Headline »

November 19, 2017 – 6:49 am | Edit Post

Share this on WhatsApp
Pada hakikatnya Hasud (iri) adalah bentuk permusuhan terang-terangan kepada Allah dan penentangan jelas atas kekuasaan Allah. Sebab Allah SWT ketika memberikan suatu nikmat kepada sebagian hamba-Nya, maka sudah jelas bahwa Allah SWT …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Headline

JANGAN MENCINTAI BERLEBIHAN

Submitted by on July 18, 2017 – 1:02 am

Syahdan, pada zaman Nabi Isa AS, hidup seorang lelaki beristri amat rupawan. Lelakiitu bernama Ishaq dan istrinya termasuk wanita tercantik di masanya. Ishaq sangat mencintai istrinya, ia tak mampu berpisah dengannya walau sekejap. Tapi sayang, istrinya tidak tidak berumur panjang, Ia mati meninggalkan Ishaq seorang diri. Tentunya Ishaq merasakan kesedihan mendalam, Ia selalu berada dekat dengan kubur istrinya tercinta dan tak pernah bosan menziarahinya.

Suatu hari Nabi Isa putra Maryam as lewat di sekitar pekuburan dan melihat Ishaq sedang menangis. Nabi Isa AS merasa kasihan melihatnya dan mulai menyapanya:

“Mengapa engkau menangis?”

“Wahai Nabi, aku memiliki istri yang sangat aku cinta. Namun, ia telah wafat meninggalkanku dan inilah makamnya. Sungguh aku tidak mampu menanggung kesedihan ini. Perpisahan dengannya bagaikan kematian bagiku.”

“Apakah engkau ingin aku hidupkan kembali istrimu dengan izin Allah?”

Ishaq pun segera mengiyakan.

Nabi Isa AS berdiri di atas kubur, dan berkata, “Hai penghuni kubur, bangunlah engkau dengan izin Allah.”

Kuburan itu pun merekah, namun yang keluar adalah seorang budak berkulit hitam. Ia keluar seraya berkata, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah Nabi Allah dan Kalimat Allah.”

Ishaq pun lantas menyahut, “Wahai Nabiyallah. Ini bukan kuburan istriku. Kuburannya ada di sini.”

Nabi Isa pun menoleh kepada budak itu dan berkata, “Kembalilah engkau kepada keadaanmu semula.” Budak itu pun mati kembali. Beliau menguburnya di tempatnya semula.

Lalu Nabi Isa as berdiri di atas kubur yang ditunjukkan Ishaq dan berkata, “Hai penghuni kubur ini. Bangunlah dengan izin Allah.”

Bangunlah seorang wanita dari kuburan tersebut sambil menepis debu-debu dari kepalanya.

“Inikah istrimu?” Nabi Isa bertanya.

“Benar wahai Nabiyallah.”

“Ambil tangannya dan pergilah bersamanya.”

Ishaq pun sangat gembira karena istrinya hidup kembali, ia membawanya pulang ke rumahnya.

Suatu hari, seorang pangeran lewat di hadapan si Istri. Ketika melihatnya, Istri Ishaq terpikat dan jatuh hati. Tanpa malu, Ia lalu mendekati Sang Pangeran. Saat pangeran melihat keelokannya, hatinya pun tertambat. Istri Ishaq berkata padanya, “Bawalah aku bersamamu.” Sang putra raja itu menyambut ajakannya dengan suka-cita dan membawanya pergi.

Ishaq kaget ketika tidak mendapati istrinya di rumah. Dia mencari-cari istrinya sampai akhirnya ia menemukannya di tempat Si Pangeran. Namun sungguh malang, istrinya itu tidak mau mengakuinya. Ia bahkan berkata, “Aku bukan istrimu. Aku adalah seorang hamba sahaya milik pangeran.”

“Engkau adalah istriku, sepupu wanitaku.” Ishaq menjelaskan dengan putus-asa.

“Aku tidak mengenalmu.” Tukas istrinya tegas.”Aku tidak lain hanyalah hamba sahaya sang Pangeran.”

“Bertaubatlah kepada Allah wahai istriku. Segera kembalilah padaku.” Sahut Ishaq.

Sang pangeran yang sejak tadi diam pun akhirnya ikut menyahut, “ Apakah engkau ingin merusak hamba sahayaku?!”

Ishaq belum menyerah, ia mengatakan, “Demi Allah, ia adalah istriku. Nabi Isa putra Maryam as telah menghidupkannya dari kematian dengan izin Allah.”

Kebetulan ketika itu Nabi Isa as lewat dan melihat mereka. Ishaq pun tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia berkata kepada Nabi Isa as,” Wahai Nabiyallah. Bukankah ini adalah istriku yang telah engkau hidupkan dengan izin Allah?”

“Benar.” Nabi Isa as menjawab.

Namun sang istri itu malah menyanggah, “Wahai Nabi, Aku ini adalah hamba sahaya pangeran ini.”

Sang Pangeran pun menguatkan, “Wahai Nabi, Dia adalah budak wanitaku.”

Nabi Isa as kemudian berkata kepada wanita itu, “Bukankah aku yang dahulu menghidupkanmu?”

“Benar,” sahut wanita itu.”oh, tidak. Wahai Nabi” Ia segera meralat ucapannya.

“Jika demikian, Aku ambil kembali pemberianku kepadamu.” Tukas Nabi Isa as.

“Baiklah.” kata si wanita. Seketika itu juga, wanita itu rubuh dan mati kembali.

Melihat ini, Nabi Isa as mengatakan, “Siapa yang ingin melihat seorang yang Allah matikan dalam keadaan kafir kemudian dihidupkan kembali dan mati ke dua kalinya dalam keadaan muslim maka lihatlah kepada budak berkulit hitam itu. Dan siapa yang ingin melihat wanita yang Allah matikan dalam keadaan muslim kemudian dihidupkan kembali dan mati kedua kalinya dalam keadaan kafir maka lihatlah kepada wanita ini.” Dzr

Sumber. Ibtilaul Akhyar bin Nisail asror

 

 

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.