Headline »

October 17, 2017 – 1:05 am | Edit Post

Share this on WhatsApp
Oleh: Sayyid Husein Ali Assegaf*
Pertanyaan seperti itu akhir-akhir ini sering muncul bahkan dari mereka yang mungkin tidak mengerti apa yg dinamakan ” dalil ”
Memang betul , bahwa seseorang berhak menanyakan dalil atau …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Uncategorized

WEWANGIAN YANG DISUKAI NABI SAW

Submitted by on May 17, 2017 – 6:46 am

Dari Sahabat Anas bin Malik RA,

كان لرسول الله صلّى الله عليه وسلّم سكّة يتطيّب منها.

Rasulullah SAW memiliki suatu wewangian yang beliau selalu memakainya. (HR Abu Dawud)

Rasulullah SAW biasa mengambil misik dan mengusapkan di rambut dan janggut Beliau SAW. Beliau saw juga melumuri rambutnya dengan misik.

Sayidah Aisyah RA pernah ditanya, “Apakah Rasulullah SAW memakai wewangian?” Beliau SAW menjawab:

نعم بذكارة الطيب:المسك والعنبر

Benar dengan wewangian lelaki yaitu misik dan Anbar (HR Nasa`i)

Wewangian lelaki adalah yang tidak meninggalkan bekas warna seperti misik, anbar dan gaharu.

Imam Ghazali mengatakan bahwa alasan Nabi SAW memakai wewangian bukan sekedar ingin berhias sebagaimana orang-orang secara umum. Beliau memakainya sebab beliau dituntut untuk berdakwah, dan termasuk tugas-tugasnya adalah membuat hati orang-orang tertarik dan mengagungannya serta membaguskan bentuk fisiknya di mata mereka agar mereka tidak melihat apa yang tidak disukai sehingga mereka lari dari dakwah dan dijadikan alat kaum munafik untuk membuat orang lari dari dakwahnya. Ini adalah kewajiban bagi setiap orang alim yang berdakwah ke jalan Allah.

Jadi berhias dengan pakaian dan wewangian tidak selalu berkonotasi dengan kesombongan. Terkadang berhias itu dihukumi adalah sunah Seperti berhias untuk melaksanakan shalat jamaah dan semisalnya, berhias bagi wanita untuk suaminya, berhias bagi orang alim untuk membuat hati manusia mengagungkan ilmu dan tertarik. Kadang berhias dihukumi wajib seperti bagi pejabat jika tidak dapat membuat perintahnya terkait maslahat umum ditaati kecuali dengan berhias, keadaan fisik yang buruk kadang membuat orang awam di zaman ini tidak mematuhi perintahnya, sebab orang zaman sekarang lebih melihat kepada bentuk, berbeda dengan kaum salaf yang lebih mengagungkan agama dan ketakwaan.

Tidak menolak pemberian wewangian

Sahabat Anas RA tidak pernah menolak wewangian dan berkata:

إنّ النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم كان لا يردّ الطّيب.

Sesungguhnya Nabi SAW tidak pernah menolak pemberian wewangian. (HR Turmudzi)

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ عُرِضَ عَلَيْهِ رَيْحَانٌ فَلَا يَرُدُّهُ فَإِنَّهُ خَفِيفُ الْمَحْمِلِ طَيِّبُ الرِّيحِ

Siapa yang ditawarkan wewangian janganlah menolaknya, sebab itu adalah pemberian yang ringan namun harum. (HR Muslim)

Dikiyaskan dengan hal ini semua pemberian yang dirasa ringan seperti manisan, susu, minyak wangi dan lainnya.

Abu Utsman An Nahdi RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

إذا أعطي أحدكم الرّيحان.. فلا يردّه؛ فإنّه خرج من الجنّة

Jika salah satu dari kalian diberikan raihan (wewangian dari tumbuhan), janganlah ia menolaknya sebab itu berasal dari surga. (HR Turmudzi dalam Syamail)

Dikatakan bahwa maksudnya benihnya berasal dari surga. Allah menciptakan wewangian di dunia agar para hamba mengingat wewangian surga dan merindukannya dengan cara meningkatkan amal shaleh agar dapat masuk ke dalamnya.

