Headline »

June 29, 2017 – 5:55 am | Edit Post

Share this on WhatsApp
Pertanyaan::
saya pernah membaca sebuah buku kecil. disitu di sebutkan bahwa Allah menciptakan sumber air di bumi yg bernama “ainul hayat “. Barang siapa yang meminumnya seteguk,maka ia tidak akan mati sampai hari …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Headline, Rudud

MEMAHAMI MAKNA ISTIWA

Submitted by on February 27, 2017 – 12:40 am

sifat-istiwa_-allah-di-atas-e28098arsy

Oleh: Dzorif bin Yahya

 

Ahlu Sunnah wal Jamaah menyepakati bahwa Allah SWT tidak menyerupai makhluk dalam hal apa pun. Allah SWT bersifat Azali (ada tanpa permulaan), Abadi (ada tanpa akhir), berbeda dengan makhluk dalam dzat, sifat serta perbuatan-Nya. Dzat Allah SWT tidak serupa dengan makhluk, bukan berupa unsur yang bertempat atau dibatasi arah, tidak pula memiliki ruh atau jasad. Al Baghdadi dalam Al Farqu Bainal Firaq  berkata :

وَأَجْمَعُوا عَلَى أَنَّهُ لَا يَحْوِيْهِ مَكَانٌ وَلَا يَجْرِي عَلَيْهِ زَمَانٌ

Ulama telah bersepakat bahwa Allah tidak diliputi oleh tempat dan zaman.

Imam Thahawi dalam akidahnya juga berkata :

وَتَعَالَى عَنِ الْحُدُوْدِ وَالْغَايَاتِ، وَالْأَرْكَانِ وَالْأَعْضَاءِ وَالْأَدَوَاتِ. لَا تَحْوِيْهِ الجِّهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ لْمُبْتَدَعَاتِ

Allah Maha Tinggi dari batasan-batasan dan ujung, dari bagian, anggota-tubuh, atau alat. Dan Allah tidak dibatasi oleh arah yang enam seperti semua hal-hal baru .

Sifat Allah SWT tidak serupa dengan sifat-sifat selain-Nya. Meski mungkin kedua sifat itu memiliki nama yang sama namun hakikat keduanya berbeda. Sebagai contoh Allah memiliki ilmu, dan manusia pun memiliki sifat bernama ilmu. Meski keduanya memiliki nama yang sama namun hakikat makna ilmu Allah SWT berbeda dengan hakikat ilmu manusia.

Perbuatan Allah SWT adalah menciptakan, mengadakan, meniadakan dan memusnahkan. Sedangkan perbuatan selain-Nya adalah mengumpulkan, memisahan, menyusun dan melepaskan, mencari dan menemukan. Yang menciptakan hanyalah Allah SWT:

 وَٱللَّهُ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ

Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu” (QS As Shaffath: 96)

Makna berbedanya Allah SWT dengan makhluk-Nya terangkum dalam ayat-ayat  muhkamat :

لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَيۡء

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia. (QS as Syura: 11)

Dan ayat:

وَلَمۡ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدُۢ

Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia” (QS al Ikhlas: 4)

Akal pun sejalan dengan apa yang disebutkan dalam ayat-ayat tersebut. Tuhan mesti lah berbeda dengan makhluk-Nya. Segala sesuatu yang serupa dengan makhluk tidak pantas disebut Tuhan. Perincian mengenai ini telah dipaparkan dalam kitab-kitab akidah.

Muhkamat dan mutasyabihat

Jika kita telah memahami akidah pokok ini, akidah tentang berbedanya Tuhan dengan makhluk yang ditetapkan dalam ayat muhkamat, maka setiap nash mutasyabihat yang makna zahirnya menyerupakan Allah SWT dengan makhluk harus diarahkan (ditakwil) kepada makna lain yang sesuai dengan nash-nash muhkamat. Ini dilakukan untuk menghindari kontradikisi dan pertentangan dalam nash Syariat yang mustahil adanya. Sebab Allah SWT telah berfirman:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلۡقُرۡءَانَۚ وَلَوۡ كَانَ مِنۡ عِندِ غَيۡرِ ٱللَّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ ٱخۡتِلَٰفٗا كَثِيرٗا ٨٢

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS an Nisa: 82)

Juga untuk menghindari  pertentangan antara akal dan naql (al Quran dan hadits).

