Headline »

June 15, 2018 – 2:49 pm | Edit Post

Share this on WhatsApp
PERTANYAAN :
Bagaimana ya akhi hukum air sulingan dan air yang diberi kaporit.
Sherlock Hamdoen
JAWABAN :

Air Sulingan

Sebelumnya perlu dibedakan terlebih dahulu antara dzat najis dan dzat mutanajis. Dzat najis adalah yang murni najis, …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Headline, Rudud

MEMAHAMI KAROMAH PARA WALI

Submitted by on December 4, 2017 – 1:46 am 2 Comments

Ulama Ahlu Sunnah Wal Jamaah sepakat bahwa karomah para wali itu mungkin di lihat dari sudut pandang akal dan secara nyata terjadi sepanjang masa. Hanya kaum sesat Muktazilah yang mengingkari adanya karomah. Karomah sendiri adalah suatu khariqul adat (hal luar biasa) yang muncul dari seorang wali yakni hamba yang nampak shaleh, menetapi ketaatan, menjauhi maksiat dan memiliki akidah yang lurus.

Makna wali

Menurut para ulama, wali adalah seorang hamba yang mengenal Allah SWT dan sifat-sifat-Nya sampai pada batas yang memungkinkan. Menetapi ketaatan, menjauhi maksiat, dan tidak terbuai dalam kesenangan syahwat yang diperbolehkan. Ada dua kemungkinan asal kata wali. Yang pertama adalah subyek dari kata tawallat thaatuhu (terus menerus taatnya). Maksudnya adalah seorang yang selalu berbuat taat tanpa diselai perbuaan maksiat. Yang kedua ia adalah objek yang berasal dari kata Tawallallahu hifdzahu (Allah mengurus penjagaannya). Maksudnya Allah SWT selalu menjaganya dalam taufiq (kemampuan berbuat taat) dan melindunginya dari khizlan (kemampuan bermaksiat). Allah SWT berfirman:

وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ

Dia melindungi orang-orang yang saleh. (QS al A`raf: 196)

Pengertian hamba yang shaleh adalah yang melaksanakan semua kewajiban kepada Allah SWT dan kepada makhluk. Hamba yang shaleh mencakup para nabi dan wali.

Apabila khariqul adat muncul dari hamba yang bersifat demikian maka itulah yang dinamakan karomah. Berbeda dengan sihir dan istidraj, keduanya tidak muncul kecuali dari seorang fasik yang hatinya penuh dengan keburukan.

Dalil karomah

Dalil adanya karomah para wali telah sampai pada batas mutawatir, sangat melimpah baik dalam al Quran, al Hadits maupun atsar (peninggalan) kaum shalihin. Al Quran banyak menceritakan kisah tentang karomah para wali seperti kisah Sayidatuna Maryam as yang diberikan makanan langsung dari sisi Allah SWT, penasihat Nabi Sulaiman as yang mampu memindahkan singasana ratu Bilqis dalam sekejap, Ashabul Kahfi (penghuni gua) yang tetap hidup setelah ditidurkan selama 309 tahun, Dzul Qornain yang mampu menundukan banyak negri dan mengurung Yajuz dan Majuz dengan izin Allah, serta kisah-kisah lainnya.

Dalam hadits-hadits shahih, kisah karomah para wali lebih banyak lagi. Di antaranya adalah kisah Sahabat Imran bin Hushain ra yang dapat mendengar salam malaikat; Sahabat Salman ra dan Abu Darda ra yang dapat mendengar tasbih dari piring tempat mereka makan; Sahabat Abbad bin Bisyr ra dan Usaid bin Hudhair ra yang bercahaya ujung tongkatnya menerangi jalan ketika mereka keluar dari sisi Nabi SAW di malam yang gelap. Saat berpisah, cahaya itu ikut berpencar bersama masing-masing dari keduanya; Sahabat Khubaib ra yang diberikan rizki dari sisi Allah SWT berupa buah anggur ketika ia ditawan kaum kafir Quraish, padahal ketika itu bukan musim anggur; Juraij ra yang ketika dituduh berzina bertanya kepada bayi yang masing menyusui, “Siapa Ayahmu?” Bayi itu pun mengatakan siapa ayah sebenarnya. Ada pula kisah Safinah ra bekas budak Rasulullah SAW yang memberitahukan singa bahwa ia adalah utusan Rasulullah SAW kemudian singa itu mengiringi dan mengantarkannya sampai tujuan. Juga kisah yang disebutkan mengenai tiga orang yang berteduh pada gua kemudian gua itu tertutup batu besar. Setiap orang dari mereka berdoa dengan satu doa sehingga gua itu pun terbuka.

Hadits-hadits lain, atsar dan perkataan ulama salaf dan khalaf mengenai karomah sangatlah melimpah. Cukup kiranya yang sedikit ini sebagai bukti kuat adanya karomah.

Macam karomah

Sebagian ulama membagi karomah menjadi dua, karomah hissiyah (nampak) dan maknawiyah (tidak nampak). Karomah hissiyah bisa berupa kemampuan berjalan di atas air, terbang di udara, thoyul ardh (menyingkat jarak yang jauh hanya dalam sekejap), terkabulnya doa, munculnya makanan atau minuman ketika terdesak, mendengar suara tanpa wujud (hatif), dan kejadian-kejadian nampak lainnya. Tidak semua wali mendapatkan karomah hissiyah. Terkadang seorang wali tidak memiliki karomah hissiyah sepanjang hidupnya. Karomah hissiyah memang merupakan satu anugrah namun ketiadaan karomah hissiyah pada seorang wali bukanlah suatu cacat akan kewaliannya.

Pernah dikatakan kepada Abu Yazid al Busthami, “Fulan dalam satu malam dapat berpindah ke Mekah.” Beliau menjawab, “Setan pun bisa berpindah dari ufuk timur ke ufuk barat dalam sekejap tapi ia tetap dilaknat Allah.” Pernah pula dikatakan kepada beliau, “Fulan dapat berjalan di atas air dan terbang di udara.” Beliau pun menjawab, “Burung pun dapat terbang di udara dan ikan dapat berenang di atas air.”

Tidak semua wali yang dikhususkan dengan karomah hissiyah telah sempurna hatinya dalam keikhlasan dan keburukan nafsu yang mengajak kepada syahwat. Banyak sekali nampak karomah hissiyah pada wali yang pemula dan justru tidak nampak pada wali yang telah sampai derajat tinggi. Bahkan terkadang karomah hissiyah diberikan kepada orang yang belum sempurna istiqomahnya.

Karomah yang hakiki dalam pandangan para wali adalah karomah maknawiyah. Setiap wali mendapatkan bagian yang berbeda darinya, ada yang mendapatkan sedikit dan ada pula yang mendapatkan bagian yang banyak. Bentuk karomah ini dapat berupa kesempurnaan makrifat (mengenal) Allah dan sifat-sifat-Nya, rasa takut mendalam kepada Allah, selalu merasa diawasi, segera melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, kokoh dalam keyakinan, dan rahasia-rahasia khusus yang dianugrahkan Allah SWT kepada seorang wali. Karomah inilah yang dianggap agung di mata para wali. Sebagian ulama bahkan mengatakan bahwa karomah teragung yang dimiliki seorang wali adalah keistiqomahan untuk selalu berbuat taat dan penjagaan dari dosa dan menyelisihi kebaikan(perbuatan makruh dan kesenangan syahwat yang boleh). Imam Sahl bin Abdullah at Tusturi pernah mengatakan, “Karomah terbesar adalah ketika engkau dapat mengganti akhlak-akhlak tercela dari dirimu.” Senada dengan itu Ibnu Athoillah mengatakan, “Thoy (menyingkat jarak) itu ada dua, ada yang kecil dan ada yang besar. Yang kecil adalah yang umum dialami golongan ini (wali) yaitu menyingkat jarak dari barat ke timur dalam satu nafas. Sedangkan yang besar adalah melipat sifat-sifat nafsu (yang tercela).”

Karomah maknawiyah jauh lebih agung daripada karomah hissiyah meskipun dua-duanya termasuk hal yang utama. Mereka yang hanya mencari-cari karomah hissiyah bukanlah wali yang sejati. Syaikh Abu Hasan Asy Syazili pernah berkata, “Hanya ada dua karomah yang menyeluruh dan universal. Karomah Iman dengan bertambahnya keyakinan dan penyaksian yang nyata dan karomah amal dengan meneladani dan taat, menghindari mengaku-ngaku (mencapai maqom tertentu) serta penipuan. Siapa yang diberi keduanya kemudian ia menginginkan hal lain (karomah hissiyah) maka ia adalah hamba yang payah, penipu dan salah ilmu dan amalnya. Perumpamaannya bagai  seorang yang diberi kemuliaan menyaksikan raja dan mendapatkan restu darinya namun ia justru berharap untuk mendapatkan jabatan sebagai pengurus binatang dan mengabaikan restu itu. Setiap karomah yang tidak dibarengi dengan sifat ridho atas ketentuan Allah maka pemiliknya adalah pelaku istidraj, tertipu, kurang atau binasa.”

Perbedaan karomah dan mukjizat

Perbedaan pokok antara mukjizat dan karomah adalah bahwa mukjizat terjadi sebagai pembuktian kebenaran kenabian. Seorang wali tidak mengaku sebagai nabi maka hal luar biasa yang nampak pada dirinya tidak dikatakan mukjizat melainkan karomah. Hampir semua syarat mukjizat ditemukan dalam karomah kecuali syarat yang satu ini yaitu pengakuan kenabian. Selain itu, Mukjizat dilakukan dengan ikhtiyar (sengaja) untuk membuktikan kenabian sedangkan karomah ada yang dilakukan dengan sengaja melalui usaha dan doa, dan ada pula yang dilakukan tanpa unsur kesengajaan. Para nabi diperintahkan untuk menampakkan mukjizat sedangkan wali pada umumnya diperintahkan menyembunyikan karomah. Sebagian kecil dari wali memang ada yang diperintahkan untuk menampakkan karomah karena kehendak Allah SWT.

Para ulama mengatakan bahwa pada hakikatnya semua karomah wali adalah termasuk bagian dari mukjizat nabi yang menjadi panutannya. Jika bukan karena benarnya seorang nabi maka tidak akan nampak karomah pada pengikutnya. Nampaknya karomah adalah bukti kebenaran nabi. Dan bukti kebenaran nabi itu adalah mukjizat.

Karomah merupakan anugrah yang menunjukkan kekhusussan dan keutamaan seorang hamba untuk meningkatkan keyakinannya sekaligus bukti benarnya akidah-akidah yang mereka yakini. Semua yang bisa menjadi mukjizat nabi bisa menjadi karomah wali kecuali hal yang dikhususkan untuk para nabi saja. Ada beberapa hal yang dapat dipastikan tidak mungkin menjadi karomah bagi para wali. Di antaranya adalah terhasilkannya anak tanpa orang tua, merubah benda mati menjadi hewan dan yang semisalnya.

Semua ulama sepakat bahwa kedudukan wali tidak bisa mencapai kedudukan para nabi. Seorang wali tidak maksum dalam artian terlindung dari pada dosa-dosa sebagaimana para nabi. Namun mereka mahfudz (dijaga) dalam artian apabila mereka berbuat kesalahan atau dosa ia segera bertaubat dan tidak terlena (terus menerus) dalam kesalahannya.

Apakah wali mengetahui dirinya wali?

Menurut pendapat yang unggul bahwa sebagian wali sadar bahwa dirinya adalah wali dan sebagian lain tidak menyadarinya. Pengetahuan mengenai status kewalian diri sendiri adalah termasuk karomah yang tidak dimiliki semua wali.

Sebagian wali bahkan tidak memiliki karomah yang nampak (hissiyah) di dunia. Berbeda dengan para nabi, mereka wajib memiliki mukjizat karena nabi diutus kepada manusia dan bukti kenabiannya tidak dapat diketahui kecuali dengan mukjizat. Sedangkan kewalian seseorang tidak wajib diketahui manusia, bahkan terkadang seorang wali sendiri tidak sadar bahwa dirinya adalah wali.

Kebanyakan wali tersembunyi di antara manusia. Dikatakan oleh al Habib Ahmad bin Zein al Habsyi, “Tersembunyinya wali di antara manusia dan ketidak-tahuan mereka atas kedudukannya sebagai wali adalah bentuk rahmat bagi manusia. Jika mereka mengetahui kedudukannya kemudian mereka tetap berbuat buruk dan menyakitinya padahal mereka tahu ia wali, maka mereka akan binasa dan hancur. Ketika hal itu dilakukan bersamaan dengan ketidak-tahuan maka akibatnya akan lebih ringan.”

