Headline »

December 11, 2017 – 3:06 am | Edit Post

Share this on WhatsApp
Pada masa ini banyak wanita keluar untuk menghadiri pengajian, majelis dzikir, shalat berjamaah, ziarah atau Shalat Ied. Bisa dikatakan wanita lebih rajin mengikuti majelis taklim dari pada pria. Fenomena ini memang menggembirakan …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Headline, Kalam Salaf

MACAM-MACAM ULAMA

Submitted by on April 18, 2017 – 6:12 am

islam_d0

MACAM-MACAM ORANG ALIM

Al Imam Habib Abdullah bin Alwi al Haddad menjelaskan mengenai macam-macam orang alim dalam kitabnya ad Dakwah at Tammah. Berikut intisarinya:

Orang Alim ada beberapa macam, yaitu:

  1. Orang Alim yang mengamalkan ilmunya dan mengajarkan serta mendakwahkan ilmunya kepada hamba-hamba Allah dengan mengharapkan keridhoan Allah dan balasan pahala di akhirat kelak.

Ini adalah orang alim yang paling utama dan terpuji. Ia memiliki derajat yang tinggi di sisi Allah. Di akhirat ia akan beruntung dengan kedudukannya yang mulia karena ilmunya.

  1. Orang alim yang mengamalkan ilmunya dengan ikhlas akan tetapi tidak mengajarkan dan mendakwahkan ilmu yang dimiliki.

Jika alasannya karena ia ingin menjadi satu-satunya orang alim, menyembunyikan ilmunya dari orang yang berhak maka ia berdosa dan tercela di sisi Allah dan Rasul-Nya.

Jika alasannya adalah karena ia sibuk memperbaiki diri, tenggelam dalam ibadah dan juga manusia tidak memerlukan ilmunya sebab telah ada ulama lain yang mengajarkan dan mendakwahkan ilmunya maka ia tidak berdosa. Sekelompok ulama salaf dan khalaf yang diberkahi telah melakukannya, terutama dalam ilmu fiqih, fatwa dan ilmu zahir lainnya.

  1. Orang Alim yang tidak mengamalkan ilmunya, tapi mendakwahkan ilmu kepada manusia.

Ada kalanya karena ia merasa malas atau menunda-nunda untuk beramal atau karena merasa berat untuk mengamalkan dan alasan lain yang dibuat nafsunya. Ia merasa mudah mengajarkan ilmu sebab dengannya ia dapat meraih kemasyhuran dan kedudukan di sisi manusia.

Orang alim yang demikian ini bagaikan jarum yang dapat memberi pakaian bagi orang lain namun dirinya sendiri telanjang. Atau bagaikan lilin yang menerangi sekitar namun membakar dirinya sendiri. Atau bagaikan batu asahan yang dapat menajamkan orang lain namun dirinya sendiri selalu tumpul. Mereka termasuk ke dalam golongan yang dikatakan dalam al-Quran:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (QS as Shaff: 2-3)

Dalam hadits, Nabi SAW bersabda:

: (يؤمر بالعالم إلى النار فتندلق أقتاب بطنه فيدور بها في النار كما يدور الحمار بالرحا، فيطيف به أهل النار فيقولون ما بالك؟ فيقول كنت آمر بالخير ولا آتيه، وأنهى عن الشر وآتيه)

Ada seorang alim yang dimasukan ke dalam neraka, kemudian ususnya tercerai berai. Ia berkeliling dengan usunya itu sebagaimana keledai mengelilingi penggilingan. Para penghuni neraka mengelilinginya dan mengatakan, “Kenapa engau?” Ia berkata, “Aku memerintahkan kebaikan namun aku tidak mengerjakannya. Dan aku melarang dari keburuan namun aku melakukannya.

Dalam hadits lain, Nabi SAW bersabda:

: (تعلموا ما شئتم، فو الله لا يقبل ذلك منكم حتى تعملوا به).

Pelajarilah apa yang engkau inginkan, tapi demi Allah, Allah tidak akan menerimanya dari kalian sampai kalian mengamalkannya.

  1. Orang alim yang tidak mengamalkan ilmunya dan tidak mengajarkannya kepada manusia.

Alasannya bisa jadi karena malas dan merasa berat atau sibuk dengan urusan dunianya. Ia bagaikan batu besar yang menghambat sungai, tidak dapat menyerap air dan tidak pula membiarkan airnya mengalir agar manusia dapat memanfaatkannya.