Wal hasil, wewangian dunia adalah sedikit contoh wewangian surga. Adapun wewangian surga yang sesungguhnya dapat dicium dari jarak lima ratus tahun perjalanan.

 

Sahabat Anas Ra mengatakan:

كان أحبّ الرّياحين إليه صلّى الله عليه وسلّم الفاغية.

Raihan (wewangian yang berasal dari tumbuhan) yang paling disukai Nabi SAW adalah Faghiah. (HR Thabrani)

Faghiah adalah wewangian yang berasal dari bunga Hinna.Ini adalah termasuk raihan yang paling baik. Dikatakan bahwa ia adalah raihan yang paling tinggi di dunia dan di akhirat.

Rasulullah SAW menyukai bau yang wangi dan sering menggunakannya. Sayidah Aisyah RA mengatakan:

كان رسول الله صلّى الله عليه وسلم يعجبه الرّيح الطّيّبة

Rasulullah SAW senang menghirup wewangian. (HR Abu Dawud)

Al Munawi mengatakan ini karena wewangian adalah makanan bagi ruh. Dan ruh adalah sumber semangat. Semangat dapat meningkat dengan menghirup wewangian, dan itu bermanfaat bagi otak, hati dan semua organ dalam. Oleh sebab itu wewangian menjadi salah satu yang paling disukai Nabi SAW di dunia.

Rasulullah SAW sering memakai wewangian dengan penggunaan yang sesuai dengan setiap keadaan, walaupun tubuh beliau sendiri sudah harum tanpa wewangian. Ini adalah untuk mubalaghoh (menyangatkan) dengan niat bertemu dengan malaikat. Wewangian dapat menguatkan panca indra dan membangkitkan semangat dan kekuatan. Malaikat menyukai wewangian dan membenci bau busuk dan setan kebalikannya.

Rasulullah SAW juga menganjuran umatnya untuk memakai wewangian, karena malaikat pencatat selalu ada bersama mereka dan termasuk cara menjaga muruah seseorang adalah dengan kebersihan pakaian dan aroma yang wangi. Beliau SAW bersabda:

حُبِّبَ إِلَيَّ مِنْ الدُّنْيَا النِّسَاءُ وَالطِّيبُ وَجُعِلَ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ

Dijadikan kesukaanku dari dunia kalian : Wanita, wewangian dan dijadikan shalat sebagai penyejuk mataku. (HR Ahmad)

Maksud dari wanita di sini adalah istri-istri Beliau SAW. Rasulullah SAW menyukainya sebab merekalah yang menjadi perantara untuk menyampaikan hukum syariat yang terkait dengan rumah tangga dan hal-hal khusus wanita. Merekalah yang menyampaikan apa yang tabu untuk dikatakan oleh lelaki.

Syaikh Taqiyudin as Subuki mengatakan, “Rahasia dibolehkannya Rasulullah SAW menikahi lebih dari empat istri adalah karena Allah SWT berkehendak untuk menyampaikan syariat yang batin dan yang zahir, yang malu untuk diucapkan dan apa yang tidak. Rasulullah SAW adalah manusia yang sangat pemalu, maka Allah menjadikan bagi beliau banyak istri yang menyampaikan syariat yang mereka saksikan dari perbuatan Nabi SAW dan mereka dengarkan dari ucapan Nabi SAW yang terkadang diaaggap tabu untuk dikatakan terus-terang di hadapan para lelaki. Dengan demikian menjadi sempurna penyampaian syariat. Para istri Nabi telah menukilkan hal-hal yang tidak dinukilkan oleh selain mereka, seperti ayat-ayat yang dilihat nabi dalam mimpinya dan yang turun ketika Nabi sendiri, serta kesungguhan dan semangat nabi dalam beribadah, dan urusan-urusan yang menjadi bukti kenabiannya dan tidak disaksikan oleh selain mereka. Dengan demikian terhasilkanlah kebaikan yang banyak.”

Faidah:

Memakai wewangian lebih ditekankan bagi lelaki di Hari Jumat, dua hari raya, sebelum ihram, ketika menghadiri shalat jamaah dan perkumpulan manusia, ketika hendak membaca al Quran, mempelajari suatu ilmu, berdzikir. Dan disunahkan bagi suami dan istri ketika hendak berhubungan sebab itu adalah termasuk bentuk pergaulan yang baik.

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.