Headline »

October 17, 2017 – 1:05 am | Edit Post

Share this on WhatsApp
Oleh: Sayyid Husein Ali Assegaf*
Pertanyaan seperti itu akhir-akhir ini sering muncul bahkan dari mereka yang mungkin tidak mengerti apa yg dinamakan ” dalil ”
Memang betul , bahwa seseorang berhak menanyakan dalil atau …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Headline

BAGAIMANA MARAH DAN SENANGNYA BAGINDA NABI SAW

Submitted by on June 6, 2017 – 2:44 pm

 

Kemarahan dan kesenangan baginda Nabi SAW terpancar dari raut wajahnya karena jernihnya raut muka Nabi SAW. Ini karena beliau lembut zahir dan batinnya, dan ini menunjukkan kesucian watak baginta Nabi SAW. Ummu Salamah RA mengatakan:

كان صلّى الله عليه وسلم إذا غضب احمرّت وجنتاه

Apabila Nabi SAW marah maka kedua pelipisnya akan memerah. (HR Thabrani)

Marahnya Baginda Nabi SAW tidak bertentangan dengan sifat yang diberikan Allah SWT kepada Beliau SAW yaitu Rauf (Yang belas kasih) dan Rahim (yang lemah lembut). Sebab marah beliau adalah sesuai dengan tempatnya. Sebagaimana sifat kasih sayang harus ada dalam diri seseorang, begitupula kemarahan harus ada ketika memang diperlukan dan pada waktu yang tepat dengan ukuran yang tepat. Allah SWT berfirman mengenai kondisi yang mengharuskan untuk menyingkirkan belas kasih dalam firman-Nya:

 وَلا تَأْخُذْكُمْ بِهِما رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ

Dan janganlah belas kasihan kepada keduanya (pezina lelaki dan wanita) mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah. (QS an Nur: 2)

Allah SWT juga berfirman ketika mensifati Nabi SAW dan para sahabatnya:

أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَماءُ بَيْنَهُمْ

keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. (QS al Fath: 29)

Apabila Nabi SAW marah, itu tidak lain karena memancarnya cahaya Allah di hati suci beliau untuk menegakkan hukum-hukum Allah dan menerapkan perintah-perintah-Nya. Bukanlah kemarahan Nabi Saw bersumber dari sifat merasa unggul di atas muka bumi, mengagungkan diri, keinginan untuk menjadi satu-satunya penguasa atau ingin semua ucapannya dilaksanakan.

Meredam amarah

Sahabat Abu Hurairoh RA menceritakan bagaimana Nabi SAW mengajarkan umatnya untuk meredakan kemarahan:

كان صلّى الله عليه وسلم إذا غضب وهو قائم جلس، وإذا غضب وهو جالس اضطجع فيذهب غضبه

Apabila Nabi SAW marah ketika berdiri maka beliau duduk, jika marah ketika duduk maka beliau berbaring miring maka hilanglah kemarahannya. (HR Ibnu Abid Dunya)

Nabi merubah posisi kepada posisi yang membuat seorang yang marah lebih sulit untuk melampiaskan kemarahannya. Nabi SAW juga terkadang berwudhu untuk meredakan marahnya.  Ini adalah pelajaran bagi Umatnya. Karena Marahnya Nabi SAW adalah karena Allah dan marah karena Allah tidak semestinya diredakan.

Jika Nabi SAW marah tidak ada yang berani berbicara dengan beliau SAW. Ummu Salamah RA mengatakan:

كان صلّى الله عليه وسلم إذا غضب لم يجترىء عليه أحد إلّا عليّ

Apabila Nabi SAW marah, tidak ada yang berani menghadapnya kecuali Ali (bin Abi Thalib) (HR Abu Nuaim, al Hakim, at Thabrani)

Ini karena Sayidina Ali mengetahui kedekatan hubungannya dengan Nabi SAW, dan hatinya kuat untuk menanggung ucapan Beliau SAW yang keras. Ini adalah salah satu keistimewaan Sayidina Ali RA yang tidak dimiliki oleh para sahabat lainnya.

