Headline »

November 19, 2017 – 6:49 am | Edit Post

Share this on WhatsApp
Pada hakikatnya Hasud (iri) adalah bentuk permusuhan terang-terangan kepada Allah dan penentangan jelas atas kekuasaan Allah. Sebab Allah SWT ketika memberikan suatu nikmat kepada sebagian hamba-Nya, maka sudah jelas bahwa Allah SWT …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Headline, Majelis Ifta'

HUKUM MEWARNAI RAMBUT

Submitted by on October 22, 2017 – 1:58 am One Comment

 

Pertanyaan:

Usatdz, bagaimana hukum memakai pewarna rambut warna hitam atau lainnya?. Apa solusi bila rambut kita sudah beruban ?.

 

Jawaban:

 

Bagi laki-laki diharamkan memakai pewarna rambut (semir) warna hitam kecuali dalam peperangan menghadapi kaum kafir, dengan tujuan agar kelihatan gagah sehingga dapat menggetarkan musuh.

 

Dalam sebuah hadits dinyatakan, yang artinya :  Kelak pada akhir zaman terdapat kaum yang mewarnai rambutnya dengan warna hitam sebagaimana tembolok burung dara, mereka kelak tidak akan merasakan bau surga “ HR.Abu Dawud.

 

Demikian menurut madzhab Syafi’i, sedangkan menurut madzhab Hanbali hukum mewarnai rambut dengan warna hitam adalah makruh.

 

Adapun hukum memakai pewarna rambut warna hitam bagi perempuan, menurut pendapat mayoritas ulama madzhab Syafi’i  juga diharamkan, namun menurut pendapat Imam Romli, salah seorang ulama dari madzhab syafi’I, bagi seorang istri, dengan seizin suaminya boleh menggunakannya agar tampak lebih menarik dihadapan suaminya..

 

Adapun hukum menggunakan pewarna rambut warna kuning atau merah pada dasarnya menurut sebagaian Ulama’ adalah sunnah apabila  sudah memutih, baik rambut kepala atau rambut jenggot, hal ini disebabkan agar tidak menyamai kaum yahudi dan nasrani yang tidak mau mewarnai rambutnya dengan warna merah dan kuning, sedangkan Rasulullah SAW. sangat menekankan agar selalu tampil beda dengan kaum yahudi dan nasrani dalam segala hal.

 

Dalam sebuah hadits dinyatakan, yang artinya : Hai para kaum anshor semirlah ubanmu dengan warna merah atau kuning dan jangan kalian menyamai kaum ahli kitab (Yahudi dan Nasrani). HR.Ahmad .

 

Perlu diperhatikan bahwa kesunnahan mewarnai rambut dengan warna merah atau kuning tersebut apabila dilakukan pada rambut yang sudah memutih/beruban, bukan rambut yang masih hitam.

 

dengan niat mengikuti sunnah Rasululloh SAW, bukan pada rambut yang masih hitam atau dengan tujuan mengikuti trend seperti yang terjadi pada saat ini dimana anak-anak muda banyak yang mewarnai rambutnya dengan warna merah atau kuning hanya karena mengikuti trend atau bahkan meniru gaya orang-orang fasiq sehingga apabila demikian, hukumnya bukan sunnah lagi bahkan berubah menjadi HARAM sebab menyerupai atau meniru gaya orang-orang fasiq sebagaimana dinyatakan dalam hadits : Barang siapa yang menyerupai kaum maka dia adalah bagian darinya .HR.Abu Dawud. Lihat :, Faidlul qodir hal :104 juz : 6.

Tentang solusi apabila rambut kita sudah beruban, anda bisa mengikuti madzhab Hanbali namun makruh hukumnya, saran saya sebaiknya dibiarkan saja apa adanya, karena makruh hukum mencabut rambut yang memutih, bahkan menurut sebagaian Ulama haram mencabutnya, baik uban pada rambut kepala atau jenggot. Dalam sebuah hadits dinyatakan, yang artinya : Jangan kalian mencabut uban karena kelak dihari kiamat menjadi nur (cahaya) seorang muslim . HR. Abu Dawud.

 

Lihat : Kasyaful qinna’ hal : 89 juz : l, al-Ghunyah hal : 16 juz  l al-Majmu’ Syarah Muhadzab hal : 359 juz : l. Lihat Is’adur rofiq hal : 121 juz : ll, Ghoyatul bayan hal : 40, Asnal matholib Syarah Roudlut tholib hal : 155 juz : l, al-Majmu’ Syarah Muhadzab hal : 358 juz l, I’anatut tholibin hal : 339 juz : ll.

Referensi

 

 

إعانة الطالبين – (2 / 386)

(قوله: وخضب شيب رأسه ولحيته) معطوف على الادهان، أي ويسن خضب ما شاب من شعر رأس الرجل أو والمرأة، ومن لحية الرجل.

ومحل سنيته: ما لم يفعله تشبيها بالصالحين والعلماء ومتبعي السنة وغيرهم، فإن فعله كذلك كره كذا في شرح الروض.

