perhiasan

Suami tidak wajib memberikan perhiasan untuk istri. Jika suami membelikan perhiasan atau pakaian sutra untuk istrinya kemudian memakaikannya kepada istri, perhiasan dan pakaian tersebut tetap menjadi milik suami. Perhiasan itu menjadi milik istri jika suami memakaikannya dengan niat menjadikannya sebagai hadiah atau dengan mengucapkan bahwa itu adalah pemberian untuk istrinya.

Demikian sekilas pembahasan mengenai nafkah. Semua yang disebutkan dalam masalah di atas adalah masalah hukum fiqih. Hendaknya suami bukan hanya memberikan sekedar kewajiban namun juga berbuat semampunya untuk membahagiakan istri di dunia dan di akhirat begitu-pula halnya dengan istri. Suami dan istri yang baik adalah yang sama-sama bersabar dalam kesusahan dan bersyukur dalam kelapangan. Semoga uraian ringkas ini bermanfaat untuk kita semua.*dzr

Sumber: Majalah Cahaya Nabawiy

Tags:

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.