Headline »

December 11, 2017 – 3:06 am | Edit Post

Share this on WhatsApp
Pada masa ini banyak wanita keluar untuk menghadiri pengajian, majelis dzikir, shalat berjamaah, ziarah atau Shalat Ied. Bisa dikatakan wanita lebih rajin mengikuti majelis taklim dari pada pria. Fenomena ini memang menggembirakan …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Headline, Majelis Ifta'

KAWIN PAKSA

Submitted by on March 6, 2017 – 12:55 am One Comment

akadnikah

Pertanyaan:
Kenapa ya ustadz…kok dalam syarat menikah tidak tercantumkan “kemauan/persetujuan dari calon mempelai wanita?”,Apakah ini artinya Islam menghalalkan kawin paksa???

 

Jawaban:

Wanita dalam perkawinan terbagi menjadi dua: Perawan dan bukan perawan. Dalam kasus wanita yang bukan perawan, disyaratkan izin dari mempelai wanita yang sudah baligh dan berakal. Orang tua tidak memiliki hak memaksa wanita bukan perawan tanpa persetujuannya/

Adapun dalam pernikahan perempuan yang masih gadis/perawan, Islam memberikan hak kepada orang tua (ayah atau kakek saja) untuk menentukan pilihan pasangan hidup untuk putrinya dan diperbolehkan baginya untuk menikahkannya walaupun tanpa seizin putrinya dengan persyaratan : tidak ada permusuhan antara wali dan putrinya, menikahkan dengan laki-laki yang mampu membayar mahar dan menikahkan dengan pasangan yang sekufu’ yaitu sebanding dari segi agama, nasab, merdeka bukan budak, dan orang yang menjaga agamanya (iffah). Adapun jika tidak terpenuhi persyaratan di atas, maka wajib mendapatkan izin dari putrinya.

Oleh karena itu, kebolehan yang diberikan syariat kepada ayah atau kakek untuk menikahkan putrinya walau tanpa izin bukanlah disebut sebagai kawin paksa akan tetapi mendahulukan pilihan orang tua yang memang harus didahulukan. Bukankah orang tua yang telah mendidik, merawat, membiayai serta membesarkan kita hingga menjadi dewasa. Apakah ketika dewasa kita akan lebih memetingkan pilihan kita daripada pilihan orang tua ?. Dan lagi, ini hanya berlaku pada anak yang masih gadis yang notabene belum mengenal betul tentang seorang laki-laki karena belum pernah menikah, berbeda dengan seorang janda. Inilah yang mendasari syariat memperbolehkan bagi ayah atau kakek yang tidak diragukan lagi kasih sayangnya kepada putrinya untuk memilihkan pasangan yang tepat demi kebaikan anaknya.

Sekali lagi, ini bukanlah paksaan akan tetapi pilihan orang tua. Bukankah syariat masih memberlakukan persyaratan yang ketat dalam menentukan pilihannya, bukan dengan sembarang orang ?. Oleh karena itu, tidaklah pas jika dikatakan sebagai kawin paksa.

Namun bagi orang tua sekalipun dapat menikahkannya tanpa seizin putrinya, namun tetap disunnahkan untuk meminta izin dan tidak serta merta bertindak sesuka hatinya sendiri tanpa memerhatikan kepentingan putrinya.

Referensi

 

حاشية البجيرمي على الخطيب – (ج 10 / ص 208)

قَوْلُهُ : ( وَمَا عَدَا ذَلِكَ شُرُوطٌ لِجَوَازِ الْإِقْدَامِ ) حَاصِلُهُ أَنَّ الشُّرُوطَ سَبْعَةٌ : أَرْبَعَةٌ لِلصِّحَّةِ ، وَهِيَ أَنْ لَا يَكُونَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ وَلِيِّهَا عَدَاوَةٌ ظَاهِرَةٌ وَلَا بَيْنَهَا وَبَيْنَ الزَّوْجِ عَدَاوَةٌ مُطْلَقًا وَأَنْ تُزَوَّجَ مِنْ كُفْءٍ وَأَنْ يَكُونَ مُوسِرًا بِحَالِّ الصَّدَاقِ ، فَمَتَى فُقِدَ شَرْطٌ مِنْ هَذِهِ الْأَرْبَعَةِ كَانَ النِّكَاحُ بَاطِلًا إنْ لَمْ تَأْذَنْ . وَثَلَاثَةٌ لِجَوَازِ الْمُبَاشَرَةِ ، وَهِيَ : كَوْنُهُ بِمَهْرِ مِثْلِهَا وَمِنْ نَقْدِ الْبَلَدِ وَكَوْنُهُ حَالًّا وَنَظَمَ ذَلِكَ بَعْضُهُمْ بِقَوْلِهِ : الشَّرْطُ فِي جَوَازِ إقْدَامٍ وَرَدْ حُلُولُ مَهْرِ الْمِثْلِ مِنْ نَقْدِ الْبَلَدْ كَفَاءَةُ الزَّوْجِ يَسَارُهُ بِحَالِ صَدَاقِهَا وَلَا عَدَاوَةٌ بِحَالِ وَفَقْدُهَا مِنْ الْوَلِيِّ ظَاهِرَا شُرُوطُ صِحَّةٍ كَمَا تَقَرَّرَا

المنهاج للنووي – (ج 1 / ص 308)

وَخِصَالُ الْكَفَاءَةِ: سَلَامَةٌ مِنْ الْعُيُوبِ الْمُثْبِتَةِ لِلْخِيَارِ وَحُرِّيَّةٌ، فَالرَّقِيقُ لَيْسَ كُفْئًا لِحُرَّةٍ، وَالْعَتِيقُ لَيْسَ كُفْئًا لِحُرَّةٍ أَصْلِيَّةٍ، وَنَسَبٌ، فَالْعَجَمِيُّ لَيْسَ كُفْءَ عَرَبِيَّةٍ، وَلَا غَيْرُ قُرَشِيٍّ قُرَشِيَّةً، وَلَا غَيْرُ هَاشِمِيٍّ وَمُطَّلِبِيٍّ لَهُمَا، وَالْأَصَحُّ اعْتِبَارُ النَّسَبِ فِي الْعَجَمِ كَالْعَرَبِ، وَعِفَّةٌ فَلَيْسَ فَاسِقٌ كُفْءَ عَفِيفَةٍ، وَحِرْفَةٌ فَصَاحِبُ حِرْفَةٍ دَنِيئَةٍ، لَيْسَ كُفْءَ أَرْفَعَ مِنْهُ، فَكَنَّاسٌ وَحَجَّامٌ وَحَارِسٌ وَرَاعٍ وَقَيِّمُ الْحَمَّامِ لَيْسَ كُفْءَ بِنْتِ خَيَّاطٍ، وَلَا خَيَّاطٌ بِنْتَ تَاجِرٍ أَوْ بَزَّازٍ، وَلَا هُمَا بِنْتَ عَالِمٍ وَقَاضٍ، وَالْأَصَحُّ أَنَّ الْيَسَارَ لَا يُعْتَبَرُ، وَأَنَّ بَعْضَ الْخِصَالِ لَا يُقَابَلُ بِبَعْضٍ، وَلَيْسَ لَهُ تَزْوِيجُ ابْنِهِ الصَّغِيرِ أَمَةً، وَكَذَا مَعِيبَةٌ عَلَى الْمَذْهَبِ، وَيَجُوزُ مَنْ لَا تُكَافِئُهُ بِبَاقِي الْخِصَالِ فِي الْأَصَحِّ.

Tags:

One Comment »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.