وقوله: بحمرة أو صفرة) أي لا بسواد، أما به فيحرم إن كان لغير إرهاب العدو في الجهاد، وذلك لخبر أبي دواد والنسائي وابن حبان في صحيحه والحاكم، عن ابن عباس رضي الله عنهما، قال: قال رسول الله (ص): يكون قوم يخضبون في آخر الزمان بالسواد كحواصل الحمام، لا يريحون رائحة الجنة.

قال في الزبد: وحرموا خضاب شعر بسواد * * لرجل وامرأة لا للجهاد قال الرملي في شرحه: نعم، يجوز للمرأة ذلك بإذن زوجها أو سيدها، لان له غرضا في تزينها به.

اه.

أسنى المطالب  – (1 / 155)

 وَأَنْ يُخَضِّبَ الشَّيْبَ ) أَيْ الشَّعْرَ الشَّائِبَ ( بِالْحُمْرَةِ وَالصُّفْرَةِ ) لِمَا مَرَّ فِي شُرُوطِ الصَّلَاةِ نَعَمْ إنْ فَعَلَهُ تَشَبُّهًا بِالصَّالِحِينَ وَالْعُلَمَاءِ وَمُتَّبِعِي السُّنَّةِ مِنْ غَيْرِ نِيَّةٍ صَحِيحَةٍ كُرِهَ قَالَهُ فِي الْمَجْمُوعِ ( وَهُوَ ) أَيْ خِضَابُ الشَّيْبِ ( بِالسَّوَادِ حَرَامٌ ) لِمَا مَرَّ فِي شُرُوطِ الصَّلَاةِ أَيْضًا وَلِخَبَرِ مُسْلِمٍ عَنْ جَابِرٍ قَالَ { أُتِيَ بِأَبِي قُحَافَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ وَرَأْسُهُ وَلِحْيَتُهُ كَالثَّغَامَةِ بَيَاضًا فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَيِّرُوا هَذَا بِشَيْءٍ وَاجْتَنِبُوا السَّوَادَ وَالثَّغَامَةَ } بِفَتْحِ الْمُثَلَّثَةِ وَبِالْمُعْجَمَةِ نَبْتٌ لَهُ ثَمَرٌ أَبْيَضُ وَعَبَّرَ مَعَ هَذَا فِي الْأَصْلِ عَنْ الْغَزَالِيِّ بِالْكَرَاهَةِ ، وَكَذَا عَبَّرَ بِهَا فِي الْمَجْمُوعِ ، وَلَعَلَّ مُرَادَهُ كَرَاهَةُ التَّحْرِيمِ قَالَ : وَلَمْ يُفَرِّقُوا فِيهِ بَيْنَ الرَّجُلِ وَالْمَرْأَةِ ( إلَّا لِلْمُجَاهِدِ ) فِي الْكُفَّارِ فَلَا بَأْسَ بِهِ إرْهَابًا لِلْعَدُوِّ بِإِظْهَارِ الشَّبَابِ وَالْقُوَّةِ .

المجموع – (1 / 358)

(فرع) يسن خضاب

الشيب بصفرة أو حمرة اتفق عليه أصحابنا: وممن صرح به الصيمري والبغوى وآخرون للاحاديث الصحيحة المشهورة في ذلك: منها حديث أبي هريرة رضى الله عنه ان رسول الله صلى الله عليه

وسلم قال ان اليهود والنصارى لا يصبغون فخالفوهم رواه البخاري ومسلم.

(فرع) اتفقوا على ذم خضاب الرأس أو اللحية بالسواد، ثم قال الغزالي في الاحياء والبغوى في التهذيب وآخرون من الاصحاب هو مكروه: وظاهر عباراتهم انه كراهة تنزيه: والصحيح بل الصواب انه حرام: وممن صرح بتحريمه صاحب الحاوى في باب الصلاة بالنجاسة: قال الا أن يكون في الجهاد: وقال في آخر كتابه الاحكام السلطانية يمنع المحتسب الناس من خضاب الشيب بالسواد الا المجاهد: ودليل تحريمه حديث جابر رضى الله عنه قال أتي بأبي قحافة والدأبي بكر الصديق رضى الله عنهما يوم فتح مكة ورأسه ولحيته كالثغامة بياضا فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم غيروا هذا واجتنبوا السواد رواه مسلم في صحيحه والثغامة بفتج الثاء المثلثة وتخفيف الغين المعجمة نبات له ثمر أبيض وعن ابن عباس رضي الله عنهما قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم يكون قوم يخضبون في آخر الزمان بالسواد كحواصل الحمام لا يريحون رائحة الجنة رواه أبو داود والنسائي وغيرهما ولا فرق في المنع من الخضاب بالسواد بين الرجل والمرأة: هذا مذهبنا: وحكي عن اسحق بن راهوية انه رخص فيه للمرأة تتزين به لزوجها والله أعلم

Tags:

One Comment »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.