Headline »

November 19, 2017 – 6:49 am | Edit Post

Share this on WhatsApp
Pada hakikatnya Hasud (iri) adalah bentuk permusuhan terang-terangan kepada Allah dan penentangan jelas atas kekuasaan Allah. Sebab Allah SWT ketika memberikan suatu nikmat kepada sebagian hamba-Nya, maka sudah jelas bahwa Allah SWT …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Headline

RAHMAT TIDAK SELALU TERLIHAT LEMBUT

Submitted by on November 9, 2017 – 4:57 pm

Oleh : Sayyid Husein Ali Assegaf*

Masih banyak diantara saudara kita muslimin yang menyuarakan ” Rahmatan lil alamin ” atau ” toleransi ” dengan faham yang salah , demi membenarkan pikirannya atau membela langkah organisasi yang ia ikuti

Mereka mengira Rahmat atau Toleran itu hanya ada ketika seseorang bersikap lembut ( secara kasat mata ) , tidak mudah melarang apalagi menghardik mereka yang melawan perintah Allah swt , sehingga mereka menghujat ulama’ yang berani tegas dalam nahi munkar

Tahukah mereka , bahwa dalam hati ulama’ tersimpan perhatian dan kekhawatiran yang penuh pada ummat ? Sehingga terkadang Ulama’ meninggikan suaranya dalam berbicara ?

Ibarat seorang ayah yang melihat anaknya menggunakan narkoba , pasti ia langsung marah , meninggikan suaranya bahkan terkadang sampai memukul , apa yang membuat ayah itu berubah terlihat kasar??

Tidak lain karena kasih sayangnya terhadap anak , ia tak menginginkan anaknya rusak karena narkoba , begitulah pandangan Ulama’ ketika melihat aqidah dan pemikiran muslimin mulai dirusak , melihat tempat maksiat terbuka lebar , mereka marah bukan untuk dirinya , tak lain karena takut jika ummat dimasukkan oleh Allah swt kedalam neraka karena kerusakan tersebut

Maka dari itu , jika kita lihat dalam Syari’at Islam pun mengatur hal yang terlihat kasar ( secara dzohir ) namun dibalik itu ada rahmat yang begitu dalam

semisal perintah memukul anak yang berusia 10 tahun jika meninggalkan shalat , tak lain karena rahmat pada anak tersebut sehingga ia terbiasa mengerjakan shalat dan menjauh dari murka Allah swt

Begitu juga hukuman bagi pencuri, peminum miras , orang yang berzina tak lain karena dua hal , pertama agar ia jera dan tidak mengulangi sehingga bertambah dosanya dan berhak masuk neraka , kedua agar menjadi pelajaran untuk masyarakat sekitar sehingga menjauh dari perbuatan tersebut

Jadi perlu dipahami, Rahmat bukan hanya terkandung pada amar ma’ruf , tapi rahmat juga selalu terkandug dalam nahi munkar ( apapaun metodenya tergantung objek dari hal munkar tersebut ) hanya saja manusia sering membantah ketika perbuatan maksiat yang ia lakukan dihentikan karena merasa dirinya benar.

Wallahu a’lam, semoga bermanfaat.

*Penulis adalah Alumni PonPes Dar Ihsan Tuban , Sunniyah Salafiyah dan Mahasiswa Fakultas Syari’ah Universitas Al-Ahgaff Yaman

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.