Headline »

November 19, 2017 – 6:49 am | Edit Post

Share this on WhatsApp
Pada hakikatnya Hasud (iri) adalah bentuk permusuhan terang-terangan kepada Allah dan penentangan jelas atas kekuasaan Allah. Sebab Allah SWT ketika memberikan suatu nikmat kepada sebagian hamba-Nya, maka sudah jelas bahwa Allah SWT …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Headline, Teladan

BEGITULAH RASULULLAH MENDIDIK KAMI

Submitted by on November 1, 2017 – 1:47 pm

Oleh: Ustadz Ajir Ubaidillah, Alumni Mahad Sunniyah SAlafiyah Pasuruan

Selepas mensholati jenazah, Sayyidina Zaid bin Tsabit hendak bergegas pulang dengan menaiki bighol, peranakan kuda dan keledai. Mengetahui hal ini, Sayyidina Abdullah Bin ‘Abbas, lalu bergegas menyiapkan kendaraan Sayyidina Zaid, memegang tali kendali dan mendekatkan tunggangan tersebut. “Mohon lepaskan tali kendali itu wahai sepupu Rasulullah”, seru Beliau kepada Sayyidina Abdullah Ibn Abbas karena merasa sungkan diperlalukan seperti itu oleh Keluarga Rasul. Sayyidina Abdullah Bin abbas lantas menjawab, “Begitulah Rasulullah mendidik kami dalam memperlakukan para ulama dan sesepuh”.

Mendengar jawaban ini Sayyidina Zain Bin Tsabit lantas merebut tangan Sayyidina Abdullah Bin Abbas, memegang erat dan menciumi tangan Beliau. Karena malu dan merasa tidak pantas atas perlakuan ini maka Sayyidina Abdullah bin Abbas pun berusaha menarik tangan Beliau sembari menyatakan, “Mohon lepaskan tanganku wahai guru”. Sayyidina Zaid Bin Tsabit menjawab, “Begitulah RASULULLAH mendidik kami dalam memperlakukan keluarga Nabi Kami Shollallohu alaihi wa sallam”. (Lihat Ihyaa Ulumiddin Juz I halaman 51).

Subhaanalloh, sungguh potret akhlak luar biasa yang semestinya menjadi teladan bagi kita semua. Keduanya adalah sahabat RASULULLAH Shollallohu alaihi wa sallam yang istimewa. Sayyidina Zaid Bin Tsabit merupakan sahabat cerdas yang pada zaman RASULULLAH Shollallohu alaihi wa sallam dipercaya sebagai penulis wahyu. Ia juga merupakan sekretaris pribadi Nabi yang keulamaannya begitu diakui. Sayyidina Abdullah Bin ‘Abbas pun tak kalah hebat. Putra Sayyidina ‘Abbas bin Abdul Muthallib ini memiliki wawasan luas. Banyak hadits yang keluar melalui jalur riwayatnya. Di samping itu beliau juga merupakan sepupu RASULULLAH Shollallohu alaihi wa sallam.

Sebagaimana para sahabat lain, Sayyidina Zaid bin Tsabit al-Anshari dan Sayyidina Abdullah bin ‘Abbas bukanlah dua orang yang selalu sepakat dalam pemikiran. Keduanya yang memang ahli fiqih tercatat pernah berselisih pendapat seputar bab warisan (faraidl). Hanya saja, kearifan dan akhlak terpuji mereka menjadikan perbedaan itu sebagai sesuatu yang wajar sehingga tidak menjadikan keduanya saling merendahkan.
Ilmu dan berbagai gelar penting yang disandang oleh Sayyidina Zaid Bin Tsabit tidak sedikitpun mengurangi akhlak dan penghormatan beliau terhadap keluarga NABI Shollallohu alaihi wa sallam. Pun demikian, kecerdasan dan status Ahlu Baitin Nabi yang dimiliki Sayyidina Abdullah Bin Abbas tetap membuat Beliau menghormati para ulama dan sesepuh di zamannya. Rodiyallohu anhuma wa an jamiis shohabah.

Ibarat padi yang semakin berisi semakin merunduk, begitulah semestinya sikap seorang mukmin. Dalam berbagai kesempatan RASULULLAH shollallohu alaihi wa sallam mengingatkan kita akan pentingnya akhlak yang mulia. Beliau bersabda,

أَكْمَلُ اْلـمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
“Orang yang paling sempurna imannya adalah Ia yang paling baik akhlaknya”. (Hadits Riwayat At-Tirmidzi dan Abu Daud).

Juga hadits berikut ini,

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إليَّ وَأَقْرَبُكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ اْلقِيَامَةِ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا
“Orang yang paling Aku cintai dan yang paling dekat denganku kelak di hari kiamat adalah dia yang paling baik akhlaknya”. (Hadits Riwayat At-Tirmidzi dan Abu Daud).

Semoga ALLAH subhaanahu wa ta’ala senantiasa melindungi dan memberkahi para ulama dan keluarga Nabi Shollallohu alaihi wa sallam, dan semoga ALLAH memberikan kekuatan kepada kita sehingga mampu menjadi pribadi yang berakhlakul kariimah dalam berbuat ataupun bertutur kata kepada semua orang wabil khusus kepada ulama dan para keluarga Rasulullah Shollallohu alaihi wa sallam.

أَلَّلهُمَّ اهْدِنَا لِصَالِحِ اْلأَعْمَالِ وَالأَخْلَاقِ لَا يَهْدِيْ لِصَالِـحِـهَا إِلاَّ أَنْتَ. وَاصْرِفْ عَنَّا سَيِّئَهَا لَايَصْرِفُ عَنَّا سَيِّئَهَا إِلَّاأَنْتَ.
“Ya ALLAH, berilah kami petunjuk agar bisa memiliki amal dan akhlak yang baik. Sungguh tidak ada yang mampu menuntun kami selain Engkau. Dan hindarkanlah kami dari perbuatan dan akhlak yang tercela, sungguh tidak ada yang mampu menghindarkan kecuali Engkau”.

Amiin Ya Robbal Alamiin

Tags:

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.