Headline »

August 19, 2017 – 1:18 am | Edit Post

Share this on WhatsApp
Al-Habib Abdullah bin Alwi Alhaddad dalam kitab Ithafus Sail menuturkan pertanyaan seseorang mengenai orang yang membaca Surat Al-Waqiah dengan tujuan mendapatkan kecukupan, apakah itu salah?
Beliau RA menjawab:
Telah datang riwayat yang menyebutkan bahwa …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Headline, Kalam Salaf

DENGAN SIAPA ENGKAU DUDUK?

Submitted by on May 10, 2017 – 1:09 pm

Habaib

Al Habib Zain bin Smith dalam salah satu bagian kitabnya Manhajus Sawi, menganjurkan kita untuk duduk bersama orang-orang Shaleh. Berikut intisarinya:

Sahabat Ibnu Abbas RA pernah bertanya kepada Nabi SAW, “Wahai Rasulullah, siapa teman duduk terbaik?”

من ذكركم بالله رؤيته ، وزاد في علمكم منطقه ، وذكركم بالآخرة عمله »

Yaitu teman duduk yang melihatnya dapat mengingatkan kalian kepada Allah, ucapannya dapat menambah ilmu kalian, dan ilmunya dapat mengingatkan kalian kepada akhirat. (HR Abu Ya`la)

Al Habib Ahmad bin Umar bin Sumaith nafa`anallahu bih, mengatakan:

“Kebaikan dan keburukan tertanam benihnya dalam diri manusia. Ia tidak akan Nampak kecuali ketika bergaul dengan orang lain. Jika ia bergaul dengan orang-orang yang baik maka akan Nampak padanya perbuatan baik. Dan jika ia bergaul dengan orang-orang suka berbuat buruk, maka akan Nampak perbuatan buruk darinya.”

Al Habib Abdullah bin Alawi al Haddad RA juga mengatakan:

“Ketahuilah bahwa bergaul dengan orang baik dan duduk bersama mereka menanamkan kecintaan kepada kebaikan di hati dan memiliki andil dalam membantu untuk melakukan kebaikan. Sebagaimana bergaul dengan orang yang buruk perilakunya dan duduk bersama mereka menanamkan kecintaan kepada keburukan dalam hati dan keinginan berbuat buruk.”

“Siapa yang bergaul dengan suatu kaum dan berinteraksi dengan mereka maka otomatis ia akan mencintai mereka. Baik orang itu adalah orang baik atau pun orang yang buruk perilakunya. Dan seorang akan dikumpulkan bersama orang yang ia cintai di dunia dan di akhirat.”

Sayidina Imam Muhammad bin Zain bin Sumaith RA mengatakan:

“Jangan engkau duduk kecuali dengan orang yang melihatnya dapat mengingatkanmu kepada Allah, keadaaan dan semangatnya dapat membuatmu bangkit untuk beribadah kepada Allah. Engkau harus terus bersama dia jika engkau mendapatkannya, gigitlah ia dengan gerahammu (maksudnya jangan sampai terlepas dari duduk bersamanya) jika engkau menemuinya. Tidak ada yang lebih bermanfaat bagi hati, dan lebih baik baginya dari duduk bersama orang-orang shaleh dan orang-orang pilihan. Da tidak ada yang lebih berbahaya bagi hati dari duduk bersama orang yang bukan golonganmu daripada orang-orang lalau dan yang buruk prilakunya.

Dalam hadits dikatakan:

المرء على دين خليله

Manusia itu mengikuti agama temannya. (HR Ahmad)

Dikataka bahwa siapa orang yang berteman dengan orang-orang baik maka Allah akan menjadikannya orang baik meskipun dulunya adalah termasuk orang yang buruk perilakunya. Dan siapa yang berteman dengan orang-orang yang buruk perilakunya maka Allah akan menjadikanya orang yang buruk perilakunya walau pun dulunya ia adalah orang baik.

Jika engkau tidak mendapati orang-orang baik dan melihat mereka sebagaimana umumnya di zaman ini, maka tidak ada yang lebih baik dari mepelajari jalan hidup mereka, sejarah mereka, manaqib mereka, dan ucapan-ucapan serta peninggalan mereka.” (Majma Bahrain)

Al Imam al Arif Billah Ahmad bin Zain al Habsyi mengatakan:

“Kefahaman adalah cahaya yang menyinari hati. Ia tidak diberikan kecuali kepada orang yang duduk bersama orang-orang shaleh atau mempelajari kitab-kitab mereka.”

Beliau juga berkata:

“Duduk bersama orang-orang shaleh lebih bermanfaat bagi seorang hamba daripada seratus kali(atau beliau menyebut seribu) uzlah (menyepi untuk ibadah).”

“Terkadang duduk bersama satu orang lebih bermanfaat bagi seseorang daripada duduk bersama tujuh puluh ribu orang.”

