Headline »

September 24, 2017 – 2:13 am | Edit Post

Share this on WhatsApp

Rasulullah SAW adalah manusia yang paling waro (berhati-hati dalam agama), Paling zuhud (tidak mencintai dunia), Paling menjaga diri, paling dermawan, paling penyabar, paling banyak beribadah, paling menjauh tempat-tempat yang dapat menimbulkan kecurigaan. …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Headline, Majelis Ifta'

FIQIH RINGKAS DAN LENGKAP SEPUTAR SHALAT IED

Submitted by on June 21, 2017 – 8:53 pm

 

Sholat ‘ied termasuk salah satu bagian dari syiar Islam dan merupakan anugrah Allah yang khusus kepada umat Islam, Secara bahasa Ied artinya kembali, dikatakan ied karena kembalinya hari itu dengan perputaran tahun, atau karena kembalinya rasa gembira dan bahagia tiap datangnya hari tersebut. Ada yang mengatakan karena banyaknya keutamaan Allah SWT yang dicurahkan kepada hamba-Nya pada hari tersebut.

 

Hukum Sholat ‘Ied

Hukumnya sunnah muakkad karena Rasulullah SAW selalu mengerjakannya. Sedangkan menurut pendapat imam Abu Hanifah hukumnya fardhu ‘ain dan menurut imam Ahmad hukumnya fardhu kifayah.

Sholat ied disunnahkan baik bagi orang yang mukim ataupun musafir, merdeka atau budak, laki-laki maupun perempuan. Sholat iedul fitri dilakukan lebih awal oleh Nabi Saw ditahun ke 2 H kemudian sholat iedul adha.

 

Dalil Sholat ‘Ied

Firman Allah SWT:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Artinya: “maka laksanakanlah sholat karena tuhanmu, dan berqurbanlah. (QS Alkautsar 2).

Kebanyakan ahli tafsir berpendapat bahwa yang dimaksud “sholat” di ayat tersebut adalah sholat ied.

Menurut pendapat yang kuat Sholat iedul adha lebih utama daripada sholat iedul fitri sebagaimana pendapat imam Ibn Hajar karena ada nash langsung dari Al-Qur’an. Sedangkan menurut imam Izzuddin bin Abdissalam Shalat Iedul Fitri yang lebih utama.

Waktu Sholat ‘Ied

Waktu Sholat ied adalah mulai terbitnya matahari hingga masuknya waktu duhur. Namun dianjurkan mengakhirkan hingga ketinggian matahari ukuran tombak (sekitar  16 menit dari terbitnya matahari), karena mengikuti Nabi dan keluar dari pendapat ulama’ seperti imam Malik yang menyatakan itu adalah awal waktunya.

Cara Pelaksanaan Sholat Ied

Caranya seperti sholat sunah 2 raka’at pada umumnya dengan beberapa kesunahan berikut :

  • Dikerjakan secara berjama’ah kecuali orang yang sedang haji walaupun tidak berada di Mina, maka sunah tidak berjama’ah bahkan hukum berjamaahnya adalah khilaful aula.
  • Niat sholat ied

اُصَلِّي سُنَّةً لِعِيْدِ الْفِطْرِ\ لِعِيْدِ الأَضْحَى (…….) لِلّهِ تَعاَلَى

** Jika jadi imam ditambah dengan lafadz ِماَماً), jika jadi ma’mum ditambah (مَأْمُوْماً), jika sholat sendiri dibaca sesuai diatas tanpa tambahan.

  • Takbir diraka’at pertama 7x selain takbiratul ihram dan takbir 5x di raka’at kedua selain takbir berdiri dari sujud.
  • Mengangkat kedua tangan hingga sejajar pundak di setiap takbir, kemudian menaruh di bawah dada dengan tangan kanan menggenggam pergelangan tangan kiri.
  • Memisahkan antara takbir dengan bacaan Albaqiyatus Sholihat yaitu:

سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ

  • Mengeraskan bacaan takbir, baik bagi imam, makmum maupun orang yang sholat sendiri.
  • Bacaan surat setelah Fatihah disunnahkan surat Qof diraka’at pertama dan surat Al-Qomar diraka’at kedua, atau surat Al-A’la, dan surat Al-Ghosyiyah secara
  • Berkhutbah setelah sholat seperti khutbah jum’ah dalam hal rukun dan sunahnya namun bukan pada syaratnya. Jika dilakukan sebelum shalat, maka tidak sah. Kesunahan khutbah ied adalah bagi jamaah laki-laki walaupun shalatnya secara sendiri-sendiri, dan tidak disunnahkan bagi jamaah perempuan. Disunahkan juga membaca takbir 9x secara berkesinambungan diawal khutbah pertama, dan 7x diawal khutbah kedua. Materi khutbah disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, seperti tentang zakat fitrah ketika idul fitri, dan menerangkan hukum-hukum qurban ketika iedul adha.

Kesunahan-Kesunahan Hari Raya                                       

  • Mandi walaupun bagi orang yang tidak melaksanakan shalat ied seperti wanita haid dan nifas. Waktunya dimulai dari tengah malam hari raya hingga terbenamnya matahari, sehingga tetap disunnahkan walaupun setelah shalat Ied.
  • Berpakaian rapi dan baru walaupun bukan putih serta memakai minyak wangi.
  • Memotong rambut baik rambut kepala atau badan serta memotong kuku, kecuali bagi orang yang hendak berkurban, maka hukumnya makruh sejak masuknya malam 10 Dzul hijjah hingga melaksanakan kurbannya.
  • Makan atau minum sebelum shalat Iedul Fitri dengan kurma atau kismis dan menahan diri dari perkara yang membatalkan puasa sebelum shalat Iedul Adha hingga melaksanakan shalat. Meninggalkan kesunahan ini hukumnya makruh.

Hikmahnya adalah untuk membedakan dengan keadaan sebelumnya yaitu keharaman makan sebelum hari raya Iedul Fitri karena kewajiban puasa Ramadhan, dan tidak adanya kewajiban puasa sebelum Iedul Adha serta agar awal makanan yang masuk ke tubuhnya adalah daging kurban.

  • Berangkat pagi-pagi supaya mendapatkan fadhilah shaf terdepan dan fadhilah menunggu sholat.
  • Berangkat mengambil jalan yang lebih jauh dan pulang mengambil jalan lain yang lebih dekat.

Hikmahnya: pahala berangkat lebih besar, sehingga disunahkan untuk memperbanyak langkah, bersedekah dijalan dan karena kedua jalan tersebut akan menjadi saksi kelak dihari qiamat.

  • Bersegera melaksanakan Shalat Iedul Adha yaitu dari terbitnya matahari seukuran tombak, dan mengakhirkan sedikit pelaksanaan Shalat iedul fitri.

Hikmahnya: memperpanjang waktu penyembelihan hewan kurban karena waktunya setelah shalat dan memperpanjang waktu mengeluarkan zakat fitrah karena waktunya sebelum shalat.

  • Mendirikan di masjid lebih afdhol dari pada di lapangan jika bisa menampung semua jamaah, apabila tidak bisa menampung maka di lapangan lebih utama dengan tetap menyisakan sebagian orang yang lemah (sakit atau sudah tua) untuk melaksanakannya di
  • Mengucapkan tahniah (selamat hari raya) dengan ucapan : تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ . Waktu kesunahannya ketika hari raya Iedul Fitri dengan terbenamnya matahari malam 1 Syawwal, sedangkan ketika hari raya Iedul Adha dengan masuknya waktu Subuh hari Arofah (9 Dzul Hijjah) seperti kesunahan bertakbir.
  • Menghidupkan malam ied dengan ibadah. Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ قَامَ لَيْلَتَيْ الْعِيدَيْنِ مُحْتَسِبًا لِلَّهِ لَمْ يَمُتْ قَلْبُهُ يَوْمَ تَمُوتُ الْقُلُوبُ

Artinya: “barang siapa yang menghidupkan dua malam hari raya (dengan ibadah) ikhlas karena Allah, maka hatinya tidak akan mati disaat semua hati mati”.

