Headline »

December 13, 2017 – 2:00 am | Edit Post

Share this on WhatsApp
Di antara umat beliau SAW, ada yang susah-payah mendatangi telaga dalam keadaan kehausan, namun ketika mendekat, ia dihalau dari telaga dan tidak diizinkan untuk meminum setetes pun darinya. Merekalah orang-orang yang merugi.
Imam …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Headline, Kalam Salaf

ADAB JUAL -BELI

Submitted by on August 3, 2017 – 4:43 am

Tidak ada yang bisa terlepas dari kegiatan jual-beli. Maka mau tidak mau kita wajib mempelajari semua syarat dan rukun jual beli. Selain itu kita juga harus mengerti bagaimana adab jual beli para salaf yang sesuai dengan sunah. Agar harta yang kita dapatkan benar-benar diberkahi Allah SWT.

Adil dan Ihsan

Allah SWT memerintahkan untuk berbuat adil dan ihsan dalam segala hal termasuh jual-beli. Di dalam al Quran disebutkan :

{إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ} [النحل: 90]

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat ihsan (kebajikan). (QS an Nahl: 90)

Yang dimaksud adil dalam jual-beli adalah memenuhi semua syarat dan rukunnya, tidak melakukan tipu daya, dan menjauhi perbuatan zalim. Sedangkan Ihsan adalah melakukan kebaikan kepada rekan bisnisnya lebih daripada apa yang wajib ia lakukan.

Jika diibaratkan, adil adalah modal pokok sedangkan ihsan adalah laba/keuntungannya. Adil hanya menjadi sebab keselamatan saja sedangkan ihsan adalah sebab keberuntungan dan kebahagiaan. Orang yang berakal tidak akan merasa puas dengan hanya kembali modal saja, ia pasti menginginkan keuntungan. Begitulah pula orang yang beriman tidak merasa puas dengan hanya berbuat adil, ia akan berusaha untuk berlaku ihsan dalam jual-belinya.

Derajat ihsan dalam jual-beli dapat dicapai dengan satu dari enam hal berikut:

  1. Pengambilan keuntungan

Sebenarnya, penjual berhak memnentukan berapa pun jumlah keuntungan yang diambil. Tujuan jual-beli memang untuk mendapatkan keuntungan. Namun termasuk ihsan adalah tidak tidak mengambil keuntungan melebihi adat yang berlaku.

Jika pembeli sengaja membayar lebih karena ia sangat menyukai barang dagangannya atau karena ia sangat membutuhkan barang tersebut segera misalnya, sebaiknya ia menolak bayaran tambahan itu. Kalau pun ia mengambil bayaran tambahan itu, ia tidak berdosa selama ia tidak melakukan penipuan.

Sebagian ulama berpendapat jika pedagang mengambil keuntungan melebihi sepertiga modal maka pembeli berhak membatalkan jual-belinya. Namun mayoritas ulama tidak berpendapat demikian. Hanya saja termasuk perbuatan ihsan hendaknya ia mengambil keuntungan kurang dari itu.

Intinya, jika ia mengambil keuntungan melebihi adat dan itu di dapatkan dengan cara menyamarkan harga atau dusta, seperti dengan ucapan, “Saya dulu membelinya dengan harga sekian” padahal tidak demikian maka ia telah berbuat zalim. Namun jika dilakukan tanpa penipuan maka hukumnya boleh, hanya saja ia telah meninggalkan perbuatan ihsan. Dan umumnya yang seperti itu tidak dilakukan kecuali dengan menipu dan menyamarkan harga kepada pembeli.

Seorang muslim sejati akan menyukai jika saudaranya  mendapatkan apa yang ia senangi. Sebagaimana dirinya senang jika membeli dengan harga yang tidak terlalu mahal demikianlah seharusnya ia menjual barang dagangan kepada saudaranya.

Perbuatan ihsan akan menjadikan hartanya berkah. Karena siapa yang merasa cukup dengan keuntungan yang sedikit pastinya memiliki pembeli yang lebih banyak. Dan jika pembelinya banyak, tentunya ia akan medapatkan keuntungan yang banyak pula. Dari sinilah nampak berkah dari perbuatannya.

Diriwayatkan bahwa Sayidina Ali kwh selalu mengawasi pasar Kufah dengan membawa tongkat sambil berkata, “Hai para pedagang, jujurlah supaya kalian selamat. Jangan menolak keuntungan yang sedikit agar kalian tidak diharamkan dari keuntungan yang banyak.”

Sahabat Abdurahman bin Auf ra, salah satu dari seorang sahabat terkaya pernah ditanya, “Apa sebab kekayaanmu?” Ia berkata, “Tiga hal. Aku tidak menolak keuntungan walau pun sedikit, tidak ada yang meminta hewan kepadaku kecuali aku segera menjualnya, dan aku tidak pernah menjual dengan cara utang.”

