Headline »

November 19, 2017 – 6:49 am | Edit Post

Share this on WhatsApp
Pada hakikatnya Hasud (iri) adalah bentuk permusuhan terang-terangan kepada Allah dan penentangan jelas atas kekuasaan Allah. Sebab Allah SWT ketika memberikan suatu nikmat kepada sebagian hamba-Nya, maka sudah jelas bahwa Allah SWT …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Headline, Kalam Salaf

13 Keringanan Umat Nabi Muhammad SAW

Submitted by on August 26, 2017 – 11:43 am

Prof Sayyid Muhammad bin Alawi al Maliki dalam kitabnya Syaroful Ummah al Muhammadiyah membahas mengenai tiga belas contoh keringanan yang Allah tetapkan bagi Umat Nabi Muhammad SAW. Berikut uraiannya:

Diantara kekhususan Umat Nabi Muhammad SAW adalah diangkatnya ishr (beban yang memberatkan) yang ditetapkan bagi umat sebelumnya. Allah SWT berfirman:

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ

(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. (QS Al A`rof: 157)

Ishr adalah beban yang memberatkan orang yang menanggungnya sehingga ia tidak mampu lagi bergerak. Makna dari ayat tersebut bahwa Allah tidak mewajibkan kepada Umat Nabi Muhammad SAW sesuatu yang di luar batas kemampuan mereka. Dan tidak menjadikannya sebagai suatu keharusan sebagaimana diharuskan bagi umat-umat terdahulu. Seperti kaum Bani Israel yang dibebani berbagai amal yang sulit dan beban yang memberatkan seakan leher mereka dibelenggu oleh rantai besi.

Beban-beban yang dihapus bagi umat ini sangat banyak. Di antaranya adalah:

  1. Memotong tempat yang terkena najis

Pada syariat terdahulu, apabila baju seseorang terkena najis maka cara mensucikannya adalah dengan memotong bagian yang najis itu. Tidak cukup dengan hanya membasuhnya saja. Dalam Shahih Bukhari disebutkan bahwa Sahabat Abu Musa Al Asyariy RA mengatakan:

إِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَ إِذَا أَصَابَ ثَوْبَ أَحَدِهِمْ قَرَضَهُ

Sesungguhnya Bani Israil apabila baju salah seorang dari mereka terkena najis maka mereka mengguntingnya. (HR Bukhari)

Sedangkan dalam syariat umat ini, sesuatu yang terkena najis cukup dialirkan air dan dibasuh saja. Baik yang terkena najis itu adalah pakaian, badan, atau pun masjid sebagaimana dijelaskan dalam kitab-kitab sunah.

  1. Larangan makan bersama wanita haid

Dalam syariat Bani Israel, haram hukumnya makan bersama wanita haid, berkumpul, dan tinggal bersama mereka. Wanita haid dikucilkan di kamar tersendiri. Ini sebagaimana disebutkan dalam hadits Shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam Ahmad.

Sedangkan dalam syariat Umat Nabi Muhammad SAW, kita diperbolehkan untuk berkumpul bersama wanita haid baik ketika makan dan minum. Suami boleh tidur dalam satu ranjang bersama istrinya yang haid. Yang dilarang adalah bersetubuh atau bercumbu dengan anggota tubuh wanita yang ada di antara lutut dan pusar. Disebutkan dalam hadits:

اصنعوا كل شيء إلا النكاح

Lakukan semua hal (dengan wanita haid) kecuali nikah (bersetubuh) (HR Muslim)

  1. Wajibnya qishos baik sengaja atau tidak

Dalam syariat Bani Israil, qishosh (balasan setimpal) wajib dilakukan baik pembunuhan itu dilakukan dengan sengaja atau tidak. Dalam syariat mereka tidak ada pembayaran diat baik dalam pembunuhan atau dalam melukai, semua harus dibalas setimpal dengan qishos. Ini sebagaimana disebutkan dalam hadits Bukhari bahwasanya Sahabat Ibnu Abbas mengatakan:

كَانَتْ فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ قِصَاصٌ وَلَمْ تَكُنْ فِيهِمْ الدِّيَةُ

Dahulu, pada masa Bani Israil hanya ada Qishosh, tidak ada diat. (HR Bukhari)

Jadi jika seorang membunuh maka ia harus dibunuh juga. Jika seorang memotong tubuh anggota tubuh orang lain maka anggota tubuhnya pun harus dipotong.