Yang dimaksud nash muhkamat adalah yang jelas maknanya, sedangan mutasyabihat adalah yang maknanya masih samar. Ayat-ayat muhkamat merupakan pokok syariat yang menjadi sandaran dalam memahami  ayat mutasyabihat. Allah SWT berfirman:

هُوَ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ مِنۡهُ ءَايَٰتٞ مُّحۡكَمَٰتٌ هُنَّ أُمُّ ٱلۡكِتَٰبِ وَأُخَرُ مُتَشَٰبِهَٰتٞۖ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمۡ زَيۡغٞ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَٰبَهَ مِنۡهُ ٱبۡتِغَآءَ ٱلۡفِتۡنَةِ وَٱبۡتِغَآءَ تَأۡوِيلِهِۦۖ وَمَا يَعۡلَمُ تَأۡوِيلَهُۥٓ إِلَّا ٱللَّهُۗ وَٱلرَّٰسِخُونَ فِي ٱلۡعِلۡمِ يَقُولُونَ ءَامَنَّا بِهِۦ كُلّٞ مِّنۡ عِندِ رَبِّنَاۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ٧

Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur´an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta´wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta´wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (QS Ali Imran 7)

Orang yang berilmu mengimani semua ayat muhkamat dan mutasyabihat. Iman mereka pada ayat mutsyabihat tidak kurang dari iman mereka kepada ayat muhkamat yang menjadi pokok syariat, keduanya berasal dari Allah SWT. Namun, mereka tidak menyerupakan Allah SWT dengan makhluknya karena berlandaskan pada zahir ayat mutasyabihat. Mereka menyerahkan pengetahuan mengenai makna ayat mutasyabihat kepada Allah SWT dengan tetap meyakini bahwa ayat itu memiliki makna yang mulia dan layak dengan Keagungan Allah. Mereka tidak menta`thil (meniadakan) makna nash mutasyabihat dan tidak pula mantasybih (menyerupakan) Allah SWT dengan dalih ayat mutasyabihat. Inilah jalan tengah antara dua kelompok sesat muathilah (yang meniadakan makna ayat mutasyabihat) dan musyabihah (yang menyerupakan Allah SWT dengan makhluk).

Istiwa: Tafwidh dan Takwil

Di atas madzhab inilah para salaf umat kita bejalan. Inilah jalan para sahabat, tabiin dan tabiit-tabiin. Mereka menyerahkan makna ayat mutasyabihah kepada Allah SWT setelah memalingkannya dari makna zahir. Metode yang dikenal dengan istilah Tafwidh (menyerahkan).

Namun, ketika aliran bidah mulai bermunculan dam para tokoh-tokoh yang menyimpang tampil untuk menggoyahkan akidah ahlus sunnah wal jamaah dengan dalih nash mutasyabihat. Para ulama ahlu sunah khawatir tokoh-tokoh sesat itu dapat merusak akidah umat Islam. Maka mereka berusaha mentakwil nash-nash mutasyabihat dengan makna yang sesuai dengan Bahasa Arab dan kandungan Syariat. Metode ini dikenal dengan istilah Takwil.

Maka mereka mulai misalnya mentakwil kalimat istiwa dalam ayat :

ٱلرَّحۡمَٰنُ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ ٱسۡتَوَىٰ ٥

(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang beristiwa di atas ´Arsy. (QS Thaha: 5)

Istiwa makna zahirnya adalah bersemayam (duduk), karena mustahil Allah SWT disifati degan duduk yang adalah sifat makhluk maka mereka mentakwil makna istiwa kepada makna isti`la (menguasai). Ini makna yang sesuai dengan Bahasa Arab yang fasih dan kaidah syariat. Di dalam perkataan arab misalnya ditemukan bait:

قَدِ اسْتَوَى بِشْرٌ عَلَى الْعِرَاقِ **مِنْ غَيْرِ سَيْفٍ وَدَمٍ مُهْرَاقِ

Bisyr istawa (menguasai) Irak tanpa bantuan pedang dan tana darah tertumpah

Dalam bait di atas digunakan kata istiwa dengan makna menguasai.

Begitulah pula ditemukan bait:

فَلَمَّا عَلَوْنَا وَاسْتَوَيْنَا عَلَيْهِمِ***جَعَلْنْاهُمُ مَرْعَى لِنَسْرