Headline »

November 19, 2017 – 6:49 am | Edit Post

Share this on WhatsApp
Pada hakikatnya Hasud (iri) adalah bentuk permusuhan terang-terangan kepada Allah dan penentangan jelas atas kekuasaan Allah. Sebab Allah SWT ketika memberikan suatu nikmat kepada sebagian hamba-Nya, maka sudah jelas bahwa Allah SWT …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Headline, Kalam Salaf

MEMBACA SURAT AL WAQIAH AGAR MENJADI KAYA, BOLEHKAH?

Submitted by on August 19, 2017 – 1:18 am

Al-Habib Abdullah bin Alwi Alhaddad dalam kitab Ithafus Sail menuturkan pertanyaan seseorang mengenai orang yang membaca Surat Al-Waqiah dengan tujuan mendapatkan kecukupan, apakah itu salah?

Beliau RA menjawab:

Telah datang riwayat yang menyebutkan bahwa membaca Surat al-Waqiah setiap malam dapat mengamankan dari Faqoh. Faqoh adalah butuh kepada manusia sekiranya dapat merendahkan kedudukan dan harga dirinya di dunia.

Sahabat Ibnu Mas`ud RA pernah ditanya menjelang kematiannya,

Engkau telah meninggalkan keturunanmu dalam keadaan faqir?”

Beliau RA pun menjawab:

ما منهم أحد إلا وقد أعطيته كنزا، وهو سورة الواقعة.

Setiap dari mereka telah aku bekali dengan harta karun, yaitu Surat Al-Waqiah.

Sudah tidak asing dalam kitab-kitab sunah pembahasan mengenai khasiat atau manfaat dari membaca suatu Surat, ayat Al-Quran, dzikir ataupun doa nabawi.  Banyak kitab-kitab ulama yang membahas mengenainya. Imam Ghazali RA sendiri pernah menulis satu kitab mengenai ini dengan judul, ad Dzahab al Ibriz fi Khowasil Kitab al Aziz.

Maka, merutinkan membaca Al-Waqiah dengan tujuan mendapatan manfaat duniawi atau mencegah dari bahaya duniawi bukan kekeliruan yang dapat merusak amal dan niat. Akan tetapi tentu saja, semestinya tujuannya merutinkannya jangan hanya karena urusan dunia semata.

Membaca Al-Waqiah dengan harapan agar rizkinya berkecukupan sehingga tidak butuh kepada pertolongan manusia sebenarnya adalah niat yang sangat utama jika ia cerdas. Seorang mukmin yang cerdas ketika ia memiliki harapan untuk hidup berkecukupan, aman jiwa dan keluarganya atau sejenisnya, ia tidak bermaksud agar dapat hidup nikmat dan senang. Tapi ia mengharapkan itu semua karena khawatir jika ia hidup sengsara dan tidak aman, jiwanya tidak dapat menerima takdir Allah sehingga ini dapat merusak agamanya. Sering terjadi orang-orang yang tertimpa kesengsaraan dan bala mereka mengeluhkan ketentuan Allah yang ditetapkann bagi mereka.

Oleh sebab itu para pembesar tokoh agama memiliki harapan besar untuk memohon afiat (keselamatan) dari Allah SWT baik keselamatan zahir maupun batin. Ini karena nafsu manusia memiliki watak yang lemah dan mudah goncang ketika ditimpa suatu kesulitan.

Nabi SAW bahkan berkali-kali memohon perlindungan dari kefakiran dan penyakit. Beliau pernah bersabda:

“” كاد الفقر أن يكون كفرا “”

Hampir saja kefakiran menyebabkan kekafiran

Ini karena kefakiran seringkali menyebabkan seseorang tidak-menerima ketentuan Allah, marah dengan takdir dan berkeluh kesah. Tidak sudi diatur oleh Allah SWT adalah suatu bentuk kekafiran.

Imam Sufyan ats Tsauri mengatakan:

“Aku tidak khawatirkan rasa sakit ketika mendapatkan ujian, yang aku khawatirkan aku menjadi kafir ketika diuji.”

Hamba yang sempurna adalah yang rela kepada keadaan yang dipilihkan Tuhan untuknya. Menyakini bahwa ilmu Allah, pilihan Allah, pengaturan Allah itu yang terbaik sehinnga ia medahulukannya daripada pilihannya dan pengaturannya.

Terkadang seseorang melanggengkan membaca Surat tertentu atau dzikir dan doa tertentu yang dikatakan memiliki suatu manfaat, akan tetapi ia sama sekali tidak mendapatkan manfaat yang disebutkan. Jika terjadi demikian, jangan meragukan kebenaran manfaat yang disebutkan, akan tetapi seharusnya ia mengintropeksi diri terlebih dahulu, mungkin ia tidak terlalu yakin dengan kegunaannya atau tidak memenuhi syarat membacanya.

Syarat pokok untuk mendapatkan pengaruh dan manfaat dari bacaan yang ia baca adalah hati yang yakin bahwa manfaat itu adalah benar seperti yang disebutkan. Ia tidak memiliki keraguan dalam membacanya tidak pula bermaksud hanya sekedar menguji saja. Ia harus memenuhi hati dengan husnudzon kepada Allah yang murni disertai perasaan hadir sempurna bersama-Nya.

Jika hal-hal ini terkumpul ketika membaca ayat-ayat dan dzikir yang dibaca dengan khasiat tertentu,, maka apa yang diminta seakan berada di bawah tangannya dan tunduk kepadanya. Maka hamba yang kecil himmahnya,  dan sedikit semangatnya jangan mencela kecuali diri sendiri

Maka jangan mencela hamba yang duduk himmahnya dan telat semangat dan rajinnya kecuali dirinya sendiri.

وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya. (QS Fushilat: 46)

*dzr

Tags:

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.