Nabi SAW adalah manusia yang paling sulit untuk dibuat marah. Tetapi jika beliau sudah marah maka kemarahan beliau adalah yang paling cepat redanya. Ini sesuai dengan sabda Nabi SAW:

أنّ بني آدم خيرهم بطيء الغضب سريع الفيء.

Sesungguhnya keturunan Adam terbaik adalah yang paling lambat marahnya tetapi paling cepat redanya. (HR Turmudzi)

Ini menunjukkan bahwa Nabi SAW adalah sebaik-baiknya manusia.

Nabi SAW hanya marah karena Allah SWT, tidak marah karena urusan dunia sebab dunia adalah kecil dalam pandangan mata Beliau SAW. Beliau juga tidak marah karena dirinya dihina. Beliau tidak membela diri jika dirinya disakiti, tetapi beliau memaafkan orang yang menyakitinya karena kesempurnaan ahlak Beliau. Di dalam diri Baginda Nabi SAW, tidak ada tempat sedikitpun untuk dunia, syahwat dan kehendak diri. Yang ada murni untuk kepentingan Allah, tujuan untuk Allah dan kehendak Allah. Beliau tidak peduli kepada hak-hak dirinya, tetapi akan menegakan hak-hak Allah.

Hindun bin Abi Halah mengatakan:

وكان لا تغضبه الدنيا وما كان منها، فإذا تعدّي الحقّ لم يقم لغضبه شيء حتى ينتصر له، ولا يغضب لنفسه؛ ولا ينتصر لها

Beliau SAW tidak marah karena dunia atau bagian dari dunia. Tetapi jika dilanggar hak (Allah) maka tidak ada yang berani berdiri karena melihat kemarahannya, sampai hak itu ditegakkan. Beliau juga tidak marah karena dirinya sendiri dan tidak membalas untuk dirinya. (HR Turmudzi dalam Syamail)

Beliau akan menegakkan kebenaran meskipun itu dapat membahayakan diri dan sahabat-sahabatnya.

Sahabat Anas bin Malik RA mengatakan:

كان صلّى الله عليه وسلم إذا كره شيئا عرف ذلك في وجهه

Apabila Nabi SAW tidak menyukai sesuatu maka ketidaksukaan itu terlihat dari wajahnya. (HR Thabrani)

Karena wajah beliau bagaikan rembulan dan mentari, jika ada sesuatu yang tidak beliau suka, ia bagaikan mentari yang terhalang mendung. Dan karena beliau sangat pemalu sehingga beliau tidak mengatakan apa yang beliau tidak suka, tetapi ketidak-sukaan itu Nampak dari wajahnya.

Dalam riwayat lain dikatakan:

: كان أشدّ حياء من العذراء في خدرها، فإذا رأى شيئا يكرهه عرفناه في وجهه.

Nabi SAW lebih pemalu dari seorang gadis dalam pingitannya. Jika beliau melihat sesuatu yang tidak disukai maka kami mengetahui dari wajahnya.

Kesenangan Nabi SAW

Sahabat Kaab bin Malik RA mengatakan:

كان صلّى الله عليه وسلم إذا سرّ استنار وجهه كأنّه القمر

Apabila Rasulullah SAW senang, maka wajahnya bercahaya seakan wajahnya adalah rembulan. (HR Bukhari-Muslim)

Dinukilkan dari kitab an Nihayah, Bahwa Apabila Nabi SAW senang maka seakan wajahnya adalah cermin sehingga dapat dilihat di dalamnya pantulan bayangan benda-benda.  Dan seakan terlihat dari wajahnya pantulan bayangan dinding karena sangat jernih dan bercahayanya wajah Nabi SAW. Wallahu `alam. *dzr

Sumber: Muntaha Su`l `ala Wasailil Wushul

Tags:

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.