  • Membaca takbir secara Jahr bagi laki-laki. Lafadz takbir:

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ ، اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا  لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا إيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحمْدُ

Takbir ada 2 macam:

  1. Takbir mursal, yaitu takbir yang tidak dibatasi dengan waktu dan tempat, artinya disunnahkan pada setiap keadaan, baik di masjid, rumah, maupun di pasar, ketika berdiri, duduk, berjalan maupun naik kendaraan. Takbir mursal bisa berada pada hari raya idul fitri dan idul adha

Waktunya: mulai terbenamnya matahari dihari raya (malam 1 syawal) sampai takbiratul ihram sholat ied.

  1. Takbir muqayyad, yaitu takbir yang pelaksanaannya terbatas setelah waktu sholat, baik sholat fardhu maupun sunah, baik sholat ada’ maupun qodho’.

Waktunya:

  • Bagi orang yang tidak haji:
  • Menurut imam Romli: Dimulai terbit fajar hari arofah (tanggal 9 dzul hijah) sampai tenggelamnya matahari akhir hari tasyriq (tanggal 13 dzul hijah).
  • Menurut imam Ibnu Hajar: Dimulai setelah melakukan sholat subuh hari arofah sampai setelah sholat ashar akhir hari tasyriq.
  • Bagi orang yang haji: Dimulai dari duhur hari qurban (tanggal 10 dzul hijah) sampai subuh akhir hari tasyriq.

Kemakruhan Sholat Ied

  • Sholat sunah bagi imam sebelum sholat ied atau setelahnya.
  • Meninggalkan bacaan takbir.
  • Melebihi atau mengurangi bilangan takbir yang sudah ditentukan.
  • Tidak mengangkat tangan ketika takbir.
  • Meninggalkan bacaan tasbih di antara takbir satu dengan yang lainya.
  • Ta’addud atau pelaksanaan shalat Ied di beberapa tempat tanpa ada hajat jika memungkinkan semua jamaah dikumpulkan dalam satu tempat saja.

*** Takbir yang dimaksud adalah takbir sunah 7x di raka’at pertama, dan 5x di raka’at kedua seperti yang sudah dijelaskan dalam cara pelaksanaan sholat.

 

Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan

  • Haram berjabat tangan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram.
  • Hukum wanita menghadiri sholat ied, diperinci sebagai berikut:
  • Sunnah : Bagi wanita yang lanjut usia dengan memakai pakaian biasa tanpa menggunakan minyak wangi
  • Makruh : Wanita lanjut usia yang berhias (memakai pakaian mencorak dan minyak wangi) atau masih menarik (berbodi) dan Wanita muda tanpa berhias.
  • Haram : Tidak mendapat izin suami atau ada kekhawatiran menimbulkan fitnah.
  • Pada rakaat pertama tetap disunnahkan membaca do’a iftitah setelah takbiratul ihram sebelum takbir tujuh kali.
  • Kesunahan takbir tujuh kali di rokaat pertama dan lima kali di rokaat kedua semenjak belum memulai membaca fatehah walau hanya membaca basmalah. Apabila sudah memulainya maka tidak disunahkan takbir.
  • Dalam mengangkat tangan ketika takbir, tidak boleh berkesinambungan namun harus dipisah dengan tuma’ninah. Ini pendapat yang kuat sebagaimana dikemukakan oleh imam Ibn Hajar. Jika tetap dilakukan secara berkesinambungan, maka shalatnya batal karena dianggap gerakan banyak yang membatalkan. Sedangkan menurut Imam Romli tidak membatalkan walaupun dilakukan secara berkesinambungan.
  • Jika imam lupa membaca takbir atau telah hilang kesunahannya karena terlanjur membaca Fatihah, maka makmum tidak disunahkan membacanya.
  • Ma’mum masbuk hanya melakukan takbir yang didapati bersama imam dan jika kurang tidak disunahkan menyempurnakannya 7x di rakaat pertama atau 5x di raka’at kedua.
  • Tidak disunahkan adzan dan iqomah melainkan dengan mengumandangkan dengan lafadz اَلصَّلاَةُ جَامِعَةً Hanya saja menurut ulama’ Madzhab Maliki mengucapkan lafadz tersebut untuk shalat Ied adalah makruh atau khilaful aula jika meyakini kesunahannya, karena tidak ada hadits yang menyatakan Nabi melakukannya.

Tags:

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.