Headline »

November 19, 2017 – 6:49 am | Edit Post

Share this on WhatsApp
Pada hakikatnya Hasud (iri) adalah bentuk permusuhan terang-terangan kepada Allah dan penentangan jelas atas kekuasaan Allah. Sebab Allah SWT ketika memberikan suatu nikmat kepada sebagian hamba-Nya, maka sudah jelas bahwa Allah SWT …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Headline, Kalam Salaf

KITAB-KITAB TASAWUF YANG DIREKOMENDASIKAN PARA SADAH BAALAWI

Submitted by on July 2, 2017 – 4:53 am

Sayidina al Habib Idrus bin Umar al Habsyi RA mengatakan:

“Kitab-kitab induk dalam tasawuf ada enam: Ihya Ulumiddin , Minhajul ` Abidin, dan Arba`in al Ashl karya Imam Ghazali, Risalah Qusyairiyah, `Awarif as Sahrowardi, Qutul Qulub karya Abu Thalib al Makki.”

Beliau juga menghikayatkan bahwa salah satu tokoh ulama besar mengatakan, “Siapa yang hendak mencari cahaya maka carilah dalam kitab “Qutul Qulub” karya Abu Thalib al Makki, dan siapa yang mencari ilmu, carilah dalam kitab “Ihya” karya Imam Ghazali,”

Kitab-kitab Imam Ghazali

Sayyidina Syaikh al Quthb al Habib Abdullah bin Abu Bakar Alaydrus RA mengatakan:

“Siapa yang menghendaki jalan menuju Allah dan rasul-Nya serta keridhoan Keduanya hendaknya ia mempelajari kitab-kitab Imam Ghazali. Terlebih kitab beliau yang bagaikan samudra luas yaitu Ihya Ulumuddin. Ini adalah kitab yang menjadi keajaiban dunia, di dalamnya terkumpul semua rahasia. Pelajari pula kitab Bidayah al Hidayah, di dalamnya terdapat kunci ketakwaan. Dalam kitab Arbain al Ashl terdapat penjelasan mengenai jalan yang lurus. Kitab “Minhajul Abidin” mencakup jalan menuju Allah, dan kitab “Al Khulashoh” dalam fiqih di dalamnya terdapat cahaya.”

Kitab Ihya ulumiddin

Sayyidina Syaikh Quthb al Habib Abdullah bin Abu Bakar Alaydrus RA mengatakan mengenai kitab Ihya:

“Kita tidak memiliki manhaj selain Al Kitab dan Sunnah. Dan penjelasan keduanya telah disebutkan oleh seorang raja para penulis, mujtahid yang tersisa, hujjatul Islam al Ghazali dalam kitabnya yang menjadi keajaiban dunia dan sangat agung yang dinamakan “Ihya Ulumiddin”. Kitab ini adalah ungkapan dari penjelasan al Kitab dan as Sunah, At Thoriqoh dan Haqiqoh. Andai Allah menghidupkan kembali orang-orang mati pastinya mereka akan mewasiatkan kepada orang yang hidup untuk mempelajari apa yang ada dalam “Ihya”. Aku bersaksi kepada Allah baik secara rahasia atau secara terang terangan bahwa siapa yang mempelajari ihya maka ia termasuk golongan orang yang mendapatkan petunjuk.”

Imam Nawaawi Ra mengatakan:

كاد الاحياء أن يكون قران

Hampir saja kitab ihya menjadi Al Quran

Sayidina al Habib Abdullah al Haddad menjelaskan makna perkataan ini: “Ini tidak lain karena banyaknya kandungan al Quran di dalam kitab Ihya ketika membawakan dalil. Atau karena Ihya adalah kitab yang membuat orang tidak mampu membuat yang serupa, maka ia diserupakan dengan al Quran dari segi ini. Dan pendapat kedua ini yang lebih dekat. Maksudnya bahwa ihya ditulis berbeda dengan kitab-kitab yang terdahulu dan sulit bagi generasi setelahnya untuk membuat karya yang serupa dengan ihya.”

Kitab Al Arbain fi Ushulid Din

Imam Abdullah Al Haddad RA mengatakan mengenai karya Imam Ghazali ini:

“Kitab al Arbain al Ash di dalamnya disebutkan beberapa hal yang tidak ada dalam kitab Ihya. Ini adalah kitab yang agung yang dinamakan oleh Syaikh Abdullah al Aidrus dengan sebutan, “Jalan yang Lurus”. Di dalam kitab-kitab Imam Ghazali terdapat khasiat yaitu menarik hati untuk hadir bersama Allah dengan khusus bukan dengan sekedar ilmu.

Imam Al Haddad RA juga mengatakan:

Kitab al Arbaina al Ashl karya Imam Ghazali termasuk kitab yang bermanfaat dalam agama baik bagi para pemula ataupun yang sudah mencapai puncak.

Dan kitab

Risalah Quds fi Munashohatin Nafsi

Karya Syaikh Muhammad Ibnu Arobi demikian pula (bermanfaat bagi pemula dan yang sudah mencapai puncak). Kitab ini ditulis pengarangnya di Mekah Mukaromah, disebutkan bahwa penulisnya menthawafkan kitab ini di Kakbah tujuh kali. Di dalamnya tidak ada perkara-perkara yang musykil. Maka seyogyanya bagi penempuh jalan menuju hakikat untuk banyak mempelajari dua kitab ini (Arbain dan Risalah Quds) untuk mencari manfaat di jalan Ahlil Hak wal Ittiba.”

