Headline »

October 21, 2017 – 1:12 am | Edit Post

Share this on WhatsApp
Pertanyaan:
Ustadz, Bagaimana Hukumnya orang yang jualan jangkrik ?
Ainul Yaqin
Jawaban:
Hukum Jual beli hewan diperinci sebagai berikut:

Apabila hewan itu bermanfaat (secara syariat), seperti unta, sapi, kambing, kuda dan lain-lain, maka sah jual belinya, karena …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Headline, Kalam Salaf, Majelis Ifta'

MEMBEDAH MAKNA WALI

Submitted by on March 21, 2017 – 1:57 am

wali

Oleh: Ustadz Kamil Baraqbah Palembang

Alumni Ma`had Sunniyah Salafiyah Pasuruan

 

Wali dalam bahasa Arab berarti yang menolong, yang mencintai, yang dilindungi. Allah SWT berfirman:

 

وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ

 

“Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah  itulah yang pasti menang.” (QS. Al-Maidah: 56)

 

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ

 

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain.” (QS. At-Tawbah:71)

 

وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ

 

“Dia melindungi orang-orang yang saleh.”( QS. Al-A’raf:196)

 

Wali dalam istilah sufi adalah, orang suci yang mempunyai akidah yang benar dan selalu menjalankan amal yang saleh serta selalu mengikuti sunnah Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman:

 

(أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ)

 

“Ingatlah! Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” QS. Yunus:62.

 

Imam al-Qusyayri berkata: “Wali mempunyai dua pengertian.

 

Pertama bermakna maf’ul (sebagai obyek), yaitu orang yang segala urusannya diserahkan kepada Allah SWT. Allah berfirman:

إوَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ

 

“Dia melindungi orang-orang yang shaleh.” QS. Al-A’raf:196.

 

Maka seorang wali tidak pernah menyerahkan urusannya kepada dirinya sedikitpun, melainkan menyerahkan semuanya kepada Allah SWT.

 

Yang kedua, bermakna fa’il (subyek) dengan bentuk mubalaghoh (terus menerus), yaitu yang selalu beribadah dan ta’at kepada Allah SWT, maka ibadahnya selalu berjalan diatas penyerahan diri kepada Allah SWT, tanpa dinodai oleh kemaksiyatan.

 

Dua makna diatas adalah sifat yang menjadi keharusan bagi seorang wali, sehingga seseorang yang dikatakan wali harus menegakkan hak-hak Allah SWT secara maksimal dan sempurna serta selalu dalam perlindungan Allah SWT dalam keadaan samar maupun terang. Dan diantara syarat seorang disebut wali, harus dilindungi sebagaimana syarat Nabi harus ma’shum (terjaga dari segala dosa), maka barang siapa yang melenceng dari syara’ maka ia tergolong orang yang tertipu”.

 

Dengan demikian, tidaklah mudah menyebut seseorang sebagai wali/ kekasih Allah SWT sebelum terbukti ketakwaannya kepada Allah SWT dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW.

 

Wali bukanlah orang yang memilki kesaktian luar biasa yang dapat membuat orang takjub kepadanya, sedangkan dirinya jauh dari tuntunan dan ajaran agama. Wali bukanlah tokoh yang dikultuskan tetapi prilakunya, jauh  menyimpang dari ajaran agama. Wali bukan orang yang hanya berprilaku nyeleneh tetapi tidak mengikuti ajaran Rasulullah SAW. Wali juga bukan orang yang hanya mengandalkan keturunan ulama atau awliya, tetapi tingkah lakunya jauh dari ajaran Rasulullah SAW.

 

Tanda seseorang yang menjadi wali/kekasih Allah SWT adalah, prilakunya selalu berjalan di atas garis yang di ajarkan Rasulullah SAW.

 

Imam Junaid RA berkata: “Jika kalian melihat seseorang berjalan diatas air atau terbang, maka kalian jangan tertipu dengannya sampai kalian melihat prilakunya ketika menjalankan perintah dan larangan agama.

Syekh Muhammad al-Adawi berkata: “Pemahaman wali sebagai orang yang memiliki karomah (kelebihan luar biasa) adalah merupakan sesuatu yang berbeda. Apabila seseorang memiliki kelebihan diluar kebiasaan manusia biasa, maka kita tidak boleh memutuskan bahwa orang tersebut salah satu diantara wali-wali Allah SWT, akan tetapi kita harus melihat apakah prilakunya sesuai dengan al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW. Jika prilakunya sesuai dengan al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW, maka dia dapat disebut sebagai wali, jika tidak sesuai, maka bukan wali. Abu al-Qosim al-Junaydi berkata: “Ilmu kita (para wali) selalu terikat dengan al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW. Maka barang siapa yang tidak membaca al-Qur’an dan menulis hadits, ia tidak pantas untuk membicarakan ilmu kita ini, atau ia berkata: ” Orang itu tidak pantas untuk diikuti”.

Syekh KH. Hasyim Asy’ari berkata: “Barang siapa yang mengaku dirinya seorang wali tanpa disertai bukti mengikuti Rasulullah SAW, maka pengakuannya adalah dusta dan palsu”.

Tags:

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.