Headline »

November 19, 2017 – 6:49 am | Edit Post

Share this on WhatsApp
Pada hakikatnya Hasud (iri) adalah bentuk permusuhan terang-terangan kepada Allah dan penentangan jelas atas kekuasaan Allah. Sebab Allah SWT ketika memberikan suatu nikmat kepada sebagian hamba-Nya, maka sudah jelas bahwa Allah SWT …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Headline

NAMA YANG BOLEH DAN YANG DILARANG

Submitted by on August 15, 2017 – 11:58 am

Memberikan nama boleh dilakukan kapan saja, tetapi sunahnya dilakukan pada hari ke tujuh dari kelahiran berbarengan dengan akikah dan pemotongan rambut bayi. Sahabat Amar bin Syuaib ra berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِتَسْمِيَةِ الْمَوْلُودِ يَوْمَ سَابِعِهِ وَوَضْعِ الْأَذَى عَنْهُ وَالْعَقِّ

Sesungguhnya Nabi SAW memerintahkan untuk menamakan bayi pada hari ke tujuh, membersihkan kotorannya (memotong rambut) dan mengakikahinya. (HR Turmudzi)

Ada pula riwayat yang menyebutkan bahwa beberapa anak para sahabat diberikan nama oleh Rasulullah SAW pada hari kelahirannya. Oleh sebab itu Imam Nawawi mengatakan dalam kitab Adzkarnya bahwa yang sunah dalam memberikan nama, hendaknya dilakukan pada hari ke tujuh atau boleh pula langsung pada hari kelahirannya. Sedangkan Imam Bukhari berpendapat bahwa jika ia berkehendak untuk melakukan akikah maka disunahkan untuk memberi nama pada hari ketujuh, jika tidak maka sunah menamai anaknya pada hari pertama.

Memberi nama anak tetap sunah walau pun bayinya mati sebelum diberikan nama. Begitupula akikah, tetap sunah dilakukan pada hari ke tujuh walau pun bayinya mati sebelum itu. Bayi yang mati dalam kandungan pun tetap sunah diberikan nama. Apabila tidak diketahui jenis kelaminnya maka hendaknya dinamai dengan nama yang bisa digunakan untuk lelaki dan wanita seperti Thalhah dan Hindun.

Para ulama sepakat bahwa yang berhak memberikan nama adalah ayah bayi. Jika tidak ada, maka kakeknya. Tetapi disunahkan bagi ayah atau kakek untuk memintakan nama kepada orang yang terkenal shaleh sebagaimana yang dilakukan oleh para sahabat yang memintakan nama anak-anak mereka kepada Nabi SAW.

Ibu dari bayi tidak memiliki hak untuk menentang keputusan ayah tentang nama anaknya. Meskipun demikian, yang lebih utama hendaknya nama anaknya dimusyawarohkan oleh kedua orang tua untuk menghindari pertentangan dalam rumah-tangga.

Nama yang diperbolehkan

Semua ulama sepakat tentang kesunahan memberikan nama yang bagus dan indah bagi bayi. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّكُمْ تُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِكُمْ وَأَسْمَاءِ آبَائِكُمْ فَأَحْسِنُوا أَسْمَاءَكُمْ

Sesungguhnya kalian akan dipanggil di hari kiamat dengan nama-nama kalian, maka baguskanlah nama-nama kalian. (HR Abu Dawud)

Di antara nama-nama yang disunahkan berdasarkan kesepakatan ulama adalah Abdullah (hamba Allah) dan Abdurrahman (hamba Allah Yang Maha Penyayang). Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ أَحَبَّ أَسْمَائِكُمْ إِلَى اللَّهِ عَبْدُ اللَّهِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ

Sesungguhnya nama kalian yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurahman. (HR Muslim)

Dianjuran pula nama-nama yang mengandung makna penghambaan kepada Allah SWT. Yaitu nama yang dimulai dengan kata Abdu (hamba) yang disambungkan dengan nama-nama Allah SWT. Contohnya adalah Abdurahim, Abdullathif, Abdulmalik dan Abdulqodir, dan lainnya.

Setelah itu, nama yang terbaik adalah nama para nabi, malaikat, dan nama-nama para salaf yang sholeh. Rasulullah SAW bersabda:

تَسَمَّوْا بِأَسْمَاءِ الْأَنْبِيَاءِ

Berilah nama dengan nama-nama Nabi. (HR Abu Dawud)

Nabi SAW menamai putranya dengan Ibrahim, dan menamai putra-putra sahabat dengan Yusuf dan Ibrahim. Imam Syakroni, dalam kitab ‘Uhud mengatakan: “Kami telah berjanji untuk lebih menghormati setiap hamba yang dinamakan seperti nama-nama Allah (yang bisa digunaan oleh makhluk seperti Rouf dan Rohim) atau nama Rasulullah saw atau nama-nama para nabi as atau nama-nama pembesar para wali ra, melebihi penghormatan kepada orang yang tidak dinamakan demikian.”

Termasuk nama yang dianjurkan adalah nama Nabi SAW yaitu Muhammad. Maka hendaknya seorang muslim jangan melewatkan nama Muhammad pada salah satu putranya dan memandang adanya keberkahan dalam nama tersebut.

Boleh pula menamai anak dengan nama-nama al Quran seperti Yasin dan Thoha, sebab tidak ada larangan mengenai ini.

