Headline »

October 21, 2017 – 1:12 am | Edit Post

Share this on WhatsApp
Pertanyaan:
Ustadz, Bagaimana Hukumnya orang yang jualan jangkrik ?
Ainul Yaqin
Jawaban:
Hukum Jual beli hewan diperinci sebagai berikut:

Apabila hewan itu bermanfaat (secara syariat), seperti unta, sapi, kambing, kuda dan lain-lain, maka sah jual belinya, karena …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Headline, Majelis Ifta'

SEMUA TENTANG AQIQAH

Submitted by on February 28, 2017 – 5:42 am One Comment

qurban-dan-aqiqah

Akikah secara bahasa artinya adalah rambut yang terdapat pada kepala bayi saat dilahirkan. Sedangkan dalam istilah Ilmu Fiqih, Akikah adalah hewan yang biasanya disembelih berbarengan dengan pemotongan rambut tersebut pada hari ke tujuh kelahiran. Akikah disyariatkan sebagai bentuk rasa syukur untuk mengungkapkan kebahagiaan atas terlahirnya anak yang akan melanjutkan keturunan. Menyembelih hewan Akikah lebih utama daripada bersedekah dengan uang misalnya seharga hewan Akikah.

Sebagian ulama tidak menyukai penamaan Akikah, sebab kata Akikah memiliki akar kata yang sama dengan Ukuk (kedurhakaan). Pernah ketika Rasulullah SAW ditanya mengenai Akikah, Beliau SAW terlihat kurang menyukai nama itu dan berkata:

 لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْعُقُوقَ

Allah tidak menyukai ukuk (kedurhakaan).(HR Abu Dawud)

Mereka mengatakan bahwa yang lebih baik hendaknya hewan yang disembelih itu tidak dinamakan Akikah melainkan Nasikah(sembelihan untuk ibadah) atau Dzabihah(hewan sembelihan).  Namun menurut pendapat yang muktamad (yang dijadikan pegangan), penamaan Akikah tidaklah makruh sebab dalam banyak riwayat, Nabi SAW sendiri telah menyebutnya sebagai Akikah.

Hukum

Imam Syafii mengatakan ada dua kubu yang terlalu berlebihan dalam menghukumi Akikah. Ada yang menyatakan Akikah adalah bidah, ada pula yang menyatakan Wajib. Yang tepat, hukum Akikah adalah sunah. Ini berdasarkan Hadits Nabi SAW:

مَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يَنْسُكَ عَنْ وَلَدِهِ فَلْيَفْعَلْ عَنْ الْغُلَامِ شَاتَانِ مُكَافَأَتَانِ وَعَنْ الْجَارِيَةِ شَاةٌ

Siapa yang ingin melakukan nusuk (menyembelih hewan) untuk anaknya, maka hendaknya ia lakukan. Untuk anak lelaki dua kambing yang setara dan untuk anak perempuan satu kambing. (HR Ahmad)

Hadits di atas menunjukkan bahwasanya Akikah bukanlah hal yang wajib, namun hukumnya sunah muakkad sebagaimana Udhiyah (Qurban). Kesunahan berakikah berulang dengan berbilangnya anak. Namun perlu diperhatikan bahwa hukum Akikah bisa menjadi wajib jika dinadzarkan.

Anjuran untuk mengakikahi anak bagi orang tua yang mampu melaksanakannya sangat ditekankan. Rasulullah SAW bersabda:

الْغُلَامُ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ

Seorang anak tergadaikan dengan akikahnya. (HR Turmudzi)

Maksud tergadaikan di sini menurut Imam Ahmad dan banyak ulama lainnya adalah bahwa anak yang tidak diakikahi tidak dapat memberikan syafaat kepada orang tuanya pada hari kiamat. Ada pula yang mengatakan anak itu tidak dapat tumbuh dengan selayaknya. Sebagian lagi berpendapat Akikah adalah sebab terlepasnya anak dari tusukan setan ketika dilahirkan, maka Akikah adalah pembebasan anak dari cengkraman setan, dan godaan setan.

Yang disunahkan untuk mengakikahi anak adalah yang wajib menafkahinya yaitu orang tuanya, jika tidak ada maka kakeknya, dan seterusnya. Akikah dikeluarkan dari harta orang tua yang wajib menafkahinya, tidak boleh menggunakan harta si bayi (jika ada), sebab Akikah adalah suatu sedekah sukarela (tabaru`) dan bayi bukan orang yang layak untuk bersedekah. Jika orang tua menggunakan harta bayi untuk melaksanakan Akikah maka harta itu wajib diganti. Ibu tidak dituntut untuk mengakikahi bayinya kecuali jika ayah tidak mampu secara finansial untuk melakukan Akikah.

