Headline »

June 15, 2018 – 2:49 pm | Edit Post

Share this on WhatsApp
PERTANYAAN :
Bagaimana ya akhi hukum air sulingan dan air yang diberi kaporit.
Sherlock Hamdoen
JAWABAN :

Air Sulingan

Sebelumnya perlu dibedakan terlebih dahulu antara dzat najis dan dzat mutanajis. Dzat najis adalah yang murni najis, …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Headline, Teladan

WANITA YANG MATI KARENA CINTA

Submitted by on December 21, 2017 – 4:46 am

Oleh Umar Faruq, Alumni Mahad Sunniyah Salafiyah Pasuruan

 

Banyak riwayat yang menyatakan bahwa wanita adalah tempat fitnah, dalang kerusakan, dan lain-lain.

Sebagai mana sabda Nabi SAW, “Tidaklah aku meninggalkan untuk umat setelahku sebuah fitnah yang lebih bahaya fitnahnya atas lelaki daripada wanita”.

Dalam hadist tersebut dijelaskan bagaimana dahsyatnya fitnah seorang wanita, sehingga Nabi SAW menyatakan itu adalah fitnah paling berbahaya.

Di dalam riwayat yang dikhabarkan oleh Imam Ahmad, beliau mengatakan, “Sesungguhnya melihat kepada keindahan wanita adalah panah daripada panah iblis”.

Namun tidak semua wanita dikatagorikan sebagai fitnah dunia. Karena terdapat pula beberapa wanita yang memiliki perangai yang baik, Zuhud, sholiha, bahkan sebagian dari mereka mampu menandingi laki-laki dalam melaksanakan kebaikan.

Sebagaimana seorang budak wanita yang diceritakan oleh seorang sufi di abad ke tiga Hijriyah yang bernama Dzun Nun. Beliau pernah berkisah.

“Suatu saat aku mendengar kabar bahwa terdapat seorang budak wanita di sebuah gunung. Maka aku ingin sekali menghampirinya, lama aku berfikir akhir nya aku memutuskan untuk mencarinya ke pegunungan. Lamanya perjalanan tidak membuatku putus asa untuk mencarinya. Beberapa hari aku tidak dapat menemuinya, hingga pada akhirnya aku menemui sebuah tempat yang penduduknya adalah orang-orang yang ahli ibadah.

Lalu aku bertanya kepada mereka “apakah kalian mengetahui keberadaan seorang budak wanita yang ahli ibadah.?”

Mereka menjawab “wahai tuan, engkau bertanya tentang wanita gila, dan engkau mengabaikan kami yang berakal.?!”

Aku berkata “tunjukkan aku kepadanya walaupun dia gila.!”

Mereka menjawab “wahai tuan, kami menganggap dia sudah melampaui batas, dia aneh. Terkadang ia terjatuh terkadang bangun. Terkadang ia merintih, terkadang menangis, terkadang tertawa”

Aku pun menimpali perkataan mereka agar mereka mau menunjukkan kepadaku tempat wanita tersebut berada.

Akhirnya salah satu dari mereka berkata “pergilah tuan ke sebuah lembah yang bernama lembah fulan (nama sebuah lembah)”

Kemudian aku bergegas mencari lembah tersebut. belum sampai aku menemui wanita tersebut, aku mendengar suara yang lirih pelan. Ia bernasyid yang berbunyi :

Wahai dzat yang sanubari ini menjadi bahagia karena menyebutnya…

Engkaulah dzat yang tiada dzat lain yang aku inginkan…

 

Aku pun mengikuti alur suara tersebut, tiba-tiba ku temui seorang wanita yang duduk diatas batu yang sangat besar. lalu ku ucapkan salam kepadanya, dan ia menjawab salamku.

Kemudian wanita itu bertanya “wahai dzun nun, apa yang kau perlukan terhadap orang gila.?

aku berkat “apakah engkau gila.?”

Lalu ia berkata “kalau aku tidak gila, mana mungkin mereka memanggilku si gila.?”

Aku pun bertanya “lalu apa yang membuatmu gila.?”

Ia menjawab dengan suara pelan “Cintanya membuatku gila, kebaikannya membuatku gelisah, dan rindunya membuatku terbuat dengan cinta”

Aku pun bertanya “lalu dimana letak rindu itu bagimu?”

Ia menjawab “wahai dzun nun, cinta, kebahagiaan, kerinduan, semua itu letaknya ada dalam sanubari”

 

Kemudian wanita itu menangis dengan tangisan yang sangat keras. Hingga ia terjatuh karena pingsan. Lama ia tak sadarkan diri, aku pun berusaha menyadarkan nya. Hingga tersadar. Dan ia kembali berkata dengan merintih “oooh tidak, inilah bagian dari puncak cinta!!! Wahai dzun nun, beginilah rupa kematian dari seorang pecinta!”

Lalu  ia merintih dengan rintigan yang sangat keras dan kemuadian terjatuh ke bawah.

Aku pun mencoba menggerakkan badannya, berusaha membangunkannya. Namun ternyata Allah sudah memanggilnya untuk kembali ke hadiratnya.”

Kisah diatas adalah secuil dari kisah-wanita yang patut diteladani oleh wanita-wanita akhir zaman ini. Sebagaimana kisah rabi’ah adawiyah, Rayhanah, Ummul khoir dan masih banyak lagi wanita-wanita berjiwa mulia. Mereka berhati mulia, penuh cinta kepada Allah dan Rasul, hidup dengan pakaian zuhud, beramal dengan bekal tawadhu’.

Oleh karenanya marilah kita berusaha untuk menjadi manusia pilihan yang larut dalam mahabbah kepada Allah dan rasulullah. Hingga kita terhindar dari segala hal yang dikhawatirkan nabi saw atas kita yang hidup di akhir zaman ini.

Wallahua’lam. (Sumber kisah syarh syair lamiyah ibin Mawardi)

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.