Dikatakan bahwa suatu hari beliau pernah menjual seribu unta dan tidak mengambil keuntungan kecuali tali kekangnya. Kemudian beliau menjual tali kekang tersebut seharga satu dirham. Jadi pada hari itu ia mendapatkan keuntungan seribu dirham.

  1. Menanggung harga yang lebih mahal

Apabila ia membeli makanan dari orang yang lemah atau membeli sesuatu dari orang miskin dengan harga yang lebih mahal hendaknya ia menanggungnya dan tidak banyak menawar. Ini termasuk ke dalam ihsan.

Adapun jika ia membeli dari orang kaya yang mematok harga melebihi adat hanya untuk mendapatkan keuntungan. Maka menanggung harga itu bukan termasuk perbuatan terpuji bahkan adalah bentuk menyia-nyiakan harta. Kepada hal inilah diarahan hadits dari jalur Ahlul Bait:

اَلْمَغْبُوْنُ فِي الشِّرَاءِ لَا مَحْمُوْد وَلَا مَأْجُوْر

Yang tertipu ketika membeli tidak terpuji dan tidak pula diberi pahala.

Para salaf bahkan menganggap orang yang membeli dengan melebihi harga normal termasuk orang yang tertipu dan kurang cerdas. Iyas bin Muawiyah salah seorang Tabiin yang berakal pernah mengatakan, “Aku bukan penipu dan penipu tidak bisa membuat aku merugi.”

Yang paling sempurna hendaknya tidak menipu dalam menjual dengan mengambil keuntungan melebihi adatnya dan tidak pula tertipu dalam membeli dengan membayar melebihi adat. Begitulah sifat Sayidina Umar, dikatakan mengenai beliau :

كَانَ أَكْرَمَ مِنْ أَنْ يَخْدَعَ، وَأَعْقَلَ مِنْ أَنْ يُخْدَعَ

Beliau terlalu mulia untuk menipu dan terlalu berakal untuk ditipu.

Sayidina Hasan ra dan Husain ra serta sebagian salaf lainnya dikenal sangat perhitungan ketika membeli. Di luar itu mereka mendermakan hartanya tanpa perhitungan. Sebagian mereka ditanya, “Engkau sangat perhitungan dalam membeli agar tidak rugi walau pun sedikit. Tapi kemudian engkau mendermakan harta yang banyak tanpa perhitungan?”

Ia berkata, “Orang yang memberi ia memberikan kelebihan hartanya. Sedangkan yang tertipu dalam jual-beli, akalnya lah yang diperdaya.”

  1. Ketika menerima pembayaran

Berbuat ihsan ketika menerima pembayaran dari orang yang belum mampu membayar utang kepadanya adalah dengan cara mengurangi sebagian utangnya atau memberi tambahan waktu untuk membayar, dan tidak terlalu menuntut mendapatkan uang yang bagus keadaannya. Semua ini adalah disunahkan dan dianjurkan. Nabi SAW bersabda:

رَحِمَ اللهُ امْرَأً سَهْلُ الْبَيْعِ،سَهْلُ الشِّرَاءِ، سَهْلُ الْاِقْتِضَاءِ

Allah merahmati hamba yang mudah (tidak mempersulit) dalam menjual, mudah dalam membeli dan mudah dalam menagih hutang.

Maka jadilah orang yang termasuk ke dalam doa nabi SAW di atas.

Dalam hadits lain disebutkan :

مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِراً أَوْ تَرَكَ لَهُ حَاسَبَهُ اللهُ حِسَاباً يَسِيْراً

Siapa yang memberi tempo kepada yang kesulitan (membayar utang) atau membiarkannya maka Allah akan menghisabnya dengan hisab yang ringan.

Dalam riwayat lain : “Allah akan menaunginya di bawah naungan Arsyi-Nya di hari tiada naungan kecuali naungan-Nya.”

Diriwayatkan ada seorang lelaki yang ketika hidup telah berbuat melampaui batas. Saat dihisab ternyata ia tidak memiliki satu pun amalkebaikan. Ia pun ditanya, “Apakah engkau tidak pernah melakukan kebaikan sama sekali?”

“Tidak, hanya saja aku lelaki yang banyak memberi hutang. Aku selalu berkata kepada pembantuku, ‘Berlakulah toleran kepada yang mampu membayar, dan beri tangguh kepada yang tidak mampu membayar.’”

Maka Allah SWT berfirman, “Kami lebih berhak berbuat demikian daripadanya.” Allah pun memaafkan dan mengampuninya.

Nabi SAW juga menyatakan bahwa siapa yang memberikan utang satu dinar sampai batas waktu tertentu, setiap harinya ia mendapatkan pahala sedekah sebesar yang diutangkan sampai jatuh tempo. Dan bila kemudian ia memberikan tangguh maka setiap harinya kembali ia mendapatkan pahala sedekah sejumlah utang itu.”