Hukuman ini diringankan bagi Umat Nabi Muhammad SAW dengan disyariatkannya diat (membayar ganti rugi) jika keluarga korban memaafkan. Ini berdasarkan ayat:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالْأُنْثَى بِالْأُنْثَى فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ذَلِكَ تَخْفِيفٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ

Diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema’afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema’afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma’af) membayar (diat) kepada yang memberi ma’af dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. (QS AL Baqoroh: 178)

Bagitupula bagi orang yang membunuh tanpa sengaja, maka ia tidak diqishos melainkan wajib membayar diat kepada keluarga korban.

  1. Hukuman mati sebagai bentuk taubat

Ketika Bani Israel menyembah patung anak sapi, Nabi Musa AS menjelaskan cara untuk bertaubat yaitu dengan cara menyesal kemudian yang tidak berdosa menghukum mati yang berdosa. Inilah makna ayat:

فَتُوبُوا إِلَى بَارِئِكُمْ فَاقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ

Maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. (QS al Baqarah: 54)

Begitupula hukuman bagi maksiat lain adalah dengan cara memotong anggota tubuh yang berdosa. Jika berdusta maka hukumannya potong lidah, berzina dengan potong kemaluan, melihat wanita yang bukan mahram dengan mencungkil mata, dst. Ini disebutkan dalam kitab Mawahib al Laduniyah.

Adapun umat ini, Allah SWT memudahkan cara bertaubat bagi mereka. Allah mengabarkan bahwsanya Allah SWT menerima taubat dan mengampuni dosa. Allah SWT lebih menyukai hamba yang bertaubat daripada seorang ibu ketika menemukan anak bayinya yang hilang. Di dalam Alquran disebutkan:

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا

Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS an Nisa: 110)

  1. Diungkapkan dosa orang yang berbuat maksiat

Jika salah satu dari kaum bani Israil melakukan dosa maka di pagi hari akan tertulis di pintu rumahnya: “Fulan telah melakukan ini dan penghapus dosanya adalah ini.” Tulisan ini bisa dibaca oleh semua orang. Sebagaimana disebutkan dalam al Khoshoish.

Adapun umat Nabi Muhammad SAW, Allah SWT memberikan anugrah dengan ditutupi dosanya. Sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah SAW:

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ وَإِنَّ مِنْ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ فَيَقُولَ يَا فُلَانُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ

Setiap umatku dimaafkan kecuali yang terang-terangan berdosa. Dan termasuk terang-trangan adalah jika seorang melakukan dosa di malam hari kemudian di pagi hari setelah Allah menutupi dosa itu, ia malah berkata “Hai Fulan, tadi malam aku melakukan ini dan itu.” Di malam hari Tuhannya menutupi dosanya tapi di pagi hari ia sendiri yang membuka apa yang ditutupi oleh Allah. (HR Bukhari-Muslim)

  1. Hukuman bagi ucapan hati, walaupun tidak dilakukan

Allah SWT tidak mengutus seorang nabi atau rasul yang diturunkan kepadanya kitab kecuali Allah mengabarkan bahwasanya Allah akan menghisab hamba-hamba-Nya atas semua yang ia lakukan dan apa yang ia sembunyikan di hatinya. Umat terdahulu datang kepada nabi-nabi mereka dan memprotes “Bagaimaa mungkin kami dihukum atas sesuatu yang ada dalam hati kami padahal belum kami lakukan.” Maka mereka pun menjadi kafir dan berkata:

سمعنا وعصينا

Kami dengar tapi kami ingkari

Adapun umat ini ketika mendengar hal itu, mereka mengatakan:

سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا

Kami mendengar dan kami patuh.

Maka Allah menenangkan hati mereka dan memaafkan ucapan hati kecuali jika diungkapkan dan dikerjakan oleh anggota tubuh.

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ

Tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (QS al Baqarah: 286)

  1. Dimaafkan atas ketidaksengajaan dan lupa

Kaum terdahulu akan disegerakan hukumannya bila melakukan hal yang diharamkan baik dari makanan, minuman dengan hukuman yang sesuai dengan dosanya baik kecil atau sedikit.

Sedangkan umat Nabi Muhammad SAW dimaafkan oleh Allah SWT atas perbuatan yang dilakukan tanpa kesengajaan, lupa atau karena dipaksa. Ini disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Hibban, Alhakim, Ibnu Majah, Athabarani, ad Daruqutni dengan sanad-sanad yang hasan.

