Headline »

June 21, 2017 – 1:45 pm | Edit Post

Share this on WhatsApp
Sudah menjadi rutinitas tahunan bagi sebagian kalangan ulama untuk melaksanakan Qodho Shalat lima waktu (Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Shubuh) setelah melaksanakan Shalat Jumat di haru Jum’at terkahir Bulan Ramadhan. Shalat yang …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Headline

SEMERBAK WANGI BAGINDA NABI SAW

Submitted by on May 13, 2017 – 6:56 am

 

Imam Muslim meriwayatkan dari Sayidina Anas RA bahwa beliau berkata:

كَأَنَّ عَرَقَهُ اللُّؤْلُؤُ

Seakan keringat beliau adalah permata. (HR Muslim)

Keringat Beliau SAW juga sangat wangi, melebihi minyak wangi apa pun. Sahabat Anas RA mengatakan:

وَلَا شَمِمْتُ مِسْكَةً وَلَا عَنْبَرَةً أَطْيَبَ مِنْ رَائِحَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Aku tidak pernah mencium Minyak Misik ataupun Anbar yang lebih wangi daripada wangi Rasulullah SAW.(HR Muslim)

Jika wahyu turun, Rasulullah SAW merasakan berat, dari pelipisnya bercucuran keringat bagaikan permata walau pun dalam udara yang dingin.

Pernah Nabi SAW mendatangi kediaman Ummu Sulaim RAH. Sayidah Ummu Sulaim menghamparkan tikar kulit untuk Nabi SAW, dan Nabi SAW pun tidur siang di atasnya. Ketika itu Nabi SAW mengeluarkan banyak keringat, Maka Ummu Sulaim mengumpulkan keringat itu dan menyimpanya dalam suatu wadah wewangian. Ketika Nabi SAW terbangun, Beliau bertanya:

يَا أُمَّ سُلَيْمٍ مَا هَذَا الَّذِي تَصْنَعِينَ

Wahai Ummu Sulaim, Apa yang engkau lakukan?

Ummu Sulaim menjawab:

 هَذَا عَرَقُكَ نَجْعَلُهُ فِي طِيبِنَا وَهُوَ مِنْ أَطْيَبِ الطِّيبِ

Ini adalah keringat engkau, kami jadikan ia sebagai minyak wangi sebab ia adalah wewangian yang paling harum. (HR Muslim)

Dalam riwayat lain, Ummu Sulaim mengatakan:

 يَا رَسُولَ اللَّهِ نَرْجُو بَرَكَتَهُ لِصِبْيَانِنَا

Ya Rasulullah, kami mengharapkan keberkahanmu bagi anak-anak kami.

Maka Nabi SAW bersabda:

أَصَبْتِ

Perbuatanmu itu benar. (HR Muslim)

Telapak tangan Baginda Nabi SAW lebih halus dari sutra dan senantiasa semerbak harum baik ketika memakai minyak wangi atau tidak. Jika Baginda Nabi SAW bersalaman, maka wanginya akan  membekas di tangan orang yang bersalaman itu seharian. Jika Nabi SAW mengusap kepala anak kecil, anak itu bisa dibedakan dengan anak-anak lainnya dengan wangi bekas usapan Baginda Nabi SAW di kepalanya.

Sahabat Anas RA mengatakan:

وَلَا مَسَسْتُ خَزًّا قَطُّ وَلَا حَرِيرًا وَلَا شَيْئًا كَانَ أَلْيَنَ مِنْ كَفِّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Aku tidak pernah memegang sutra yang tebal atau pun yang tipis atau apa pun yang lebih halus dari telapak tangan Rasulullah SAW. (HR Turmudzi)

Sahabat Jabir bin Samuroh RA bercerita bahwa Nabi SAW pernah memegang pipi beliau, beliau mengatakan:

فَوَجَدْتُ لِيَدِهِ بَرْدًا أَوْ رِيحًا كَأَنَّمَا أَخْرَجَهَا مِنْ جُؤْنَةِ عَطَّارٍ

Aku dapati tangan Beliau SAW dingin atau wangi seakan ia baru dikeluarkan dari wadah minyak wangi. (HR Muslim)

