Headline »

January 17, 2018 – 4:09 am | Edit Post

Share this on WhatsApp
 
Agama Islam mengajarkan bahwa seluruh isi jagat raya ini adalah ciptaan Allah ﷻ. Segala yang nampak maupun tak nampak adalah ciptaan Allah ﷻ atau disebut makhuk. Hanya Allah lah Al Khalik (Sang …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Headline

SYARAT KELUARNYA WANITA UNTUK PENGAJIAN

Submitted by on December 11, 2017 – 3:06 am

Pada masa ini banyak wanita keluar untuk menghadiri pengajian, majelis dzikir, shalat berjamaah, ziarah atau Shalat Ied. Bisa dikatakan wanita lebih rajin mengikuti majelis taklim dari pada pria. Fenomena ini memang menggembirakan namun perlu diperhatikan pula syarat-syarat bolehnya wanita keluar rumah. Jangan sampai perbuatan ini menjadi sia-sia atau bahkan menjadi dosa karena mengindahkan syarat-syarat tersebut.

Menutup aurat

Syarat terutama yang harus diperhatikan adalah aurat. Bukan hanya wanita yang diperintahkan menutupi aurat, lelaki juga demikian. Namun lebih banyak wanita yang sengaja keluar dengan membuka aurat padalah dalam al Quran Allah SWT telah memerintahkan :

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ  [النور: 31]

Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya. (QS an Nur 31)

Ibnu Abbas ra mengatakan bahwa yang dimaksud dengan perhiasan yang boleh nampak adalah wajah dan telapak tangan. Pada dasarnya aurat wanita yang harus ditutupi di hadapaan lelaki ajnaby(bukan mahram) adalah semua tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Namun jika ia yakin wajahnya dapat membuat lelaki tertarik, menutup wajah bisa menjadi wajib.

Imam Haramain menukilkan kesepakatan ulama mengenai bolehnya wanita keluar dengan memperlihatkan wajah dan lelaki wajib menahan pandangan. Sedangkan Qodhi Iyadh menukilkan kesepakatan ulama mengenai larangan bagi wanita untuk keluar dengan memperlihatkan wajah. Perkataan kedua ulama ini sekilas bertentangan, namun sebenarnya keduanya benar sebab keduanya berbicara dalam konteks yang berbeda.

Kesepakatan mengenai bolehnya wanita keluar tanpa memakai penutup wajah adalah benar jika melihat hukum asal tanpa memandang kondisi luar. Sedangkan kesepakatan kedua benar jika wajah wanita tersebut pasti terlihat lelaki yang tidak halal dan bisa menimbulkan ketertarikan, dalam keadaan demikian suami atau walinnya boleh bahkan wajib melarang wanita untuk keluar kecuali dengan penutup wajah.

Jadi, membuka wajah ketika keluar boleh asalkan ia tidak sengaja membukanya untuk dilihat lelaki ajnabiy atau ia tidak tahu pasti apakah akan ada lelaki ajnabiy yang melihatnya. Jika ia membuka wajah dengan maksud memperlihatkan kepada lelaki ajnabiy maka hukumnya adalah haram sebab ia melakukan sesuatu yang menyebabkan terjadinya maksiat (lelaki ajnabiy haram melihat wajah wanita ajnabiyah). Begitupula jika ia mengetahui bahwa wajahnya pasti membuat lelaki tertarik dan melihatnya, wajib menutup wajah agar ia tidak termasuk orang yang membantu perbuatan maksiat.

Disebutkan dalam hadits-hadits shahih bahwa para wanita sahabat menutupi wajah mereka ketika keluar untuk melaksanakan Shalat Shubuh berjamaah sampai tidak dikenali. Alangkah baik jika wanita muslimah di masa ini meneladani mereka. Jika itu dirasa sulit, hendaknya ia memperhatikan syarat-syarat membuka wajah di atas. Lalu apabila ia melewati lelaki ajnabiy hendaknya ia tutup wajahnya dengan kain atau lainnya.

Disyaratkan pula agar pakaian yang menutupi aurat itu bersifat sopan dan tidak sengaja dibuat untuk menarik lelaki. Telah datang ancaman bagi wanita yang berpakaian tapi seperti telanjang yakni yang tipis hingga memperlihatkan lekuk dan warna kulit. Begitu pula ada ancaman bagi wanita yang memakai pakaian dengan berbagai gaya untuk menarik lelaki sehingga kepalanya berbentuk seperti punuk unta. Dikatakan mereka tidak akan mencium bau surga padahal bau surga bisa dicium dari jarak yang sangat jauh.

Tidak memakai wewangian semerbak

Makruh bagi wanita untuk keluar dengan memakai wangi-wangian yang dapat tercium dari jauh meskipun tujuannya adalah ke masjid atau pengajian. Dalam hadits disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

إذَا شَهِدَتْ إحْدَاكُنَّ الْمَسْجِدَ فَلَا تَمَسَّ طِيبًا

Jika seorang wanita dari kalian menghadiri masjid maka jangan memakai wewangian. (HR Muslim)

Dalam hadits lain disebutkan :

لَا تَمْنَعُوا إمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ وَلَكِنْ لِيَخْرُجْنَ وَهُنَّ تَفِلَاتٌ

Jangan kalian larang hamba-hamba wanita Allah pergi ke masjid, namun hendaknya mereka keluar tanpa wewangian. (HR Ibnu Dawud)

Dihukumi makruh jika wewangian ini tidak dimaksudkan untuk menarik perhatian lelaki ajnabiy. Jika ia  memakai wewangian dengan tujuan ini maka hukumnya bukan makruh lagi tapi menjadi haram. Rasulullah SAW bersabda :

أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ .

Wanita mana saja yang memakai wewangian kemudian ia lewat pada satu kelompok supaya mereka mendapati wanginya maka ia adalah pezina. (HR Nasai, Abu DAwud, Turmudzi, Ahmad)

Tidak memakai perhiasan

Syarat lain agar bagi wanita ketika ia berkehendak untuk keluar ke masjid atau lainnya adalah tidak memakai perhiasan yang dapat menarik perhatian lelaki ajnabiy. Disebutkan dalam satu hadits :

بَيْنَمَا رسول اللَّهِ صلى اللَّهُ عليه وسلم جَالِسٌ في الْمَسْجِدِ إذْ دَخَلَتْ امْرَأَةٌ مُزَيَّنَةٌ تَرْفُلُ في زِينَةٍ لها في الْمَسْجِدِ فقال صلى اللَّهُ عليه وسلم يا أَيُّهَا الناس انْهَوْا نِسَاءَكُمْ عن لِبْسِ الزِّينَةِ وَالتَّبَخْتُرِ في الْمَسْجِدِ فإن بَنِي إسْرَائِيلَ لم يُلْعَنُوا حتى لَبِسَ نِسَاؤُهُمْ الزِّينَةَ وَتَبَخْتَرُوا في الْمَسَاجِدِ

Ketika Rasulullah SAW sedang duduk di masjid tiba-tiba masuk seorang wanita yang memakai hiasan dan berlagak dengan hiasannya dalam masjid, maka Rasulullah SAW bersabda, “Hai manusia, laranglah wanita kalian memakai hiasan dan berjalan dengan lagak di masjid karena tidaklah kaum Bani Israil dilaknat sampai wanita mereka memakai hiasan dan berjalan dengan lagak di masjid.” (HR Ibnu Majah)

Para ulama mutaakhirin mengatakan hadits ini adalah dalil haramnya melakukan sesuatu yang dapat menimbulkan laknat. Jika wanita itu keras kepala untuk keluar dengan memakai perhiasan maka ia harus dilarang untuk keluar.

Berjalan dengan sopan

Hendaknya wanita muslimah berjalan dengan sopan ketika pergi ke masjid atau majelis taklim. Jangan berjalan lemah gemulai atau menggoda sebab itu dapat menimbulkan fitnah. Dalam ayat al Quran disebutkan :

وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى [الأحزاب: 33[

Janganlah kamu  bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu. (QS al Ahzab: 33)

Imam Mujahid dan Qodatah mengatakan maksud dari ayat tersebut adalah berjalan dengan lenggak-lenggok, lemah gemulai dan menggoda. Di dalam hadits juga disebutkan bahwa salah satu golongan wanita yang diancam tidak dapat mencium bau surga adalah yang jalannya lenggak-lenggok dan menggoda.

Tidak berbaur dengan lelaki

Tidak boleh lelaki dan wanita bercampur baur walaupun di dalam pengajian atau di dalam masjid. Semestinya dibuat pembatas antara lelaki dan wanita sehingga tidak terjadi  pembauran. Rasulullah SAW bersabda:

لَأَنْ يَزْحَمَ رَجُلًا خِنْزِيرٌ مُتَلَطِّخٌ بِطِينٍ خَيْرٌ له من أَنْ يَزْحَمَ مَنْكِبَيْهِ امْرَأَةٌ لَا تَحِلُّ له رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ

Berbaurnya lelaki dengan babi yang berlumuran lumpur itu lebih baik daripada berbaurnya pundaknya dengan wanita yang tidak halal. (HR Thabrani)

Ini karena najis babi bisa hilang dengan dicuci sedangkan dosa karena menyentuh wanita yang bukan mahram jika tidak diikuti dengan taubat akan terbawa sampai akhirat.

