Headline »

July 24, 2017 – 1:48 am | Edit Post

Share this on WhatsApp
Salah satu kewajiban suami adalah memberi nafkah kepada istri, namun dalam beberapa keadaan kewajiban ini bisa gugur.  Kapan saja suami tidak lagi wajib menafkahi istrinya? insya Allah, Pada kesempatan kali ini kami …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Headline, Majelis Ifta'

MENJADI DOKTER HEWAN

Submitted by on July 17, 2017 – 6:50 am

Pertanyaan:

Apakah boleh mengambil profesi sebagai dokter hewan?

Jawaban:

Rasulullah SAW bersabda :

في كل كبد رطبة أجر

Di setiap hati yang basah (makhluk hidup) ada ganjaran (bagi yang menolongnya)

Para ulama menyatakan hadits ini menjelaskan keutamaan berbuat baik kepada hewan muhratom yaitu hewan yang tidak boleh dibunuh, cara berbuat baik itu bisa dengan memberi mereka minum, makan, atau kebaikan lainnya termasuk mengobatinya ketika sakit.

Bahkan para ulama menyamakan hewan muhtarom dengan manusia dalam hal wajibnya menyelamatan mereka. Sehingga jika ia berpuasa kemudian terdapat hewan muhtarom yang hampir tenggelam misalnya, maka jika kita lemah kita wajib membatalkan puasa untuk menolong hewan tersebut.

Dari sini bisa disimpulkan bahwa menjadi dokter hewan itu boleh dan menolong hewan yang tidak membahayakan manusia itu adalah perbuatan terpuji.

Adapun hewan yang membahyakan maka tidak boleh ditolong supaya tidak membahayakan manusia.

Referensi:

الإقناع للشربيني (1/  243)

تنبيه يلحق بالمرضع في إيجاب الفدية مع القضاء من أفطر لإنقاذ آدمي معصوم أو حيوان محترم مشرف على الهلاك بغرق أو غيره فيجب عليه الفطر إذا لم يمكنه تخليصه إلا بفطره فهو فطر ارتفق به شخصان وهو حصول الفطر للمضطر والخلاص لغيره فلو أفطر لتخليص مال فلا فدية لأنه لم يرتفق به إلا شخص واحد ولا يجب الفطر لأجله بل هو جائز بخلاف الحيوان المحترم فإنه يرتفق بالفطر شخصان وإن نظر بعضهم في البهيمة لأنهم نزلوا الحيوان المحترم في وجوب الدفع عنه منزلة الآدمي المعصوم جامع العلوم والحكم (27/  27)

منها : الإحسّان إلى البهائم ، كما قال النَّبيُّ – صلى الله عليه وسلم – لما سُئِلَ عن سقيها ، فقال : (( في كلِّ كبدٍ رطبةٍ أجر ))((3)) ، وأخبر أنَّ بغيّاً سقت كلباً يلهثُ مِن العطش ، فغفر لها((4)).

عمدة القاري (12/  207)

وأما قوله في كل كبد فمخصوص ببعض البهائم مما لا ضرر فيه لأن المأمور بقتله كالخنزير لا يجوز أن يقوى ليزداد ضرره وكذا قال النووي إن عمومه مخصوص بالحيوان المحترم وهو ما لم يؤمر بقتله فيحصل الثواب بسقيه ويلتحق به إطعامه وغير ذلك من وجوه الإحسان إليه

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.