Headline »

June 24, 2017 – 5:13 am | Edit Post

Share this on WhatsApp
KHUTBAH PERTAMA
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
9x الله اكبر
 لَااِلَهَ اِلَّااللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ، اَللهُ اَكْبَرْ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ، اَللهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلًا. لَااِلَهَ اِلَّااللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Headline, Teladan

Kisah Selimut Habib Umar

Submitted by on June 13, 2017 – 9:38 am

 

Ini adalah pengalaman saya yg tak terlupakan tentang Habib Umar bin Hafidz.

Waktu itu pertengahan April 1994 musim dingin di Tarim, Hadramaut mulai menyapa kami yang memang kami belum terbiasa dgn dinginnya cuaca tarim ketika musim dingin Habib Umar pun telah menyiapkan untuk kami para santrinya dari Indonesia yg waktu itu sangatlah manja sebuah selimut tebal yg mahal. masing masing dari kami mendapatkan satu selimut

Kisah pun bermula..

Seperti biasa selepas Asar kami dan Habib Umar menuju kota Tarim untuk menghadiri rauhah dan maulid. Selepas acara kami pun kembali ke kediaman Habib Umar di Kota Aidid. Biasanya kami pulang larut malam. Pada waktu itu Habib Umar hanya memiliki satu mobil sederhana, kami pun selalu berebutan untuk menaiki mobil tsb. Terkadang mobil nisan patrol tsb ditumpangi 20 orang lebih sehingga penuh di dalam dan di atas mobil. Kami berebut karena memang jika kami tdk dapat tempat di mobil tsb terpaksa kami akan pulang berjalan kaki yg berjarak kurang lebih 5 km.

Saya dan dua teman saya pada waktu itu kurang beruntung. Kami bertiga berjalan kaki untuk pulang ke rumah Habib Umar. sesampainya di tempat Habib Umar kami mendapati teman2 kami yg lain telah mendapatkan selimut tebal yg baru saja dibagikan oleh Habib Umar. Kami pun bergegas menemui Habib Umar, tapi lagi2 kami kurang beruntung karena selimutnya telah habis. Habib Umar mengatakan bahwa toko penjual selimutnya kehabisan stok dan berjanji akan memenuhi kekurangannya besok pagi.

Kami pun pamit kepada beliau untuk tidur, tapi sebelum kami pergi Habib Umar menyuruh kami untuk menunggu, Habib Umar masuk ke dalam rumahnya. Beberapa saat kemudian Habib Umar pun keluar dg membawa beberapa selimut tipis dan lusuh, lalu membagikannya kepada kami bertiga. Alhamdulillah, tanpa pikir panjang kami pun menerima selimut itu dan pulang menuju asrama yg berada tepat di belakang rumah Habib Umar. Kami pun membagi bagikan selimut tipis dan lusuh pemberian Habib Umar, 2 selimut lebar dan 3 selimut kecil untuk kami bertiga .

Baru saja kami meluruskan badan untuk tidur terdengar tangisan bayi yg tak henti hentinya, kami yakin itu adalah tangisan anak Habib Umar yg masih bayi pada waktu itu. Kami pun sempat bertanya tanya dalam hati kenapa bayi itu menangis sepanjang malam sambil tetap berusaha untuk memejamkan mata. Menjelang subuh suara tangisan bayi pun berhenti, mungkin karena kelelahan menangis sepanjang malam. Kami pun bergegas menuju ke masjid Aidid yg terletak persis di depan rumah Habib Umar sambil membawa kitab nahwu yg akan kami pelajari setelah shalat subuh di bawah bimbingan langsung Habib Umar. Setelah belajar nahwu kami pulang ke asrama.

Di pertengahan jalan kami bertemu dg Habib Salim, anak pertama Habib Umar yg waktu itu masih kanak-kanak, kami pun menyapa dan bertanya,

“Mengapa adik bayimu menangis tak henti hentinya tadi malam? apakah dia sakit?”

Habib Salim pun menjawab, “Tidak, adikku tidak sakit”.

“Lalu apa yg membuatnya menangis sepanjang malam?”

Dengan keluguannya Salim yang masih berusia enam tahun itu menjawab, “Mungkin karena kedinginan, karena semalam kami sekeluarga tidur tanpa selimut..”

Bagai tersambar petir kami terkejut mendengar ucapan polos tsb kami pun berlari menuju asrama untuk mengambil selimut lusuh yg ternyata milik keluarga habib umar yg beliau berikan kepada kami dan beliau sekeluarga rela tidur tanpa selimut di tengah dinginnya malam kota tarim demi murid-muridnya.

Kami kembalikan selimut tersebut kepada Habib Umar sambil membendung air mata dan tanpa tahu harus berkata apa. Dengan wajah tersenyum dan seolah-olah  tak terjadi apa apa Habib Umar menerima selimut dari kami dan menggantinya dengan selimut baru, yang baru saja dikirim oleh pemilik toko..

Kami pun kembali ke asrama tanpa dapat membendung lagi air mata kami yang melihat kemuliaan yg beliau berikan kepada kami. sambil berkata didalam hati .. Ya Allah ternyata di abad ini masih ada org berhati begitu mulia seperti beliau.

 

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.