Kedatangan Nabi SAW dapat diketahui dari wangi semerbak tubuh Beliau SAW. Tidak lah Nabi SAW berjalan di suatu jalan, kecuali orang yang berjalan di jalan itu tahu bahwa bahwa jalan ini sudah dilalui Nabi SAW karena semerbak wanginya. Sahabat Anas RA menceritakan:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ إِذَا مَرَّ فِي طَرِيقٍ مِنْ طُرُقِ الْمَدِينَةِ، وُجِدَ مِنْهُ رَائِحَةُ الْمِسْكِ، فَيُقَالُ: مَرَّ رَسُولُ اللهِ

Apabila Rasulullah SAW berjalan di suatu jalan di Madinah, wangi Beliau akan tercium seperti wangi misik, Maka orang akan mengatakan, “Rasulullah telah lewat (di tempat ini)” (HR Abu Ya`la dan al Bazzar dengan sanad shahih)

Ishaq bin Rahawaih mengatakan ini semua adalah wangi Nabi SAW ketika beliau tidak memakai wewangian.

Ummu Ashim, salah satu istri Utbah bin Farqod menceritakan:

“Ada empat istri Utbah. Semuanya berusaha menjadi yang terwangi. Utbah tidak pernah memakai wewangian, ia hanya menyentuh minyak yang ia usapkan ke janggut. Tapi Utbah selalu lebih wangi dari kami semua. Jika Utbah bersama orang-orang, mereka mengatakan, “Kami tidak pernah menghirup yang lebih wangi dari Utbah.”

Suatu hari aku bertanya kepada Utbah:

“Kami berusaha menjadi yang terwangi. Tapi engkau selalu lebih wangi dari kami. Dari mana engkau dapatkan wewangian itu?”

Utbah menjawab:

“Aku pernah terkena penyakit cacar di masa Rasulullah SAW. Aku pun mendatanginya dan megeluhkan keadaanku kepada Beliau SAW. Beliau memerintahkanku untuk melepas pakaianku. Aku pun melepaskan pakaianku dan duduk di hadapan Beliau. Aku jadikan pakaianku untuk menutupi auratku. Maka Nabi SAW pun meludah di tangannya dan mengusap punggung dan perutku dengan tangannya. Sejak saat itu wangi ini tercium semerbak dariku. (HR Thabrani dalam Mu`jam Shaghir)

Diriwayatkan pula oleh Abu Ya`la dan Thabrani  kisah seorang yang meminta tolong kepada Nabi SAW untuk membantu persiapan pernikahan anaknya. Ia berkata kepada Nabi SAW:

يا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي زُوَّجْتُ ابْنَتِي، وَإِنِّي أُحِبُّ أَنْ تُعِينَنِي بِشَيْءٍ

Wahai Rasulullah, aku akan menikahkan putriku. Dan aku ingin agar engkau membantuku.

Rasulullah SAW menjawab:

:”مَا عِنْدِي مِنْ شَيْءٍ، وَلَكِنْ إِذَا كَانَ غَدًا فَتَعَالَ فَجِئْنِي بِقَارُورَةٍ وَاسِعَةِ الرَّأْسِ وَعُودِ شَجَرٍ

Aku tidak memiliki apa-apa, tetapi besok datanglah padaku dan bawalah botol yang bagian atasnya luas serta batang kayu.

Keesokan harinya ia datang membawa botol dan kayu yang diminta. Nabi SAW mengusap keringat Beliau SAW dari kedua tangannya sampai botol itu penuh. Lalu Nabi SAW bersabda:

 “خُذْ، وَأْمُرْ بنتَكَ إِذَا أَرَادَتْ أَنْ تَطَيَّبَ أَنْ تَغْمِسَ هَذَا الْعُودَ فِي الْقَارُورَةِ وَتطَيَّبَ بِهِ”،

Ambil ini dan perintahan putrimu jika ingin memakai minyak wangi, celupkan tongkat ini ke botol dan pakailah itu sebagai minyak wangi.

Maka setiap kali putri lelaki tadi memakai minyak wangi, wanginya tercium oleh penduduk Madinah. Mereka pun menamainya dengan “Baitul Muthoyabin” (Rumah orang-orang yang wangi).

اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبة وسلم

Sumber: Wasailul Wusul Ila Syamailir Rasul

 

Tags:

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.