Perilaku seorang wali

Mengenai prilaku para wali, Ibnu Athoillah mengatakan bahwa seorang wali selalu menjadi yang terdepan dalam melaksanakan perintah Allah SWT. Mereka memiliki rasa kasih sayang dan kepedulian yang tinggi kepada orang lain, sabar menghadapi perlakuan manusia dan selalu menghadapi mereka dengan akhlak yang baik. Mereka senantiasa memohon kepada Allah SWT untuk melimpahkan kebaikan kepada orang lain tanpa diminta. Mereka sangat ingin menyelamatkan orang lain dan membuat mereka aman dari adzab Allah. Tidak pernah tergiur untuk mendapatkan harta orang lain dan tidak pula mengharapkan imbalan dalam bentuk apa pun. Mereka menjaga lisan dari kata-kata yang menyakiti dan berusaha untuk tidak mencari-cari keburukan perbuatan orang lain. Mereka tidak ingin bertikai dengan manusia baik di dunia mau pun di akhirat, segera memaafkan orang lain yang berbuat salah kepadanya di dunia agar tidak ada tuntutan kelak di akhirat. Mereka, sebagaimana firman Allah SWT:

وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Tetapi orang yang bersabar dan mema’afkan, Sesungguhnya (perbuatan ) yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diutamakan. (QS Asy Syuura: 43)

Dan juga ayat:

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS Ali Imran: 134)

Semoga Allah SWT memuliakan kita dengan cinta dan pengetahuan dan menjaga kita dari istidraj dan pencabutan karunia setelah diberikan. Aamiin.

Tags:

2 Comments »

  • elfan says:

    MENGAPA HARUS ‘BERDUSTA’ MENGANGKU SEBAGAI PEWARIS DINASTI KETURUNAN?

    Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. [SQS. Al-Baqarah, 2:10]

    Apakah di dalam Al Quran memuat istilah KETURUNAN NABI, KETURUNAN AHLUL BAIT atau KETURUNAN RASUL? Jawabannya, TIDAK MENGENAL alias TIDAK ADA KETIGA ISTILAH tersebut sama halnya dengan tidak adanya istilah keturunan presiden, keturunan gubernur, keturunan ulama, keturunan dosen atau keturunan profesor.

    Istilah apa yang ada di dalam Al Quran, simak yang satu ini:

    Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari KETURUNAN ADAM, dan dari ORANG-ORANG YANG KAMI ANGKAT ‘BERSAMA’ NUH, dan dari KETURUNAN IBRAHIM dan (KETURUNAN) ISRAEL,……” [SQS. Maryam, 19:58]

    Apakah di dalam Al Quran ada memuat istilah KETURUNAN MUHAMMAD? Subhanallah, pastinya TIDAK ADA MEMUAT ISTILAH KETURUNAN MUHAMMAD! Lalu kenapa ada orang-orang atau kelompok-kelompok yang mereka NAGKU-NGAKU sebagai KETURUNAN AHLUL BAIT, KETURUNAN RASUL atau KETURUNAN NABI? Ahlul Bait yang mana, rasul yang mana dan nabi yang mana pula?

    Karena istilah KETURUNAN MUHAMMAD itu tidak ada artinya BENAR bahwa TIDAK BOLEH ada orang-orang, kelompok orang yang mengngaku sebagai pewaris keturunan ahlul bait, keturunan nabi atau keturunan rasul lagi karena mereka sudah DUSTA. Sebagai pembanding, begitu juga dengan istilah keturunan presiden, keturunan gubernur dsb. maka yang ada adalah KETURUNAN SOEKARNO, KETURUNAN SBY, KETURUNAN MEGAWATI atau KETURUNAN ANIES BASWEDAN, dsb.

    Simak kajian lebih lanjut sbb.:

    “Orang yang mengaku-ngaku dengan sesuatu yang tidak dia miliki maka dia seperti pemakai dua pakaian kebohongan.” (HR. Muslim dalam Shahihnya, no. 2129 dari Hadits Aisyah radliyallahu’anha)

    Disebutkan dalam hadits-hadits shahih tentang keharaman seseorang menisbatkan dirinya kepada selain nasabnya. Diantara hadits Abu Dzar radliyallahu’anhu, bahwasanya ia mendengar Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

    “Tidaklah seseorang menisbatkan kepada selain ayahnya sedang dia mengetahui melainkan dia telah kufur kepada Allah. Dan barangsiapa yang mengaku-ngaku sebagai suatu kaum dan dia tidak ada hubungan nasab dengan mereka, maka hendaklah dia menyiapkan tempat duduknya di neraka”.[4] (HR. al-Bukhori, No. 3508 dan Muslim, No. 112)

    https://aslibumiayu.net/1314-haramnya-mengaku-ngaku-sebagai-keturunan-ahlul-bait.html

    • admin says:

      Perhatikan hadits berikut
      عن يزيد بن حيان. قال : انطلقت أنا وحصين بن سبرة وعمر بن مسلم إلى زيد بن أرقم. فلما جلسنا إليه قال له حصين: لقد لقيت، يا زيد! خيرا كثيرا. رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم. وسمعت حديثه. وغزوت معه. وصليت خلفه. لقد لقيت، يا زيد خيرا كثيرا. حدثنا، يا زيد! ما سمعت من رسول الله صلى الله عليه وسلم. قال: يا ابن أخي! والله! لقد كبرت سني. وقدم عهدي. ونسيت بعض الذي كنت أعي من رسول الله صلى الله عليه وسلم. فما حدثتكم فاقبلوا. وما لا، فلا تكلفونيه. ثم قال: قام رسول الله صلى الله عليه وسلم يوما فينا خطيبا. بماء يدعى خما. بين مكة والمدينة. فحمد الله وأثنى عليه. ووعظ وذكر. ثم قال “أما بعد. ألا أيها الناس! فإنما أنا بشر يوشك أن يأتي رسول ربي فأجيب. وأنا تارك فيكم ثقلين: أولهما كتاب الله فيه الهدى والنور فخذوا بكتاب الله. واستمسكوا به” فحث على كتاب الله ورغب فيه. ثم قال “وأهل بيتي. أذكركم الله في أهل بيتي. أذكركم الله في أهل بيتي. أذكركم الله في أهل بيتي”. فقال له حصين: ومن أهل بيته؟ يا زيد! أليس نساؤه من أهل بيته؟ قال: نساؤه من أهل بيته. ولكن أهل بيته من حرم الصدقة بعده. قال: وهم؟ قال: هم آل علي، وآل عقيل، وآل جعفر، وآل عباس. قال: كل هؤلاء حرم الصدقة؟ قال: نعم.

      Dari Yaziid bin Hayyaan, ia berkata : “Aku pergi ke Zaid bin Arqam bersama Hushain bin Sabrah dan ‘Umar bin Muslim. Setelah kami duduk. Hushain berkata kepada Zaid bin Arqam : ‘Wahai Zaid, engkau telah memperoleh kebaikan yang banyak. Engkau telah melihat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, engkau mendengar sabda beliau, engkau bertempur menyertai beliau, dan engkau telah shalat di belakang beliau. Sungguh, engkau telah memperoleh kebaikan yang banyak wahai Zaid. Oleh karena itu, sampaikanlah kepada kami – wahai Zaid – apa yang engkau dengan dari Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wa sallam’. Zaid bin Arqam berkata : ‘Wahai keponakanku, demi Allah, aku ini sudah tua dan ajalku sudah semakin dekat. Aku telah tua dan ajalku semakin dekat. Aku sudah lupa sebagian dari apa yang aku dengar dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Apa yang bisa aku sampaikan kepadamu, maka terimalah dan apa yang tidak bisa aku sampaikan kepadamu janganlah engkau memaksaku untuk menyampaikannya’. Kemudian Zaid bin Arqam mengatakan : ‘Pada suatu hari Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wa sallam berdiri berkhutbah di suatu tempat perairan yang bernama Kumm yang terletak antara Makkah dan Madinah. Beliau memuji Allah, kemudian menyampaikan nasihat dan peringatan, lalu beliau bersabda : ‘Amma ba’d. Ketahuilah wahai saudara-saudara sekalian bahwa aku adalah manusia seperti kalian. Sebentar lagi utusan Rabb-ku (yaitu malaikat pencabut nyawa) akan datang lalu dia diperkenankan. Aku akan meninggalkan kepada kalian Ats-Tsaqalain (dua hal yang berat), yaitu : Pertama, Kitabullah yang padanya berisi petunjuk dan cahaya, karena itu ambillah ia (yaitu melaksanakan kandungannya) dan berpegang teguhlah kalian kepadanya’. Beliau menghimbau/mendorong pengamalan Kitabullah. Kemudian beliau melanjutkan : ‘ (Kedua), dan ahlul-baitku. Aku ingatkan kalian akan Allah terhadap ahlu-baitku’ – beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali – . Hushain bertanya kepada Zaid bin Arqam : ‘Wahai Zaid, siapakah ahlul-bait Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ? Bukankah istri-istri beliau adalah ahlul-baitnya ?’. Zaid bin Arqam menjawab : ‘Istri-istri beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam memang ahlul-baitnya. Namun ahlul-bait beliau adalah orang-orang yang diharamkan menerima zakat sepeninggal beliau’. Hushain berkata : ‘Siapakah mereka itu ?’. Zaid menjawab : ‘Mereka adalah keluarga ‘Ali, keluarga ‘Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga ‘Abbas’. Hushain berkata : ‘Apakah mereka semua itu diharamkan menerima zakat ?’. Zaid menjawab : ‘Ya’ [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2408].

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.