Pada masa ini sudah merata berbaurnya lelaki dan wanita berbaur di jalan-jalan bahkan dalam pengajian umum. Ini adalah perbuatan yang haram dan harus dicegah. Dikisahkan suatu hari Rasulullah SAW melihat wanita dan pria saling berbaur di jalan. Melihat ini Nabi SAW memerintahkan kepada wanita:

اسْتَأْخَرْنَ فإنه ليس لَكُنَّ أَنْ تُحَقِّقْنَ الطَّرِيقَ عَلَيْكُنَّ بِحَافَّاتِ الطَّرِيقِ

Menjauhlah dari lelaki. Jangan berjalan di tengah jalan, berjalanlah di sisi jalan. (HR Abu Dawud)

Mendengar itu para sahabat wanita segera menempelkan tubuhnya ke sisi jalan yang dibatasi oleh pagar. Diceritakan saking dekatnya mereka, ada yang pakaiannya tersangkut pagar.

Ini menunjukkan larang berbaur dengan lelaki dimana pun bahkan di jalan. Apabila jalanan ramai, hendaknya ia berjalan di sisi jalan, biarkan lelaki berjalan di tengah. Sedangkan bila jalan sedang sepi terserah bagi wanita untuk berjalan di mana saja.

Bila satu pengajian diikuti oleh wanita maka janganlah mengundang penceramah yang masih muda, berhias dan banyak lagak. Kerusakan yang ditimbulkan lebih banyak dari kebaikannya. Penceramah yang diundang hendaknya adalah yang nampak kehati-hatiannya dalam agama, berpembawaan tenang, berwibawa, dan berpakaian selayaknya pakaian orang shaleh. Wajib memasang pembatas antara lelaki dan wanita sehingga tidak bisa saling bertukar pandang.

Perlu diperhatikan pula selain membaur dengan pria, berkhalwat (menyendiri) juga dilarang. Bila seorang wanita pergi ke masjid dan di sana hanya ada seorang lelaki ajnabiy. Tidak boleh ia menjadi makmum darinya. Hendaknya ia keluar sebab jika seorang lelaki ajnabiy berduaan dengan wanita maka yang ketiganya adalah setan.

Izin

Jangan dilupakan pula untuk meminta izin kepada suami atau ayah bagi yang belum bersuami. Apabila wanita meminta izin untuk pergi ke masjid, jika wanita itu dapat menimbulkan fitnah seperti wanita yang masih muda atau wanita tua namun masih menarik, makruh bagi suami atau wali mengizinkan mereka keluar meskipun mereka telah memenuhi syarat di atas. Keluarnya mereka sendiri itu pun hukumnya makruh.

Apabila wanita itu sudah tua dan tidak menarik maka tidak makruh ia pergi ke masjid atau tempat lain dengan syarat-syarat di atas. Ketika itu sunah bagi suami mengizinkan istrinya yang sudah tua itu.

Perlu diperhatikan bahwa jamaah wanita di rumahnya lebih baik daripada jamaah di masjid meskipun itu adalah Masjid Nabawi. Rasulullah SAW bersabda :

لاَ تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسْجِدَ وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ

jangan larang hamba-hamba wanita Allah ke mesjid dan rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka. (HR Baihaqi)

Di dalam rumah wanita lebih terlindungi dan semakin terlindungi semakin baik bagi wanita. Rasulullah SAW bersabda:

صَلاَةُ الْمَرْأَةِ فِى بَيْتِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى حُجْرَتِهَا ، وَصَلاَتُهَا فِى مَخْدَعِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى بَيْتِهَا

Shalatnya wanita di rumahnya lebih afdhol dari sholat di halaman rumah dan sholatnya di kamarnya lebih afdhol dari sholat di rumahnya. (HR Abu Dawud)

Pada masa ini lebih baik bagi wanita untuk tetap berada di dalam rumah meskipun ia memenuhi syarat untuk keluar. Terlebih bagi wanita yang masih muda atau menarik. Banyak yang menyalahgunakan izin untuk pergi ke masjid dan pengajian untuk berbuat hal yang melanggar, memperlihatkan perhiasan, wewangian atau lainnya. Sayidah Aisyah pernah berkata :

لو رَأَى رسول اللَّهِ صلى اللَّهُ عليه وسلم ما أَحْدَثَ النِّسَاءُ بَعْدَهُ لَمَنَعَهُنَّ الْمَسَاجِدَ كما مُنِعَتْ نِسَاءُ بَنِي إسْرَائِيل

Seandainya Rasulullah SAW mengetahui apa yang dilakukan para wanita setelahnya pasti beliau akan melarang mereka untuk pergi ke masjid sebagaimana wanita Bani Israel dilarang untuk itu. (HR Muslim)

Ini karena banyak wanita yang keluar untuk ke masjid dengan memakai wewangian, perhiasan dan cara jalan yang tidak baik. Jika di masa Sayidah Aisyah ra keadaan zaman sudah seperti itu lalu bagaimana dengan di masa ini?

Dari berbagai kitab fiqih Syafiiyah

 

 

 

Tags:

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.