Headline »

December 13, 2017 – 2:00 am | Edit Post

Share this on WhatsApp
Di antara umat beliau SAW, ada yang susah-payah mendatangi telaga dalam keadaan kehausan, namun ketika mendekat, ia dihalau dari telaga dan tidak diizinkan untuk meminum setetes pun darinya. Merekalah orang-orang yang merugi.
Imam …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Foto Galeri, Headline

HIKMAH RAMADHAN: SELEKTIF MEMILIH MAKANAN HALAL

Submitted by on June 1, 2017 – 2:35 pm
 
Di antara buah Ramadhan adalah menjadikan diri terlatih dan selektif dalam memilih makanan dan minuman. Selama bulan Ramadhan kita dituntut untuk menahan lapar dan haus dari yang halal di siang hari. Jika kita mampu menahan diri dari makanan halal seharusnya kita lebih mampu menahan diri dari makanan syubhat terlebih makanan haram.
 
Makan dan minum bukanlah perkara yang remeh dalam Islam. Justru makan dan minum adalah pondasi pokok yang harus diperhatikan sebelum beribadah. Perhatikanlah firman Allah SWT
 
يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ [المؤمنون: 51[
 
Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya aku Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS al Mukminun: 51)
 
Perhatikan bagaimana Allah SWT mendahulukan perintah untuk makan makanan halal dan mengakhirkan perintah untuk beramal. Ini untuk menunjukkan bahwa semua jenis amal, sholat kah, puasa kah, haji kah, doa kah, semuanya tidak akan tidak diterima di sisi Allah tanpa makanan yang halal.
 
إِنَّ اللهُ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا الطَّيِّبَ
Sesungguhnya Allah itu baik dan hanya menerima yang baik-baik saja.
 
Rasulullah SAW pernah menceritakan seorang lelaki yang telah lama bepergian hingga rambutnya kusut dan berdebu. Ia selalu menengadahkan tangan ke langit seraya berdoa. “Ya Rabbi, Ya Rabbi.” Tetapi makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, ia tumbuh dengan makanan yang haram maka bagaimana terkabulkan doanya?
 
Doa seorang musafir dan orang-orang tak berdaya itu mustajab. Tapi lihat bagaimana doa tidak terkabul hanya karena makanannya adalah haram. Begitulah pula amal lainnya.
 
Kebalikan dari itu, Sahabat Saad bin Abi Waqqas ra adalah sahabat yang sangat mustajab doanya. Apa rahasia mustajab doanya? Dikisahkan ia pernah meminta kepada Rasulullah SAW agar doanya mustajab. Lalu Rasulullah SAW menjawab :
 
يَا سَعْدُ, أَطِبْ مَطْعَمَكَ تَكُنْ مُجَابَ الدَّعْوَةِ
 
Hai Saad, Baguskan makananmu niscaya engkau akan menjadi orang yang mustajab doanya.
 
Tahukah anda jika setan melihat seorang pemuda rajin beribadah ia tidak segera menggodanya. Yang dilakukan adalah melihat darimana pemuda itu makan. Jika makanannya adalah makanan haram ia akan berkata,
 
دَعُوْهُ يَتْعَبُ وَيَجْتَهِدُ فَقَدْ كَفَاكُمْ نَفْسُهُ
Biarkan saja dia kelelahan dan bersusah-payah. Sudah cukup dia menjerumuskan dirinya sendiri tanpa kalian (yakni dengan makanan haramnya).
 
Maka sungguh benar yang dikatakan Imam Ibnu Ruslan dalam baitnya:
وَطَاعَةٌ مِمَّنْ حَرَاماً يَأْكُلُ*** مِثْلُ الْبِنَاءِ فَوْقَ مَوْجٍ يُجْعَلُ
Ketaatan dari orang yang memakan makanan haram, bagaikan bagunan dibangun di atas ombak lautan
 
Bagaimana bisa bagunan menjadi kokoh jika dibagun di atas ombak. Begitulah pula ketaatan tidak akan bisa bermanfaat jika makanannya adalah makanan yang haram.
 