Semua ancaman yang datang mengenai orang yang tidak mengamalkan ilmu, ditujukan juga kepadanya. Ditambah dengan ancaman bagi orang yang menyembunyikan ilmu, seperti ayat:

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melaknati. (QS al Baqarah: 159)

 

  1. Orang alim yang paling buruk, yaitu yang tidak mengamalkan ilmunya, tidak mengajarkan ilmunya, tapi ia mengajak kepada kesesatan dan keburukan.

Ia hiasi kesesatan dan keburukan dengan dalil-dalil syariat agar Nampak sebagai kebaikan dan. Kebenaran kemudian mengajak manusia kepada kesesatannya.

Alasannya karena ingin menjilat atau mencari muka kepada orang zalim dan penguasa, agar ia mendapatkan jabatan atau kedudukan di sisi mereka. Atau agar ia mendapatkan harta yang ada dalam kekuasaan mereka. Bisa jadi pula alasannya adalah karena ia membangkang kepada Allah dan Rasul-Nya dan mengaharapkann perpecahan dan kerusakan bagi manusia..

Mereka adalah khalifah setan dalam menyesatkan manusia, pengganti dajjal pendusta dan terlaknat. Mereka adalah ulama yang paling buruk keadaannya, dan paling merugi kelak di akhirat.

Mereka bukan hanya menanggung dosanya, tapi juga dosa-dosa para pengikut kesesatannya. Nabi SAW bersabda:

 (من دعا إلى ضلالة كان عليه من الإثم مثل آثام من اتبعه من غير أن ينقص من آثامهم شيء).

Siapa yang mengajak kepada kesesatan maka ia akan menanggung dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.

Terkadang orang alim ini mati, namun dosa-dosanya masih mengalir dan ditimpakan kepadanya. Sebab kesesatannya masih tersebar  dan dilakukan oleh pengikutnya yang hidup maka ia akan diadzab karenanya di kuburnya. Dosa-dosanya akan mengalr padanya setelah matinya terus ada sampai berkurun waktu yang lama selama masih ada orang yang melakukan kesesatannya.

Orang alim ini, jika suatu hari terdadar dan menginginkan bertaubat kepada Tuhannya dari kesesatannya. Kadang sangat sulit untuk diampuni. Telah diriwayatkan bahwa sebagian ulama Bani Israil yang mendakwahkan kesesatan menyesal dari perbuatannya dan ingin bertaubat dari kesesatannya. Ia datang kepada nabi di zaman itu dan mengabarkannya agar ia memintakan syafaat baginya di hadapan Allah. Maka Allah mewahyukan kepada nabi ini:

 لو كانت ذنوبه فيما بيني وبينه لغفرتها له، فكيف بعبادي الذين قد أضلهم وأدخلهم النار؟

Jika dosanya adalah apa yang ada di antara Aku dan dia maka aku akan mengampuninya. Tetapi bagaimana dengan hamba-hamba-Ku yang telah ia sesatkan dan telah ia masukkan ke dalam neraka?

Disebutkan bahwa belatung mengeluh kepada Allah dari busuknya bangkai orang-orang kafir maka dikatakan kepadanya:

 إن بطون علماء السوء أشدُّ مما أنتم فيه.

Sesungguhnya perut ulama su lebih busuk darinya

Mereka memiliki kedudukan yang sangat buruk sebab mereka memilik keadaan yang terbalik. Mereka mampu untuk menjadi pendakwah dan memberi hidayah kepada jalan Allah, namun justru mereka menjadi sesat dan menyesatkan manusia dan mengajak mereka kepada jalan setan.

Dengarkan apa yang dikatakan Allah SWT mengenai Balam bin Bauro:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آَتَيْنَاهُ آَيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ (175) وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. (QS Al Araf: 175-176)

Demikianlah keadaan ulama yang mencari dunia dengan ilmunya, mengikuti hawa nafwunya, dan menyesatkan manusia dengan menghiasi kesesatan seakan adalah kebenaran.

Orang yang ilmunya menjadi bencana baginya dan umat Islam dan menjadi fitnah dan kesesatan bukanlah orang alim melainkan setan yang durhaka. Orang fajir yang menentang Allah dan rasul-Nya.

Naudzu Billahi min Dzalik

 

Tags:

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.