Nama yang makruh

Dimakruhkan memberikan nama yang buruk seperti Himar(keledai), Harb(perang), Murroh(pahit), Huzn(kesedihan), Kalb(anjing), Syaithon(setan), Dhirar(bahaya), Handzolah(buah yang pahit), Sariq(pencuri), Dzolim(Orang Zalim), `Ashiyah (yang bermaksiat) dan nama-nama buruk lain.

Nama yang sebaiknya dihindari adalah nama yang dianggap sebagai pertanda buruk ketika dikatakan tidak ada, seperti Berkah, Yasar(kemudahan), Robah(keuntungan), Najih(yang berhasil), dan Aflah(yang beruntung). Sebab jika ditanya, “Apakah Berkah ada?” kemudian dijawab “Tidak ada.” Itu dapat menjadi pertanda buruk (tathoyur) atas ketiadaan keberkahan. Rasulullah SAW bersabda:

وَلَا تُسَمِّيَنَّ غُلَامَكَ يَسَارًا وَلَا رَبَاحًا وَلَا نَجِيحًا وَلَا أَفْلَحَ فَإِنَّكَ تَقُولُ أَثَمَّ هُوَ فَلَا يَكُونُ فَيَقُولُ لَا

Jangan kau namakan putramu Yasar, Robah, Najih, dan Aflah. Sebab Apabila engkau bertanya, “Apakah dia ada di sana?” Jika ia tidak ada maka akan dijawab, “Tidak ada.” (HR Muslim)

Begitulah pula nama yang menunjukkan pujian pada diri sendiri Rofi (yang tinggi), Khair (yang baik), Mubarok (yang diberkahi), Barroh(yang berbakti) dan semisalnya. Dalam Shahih Bukhari diceritakan Sayidah Zainab dulunya bernama Barroh(yang berbakti) karena nama itu dinilai sebagai memuji diri maka Rasulullah SAW mengubahnya menjadi Zainab.

Nama lebih keras kemakruhannya adalah Sayidunnas (pemimpin manusia), Sayidul Arob (pemimpin Arab), Sayidul Ulama (pemimpin ulama), atau yang semisalnya. Ini semua adalah bentuk kebohongan yang buruk.

Termasuk nama-nama yang dimakruhkan adalah nama raja-raja yang zalim seperti Firaun, Namrudz, Qorun, dan Haman; dan nama-nama setan seperti Khinzab, Walhan, dan Ajda`. Nama-nama orang kafir seperti Petrus, George, dan semacamnya juga makruh untuk digunakan sebab Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia tergolong ke dalamnya. (HR Abu Dawud)

Nama yang haram

Diharamkan menamai anak dengan nama Malikul Muluk (raja dari segala Raja) sebab itu tidak layak kecuali bagi Allah SWT. Nama lain yang diharamkan menurut Ibnu Hajar adalah Abdun Nabi (hamba nabi), sebab ini mengesankan makna syirik. Seakan nabi berserikat dengan Allah sebab sama-sama memiliki hamba. Sedangkan Imam Ramli memperbolehkan nama Abdun Nabi jika yang dimaksud hanya sebagai penisbatan kepada nabi, seakan ia adalah pembantu atau pelayan nabi.

Nama-nama yang mengesankan penghambaan kepada selain Allah hukumnya adalah haram. Contohnya adalah Abdul Kakbah (hamba Kakbah), Abdul Husain (hamba Husain), Abdu Ali (Hamba Ali), Abdu Manaf (hamba Manaf), Abdul Uzza (hamba Uzza) dan sebagainya. Semua ini mengesankan makna mensyirikan Allah SWT.

Haram pula menamai dengan nama Jarulloh(tetangga Allah) atau Rafiqullah(teman Allah) karena mengesankan makna syirik. Nama yang khusus bagi Allah seperti Allah, Arrohman, Quddus, dan sebagainya tidak boleh dijadikan nama bayi. Adapun nama Allah yang maknanya bisa diarahkan kepada makhluk seperti Sami’(yang mendengar), Bashir(yang melihat), Rouf(yang mengasihi), Rohim(yang menyayangi), nama-nama ini boleh dipergunakan untuk bayi.

Termasuk nama yang diharamkan menurut Imam Bajuri adalah nama Abdu (hamba) yang disandingkan dengan Nama yang dikira sebagai Nama Allah yang tidak diketemukan di dalam al Quran dan Sunnah. Contohnya adalah Abdul ‘Athi (Hamba dari Yang memberi), Abdus Sattar (hamba dari yang maha menutupi) dan sebagainya. ‘Athi dan Sattar bukanlah nama Allah yang disebutkan di dalam al Quran mau pun hadits oleh sebab itu tidak boleh kita menamai Allah dengan nama-nama tersebut. Nama-nama Allah bersifat Tauqifiyah, artinya harus ada dalilnya dari Al Quran atau Sunnah.

Mengubah nama

Sunah hukumnya mengubah nama yang haram atau makruh menjadi nama yang dianjurkan. Nabi SAW sering mengubah nama-nama yang tidak baik dan menganjurkan untuk itu. Nabi SAW menggantikan nama Barroh (yang berbakti) menjadi Zainab. Putri Sayidina Umar yang bernama ‘Ashiyah (yang bermaksiat) diganti menjadi Jamilah (yang elok), ada pula anak yang diganti namanya menjadi Mundzir (pemberi peringatan). Dikisahkan pula dalam Shahih Bukhari ada seorang lelaki bernama Huzn (kesedihan). Nabi SAW menganjurkan untuk mengubah namanya menjadi Sahl (kemudahan), namun ia menolak. Maka lelaki itu selalu dilanda kesedihan.

Tags:

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.