Headline »

October 19, 2017 – 6:10 am | Edit Post

Share this on WhatsApp
 
Anak kecil terkadang dianggap remeh, dan tidak berguna. Namun ternyata anak kecil bisa mengajarkan kepada kita ilmu tentang kewalian.
 
قال الامام السيوطي: خمس خصال في الاطفال لو كانت في الكبار مع ربهم لكانوا …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Headline, Kalam Salaf

APAKAH UBUDIYAH ITU?

Submitted by on April 24, 2017 – 6:44 am

bd790473d7a338bc0e889d4c49458459
Ubudiyah adalah penghambaan kita kepada Allah SWT. Al Habib Zain bin Smit,  Madinah, dalam kitabnya al Manhaj as Sawi menjelaskan makna Ubudiyah dan cara menggapainya. Berikut intisarinya:
Imam Ghazali Ra pernah ditanya mengenai Ubudiyah (penghambaan) apakah itu? Beliau menjawab:
“Ia adalah kumpulan dari tiga hal: Yang pertama, Menunaikan perintah syariat. Yang kedua, rela dengan ketentuan dan takdir serta pembagian rizki dari Allah SWT. Ketiga, meninggalkan kehendak nafsunya untuk mencari keridhoan Allah SWT.”
Pangkat ubudiyah (penghambaan) adalah pangkat terttinggi bagi manusia. Itulah hikmah penciptaan manusia, Tidaklah manusia diciptakan kecuali untuk menjadi hamba Allah. Al Ustadz Abu Ali ad Daqqoq RA mengatakan:
“Tidak ada sifat yang lebih mulia dan sempurna bagi seorang beriman daripada sifat Ubudiyah. Oleh sebab itu, Allah SWT menyandangkan sifat ini kepada Nabi SAW di tempat-tempat yang paling mulia. Seperti Firman Allah SWT:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha. (QS al-Isra: 1)
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا
Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al-Quran) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya. (Al Kahfi: 1)
تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا
Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam. (al Furqon: 1)
فَأَوْحَى إِلَى عَبْدِهِ مَا أَوْحَى
Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. (QS an Najm: 10)”
Di antara kalam Sayidina Imam Quthb Abdullah bin Alwi al Haddad beliau mengatakan:
“Dengan Hikmah-Nya yang azali, Allah menjadikan kebahagiaan abadi hanya dapat dicapai dengan sungguh-sungguh dalam mewujudkan sifat ubudiyah. Yaitu dengan cara engkau memposisikan dirimu di hadapan Tuhan, seperti posisi budakmu di hadapanmu. Aku katakan kepadamu dengan sungguh-sungguh bahwa tidak ada seorang pun yang mampu mendekatkan diri kepada Allah dengan sesuatu yang lebih baik dari pada kesungguhan dalam menghayati sifat-sifat ubudiyah seperti merasa fakir di hadapan Allah, merasa hina, menampakkan kemiskinan diri di hadapan Allah, tawadhu, merendahkan diri dan sifat-sifat penghambaan lainnya.”
Syaikh Ahmad ar-Rifai RA juga mengatakan,
“Aku telah menempuh semua jalan yang dapat menyampaikan kepada Allah dan aku tidak menemukan jalan yang lebih dapat mendekatkan, lebih mudah dan lebih baik daripada merasakan kefakiran diri dan menghinakan diri dan sedih hati(dalam urusan agama).”
Dalam Hikam Athoiyah dikatakan:
لَا يُخْرِجُكَ مِنَ الْوَصْفِ إِلَّا شُهُودُ الْوَصْفِ
Tidak ada yang mengeluarkanmu dari sifat kecuali karena menyaksikan sifat.
Sifat yang pertama adalah sifat seorang hamba, sifat kedua adalah sifat pencipta. Jika seorang hamba sungguh-sungguh menghayati sifatnya sebagai seorang hamba daripada kelemahan, kehinaan, kefakiran, maka Allah akan menganugrahkannya dengan sifat-Nya dari pada kekuatan, kemuliaan dan kekayaan.”
Imam Quthb Ali bin Muhammad al Habsyi RA mengatakan: “Aku melihat Habib Sholeh bin Abdullah Alathas. Maka aku tanyakan kepada beliau,
“Apakah dasar dari thoriqoh kaum?”
Beliau menjawab, “Dua hal. Yang pertama zahir dan yang kedua batin. Yang zahir adalah merasa cukup dari manusia. Yang batin adalah ubudiyah yang murni.”
Aku kembali bertanya, “Bagaimana jika aku tidak mampu melakukan keduanya.”
Beliau menjawab, “Mintalah keduanya kepada Allah.”
Wallahu a`lam.
نفعنا الله بعلومهم وأسرارهم ونفحاتهم في الدين والدنيا والآخرة

Tags:

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.