Al Imam Ahmad bin Hasan al Athas juga mengatakan:

“Seandainya tidak ada keutamaan dalam duduk bersama orang shaleh kecuali satu saja maka itu sudah cukup. Yaitu menarik semangat mereka dan hati mereka serta niat-niat mereka untukmu. Dan itu semua mengangkatmu ke derajat-derajat mereka. Jika tidak demikian, maka jika hatimu tidak kotor dengan pikiran-pikira buruk, maka cukup bagimu bahwa engkau akan terjaga dari perbuatan maksiat selama engkau berada di sisi mereka.”

Imam Syafii RA menuturkan:

“Ada empat hal yang dapat menambah akal:

  1. Meninggalkan ucapan yang tidak berguna
  2. Bersiwak
  3. Duduk bersama orang shaleh
  4. Duduk bersama ulama”

Sebagian orang shaleh berpesan, :

“Siapa yang shalat di belakang seseorang yang diampuni dosanya, maka ia pun akan diampuni dosanya. Siapa yang saling bermuamalah bersama seorang yang diampuni dosanya, ia pun akan diampuni dosanya. Siapa yang duduk bersama orang shaleh maka akan bertambah kesukaannya kepada ketaatan. Siapa yang duduk bersam ulama maka akan bertambah ilmu dan amalnya.”

Sayidina Ibrahim al Khowwas RA, sebagaimana dinukilkan oleh Imam Nawawi dalam al Adzkar, menyebutkan:

“Ada lima obat bagi hati:

  1. Membaca al Quran disertai merenungi maknanya
  2. Mengosongkan perut (berpuasa)
  3. Bangun Malam untuk beribadah
  4. Berdoa sungguh-sungguh ketika waktu sahur
  5. Duduk bersama orang-orang shaleh.”

Dihikayatkan dari Syaikh Kabir Abu Sulaiman ad Daroni RA bahwa ia berkata:

“Dahulu aku selalu hadir majlis tukang cerita (kisah-kisah shalihin). Ucapannya membekas di hatiku, tapi ketika aku keluar dari majlis, tidak ada apa pun yang tersisa di hatiku dari pengaruhnya itu. Kemudian aku kembali menghadiri majlisya, aku mendengar ucapannya, dan pengaruh ucapannya membekas sampai aku berada dijalan lalu menghilang. Kemudian aku menghadirinya lagi, pengaruh ucapannya membekas di hari sampai aku sampai ke rumahku, maka aku pun memecahkana alat-alay tang melalaikan dan aku menetapi jalan (ibadah).” Kisah ini disebutkan oleh Sayidina Imam Ali bin Hasan Alathas dalam Qirthas.

Sayiduna Imam Syaikh Ali bin Abi Bakar As Sakran Baalawi RA mengatakan dalam kitabnya “Ma`arijil Hidayah.” :

“Diriwayatkan bahwa SYaikul Kabir Muhammad bin Husain al Bajali RA berkata, “Aku melihat Rasulullah SAW dalam mimpiku dan aku bertanya, “Wahai Rasulullah, Amal apakah yang paling utama?”

Beliau SAW menjawab:

“Diamnya engkau di hadapan seorang wali Allah, walaupun hanya selama seorang memerah susu kambingnya atau selama memasak telur, itu lebih utama daripada engkau beribadah kepada Allah sampai tubuhmu berguguran dalam ibadah satu demi satu.”

“Wahai Rasulullah, Apakah yang dimaksud wali yang masih hidup ataukah yang sudah wafat?”

Rasulullah SAW menjawab, “Sama saja baik yang masih hidup ataupun yang sudah wafat.”

Sebagian ulama mengatakan, ini karena orang yang duduk di hadapan wali maka ia berada dalam kuasa wali tersebut. Maka wali itu menjadi perantaranya untuk menyampaikannya kepada Allah SWT. Maka duduknya ia yang sebentar itu dapat membuat ia mendapatan apa yang tidak ia dapatkan selama beribadah walaupun sangat lama. Dan yang terhasilkany itu tergantung kepada kesiapan wali, karena anugrah-anugrah itu sesuai dengan kesiapannya.

Al Habib Abdullah bin Muhsin Alathas mengatakan, :Keutamaan ini tidak terhasilkan kecuali jika ia diam di hadapan wali dan ia mengetahui bahwa yang dihadapannya adalah waliyulloh. Bisa jadi karena Allah SWt memberikanya pengetahuhan mengenainya. Perhatikan bagaimana Sayidina Abu Bakar duduk bersama Nabi SAW dengan meyakini dan mengetahui bahwa Beliau SAW adalah Nabi, maka beliau mendapatkan kedudukan tinggi sehingga menjadi manusia yang paling utama. Sedangan Abu Lahab ia duduk dengan Nabi SAW tapi ia tidak meyakini dan tidak tahu bahwa Beliau SAW adalah Nabi maka ia tidak mendapatkan apa-apa dengan duduknya itu.

Tags:

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.