Headline »

October 17, 2017 – 1:05 am | Edit Post

Share this on WhatsApp
Oleh: Sayyid Husein Ali Assegaf*
Pertanyaan seperti itu akhir-akhir ini sering muncul bahkan dari mereka yang mungkin tidak mengerti apa yg dinamakan ” dalil ”
Memang betul , bahwa seseorang berhak menanyakan dalil atau …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Headline, Kalam Salaf

ِAPA YANG HARUS DILAKUKAN KETIKA SAKIT?

Submitted by on May 15, 2017 – 4:50 am

Al Habib Abdullah bin Alawi Al Haddad dalam kitab Sabilul Iddikar membicarakan tahapan-tahapan hidup manusia, dan apa yang harus ia lakukan dalam setiap tahapan itu. Salah satunya adalah ketika sakit, bagaimana sikap seorang muslim ketika sakit? Berikut intisarinya:

Jika seorang muslim sakit, hendaknya ia segera bertaubat, memperbanyak istighfar, dzikir, menyesali perbuatan buruk dan kelalaiannya di masa lalu. Sebab ia tidak tahu, mungkin kematiannya akan datang karena penyakitnya ini. Bisa jadi ajalnya telah dekat. Oleh karena itu lakukanlah hal itu agar akhir hidupnya ditutup dengan kebaikan. Sebab penentu nasib kita di Akhirat adalah amal-amal yang dilakukan menjelang kematian.

Penyakit-penyakit mengingatkan kepada akhirat, mengingatkan kepulangan kita kepada Allah SWT. Hendaknya ia mewasiatkan apa yang harus diwasiatkan yang penting bagi urusan akhirat dan dunia seperti mewasiatkan tentang harta-harta orang yang ada pada dirinya, hutang, dan harta yang pernah ia ambil secara zalim untuk dikembalikan. Sebab ini sangat besar bahayanya, dan sangat sulit untuk selamat dari dosanya.

Dalam sakitnya, hendaknya ia memperbanyak husnudzon (berprasangka baik) kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda

لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Janganlah salah seorang dari kalian mati kecuali dalam keadaan berhusnudzon kepada Allah SWT. (HR Muslim)

Hendaknya husnudzon itulah yang menguasai hatinya sebab Allah SWT berfirman dalam hadits Qudsi:

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِي

Aku sesuai dengan persangkaan Hamba-Ku dan Aku ada bersamanya ketika ia mengingat-Ku. (HR Bukhari-Muslim)

Rasulullah SAW pernah menjenguk seorang pemuda yang sedang sakit. Nabi menanyakan kabarnya, dan ia menjawab: “Aku mengharapkan kebaikan Tuhanku dan aku takut dengan dosaku.”

Nabi SAW bersabda:

لَا يَجْتَمِعَانِ فِي قَلْبِ عَبْدٍ فِي مِثْلِ هَذَا الْمَوْطِنِ إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ مَا يَرْجُو وَآمَنَهُ مِمَّا يَخَافُ

Tidaklah dua hal itu (harap dan takut)berkumpul pada hati seorang hamba dalam keadaan seperti ini (sakit) kecuali Allah akan memberikan kepadanya apa yang ia harapkan, dan membuatnya aman dari apa yang ia takuti. (HR Turmudzi)

Bersamaan dengan itu, hendaknya pengharapan dia lebih banyak bagi orang yang sakit, terlebih jika telah Nampak tanda-tanda kematian dan dekatnya ajal. Agar ia mati dalam keadaan berprasangka baik kepada Allah, berharap kepada anugrah Allah dan keluasan rahmat-Nya dan keinginan untuk bertemu Allah. Dalam hadits dikatakan:

مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ

Siapa yang ingin bertemu Allah maka Allah pun ingin menemuinya. Dan siapa yang tidak suka bertemu Allah, Allah pun tidak Suka menemuinya. (HR Bukhari-Muslim)

Ketika Sayidah Aisyah menanyakan, “Semua dari kita takut kepada kematian?” Rasulullah SAW bersabda:

لَيْسَ ذَاكِ وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا حَضَرَهُ الْمَوْتُ بُشِّرَ بِرِضْوَانِ اللَّهِ وَكَرَامَتِهِ فَلَيْسَ شَيْءٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ فَأَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ وَأَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَإِنَّ الْكَافِرَ إِذَا حُضِرَ بُشِّرَ بِعَذَابِ اللَّهِ وَعُقُوبَتِهِ فَلَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَهَ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ وَكَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ

Bukan seperti itu, akan tetapi seorang yang beriman ketika hadir kematian maka ia akan diberikan kabar gembira dengan keridhoan Allah dan anugrah-Nya. Maka tidak ada sesuatu yang lebih ia inginkan dari apa yang ada dihadapannya itu, ia pun ingin bertemu Allah SWT dan Allah pun ingin menemuinya. Adapun seorang kafir, jika hadir kematian kepadanya maka ia dikabarkan mengenai adzab Allah dan hukuman-Nya, maka tidak ada sesuatu pun yang lebih ia benci dari apa yang menunggu di hadapannya. Ia pun tidak suka bertemu Allah dan Allah tidak suka untuk menemuinya. (HR Bukhari)

Orang-orang yang beriman dan bertakwa akan diberikan kabar gembira dengan rahmat Allah ketika ia akan meninggal dunia. Hampir saja nyawa mereka melayang dari jasadnya karena kerinduan kepada Tuhan Mereka dan keinginan untuk menemui Allah. Mereka diberikan kabar gembira bahwa mereka akan masuk ke dalam surga dan tidak ada lagi ketakutan di dalamnya dan tidak pula mereka bersedih.

Menjaga Shalat

Hendaknya orang yang sakit menghindari badan dan pakaiannya dari najis agar tidak terhalangi untuk melakukan shalat. Dan hati-hati, jangan sampai meninggalkan shalat. Shalatlah sesuai dengan keadaannya. Jika tidak mampu berdiri maka shalatlah sambil duduk. Jika tidak mampu shalatlah dengan berbaring miring. Dan seterusnya shalatlah sesuai kemampuannya. Jangan sampai umurnya diakhiri dengan menyia-nyiakan shalat yang adalah tiang agama.

Bagi orang yang ada bersama orang yang sakit, baik keluarga atau sahabat hendaknya mereka megingatkannya untuk shalat dan membantunya untuk melaksanakan kewajibannya itu.Ketahuilah bahwa kewajiban shalat tidak menjadi gugur selama ia masih berakal.

Hendaknya ia memperbanyak dzikir:

لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنْ الظَّالِمِينَ

Telah datang bahwasanya siapa yang mengatakanya sebanyak 40 kali di waktu sakitnya maka ia mati sebagai seorang syahid.

Perbanyak pula membaca Surat al Ikhlas.

Termasuk kalimat yang Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa saja yang mengucapkannya di masa sakit maka tubuhnya tidak akan dilalap api neraka sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Turmudzi adalah:

 لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.