Headline »

November 19, 2017 – 6:49 am | Edit Post

Share this on WhatsApp
Pada hakikatnya Hasud (iri) adalah bentuk permusuhan terang-terangan kepada Allah dan penentangan jelas atas kekuasaan Allah. Sebab Allah SWT ketika memberikan suatu nikmat kepada sebagian hamba-Nya, maka sudah jelas bahwa Allah SWT …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Headline, Kalam Salaf

SYUBHAT RABU PUNGKASAN

Submitted by on November 13, 2017 – 4:36 am

(Penjelasan Ustadzuna Alhabib Taufiq bin Abdul Qodir Asseggaf, Pasuruan)

Berikut ini adalah penjelasan Ustadzuna Habib Taufiq bin Abdulqodir Assegaf terkait dengan Rabu Pungkasan, yaitu Hari Rabu Terakhir Bulan Shofar, yang diyakini sebagian orang sebagai hari sial:

Dahulu orang-orang Jahiliyah Arab meyakini bahwa Akhir Rabu ini (Bulan Shofar) sebagai Hari  Naas dan Hari Bala. Sehingga mereka menghentikan semua aktifitasnya. Toko ditutuo, pekerjaan mereka tinggalkan, bahkan mereka menutup rumahnya rapat-rapat. Mereka tidak mau keluar rumah karena takut mendapatkan bala.

Mereka serba ketakutan. Maka Rasulullah SAW datang membawa agama rahmat ini, meniadakan hal yang seperti itu. Beliau SAW bersabda:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيرَةَ وَلَا صَفَر

Tidak ada itu gara-gara si A akhirnya datang penyakit menular kepada yang lainnya. Tidak ada itu gara-gara burung ini atau itu akhirnya datang bala`, tidak ada pula gara-gara bulan Shofar.”

Karena itu, tidak boleh kita menyakini di hari itu akhirnya kita apes semuanya, tidak!

Disinilah para ulama’ salaf merubah image Hari Rabu itu. Dirubah imagenya yang asalnya ketakutan, dirubah menjadi penuh harapan.

Mereka dulu ketakutan tapi diganti ayo baca-baca Al-Quran, baca-baca dzikir.

Dianjurkan beberapa dzikir diantaranya membaca Surat Yasin (ketika sampai ayat) ”Salamun qoulam mir rob birrohim ” dibaca 313x , dengan tafaul/berharap dengan jumlah sahabat perang badar yang sebanyak 313 insya Alloh kita ”Salam..” dijadikan orang yang selamat.

Yang asalnya ketakutan menjadi harapan.

Kemudian yang asalnya di dalam rumah karena takut (jika keluar) kena bala’ malah diadakan satu demostratif begitu, oleh salafus soleh, keluar/pergi keluar kota. Itu sebenarnya bukan dianjurkan/disunahkan pergi keluar kota, tidak.

Itu sebagai penentangan terhadap pengaruh jahiliyyah, yang asalnya mereka susah, ketakutan malah dianjurkan untuk berbahagia.

Sampai-sampai diantara mereka (salafussoleh) membuat mayoran (berkumpul makan bersama) potong kambing. Masih inget kita dulu ada di Umbulan (salah satu tempat rekreasi di Pasuruan) bersama Habaib dulu itu.

Itu sebagai ”protes” jangan kita seperti orang jahiliyyah yang ketakutan di hari ini…maka kita berbahagia bersama-sama tapi sambil berdo’a, bukan melupakan diri kepada Alloh SWT.

Jadi ajaran itu sebenarnya bukan ajaran bi’dah justru itu adalah menentang dari pada keyakinan

jahiliyyah.

Alhamdulillah, kita diatur semuanya oleh salafus soleh, ente baca ini, baca ini, baca Al Qur’anul Karim, ”salamun qoulam…” dan seterusnya’ dengan harapan selamat. Kenapa Tidak? setiap ada ayat rahmat kita dianjurkan memohon kepada Alloh, setiap ada ayat adzab kita dianjurkan juga meminta perlindungan kepada Alloh.

Tidak ada masalah…ajaran-ajaran ini. Semuanya adalah islami, justru ini adalah mengeluarkan kita dari pada keyakinan-keyakinan jahiliyyah.

Salah sekali kalau ada yang mengatakan itu adalah karena pengaruh jahiliyyah, justru itu adalah omongan-omongan orang yang jahil (bodoh), karena ini adalah sebagai bentuk ”protes” , sebagai bentuk penentangan terhadap keyakinan jahiliyyah, yang diajarkan salafus soleh. Alhamdulillah ‘ala dzalik.

Jadi akhir Rabu jangan ada yang meyakini hari itu adalah hari na’as, tapi anda juga jangan jadi orang lupa/lalai kepada Allah, ibadah juga pada Allah biar selamat, jangan seakan-akan menantang turunnya adzab Allah…kenektemenan (kena sungguhan) nanti, itu sombong namanya.

Tetap mengharap selamat kepada Alloh, dengan membaca Al Qur’an, dengan berdzikir kepada Allah swt. Kemudian aktifitas seperti biasa, malah orang-orang dahulu lebih menggunakan ”liburlah tidak ada masalah, tapi libur untuk rekreasi, kemudian mayoran”.

Itu dahulu…tapi tidak harus… Mudah-mudahan kita semua jadi pengikut salafus soleh…aaamiiin …”

(Di sampaikan dalam pengajian “Madros” Rabu pagi 17-12-2014 di kediaman Al Habib Taufiq bin Abdul Qodir Assegaf)

Tags:

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.