Bidayatul Hidayah

Habib Ali bin Muhammad al Habsyi mengatakan:

Bidayatul Hidayah adalah kitab yang agung. Mengumpulkan ilmu zahir dan batin. Ini adalah permulaan yang menyampaikan seorang kepada puncak. Kitab ini telah menyampaikan banyak orang yang mengamalkannya kepada berkumpul dengan Nabi SAW secara sadar. Para salaf kita saling berjanji untuk mengamalkan isi Bidayah. Diceritakan ada tiga orang yang tinggal di Madinah Munawaroh saling berjanji untuk mengamalkan Bidayah yaitu Habib Abdurahman bin Musthofa Alaydrus, Habib Syaikh bin Muhammad al Jufri dan Habib Abu Bakar bin Husain Bilfaqih. Mereka semua memenuhi janjinya sehingga dapat berkumpul dengan Nabi SAW dalam keadaan terjaga.

Sayyidina Al Quthb Abdullah bin Alwi al Haddad mengatakan:

Hendaknya engkau mempelajari kitab-kitab Imam Ghazali sesuai dengan keadaanmu. Jika engkau termasuk pemula maka bacalah Bidayah, kemudian ”Arbainal Ashl”, Kemudian “Minhajul Abidin.” Jika engkau memiliki pengetahuan dan kefahaman dalam ilmu barulah mempelajari Ihya. Jika engkau tidak dapat mengamalkan Bidayah, maka katakan pada dirimu, “Tidak ada keraguan lagi, jika aku tidak mampu mengamalkan yang sedikit maka aku tidak akan mampu mengamalkan yang banyak.”

Qutul Qulub

Imam Abdullah Al Haddad mengatakan: “Hendaknya kalian mempelajari kitab Qutul Qulub karya Syaikh Imam Abu Thalib al Makki. Karena ini adalah kitab yang menyeluruh dan bermanfaat. Syaikh Sahrowardi penulis kitab al Awarif menamakan kitab Qutul Qulub ini dengan Diwanul Islam. Inilah kitab yang mengumpulkan kitab-kitab dan paling bermanfaat di fannya setelah Ihya Ulumiddin.”

Kitab-kitab Tasawuf lain

Al Habib Ahmad bin Hasan al Athas ketika ditanya mengenai kitab yang seyogyanya di baca, beliau menjawab:

“Bacalah Bidayahal Adzkar (Karya Imam Nawawi), dan Minhaj (at Tholibin karya Imam Nawawi dalam Fiqih). Sesungguhnya Habib Abdullah al Haddad mengatakan: Membaca kitab Minhaj (Karya Imam Nawawi) dalam Fiqih, Ihya dalam Tasawuf, Al Baghowi dalam Tafsir, Mulhah dalam Nahwi, dan kitab-kita Ibnu Hisyam (dalam nahwu) termasuk sesuatu yang dapat menghasilkan futuh (keterbukaan) dengan membacanya, dan membuat ruh naik tingkatannya.”

Habib Ahmad bin Muhammad al Habsyi Shohibus Syiib Ra mengatakan:

Ada tiga nikmat yang dikhususkan bagi para mutaakhirin yaitu Syarah Hikam karya Ibnu Abbad, Qoshidah-Qoshidah al Faqih Umar Bamakhromah, dan Kopi.”

Sebagian ulama mutaakhirin mengatakan bahwa beliau menambahkan kitab-kitab Al Habib Abdullah bin Alwi al Haddad RA dari ketiga hal ini.

Al Habib Idrus bin Umar al Habsyi meriwayatkan bahwa Habib Abdullah Al Haddad selalu meminta tiga kitab dibacakan kepada beliau. Jika tiga kitab ini khatam maka beliau memerintahkan untuk mengulangi membaca dari awal. Yaitu kitab Riyadhus Sholihin (Karya Imam Nawawi RA), Maqolun Nashihin (Karya Syaikh Muhammad bin Umar Bajamal) dan “Syarah Hadiqoh” karya Syaikh Muhammad bin Umar Bahroq.”

Imam al Habib Ahmad bin Umar bin Sumaith mengatakan:

“Kami wasiatkan kepada kalian empat kitab , lazimilah empat kitab ini. Kitab Al Hadiqoh al Aniqoh karya Syaikh Imam Muhammad Bahroq, Kitab Maqolun Nashihin karya Syaikh Muhammad bin Umar Bajamal, dua kitab ini senantiasa dibacakan di majlis Habib Abdullah al Haddad jika yang satu selesai dibaca maka dilanjutkan dengan yang kedua. Kemudian kitab Durr Ats Tsamin karya Habib Abdulqodir bin Syaikh Alaydrus yang dikatakan oleh Habib Abdullah al Haddad dalam Ainiyah “Abdul Qodir yang penuh dengan ilmu” Yang keempat Ithafun Nabil karya Imam Thohir bin Husain nafa`anallahu bih.”

Disarikan dari al Manhajus Sawi karya Habib Zain bin Smith Madinah.

*Dzr

 

Tags:

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.