Inilah minimal hikmah Ramadhan yang harus kita raih. Yaitu berhati-hati memilih makanan, jangan sampai ada sesuap pun makanan haram masuk ke tubuh kita. Ketahuilah bahwa sedikit ibadah dengan makanan halal jauh lebih baik daripada banyak ibadah dengan makanan haram. Ibrahim bin Adham ra mengatakan:
 
أَطِبْ مَطْعَمَكَ وَمَا عَلَيْكَ أَنْ لَا تَقُوْمُ اللَّيْلَ وَلَا تَصُوْمُ النَّهَارَ
Perbaiki makananmu maka tidak mengapa jika kau tidak shalat di malam hari dan tidak puasa (sunah) di siang hari.
 
Makanan haram membuat tubuh cenderung kepada yang haram pula. Kalau pun ia beramal shaleh secara dzahir, maka amalannya tidak terlepas dari penyakit hati seperti ujub, riya dan lainnya sehingga amalannya pun sia-sia. Dikatakan dalam atsar:
 
مَنْ أَكَلَ الحَّلَالَ أَطَاعَتْ جَوَارِحُهُ شَاءَ أَمْ أَبَى, وَمَنْ أَكَلَ الْحَرَامَ عَصَتْ جَوَارِحُهُ شَاءَ أَمْ أَبَى
 
Siapa yang memakan makanan halal maka anggota tubuhnya akan taat baik ia kehendaki atau tidak. Dan siapa yang memakan makanan haram anggota tubuhnya akan bermaksiat baik ia kehendaki atau tidak.
 
Lebih baik dan lebih utama lagi jika kita dapat meraih buah Ramadhan yang lebih sempurna. Bukan hanya berhati-hati terhadap makanan yang haram, namun juga dapat membatasi makanan halal seperlunya saja. Dikatakan bahwa Nabi SAW bersabda:
 
لَا يَبْلُغُ الْعَبْدُ أَنْ يَكُوْنَ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ حَتَّى يَدَعَ مَا لَا بَأْسَ بِهِ حَذَراً لِمَا بِهِ بَأْسٌ (الترمذي)
Seorang hamba tidak akan mencapai derajat orang yang bertakwa sampai ia meninggalkan apa diperbolehkan karena takut terjerumus kepada apa yang dilarang. (HR Turmudzi)
 
Kenyang dengan makanan yang halal memang tidak dilarang, namun kekenyangan dapat membuat nafsu menjadi liar sehingga dikhawatirkan akan menjerumuskan kepada apa yang dilarang. Lukman al Hakim dalam salah satu nasihat kepada anaknya mengatakan:
 
يَا بُنَيَّ إِذَا امْتَلَأَتِ الْمَعِدَةُ نَامَتِ الْفِكْرَةُ وَخَرِسَتِ الْحِكْمَةُ وَقَعَدَتِ الْأَعْضَاءُ عَنِ الْعِبَادَةِ
Hai anakku, jika perut penuh maka akan tertidur pikirannya, terbisu lisannya dari hikmah, dan terduduk anggota badannya dari Ibadah.
 
Imam Ali bin Abi Thalib Ra juga berkata:
مَا شَبِعْتُ قَطُّ إِلَّا عَصَيْتُ أَوْ هَمَمْتُ بِالْمَعْصِيَةِ
Aku tidak merasa kenyang kecuali aku bermaksiat atau aku berkeinginan untuk bermaksiat.
 
Inilah buah Ramadhan yang seharusnya kita raih. Jangan sampai hasil didikan selama sebulan hangus dalam satu hari. Sebulan penuh kita berlatih menahan nafsu makan dan di hari raya kita justru melampiaskanya tanpa batas. Jika demikian maka akan menjadi sia-sia hasil puasa Ramadhan kita.

Tags:

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.