Mendengar hadits ini, sebagian salaf kurang senang jika orang membayar utangnya. Mereka ingin mendapatkan fadhilah ini sehingga bisa mendapatkan pahala bersedekah setiap hari.

Memberi hutang kepada yang membutuhkan memang sangat dianjurkan, Rasulullah SAW pernah bersabda:

” رَأَيْتُ عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ مَكْتُوْباً: اَلصَّدَقَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا وَالْقَرْضُ بِثَمَانِ عَشْرَةَ ”

Aku melihat di pintu surga tertulis, sedekah dibalas sepuluh kali lipat sedangkan utang dibalas delapan belas kali lipat.”

Sebagian ulama menyatakan bahwa ini karena sedekah bisa diterima oleh orang yang memerlukan dan orang yang tidak memerlukan. Sedangkan utang hanya diminta oleh orang yang sangat memerlukan.

Setiap penjual yang menjual sesuatu dengan cara utang dan tidak terlalu menuntut segera membayar kepada pembelinya, hukumnya sama dengan orang yang memberikan pinjaman utang.

  1. Melunasi utang

Termasuk ihsan adalah berlaku baik dan tepat waktu dalam membayar utang. Hendaknya ia berjalan menuju orang yang dia utangi untuk membayar utang, jangan menunggu yang mengutanginya datang kepadanya untuk menagih.

Apabila penagih utang berbicara kasar kepadanya hendaknya ia bersabar dan menjawabnya dengan perkataan yang lembut. Rasulullah SAW pernah didatangi penagih utang, kebetulan Beliau SAW belum mampu membayar. Penagih itu mulai berkata-kata keras kepada Rasulullah SAW sehingga para sahabat naik pitam ingin membalasnya. Namun Rasulullah SAW bersabda:

دَعُوْهُ فَإِنَّ لِصَاحِبِ الْحَقِّ مَقَالاً

Biarkan dia, sebab pemilik hak memiliki hak bicara.

Kemudian beliau SAW meminta sahabatnya untuk membelikan unta sebagai bayaran atas utangnya.

Lebih baik lagi jika ia melebihkan dalam membayar sebagai bentuk hadiah. Sebab Rasulullah SAW bersabda, sebaik-baiknya kalian adalah yang paling baik dalam membayar utangnya.

  1. Membatalkan jual beli bagi yang menyesal

Apabila pembeli menyesal dan meminta pembatalan jual beli hendaknya ia mengabulkan permintaannya. Sebab pembeli tidak akan melakukan itu kecuali karena menyesal dan mendapatkan kerugian dari penjualan itu. Tidak selayaknya penjual rela dirinya menjadi sebab kerugian saudaranya. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ أَقَالَ نَادِماً صَفْقَتَهُ أَقَالَ اللهُ عَثْرَتَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Siapa yang membatalkan penjualan kepada orang yang menyesal atas barang yang dibelinya, maka Allah akan memaafkan kesalahannya di hari kiamat.

  1. Menghutangi orang yang tidak mampu

Dalam menjual hendaknya ia sengaja bermuamalah dengan orang-orang fakir dengan cara memberikan utang dan berniat untuk tidak menagih mereka selama mereka belum mampu.

Sebagian dari para salaf yang shaleh yang berdagang ada yang sengaja membuat dua buku catatan keuangan. Satunya berisi data yang jelas, dan yang lain berisi data tidak jelas tentang nama-nama fakir-miskin tidak dikenal yang berhutang kepadanya. Ketika fakir miskin itu melihat makanan atau buah-buahan yang dijualnya dan ingin membelinya, ia mengatakan, “Ambilah yang kau butuhkan dan bayarlah ketika sudah mampu.”

Bahkan terkadang mereka mengatakan kepada fakir miskin yang tidak mampu, “Ambillah apa yang kau butuhkan. Jika engkau telah mampu bayarlah, jika tidak maka engkau bebas dari hutang.” Dan tentunya orang ini tidak dituliskan dalam buku catatannya.

Inilah tata-cara berdagang para salaf yang sudah hampir punah. Siapa yang berusaha melakukannya maka ia telah menghidupkan sunah mereka. Perdagangan memang adalah medan dimana seorang mukmin diuji agama dan kehati-hatiannya.

Dikatakan salah satu cara mengetahui baik atau buruknya seseorang adalah dengan melihat bagaimana sikapnya ketika dihadapkan dengan uang. Sebagian ulama juga berkata, bila seorang dipuji oleh tetangganya ketika bermukim, dipuji oleh teman seperjalanan ketika ia musafir dan dipuji oleh rekan bisnis ketika ia di pasar maka jangan kalian ragukan kesholehan orang itu.*dzr

Disarikan dari kitab Ihya Ulumiddin

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.