Tidak semua orang tua disunahkan mengakikahi anaknya. Yang sunah melakukan Akikah adalah orang tua yang mampu melakukan Akikah ketika bayi itu dilahirkan. Ia disunahkan melakukan Akikah sebelum anaknya mencapai usia baligh (dewasa secara syariat). Apabila anak belum diakikahi sampai mencapai usia baligh, habislah waktu kesunahan melakukan Akikah bagi orang tua.

Adapun orang tua yang tidak mampu melaksanakan Akikah di hari anaknya lahir karena miskin atau lainnya, maka hukumnya dirinci sebagai berikut:

  1. Apabila orang tua tersebut menjadi kaya (mampu melakukan Akikah) sebelum berakhirnya paling banyaknya waktu nifas (60 hari) sejak kelahiran bayi maka ia sunah mengakikahi anaknya. Ia boleh melakukannya kapan saja sebelum anak mencapai usia baligh.
  2. Apabila keadaan orang tua tersebut tidak berubah (tetap miskin dan tidak mampu berakikah) sampai berlalunya waktu nifas (60 hari) sejak kelahiran bayi. Maka tidak sunah baginya untuk melakukan Akikah.

Disunahkan bagi anak yang sudah mencapai usia baligh, namun  belum diakikahi oleh orang tuanya untuk mengakikahi diri sendiri, sebagai bentuk tebusan atas kesunahan yang telah dilewatkan orang tua. Di dalam suatu hadits disebutkan bahwa Nabi SAW mengakikahi dirinya sendiri setelah diutus menjadi nabi.

Anak yang mati sebelum diakikahi dan setelah masa yang memungkinkan untuk melakukan Akikah tetap sunah diakikahi oleh orang tuanya yang mampu. Sama saja apakah anak itu mati sebelum hari ke tujuh dari kelahirannya atau setelahnya.

Anak zina disunahkan untuk diakikahi oleh ibunya, namun tidak semestinya akikahnya dirayakan secara terang-terangan sebab dianjurkan baginya untuk merahasiakan anaknya.

Hewan Akikah

Syarat hewan Akikah sama dengan syarat hewan Qurban. Jadi yang boleh dijadikan hewan Akikah adalah kambing atau sapi atau unta yang sehat dan tidak cacat. Syarat umurnya pun tidak berbeda dengan hewan Qurban; Kambing Kacangan minimal berumur dua tahun; Kambing domba (kibas) minimal berumur setahun; Sapi minimal berumur dua tahun; Unta minimal berumur lima tahun. Kadar daging hewan Akikah yang harus diberikan kepada fakir miskin, sebagaimana Qurban, adalah semuanya jika Akikah itu adalah Akikah nadzar. Jika itu adalah Akikah Sunah, maka sedikit daging yang diberikan kepada fakir miskin itu sudah dianggap cukup; Tetapi yang lebih utama hendaknya ia mengambil sedikit saja daging Akikah dan memagikan sisanya kepada fakir miskin. Yang membedaan Akikah dan Qurban, selain niat, adalah bahwa daging Qurban harus dibagikan dalam keadaan mentah sedangkan daging Akikah tidak harus. Bahkan sunah hukumnya membagikan daging Akikah dalam keadaan telah dimasak. Ini berdasarkan riwayat Imam al Baihaqi dari Sayidah Aisyah ra.

Kesunahan Akikah dapat terhasilkan minimal dengan menyembelih seekor kambing baik untuk anak lelaki atau pun perempuan. Dalam riwayat Abu Dawud dengan sanad yang shahih dikatakan:

أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَقَّ عَنْ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ كَبْشًا كَبْشًا

Sesungguhnya Nabi SAW mengakikahi Hasan dan Husain masing-masing satu ekor kambing. (HR Abu Dawud)

Namun yang lebih sempurna hendaknya orang tua menyembeih dua ekor kambing untuk anak lelaki, dan satu ekor kambing untuk anak perempuan. Ini berdasarkan hadits Sayidah Aisyah ra:

أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَعُقَّ عَنْ الْغُلَامِ بِشَاتَيْنِ ، وَعَنْ الْجَارِيَةِ بِشَاةٍ

Rasulullah SAW memerintahkan kami untuk berakikah dengan dua kambing yang setara bagi anak lelaki dan satu bagi anak perempuan. (HR Turmudzi)

Bayi yang terlahir dengan dua kelamin (khuntsa) dihukumi sama dengan wanita.

