Headline »

November 19, 2017 – 6:49 am | Edit Post

Share this on WhatsApp
Pada hakikatnya Hasud (iri) adalah bentuk permusuhan terang-terangan kepada Allah dan penentangan jelas atas kekuasaan Allah. Sebab Allah SWT ketika memberikan suatu nikmat kepada sebagian hamba-Nya, maka sudah jelas bahwa Allah SWT …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Headline, Kalam Salaf

TIGA GOLONGAN YANG TIDAK PERLU DITANGGAPI

Submitted by on October 26, 2017 – 9:00 am

Imam Ghazali RA dalam kitab Ayyuhal Walad menyebutkan ada empat golongan manusia ketika mengajukan pertanyaan dan bantahan. Tiga golongan tidak perlu ditanggapi dan di jawab pertanyaan serta bantahaannya, sedangkan satu golongan harus untuk ditanggapi dan dijawab pertanyaannya.

Tiga golongan yang tidak perlu ditanggapi adalah:

  1. Orang yang bertanya atau membantah dikarenakan perasaan hasud dan emosi.

Orang yang demikian tidak perlu ditanggapi, sebab sefasih apa pun atau sejelas apapun jawaban kita, itu hanya akan menambah rasa hasud dan emosinya. Maka cara terbaik menghadapinya adalah dengan tidak menanggapi. Dikatakan dalam Syair

كُلُّ الْعَدَاوَةِ قَدْ يُرْجَى إِزَالَتُهَا ***إِلَّا عَدَاوَةَ مَنْ عَادَاكَ عَنْ حَسَدٍ

Setiap permusuhan selalu ada harapan untuk dihilangkan, kecuali permusuhan orang yang memusuhimu karena iri hati (hasud)

Jangan pedulikan dia, dan biarkan ia bersama penyakit hatinya itu. Allah SWT berfirman:

فَأَعْرِضْ عَن مَّن تَوَلَّىٰ عَن ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ إِلَّا ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا

Maka berpalinglah hai Muhammad dari orang yang berpaling dari peringatan Kami dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi. (QS an Najm-29)

Setiap perbuatan dan perkataan orang yang memiliki sifat hasud sebenarnya akan semakin membakar dan menghabiskan pahala amalannya tanpa ia sadari. Rasulullah SAW bersabda:

والحسد ياكل الحسنات كما تاكل النار الحطب

Hasud itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar. (HR Abu Dawud)

  1. Orang yang bertanya atau membantah karena bodoh dan merasa paling benar

Kebodohan yang seperti ini tidak dapat diobati. Nabi Isa AS mengatakan:

إني ما عجزت عن إحياء الموتى وقد عجزت عن معالجة الأحمق

Tidak sulit bagiku untuk menghidupkan orang mati, tapi aku tidak mampu mengatasi orang bodoh.

Orang bodoh yang dimaksud adalah orang bodoh yang baru belajar sedikit ilmu, kemudian ia mulai merasa paling pintar dan membantah setiap perkataan ulama besar yang menghabiskan seluruh hidup untuk ilmu. Ini semua karena kebodohannya, ia mengira bahwa permasalahan yang ia tidak tahu jawabannya adalah juga tidak diketahui jawabannya oleh orang alim lainnya. Maka janganlah menyibukan diri menjawab bantahan dan pertanyaan orang ini, sebab jawaban terbaik bagi orang bodoh seperti ini adalah diam.

  1. Orang yang bertanya dengan niat baik akan tetapi pemahamannya kurang, sehingga dipastikan tidak dapat memahami jawabannya

Orang ini bertanya dengan niat mencari petunjuk. Tapi ia memiliki kekurangan dalam pemahamannya, seandainya dijawab pertanyaannya ia akan memahami dengan pemahaman yang keliru dari yang dimaksudkan. Orang yang demikian juga seharusnya tidak dijawab pertanyaannya. Rasulullah SAW bersabda:

 

أمرنا أن نكلم الناس على قدر عقولهم

Kami diperintahkan untuk berbicara dengan manusia sesuai dengan kadar akal mereka. (HR Dailami)

Adapun orang yang kebodohannya dapat diobati, yaitu orang yang bertanya dengan niat mencari petunjuk dan memiliki pemahaman yang baik. Ia tidak dikuasai perasaan hasud dan emosi, tidak ingin terkenal dan tidak pula mencari kedudukan dan harta. Ia bertanya atau membantah bukan karena ingin mempersulit atau menguji. Orang yang demikian ini adalah pencari ilmu yang benar. Jika ia bertanya maka boleh bagi kita untuk menyibukan diri dengan menjawab dan menjelaskannya, bahkan wajib bagi orang yang berilmu untuk menjawabnya.

 

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.