Headline »

December 13, 2017 – 2:00 am | Edit Post

Share this on WhatsApp
Di antara umat beliau SAW, ada yang susah-payah mendatangi telaga dalam keadaan kehausan, namun ketika mendekat, ia dihalau dari telaga dan tidak diizinkan untuk meminum setetes pun darinya. Merekalah orang-orang yang merugi.
Imam …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Headline, Kalam Salaf

JANGAN AJARKAN UMAT MENYEPELEKAN AGAMA

Submitted by on April 23, 2017 – 2:01 pm

maulid

Al Habib Abdullah bin Alwi al Haddad dalam Kitabnya, ad Dakwah at Tammah, menganjurkan ulama untuk menjauhkan umat dari fatwa atau pendapat yang akan membuat mereka menyepelekan agama. Berikut intisarinya:

Ulama yang bertakwa jika berbicara kepada umat di hadapan umum atau jika dimintai fatwa oleh orang awam dalam suatu perkara, mereka tidak akan menyebutkan pendapat-pendapat yang ringan saja, tidak pula menyebutkan perbedaan pendapat ulama yang dapat memberikan persangkaan kepada mereka adanya keringanan dalam masalah itu. Mereka akan menyebutkan pendapat yang paling hati-hati dalam agama, dan menjauhkan mereka dari urusan syubhat. Mereka mengatakan, “Kami mempersempit mereka (dengan menyebutkan pendapat yang paling hati-hati), dan mereka yang akan melapangkannya bagi diri mereka sendiri.”

Ini karena keadaan umum umat adalah lalai dan mengikuti syahwat serta mementingkan dunia.  Jika engkau menyebutkan pendapat yang paling ringan dan menyebutkan keringanan-keringanan bagi mereka, maka mereka akan melakukan itu dengan ceroboh dan tidak sempurna sehingga terjerumus pada yang haram. Dalam hadits dikatakan:

وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيهِ

Siapa yang jatuh kepada yang syubhat maka ia akan jatuh pada yang haram. Seperti penggembala yang menggembala di dekat tanah larangam, suatu saat gembalaannya akan melewatinya. (HR Bukhari Muslim)

Dikisahkan bahwa salah satu Raja Maroko bersetubuh di siang Ramadhan. Ia mengumpulkan para ulama untuk menanyakan hukumnya. Setelah semua ulama berkumpul, raja mengutarkan maksudnya kepada mereka. Salah seorang ulama yang paling bertakwa dan paling berilmu berkata kepadanya, “Engkau wajib berpuasa selama dua bulan berturut-turut.”

Setelah semua ulama keluar, salah seorang dari mereka mengkritik Si Ulama tadi, “Bagaimana engkau dapat berfatwa ia wajib puasa dua bulan, padahal dalam Madhzab Maliki yang kita ikuti, seharusnya dia boleh memilih antara memerdekakan budak, berpuasa dua bulan atau bersedekah?”

Beliau pun menjawab, “Dia seorang raja, mudah saja baginya untuk memerdekakan budak dan bersedekah. Jika aku katakan ia boleh memilih di antara ketiganya, mudah baginya untuk mengulangi perbuatannya setiap hari di Bulan Ramadhan. Puasa lebih terasa berat baginya, sehingga lebih dapat mencegahnya untuk mengulangi perbuatannya.”

Imam Ahmad bin Musa bin Ujail RA tidak pernah membacakan kitab Ila (sumpah tidak meyetubuhi istri lebih dari empat bulan), Dzihar (cerai dengan cara menyamakan istri dengan ibu), dan lian (saling laknat antara istri dan suami karena salah satunya dituduh zina) di hadapan umum. Beliau khawatir jika didengar oleh orang umum, mereka akan segera terjerumus ke dalamnya sehingga mereka pun jatuh dalam dosa.