Sepertujuh unta dan sapi sama hukumnya dengan seekor kambing. Jadi ia boleh berakikah dengan seekor sapi atau unta untuk tujuh anak. Boleh juga sekelompok orang-tua berserikat dalam sapi atau unta untuk Akikah tujuh anak mereka misalnya. Jika orang tua berakikah dengan sapi atau unta untuk satu anak maka itu lebih baik lagi.

Waktu Akikah

Waktu menyembelih Akikah dimulai setelah anaknya dilahirkan dengan sempurna, jika anak diakikahi sebelum dilahirkan maka Akikahnya tidak sah. Ia harus mengulanginya setelah anak dilahirkan. Yang sunah bagi yang mampu, hendaknya Akikah dilakukan ketika terbitnya matahari di hari ke tujuh setelah kelahiran (hari kelahiran dihitung).  Jika Akikah tidak dilakukan pada hari ke tujuh, maka hendaknya dilakukan pada hari ke empat belas,  jika tidak maka pada hari ke dua puluh satu, dan terus demikian hendaknya Akikah dilakukan dalam hari-hari kelipatan tujuh setelah kelahiran.

Disunahkan bagi yang menyembelih Akikah untuk mengatakan:

بِسْمِ اللهِ وَاللهُ اَكْبَر اَللَّهُمَّ لَكَ وَاِلَيْكَ هَذِهِ عَقِيقَةُ فُلَان

Dengan menyebut Nama Allah dan Allah Mahabesar. Ya Allah, ini adalah milik-Mu dan untuk-Mu. Ini adalah Akikah Fulan (nama anak yang diakikahi). (HR Baihaqi)

Kesunahan-Kesunahan

Ada beberapa hal-hal terkait Akikah yang perlu untuk diperhatikan, di antaranya adalah:

  1. Hendaknya orang yang melakukan Akikah, memasaknya dan memakan daging Akikah tidak memecah tulang dari hewan Akikah tersebut. Diusahakan sebisa mungkin untuk memotong tulang dari setiap persendiannya. Ini sebagai bentuk Tafaul (simbol harapan) agar anggota tubuh anak selamat. Kalau pun dipecah tulang akikah, hukumnya tidak makruh sebab tidak ada larangan khusus untuk itu, hanya saja itu khilaful aula (menyelisihi perbuatan yang lebih utama).
  2. Sunah untuk membagikan daging Akikah dalam keadaan telah dimasak dengan bahan yang manis walau pun itu adalah Akikah yang dinadzarkan, dengan harapan agar anak tersebut menjadi manis pula akhlaknya. Namun jika daging itu dibumbui dengan bumbu lain yang tidak manis pun tidak makruh hukumnya.
  3. Yang lebih baik hendaknya daging bersama kuahnya (jika ada) diantarkan kepada fakir miskin. Itu lebih utama daripada mengundang mereka untuk memakan daging akikah. Kalau pun ia mengundang mereka untuk makan, maka hukumnya boleh.
  4. Disunahkan agar kaki dari kambing Akikah Sunah sampai pangkal paha tidak dimasak, tetapi diberikan kepada bidan (yang membantu proses kelahiran) dalam keadaan mentah. Yang lebih utama hendaknya kaki yang diberikan adalah kaki kanan. Hal ini dilakukan oleh Sayidah Fatimah ra berdasarkan perintah Rasulllah SAW sebagaimana diriwayatkan oleh al Hakim yang mengatakan bahwa sanad haditsnya adalah shahih.
  5. Makruh melumuri kepala bayi dengan darah hewan akikah, itu adalah perbuatan kaum jahilihah.
  6. Disunahkan melumuri kepala bayi dengan Zakfaron atau Khaluq (sejenis parfum) sebagaimana dishahihkan dalam Kitab Majmu.
  7. Yang utama hendaknya Akikah dilakukan pada hari ke tujuh. Setelah selesai Akikah disunahkan memotong rambut bayi dan bersedekah emas seberat rambut itu, jika tidak mampu maka tidak apa jika ia bersedekah perak seberat rambut tersebut.

 

Tags:

One Comment »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.