  1. Haram bekerja di hari raya mereka

Hari raya Bani Israel adalah Hari sabtu. Mereka diwajibkan untuk beribadah di hari itu dan diharamkan untuk bekerja. Oleh sebab itu ketika mereka melanggar dengan menangkap ikan pada Hari Sabtu, Allah SWT menghukum mereka dan berfirman:

{كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ} [البقرة: 65]

“Jadilah kamu kera yang hina”. (QS al-Baqarah: 65)

Sedangkan umat ini telah diberikan keringanan oleh Allah SWT. Umat Nabi Muhammad SAW boleh bekerja di hari raya mereka yaitu Hari Jumat sebelum shalat Jumat dan setelahnya. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (9) فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.  Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (QS al Jumu`ah: 9-10)

  1. Thoun (wabah kolera) adalah adzab bagi umat terdahulu

Nabi SAW telah mengabarkan bahwsanya thoun adalah kotoran dan adzab yang dikirim bagi suatu kaum dari Bani Israel dan selain mereka. Adapun bagi umat ini, thoun adalah rahmat dan sebab syahid bagi mereka.

  1. Diharamkannya sebagaian makanan yang baik-baik

Ini adalah hukuman Allah atas Bani Israel karena kezaliman mereka dan perbuatan mereka yang tidak bermain-main dengan syariat Allah. Allah SWT berfirman:

فَبِظُلْمٍ مِنَ الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ كَثِيرًا

Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah. (QS an-Nisa: 160)

Di antara  jenis yang diharamkan adalah

1.Setiap hewan yang berkuku dan tidak belah kukunya daripada hewan kaki empat dan burung seperti unta, angsa, bebek semua itu haram bagi mereka.

  1. Lemak yang ada pada hewan adalah haram baik pada sapi atau kambing. Dikecualikan lemak yang bercampur dengan daging dan tulang.

Adapun umat Nabi Muhammad maka Allah membolehkan bagi mereka semua yang baik

{ الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ} [المائدة: 5]

Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. (QS al Maidah: 5)

Dan mengharamkan yang buruk saja

{وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ} [الأعراف: 157]

dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk. (QS al A`rof: 157)

  1. Haramnya rampasan perang

Umat terdahulu apabila mendapatkan rampasan perang dari musuh, rampasan itu tidak boleh diambil melainkan harus dikumpulkan. Kemudian akan datang api dari langit yang membakarnya. Itu adalah tanda perang mereka diterima oleh Allah SWT. Ini diisyaratkan dalam Al-Quran:

حَتَّى يَأْتِيَنَا بِقُرْبَانٍ تَأْكُلُهُ النَّارُ } [آل عمران: 183]

sebelum dia mendatangkan kepada kami korban yang dimakan api. (QS Ali Imron: 183)

Adapun bagi umat Nabi Muhammad SAW, Allah SWT menghalalkan rampasan perang karena kemuliaan Nabi mereka. Ini dijelaskan dalam hadits-hadits shahih. Allah jadikan harta rampasan perang menjadi halal dan penuh berkah. Di dalam Al-Quran disebutkan:

فَكُلُوا مِمَّا غَنِمْتُمْ حَلَالًا طَيِّبًا]

Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik. (QS Al-Anfal: 69)

  1. Haram shalat atas mereka kecuali di tempat khusus

Umat terdahulu diharamkan melakukan shalat kecuali di tempat khusus seperti mihrab, biara, tempat ibadah dll. Jika mereka bepergian dan tidak menemukan tempat ibadah, maka mereka dilarang shalat. Setelah kembali barulah mereka mengqodhoi shalat yang ditinggalkan selama perjalanan itu di tempat ibadah mereka. Sahabat Ibnu Abbas RA mengatakan:

لم يكن احد من الانبياء يصلى حتى يبلغ محرابه

Tidak ada seorangpun dari para nabi yang shalat sampai mereka sampai ke mihrabnya.(HR Bazzar)

Sedangkan umat Nabi Muhammad SAW, mereka boleh shalat di mana saja. Dijadikan bumi ini sebagai tempat shalat bagi mereka. Setiap tempat bisa dijadikan tempat untuk shalat tidak harus di masjid atau mushola, ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits yang shahih.

  1. Bersuci harus dengan air

Umat terdahulu hanya boleh bersuci dengan air saja. Jika tidak ada air  maka mereka tidak boleh shalat sampai menemukannya. Apabila sudah menemukan air barulah mereka mengqodhoi semua shalat yang ditinggalkan selama tidak ada air.

Adapun umat Nabi SAW, Allah SWt berikan keringanan jika tidak ada air untuk menggunakan tanah. Kapan saja mereka tidak menemukan air maka mereka bisa bertayamum dengan tanah dan melaksanakan shalat.

Demikian di antara keringanan umat ini. Umat ini mendapatkan keringanan ini karena menjadi umat dari Nabi SAW yang sangat dikasihi oleh Allah SWT. Maka bersyukurkan kepada Allah SWT yang telah menjadikan kita umat dari Nabi yang paling dikasihi. *Dzr

 

 

Tags:

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.