Headline »

August 18, 2017 – 9:16 am | Edit Post

Share this on WhatsAppPesan Kemerdekaan yang disampaikan oleh Al – Habib Taufiq bin Abdul Qodir Assegaf dalam upacara hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-72 di lingkungan Pondok Pesantren Sunniyah Salafiyah – Pasuruan
Kamis, 17 Agustus 2017 …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Featured, Foto Galeri, Headline

LIMA TAHAP KEWAJIBAN PUASA

Submitted by on May 23, 2017 – 3:08 pm


Oleh : Ali Muhammad Baagil, Alumni Fakultas Al Quran Sunniyah Salafiyyah Pasuruan

Perintah puasa ramadhan diturunkan oleh Allah swt pada bulan sya’ban tahun kedua hijriyah, namun puasa bukanlah hal baru bagi umat islam kala itu, karena sebelum ada kewajiban puasa ramadhan terlebih dahulu Allah swt mewajibkan puasa-puasa yang lain, berikut ini adalah perjalanan kewajiban puasa ramadhan bagi umat nabi Muhammad Saw :

1. Pada perjalanan pertama, kewajiban umat islam adalah berpuasa tiga hari pada setiap bulan, sama persis sebagaimana puasa umat umat terdahulu, Allah swt berfirman :

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ)
[Surat Al-Baqarah 183]

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Puasa yang diwajibkan pada umat umat terdahu itu ialah puasa pada tiga hari setiap bulan, bahkan dalam tafsir ibnu kasir disebutkan bahwa puasa ini sudah disyariatkan sejak zaman nabi Nuh As

لم يزل هذا مشروعا من زمان نوح إلى أن نسخ الله ذلك بصيام شهر رمضان .

” Puasa ini ( tiga hari setiap bulan ) telah disyariatkan dari zaman Nuh as, sampai Allah SWT menghapusnya dengan puasa bulan ramadhan ”

Ini adalah tahap pertama kewajiban puasa umat nabi Muhammad Saw, lalu kewajiban puasa ini dihapus dan digantikan kewajiban puasa pada tahap selanjutnya

2. Puasa hari asyuro, menurut pendapat yang mengatakan bahwa puasa Asyuro dulunya adalah wajib, puasa ini menggantikan kewajiban puasa tiga hari setiap bulan, dalam sebuah hadist, ketika Rasulullah Saw beserta para sahabat berhijrah ke madinah dan mendapatkan orang orang yahudi berpuasa pada hari asyuro, ketika orang yahudi ditanya tentang sebab puasanya, orang orang yahudi menjawab; ini adalah hari dimana Allah Swt menyelamatkan musa dari kejaran Firaun, mendengar jawaban yahudi maka rasul saw bersabda; Kita lebih berhak atas nabi musa dari pada mereka, maka nabi memerintahkan sahabat untuk berpuasa dan mengutus seseorang untuk menyebarkan perintah puasa ini, dan yang sudah terlanjur tidak berpuasa maka nabi memerintahkan untuk imsak di sisa harinya

Dalam sabdanya yg lain,

وعن عائشة قالت : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أمر بصيام يوم عاشوراء قبل أن يفرض رمضان فلما فرض صيام رمضان ، كان من شاء صام عاشوراء ومن شاء أفطر

” dari Aisyah dia berkata : dahulu Rasulullah Saw memerintahkan untuk berpuasa hari Asyuro sebelum diwajibkan puasa ramadhan, maka ketika diwajibkan puasa ramadhan bebas siapa yang ingin berpuasa asyuro dan siapa yang ingin tidak berpuasa ”

Kewajiban puasa Asyuro ini menjadi perbedaan pendapat para ulama’ yang dapat dirujuk dalam kitab-kitab fiqih, pada tahap selanjutnya kewajiban puasa asyuro dihapuskan oleh Allah Swt dan digantikan dengan kewajiban puasa ramadhan

3. Pada tahap ini Allah Swt telah mewajibkan puasa ramadhan akan tetapi Allah Swt memberikan pilihan bagi setiap orang, bagi yang ingin berpuasa maka hendaknya dia berpuasa dan barang siapa yang ingin tidak berpuasa maka hendaknya dia membayar fidyah, hal ini sebagaimana difirmankan Allah Swt

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ
[Surat Al-Baqarah 184]

” Dan bagi orang – orang yang mampu berpuasa ( dan ingin untuk tidak berpuasa ) wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan satu orang miskin ”

Pada tahap selanjutnya [Surat Al-Baqarah 185] Allah Swt menghapus pilihan ini dan mewajibkan setiap orang untuk berpuasa tanpa ada pilihan, Allah Swt berfirman :

فمن شهد منكم الشهر فليصمه

” maka barang siapa dalam keadaan muqim ( tidak bepergian ) di bulan ramadhan maka hendaknya dia berpuasa ”

4. Kewajiban puasa ramadhan dengan tanpa ada pilihan membayar fidyah, dan aturan hukum pada waktu itu jika seseorang tidur setelah waktu isya’ maka dia tidak boleh lagi makan, minum, dan berhubungan suami istri layaknya orang puasa, hukum ini berlangsung sampai pada suatu hari seorang sahabat anshor yang bernama qais ibnu shirmah seorang pekerja, dia bekerja sampai sore hari dalam keadaan letih, akhirnya dia pulang sampai rumah belum sempat berbuka dia sholat isya’ lalu tertidur sampai pagi harinya dan dia sudah dalam keadaan berpuasa lagi, pada esok harinya dia bertemu Nabi Saw, Nabi melihat dia dalam keadaan benar benar lemas, maka ia ditanya oleh Nabi Saw, mengapa kau terlihat begitu lemas ? Maka ibnu shirmah dia menceritakan kejadiannya kemarin

Kejadian yang lain ialah sayyidina Umar Ra, berhubungan suami istri pada malam hari bulan ramadhan setelah tidur maka umar menceritakannya kepada Nabi Saw, maka turunlah firman Allah Swt

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ الاية

” dihalalkan bagi kalian pada malam puasa bercampur dengan istri – istri kalian “

[Surat Al-Baqarah 187]

Pada tahapan selanjutnya keharaman makan, minum, dan berhubungan suami istri bulan ramadhan dihapuskan dan jadilah sebagaimana puasa kita biasanya

5. Pada tahap akhir perjalanan kewajiban puasa ini, sebagaimana puasa yang biasa kita lakukan yaitu menahan makan dan minum dan segala hal yang membatalkan puasa dari terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari, setelah tenggelamnya matahari maka tetap dalam keadaan berbuka sampai bertemu fajar subuh

Allah Swt berfirman :

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْل الاية
ِ
” Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam ”
[Surat Al-Baqarah 187]

Demikianlah perjalanan atau tahap tahapan kewajiban puasa dari awal mula diperintahkannya

Tags:

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.