Begitulah cara ulama yang bertakwa berdakwah. Mereka sangat berkasih-sayang kepada umat sehingga memberikan arahan terbaik yang tidak akan menjerumuskan umat untuk menyepelekan urusan agama. Mereka bagaikan orang tua yang akan memilihkan yang terbaik dan jauh dari resiko bagi anaknya, bukan yang termudah dan penuh resiko. Ibnu Abbas RA pernah mengatakan kepada seorang yang malu bertanya kepadanya:

: إنما العالم بمنزلة الوالد، فما تفضي به إلى والدك فافض به إلي.

Seorang alim itu tidak lain bagaikan seorang ayah. Apa saja yang engkau sampaikan pada ayahmu, sampaikanlah padaku.

Sebelumnya, Nabi SAW juga mengatakan hal serupa. Beliau bersabda:

إِنَّمَا أَنَا لَكُمْ بِمَنْزِلَةِ الْوَالِدِ

Aku tidak lain bagaikan ayah bagi kalian. (HR Abu Dawud)

Apabila ada seorang bertanya kepada Nabi SAW, beliau akan memberikan mereka jawaban yang dapat membuat mereka lebih dekat kepada ketakwaan, selamatan dari adzab, mengagungkan urusan agama, dan kehati-hatian dalam beragama.

Lihat bagaimana petunjuk beliau ketika ada seorang Anshor berkehendak memberikan kepada salah satu anaknya seorang budak. Ketika nabi saw bertanya apakah ia memberikan hal serupa kepada anak-anaknya yang lain? Ia menjawab tidak, maka Nabi SAW pun melarangnya untuk melakukannya. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa lelaki itu berkehendak agar Nabi SAW menjadi saksi atas pemberiannya itu, maka Nabi dengan tegas mengatakan:

فإني لا أشهد على الجور

Sungguh aku tidak akan menjadi saksi atas ketidak-adilan. (HR Abdur Rozaq)

Beliau juga pernah didatangkan buah kurma dari Khaibar dan ternyata semuanya adalah buah yang bagus kualitasnya. Nabi pun bertanya, “Apakah memang kurma Khaibar seperti itu semua?”

Mereka menjawab, :”Tidak, tapi kami menukar dua sho buah kurma yang jelek darinya dengan satu sho buah kurma yang bagus.”

Pertukaran buah kurma dengan buah kurma adalah riba yang dilarang, oleh sebab itu Nabi Saw melarangnya dan memberikan solusi cara muamalah yang halal. Beliau bersabda:

هذا من الربا، ولكن بيعوا الصاعين من الردئ بدرهم، واشتروا بالدرهم صاعا من الجيد)

Ini termasuk riba.  Solusinya juallah dua sho buah yang jelek dengan satu dirham, lalu belilah dengan satu dirham itu satu sho buah yang bagus.

Demikianlah, Nabi SAW menjelaskan kepada mereka apa yang benar dan apa yang keliru. Lalu melarang yang keliru dan tidak halal.

Nabi SAW juga mengajarkan kehati-hatian dalam beragama. Pernah Sahabat Utbah bertanya kepada Nabi SAW mengenai wanita yang ia nikahi. Sesaat setelah menikah, datang seorang wanita hitam yang mengabarkan bahwa ia telah menyusui Utbah dan isri yang dinikahinya dan dimaklumi bahwa saudara sesusuan adalah haram untuk saling menikahi. Sahabat Utbah berkata, “Wahai Rasulullah ia adalah orang hitam (tidak mungkin menjadi ibu susuan)?” Maka Nabi saw bersabda:

 (دعها, فلا خير لك فيها)

Tinggalkan ia)wanita mana yang engkau nikahi( Tidak ada kebaikan bagimu di dalamnya.

Begitulah para ulama yang peduli pada Allah, Rasul-Nya dan umat Islam. Mereka senantiasa memberikan petunjuk kepada jalan keselamatan dan menjauhkan umat dari perkara syubhat yang menyebabkan mereka menyepelekan agama.

Melakukan yang ringan-ringan saja dalam agama tidak dilakukan kecuali oleh orang yang menyepelekan agama dan membuat dirinya berada dalam posisi penuh resiko untuk terjerumus pada keharaman yang dibenci Allah. Wallahu a`lam. (dzorif)

 

 

Tags:

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.