Headline »

November 19, 2017 – 6:49 am | Edit Post

Share this on WhatsApp
Pada hakikatnya Hasud (iri) adalah bentuk permusuhan terang-terangan kepada Allah dan penentangan jelas atas kekuasaan Allah. Sebab Allah SWT ketika memberikan suatu nikmat kepada sebagian hamba-Nya, maka sudah jelas bahwa Allah SWT …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Headline, Rudud

MANA DALILNYA?

Submitted by on October 17, 2017 – 1:05 am

Oleh: Sayyid Husein Ali Assegaf*

Pertanyaan seperti itu akhir-akhir ini sering muncul bahkan dari mereka yang mungkin tidak mengerti apa yg dinamakan ” dalil ”

Memang betul , bahwa seseorang berhak menanyakan dalil atau dasar hukum syariat semata-mata agar dirinya lebih memahami hikmah yang tekandung , akan tetapi perlu dipahami bahwa tidak semua dalil dapat dipahami dengan instan , karena ‘ibaroh (redaksi) nas yang terkandung dalam Alqur’an dan hadits tidak semua bersifat واضح الدﻻلة sehingga dapat dipahami dengan mudah oleh masyarakat awam

adakalanya dalil suatu hukum bersifat خفي الدﻻلة sehingga seseorang yang belum mengenal Ilmu Ushul fiqh akan sulit memahami proses yang dilakukan seorang mujtahid ( Ulama’ yang telah memenuhi kriteria tertentu ) untuk menetapkan hukum melalui dalil tersebut

Maka dari itu ketika seorang mujtahid ditanya tentang hukum syari’at , tidak diwajibkan baginya untuk menjelaskan dalil hukum tersebut , hanya saja disunnahkan jika dalil mudah dipahami oleh awam

Sebenarnya seorang yang terlalu sering mempertanyakan dalil kepada ulama’ itu seakan tak percaya apa yang disampaikan ulama’ , sama halnya ketika dokter menjelaskan bahwa sakit yang dirasakan pasien karena pembengkakan liver , kemudian dia bertanya ” apa buktinya liver saya bengkak? Apa dasarnya?? ” , tentu hal seperti itu merupakan etika buruk pasien kepada dokter

Terlebih jika yang bertanya tentang adanya dalil adalah ia yang meninggikan suara menantang dan termasuk kaum yang beranggapan bahwa Ilmu ushul fiqh adalah BID’AH , maka dipastikan sulit memberikan pemahaman ilmiah padanya

Wallahu a’lam , semoga bermanfaat .

* Penulis adalah Ketua Dewan Syuriah FMI Yaman , Alumni PonPest Sunniyah Salafiyyah & mahasiswa Univ. Al Ahgaff tingkat 5 .

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.