Headline »

November 19, 2017 – 6:49 am | Edit Post

Share this on WhatsApp
Pada hakikatnya Hasud (iri) adalah bentuk permusuhan terang-terangan kepada Allah dan penentangan jelas atas kekuasaan Allah. Sebab Allah SWT ketika memberikan suatu nikmat kepada sebagian hamba-Nya, maka sudah jelas bahwa Allah SWT …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Headline

Kapan boleh Berghibah?

Submitted by on September 6, 2017 – 4:25 am

Ghibah adalah menyebutkan keburukan orang ketika orang itu tidak ada. Seandainya orang itu mendengar ia pasti tidak menyukainya. Jika keburukan itu memang ada padanya, itu dinamakan ghibah dan suatu dosa, jika keburukan itu tidak ada padanya maka itu dinamkan Buhtan (fitnah) yang dosanya lebih besar lagi.

Jadi alasan seorang yang mengatakan, “Ini bukan ghibah, hanya menyebutkan kenyataan.” Itu adalah alasan keliru. Walaupun sesuai kenyataan, membicarakan keburukan orang adalah dosa.

Ghibah adalah dosa berdasarkan kesepakatan ulama. Dalam al-Quran disebutkan:

{وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا }

Dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? (QS al Hujurat: 12)

Ulama berselisih apakah ghibah termasuk dosa besar atau dosa kecli. Al Qurthubi mengatakan bahwa Ghibah adalah dosa besar dalam Madzhab Maliki tanpa ada khilaf, banyak pula dari kalangan Madzhab Syafii yang berpendapat demikian. Ada sebagian ulama mengatakan itu adalah dosa kecil, pendapat ini dibenarkan oleh Imam Rofii. Menurut Ibnu Hajar al Haitami, bahwa menggunjing orang alim atau penghapal al-Quran adalah dosa besar, sedangkan mengghibah orang biasa adalah dosa kecil.

Selain menggunjing, dosa pula orang yang mendengarkan gunjingan tanpa mengingkarinya.

Kapan Boleh Ghibah?

Para ulama menyebutkan enam keadaaan di mana kita diperbolehkan untuk berghibah yaitu ketika ada kemaslahatan. Bahkan kadang menyebutkan keburukan orang dapat dihukumi wajib. Keadaan dimana boleh berghibah ada enam, ini disebutkan oleh Al Jujuri:

تَظَلّمْ واستعِن واستفت حَذِّرْ ** وعَرِّف واذكرَنْ فسقَ المُجَاهِرْ

Mengadukan kezaliman, meminta tolong, meminta fatwa, memperingatkan, memberi tahu, dan sebutkan pula kefasikan orang yang menampakkannya

Enam hal itu adalah:

  1. Tadzallum

Maksudnya adalah mengadukan kezaliman kepada hakim atau aparat. Orang yang dizalimi boleh mengatakan, “Fulan telah menzalimiku.” Untuk menuntut haknya.

  1. Meminta Tolong

Maksudnya adalah meminta pertolongan untuk menghentikan suatu kemunkaran. Kita boleh mengadukan keburukan seseorang  kepada orang yang memiliki kemampuan untuk menghentikan kemunkarkaran agar ia dapat membantu menghentikannya. Tapi disyaratkan harus dengan maksud untuk menghilangkan kemunkaran. Jika ia tidak bermaksud hal itu, hanya sekedar mengabarkan saja maka hukumnya adalah haram.

  1. Meminta Fatwa

Maksudnya adalah meminta penjelasan hukum kepada orang yang berkompeten di dalamnya. Seperti jika kita berkata kepada seorang mufti, “Si Fulan menzalimi saya, apakah perbuatan itu memang dibolehkan baginya? Dan bagaimana solusinya?”

  1. Memperingatkan

Seperti kita menyebutkan keburukan-keburukan seseorang kepada orang yang ingin bekerjasama atau menikahi orang itu. Ini diperbolehkan apabila kita tidak dapat mencegahnya kecuali dengan menyebutkan aibnya. Jika masih mungkin mencegah tanpa menyebutkan aib seperti dengan mengatakan, “Ia tidak cocok untukmu.” Maka tidak boleh menyebutkan aibnya.

  1. Menyebutkan ciri-ciri khususya agar dikenali

Seperti ketika kita mengatakan, “Fulan itu pincang.” Atau semisalnya kepada orang yang tidak tahu siapa fulan agar ia tahu siapa yang dimaksud. Dan memang orang itu dikenal dengan sebutan pincang. Dengan syarat penyebutannya ini hanya untuk memperjelas orang yang dimaksud bukan untuk merendahkan. Jika untuk merendahkan maka hukumnya haram.

  1. Menyebutkan keburukan orang yang terang-terangan berbuat buruk

Orang yang terang-terangan mabuk di muka umum maka boleh bagi kita menyebutkan mabuknya itu. Begitupula yang terang-terangan mengambil pungutan liar, boleh bagi kita menyebutkan aksinya itu. Kita boleh menyebutkan kefasikan orang yang melakukannya secara terang-terangan. Tidak boleh menyebutkan kefasikan yang dilakukan sembunyi-sembunyi. Tujuannya agar orang fasik itu mendengar sehingga ia menghhentikan perbuatannya.*dzr

 

 

Tags:

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.