Headline »

December 11, 2017 – 3:06 am | Edit Post

Share this on WhatsApp
Pada masa ini banyak wanita keluar untuk menghadiri pengajian, majelis dzikir, shalat berjamaah, ziarah atau Shalat Ied. Bisa dikatakan wanita lebih rajin mengikuti majelis taklim dari pada pria. Fenomena ini memang menggembirakan …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Headline, Majelis Ifta'

PERBEDAAN MANI, MADZI, DAN WADI

Submitted by on March 7, 2017 – 1:30 am

tetes-air-kran

Pertanyaan:

Ustadz dan jamaah Forsan salaf sekalian, saya tanya…
1. Apa bedanya madi, wadi dan mani dalam hal cara dan tanda-tanda keluarnya, zatnya, hukumnya?
2. Pada suatu kasus, seorang pemuda dzakarnya berdiri entah karena melihat sesuatu yang membuat terangsang, tersenggol daerah responsifnya, karena tersentuh, bangun tidur atau lainnya, nah waktu itu dia mengeluarkan cairan bening, keluarnya pun tidak mengandung kenikmatan, semacam encing aja. Apakah ini mani, madi atau apa? Jika keluarnya cairan tadi jauh setelah dzakarnya berdiri alias ketika sudah lemas, cairan apakah ini?
3. Jika kasus pada no.2 itu terjadi pada wanita, apa berlaku hal yang sama? (mengingat saya tidak tahu apakah wanita itu bisa mengeluarkan mani atau tidak)
Maturnuwun atas jawabannya.

FORSAN SALAF menjawab :

Perbedaan antara mani, madzi dan wadi sebagai berikut :

  • MANI : cairan putih keluar dengan tersendat-sendat disertai syahwat serta menyebabkan loyo setelah keluarnya.

Hukumnya suci dan wajib mandi.

Ciri-ciri mani ada 3, yaitu :

– keluar disertai syahwat (kenikmatan).

– keluar dengan tersendat-sendat.

– jika basah baunya mirip adonan kue dan jika kering mirip putih telur.

Jika didapatkan salah satu dari tiga ciri di atas, maka disebut mani. Hal ini berlaku pada laki-laki dan perempuan.

  • MADZI : cairan putih lembut dan licin keluar pada permulaan bergejolaknya syahwat. Istilah madzi untuk laki-laki, namun jika keluar dari perempuan dinamakan QUDZA.

Hukumnya najis dan membatalkan wudhu tapi tidak wajib mandi.

  • WADI : cairan putih keruh dan kental, keluar setelah kencing atau ketika mengangkat beban berat.

Hukumnya seperti madzi yaitu najis dan membatalkan wudhu’ tapi tidak wajib mandi.

 

KESIMPULAN :

– Jika cairan keluar mengandung salah satu ciri-ciri mani, maka dihukumi mani. Namun jika tidak ada dan keluarnya pada saat mulai gejolaknya syahwat atau sesudah syahwat, maka dihukumi madzi.

– Jika ragu yang keluar mani atau madzi, maka boleh memilih antara menjadikannya mani sehingga wajib mandi, atau menjadikannya madzi sehingga hukumnya najis, tidak wajib mandi namun batal wudhu’nya. Paling afdholnya menggabung keduanya yaitu mandi janabah dan menyucikan tempat yang terkena cairan tersebut.

– Wanita juga mengeluarkan mani dengan ciri-ciri sebagaimana di atas. Namun menurut Imam Al-Ghozali, mani wanita hanya bercirikan keluar disertai syahwat (kenikmatan)

Referensi:

التقريرات االسديدة في المسائل المفيدة ص 115-116

الفرق بين المني والمذي والودي :

المني : ماء أبيض يتدفق حال خروجه ويخرج بشهوة ويعقب خروجه فتور.

المذي : ماء أبيض رقيق لزج يخرج عند ثوران الشهوة بلا شهوة كاملة

الودي : ماء أبيض ثخين كدر يخرج بعد البول أو عند حمل شيئ ثقيل

الحكم عند خروج أحدها :

المني يوجب الغسل  ولا ينقض الوضوء وهو طاهر

المذي والودي حكمهما كالبول فينقضان الوضوء وهما نجسان

علامة المني يجب الغسل إذا وجدت إحدى هذه العلامات ولا يشترط كلها والمرأة مثل الرجل في ذلك وهي ثلاثة :

  1. التلذذ بخروجه أي يخرج بشهوة
  2. التدفق أي يخرج على دفعات
  3. الرائحة إذا كان رطبا كرائحة العجين أو الطلع ، وإذا كان جافا كرائحة بياض البيض

فليس من علامات المني كونه أبيضا أو يعقب خروجه فتور ولكن هذا على سبيل الغالب

كما قال صاحب صفوة الزبد :

ويعرف المني باللذة حين # خروجه وريح طلع أو عجن

مسألة : إذا شك هل الخارج مني ام مذي فما الحكم؟ يتخير فإن شاء جعله منيا فيجب عليه الغسل وإن شاء جعله مذيا فينتقض وضوؤه ويجب غسل ما أصابه منه والأفضل أن يجمع بينهما  فيغتسل ويغسل ما اصابه منه

 

 

Tags: ,

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.