Headline »

August 19, 2017 – 1:18 am | Edit Post

Share this on WhatsApp
Al-Habib Abdullah bin Alwi Alhaddad dalam kitab Ithafus Sail menuturkan pertanyaan seseorang mengenai orang yang membaca Surat Al-Waqiah dengan tujuan mendapatkan kecukupan, apakah itu salah?
Beliau RA menjawab:
Telah datang riwayat yang menyebutkan bahwa …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Headline

CARA MERIWAYATKAN HADITS DALAM PERSEKTIF IMAM NAWAWI

Submitted by on March 6, 2017 – 12:39 am

hadits

Oleh: Al Ustadz Khalid Madihij*

Disebutkan oleh Imam Nawawi dalam Al Majmu’ Syarh al Muhaddzab, I/63.:

Ulama _Muhaqqiqin_ dari golongan ahli hadist dan selainnya berkata:

_”Jika hadist statusnya dhoif, tidak dikatakan: “Rasulullah Saw berkata, melakukan, memerintahkan, melarang, atau menghukumi, dan shighat/kalimat yang tegas semisalnya.”_

Begitu juga tidak dikatakan:
_”Abu Hurairah Ra meriwayatkan, berkata, menyebutkan, mengabarkan,  menceritakan, telah menukil atau berfatwa dan semisalnya.”_

Begitu juga _atsar_ yang berasal dari _Tabi’in_ dan ulama generasi setelahnya.  Jika riwayat tersebut statusnya _dha’if_, maka tidak dikatakan dengan kalimat _jazm_/tegas; akan tetapi disebutkan dengan kalimat:
_”Telah diriwayatkan, dinukil, diceritakan, datang, sampai kepada kami, dikatakan atau disebutkan, dan kalimat-kalimat semisalnya yang merupakan shighat tamridh (kalimat yang menunjukkan ketidaktegasan), bukan dengan kalimat tegas.”_

Karena _shighat jazm_/kalimat tegas berkonsekuensi menunjukkan kesahihan _hadits/atsar_ dari sumbernya, sehingga semestinya bahasa tegas tidak diungkapkan kecuali untuk _hadits/atsar_ yang _shahih (dan hasan)_.

Bila tidak demikian, maka orang yang mengungkapkannya sama saja melakukan kebohongan atas nama sumbernya.

Etika seperti ini sering tidak diperhatikan oleh para penulis atau banyak Fuqaha’ dari _Ashab_/golongan kita (Syafi’iyyah) dan selainnya. Bahkan oleh para ahli ilmu secara mutlak, kecuali para ahli hadits yang cerdas.

Ini merupakan penyederhanaan (kalimat) yang buruk.

Sungguh mereka sering menyebutkan _hadist shahih_ dengan kalimat: _”Telah diriwayatkan dari …_,  dan menyebutkan _hadist dha’if_ dengan kalimat (tegas): _” Si Fulan telah meriwayatkan”_.

Cara-cara seperti ini menyimpang dari metode yang benar.

Referensi:
*المجموع شرح المهذب، ١/ ٦٣:*
فَصْلٌ قَالَ الْعُلَمَاءُ الْمُحَقِّقُونَ مِنْ أَهْلِالْحَدِيثِ وَغَيْرِهِمْ إذَا كَانَ الْحَدِيثُ ضَعِيفًا لَا يُقَالُ فِيهِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ فَعَلَ أَوْ أَمَرَ أَوْ نَهَى أَوْ حَكَمَ وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ مِنْ صِيَغِ الْجَزْمِ: وَكَذَا لَا يُقَالُ فِيهِ رَوَى أَبُو هُرَيْرَةَ أَوْ قَالَ أَوْ ذَكَرَ أَوْ أَخْبَرَ أَوْ حَدَّثَ أَوْ نَقَلَ أَوْ أَفْتَى وَمَا أَشْبَهَهُ: وَكَذَا لَا يُقَالُ ذَلِكَ فِي التَّابِعِينَ وَمَنْ بَعْدَهُمْ فِيمَا كَانَ ضَعِيفًا فَلَا يُقَالُ في شئ مِنْ ذَلِكَ بِصِيغَةِ الْجَزْمِ: وَإِنَّمَا يُقَالُ فِي هَذَا كُلِّهِ رُوِيَ عَنْهُ أَوْ نُقِلَ عَنْهُ أَوْ حُكِيَ عَنْهُ أَوْ جَاءَ عَنْهُ أَوْ بَلَغَنَا عَنْهُ أَوْ يُقَالُ أَوْ يُذْكَرُ أَوْ يُحْكَى أَوْ يُرْوَى أَوْ يُرْفَعُ أَوْ يُعْزَى وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ مِنْ صِيَغِ التَّمْرِيضِ وَلَيْسَتْ مِنْ صِيَغِ الْجَزْمِ: قَالُوا فَصِيَغُ الْجَزْمِ مَوْضُوعَةٌ لِلصَّحِيحِ أَوْ الْحَسَنِ وَصِيَغُ التَّمْرِيضِ لِمَا سِوَاهُمَا.
وَذَلِكَ أَنَّ صِيغَةَ الْجَزْمِ تَقْتَضِي صِحَّتَهُ عَنْ الْمُضَافِ إلَيْهِ فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُطْلَقَ إلَّا فِيمَا صَحَّ وَإِلَّا فَيَكُونُ الْإِنْسَانُ فِي مَعْنَى الْكَاذِبِ عَلَيْهِ وَهَذَا الْأَدَبُ أَخَلَّ بِهِ الْمُصَنِّفُ وَجَمَاهِيرُ الْفُقَهَاءِ مِنْ أَصْحَابِنَا وَغَيْرِهِمْ

بَلْ جَمَاهِيرُ أَصْحَابِ الْعُلُومِ مُطْلَقًا مَا عَدَا حُذَّاقَ الْمُحَدِّثِينَ وَذَلِكَ تَسَاهُلٌ قَبِيحٌ فَإِنَّهُمْ يَقُولُونَ كَثِيرًا فِي الصَّحِيحِ رُوِيَ عَنْهُ وَفِي الضَّعِيفِ قَالَ وَرَوَى فلان وهذا حيد عن الصواب

*Penulis adalah Alumn Mahad Sunniyah SAlafiyah Pasuruan dan Mahad Darul Mustofa Tarim. Beliau juga adalah pengasuh Ma`had Anwarut Taufiq Nguling.

Tags:

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.