Headline »

November 19, 2017 – 6:49 am | Edit Post

Share this on WhatsApp
Pada hakikatnya Hasud (iri) adalah bentuk permusuhan terang-terangan kepada Allah dan penentangan jelas atas kekuasaan Allah. Sebab Allah SWT ketika memberikan suatu nikmat kepada sebagian hamba-Nya, maka sudah jelas bahwa Allah SWT …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Headline

Fadhilah Silaturahim Di Hari Fitri

Submitted by on June 24, 2017 – 3:54 am

By Syamsul Hari, Alumni ma`had Sunniyah Salafiyah dan pemred Majalah Cahaya Nabawiy

Silaturahim berasal dari bahasa Arab, gabungan dari kata as-shilah yang berarti perhubungan dan kata ar-rahim yang mempunyai arti rahim (peranakan seorang wanita), bisa juga diartikan kerabat atau sanak saudara. Dalam pengertian syariat silaturahim bermakna menyambung hubungan kekerabatan atau sanak famili. Kerabat atau sanak saudara itu cakupannya lebih luas dari pada mahram.

Silaturahim itu hukumnya wajib, sebab memutus silaturahim termasuk dosa besar. Dalam Al-Quran Allah SWT memerintahkan,

وَآَتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ

“Berikanlah kerabat itu haknya!”
Kemudian Allah SWT memuji orang-orang yang gemar menyambung silaturahim dengan firman-Nya,

وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ

“Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.“

Yang dimaksud apa-apa yang diperintahkan Allah untuk disambung adalah al-arham, yakni sanak famili atau kerabat. Sementara dalil larangan memutuskan silaturahim adalah ayat Al-Quran yang menyatakan,

وَالَّذِينَ يَنقُضُونَ عَهْدَ اللهِ مِن بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَآ أَمَرَ اللهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي اْلأَرْضِ أُوْلَئِكَ لَهُمُ الْلَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ

“Orang-orang yang membatalkan janji Allah setelah mereka melakukan perjanjian dan memutuskan apa-apa yang diperintahkan Allah untuk disambung dan merusak di bumi, maka mereka itu mendapatkan laknat dan mereka itu akan mendapatkan tempat kembali yang jelek”

Karena itu Imam Ali bin Husein memberi wasiat kepada sebagian putranya, “Hati-hati kamu dari pertemanan orang-orang yang memutus hubungan dengan familinya. Karena orang-orang itu terlaknat dalam tiga tempat dari Al-Quran.” Dalil-dalil itu sudah cukup bagi kita agar tidak coba-coba memutuskan silaturahim. Kita musti berhati-hati menjaga silaturahim itu karena menyia-nyiakannya dapat mengundang musibah di dunia dan akhirat.

Dalam kitab Nashoihud Diniyah, karya Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad, Baginda Nabi SAW bersabda, “Barang siapa yang ingin dipanjangkan umurnya, dilancarkan atau diluaskan rejekinya, dan terhindar dari meninggal dalam keadaan su’il khotimah, maka hendaknya dia bertaqwa kepada Allah SWT dan menyambung hubungan dengan sanak saudara.”

Ada riwayat yang menyebutkan bahwa orang yang dikatakan benar-benar bersilaturahim yaitu orang yang menyambung hubungan famili dengan orang-orang (sanak keluarga) yang telah memutuskan hubungan dengan dirinya. Jadi, orang yang dikatakan serius menyambung hubungan famili itu bukan yang membalas silaturahim familinya, tetapi justru orang yang menyambung hubungan dengan famili yang telah memutuskan tali kekerabatan. Yang perlu diingat dalam silaturahim, jika kita memiliki kelebihan rejeki dianjurkan untuk memberikan sesuatu yang diperlukan saudara yang kita kunjungi. Terutama saudara-saudara kita yang fakir miskin dan membutuhkan.

Adakah dalil khusus yang memerintahkan silaturahim di Hari Raya? Sejauh ini penulis tidak mendapatkannya. Hanya saja perlu kita mengerti bahwa untuk menyempurnakan kebersihan dosa seusai berpuasa sebulan penuh, kita harus membersihkan dosa terhadap sesama manusia. Caranya meminta maaf kepada manusia yang telah kita salahi. Kesalahan terhadap sesama orang tidak bisa diampuni Allah SWT jika orang yang telah disalahi itu tidak memaafkan. Itulah sebabnya, saat Idul Fitri terlihat begitu marak muslimin saling bersilaturahim, saling berkunjung untuk saling memaafkan demi melebur dosa dan kesalahan kepada sesama manusia.

Satu hal yang perlu kita tahu bahwa bersilaturahim bisa juga dilakukan dengan telepon, pesan pendek dan Media Sosial seperti Facebook, WA, Telegram dll. Misalnya, bila ada diantara kita mau berkunjung ke rumah kerabat yang letaknya jauh tetapi kita tak ada ongkos transport, maka kita bisa komunikasi dengan semua media itu. Atau kita juga bisa titip salam kepada saudara lainnya yang tidak ada halangan berkunjung. Salah satu hadits menyatakan,

“Birru arhaamakum walau bis salaam” Artinya, berbaiklah kepada sanak kerabatmu walaupun hanya dengan salam.

So, mari kita memperbanyak silaturahim saat lebaran nanti, mumpung banyak liburan dan waktu luang. Dengan silaturahim, mudah-mudahan Allah SWT melimpahkan rejeki, umur panjang dan masa depan yang cerah bagi kita di dunia sampai akhirat….

Tags:

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.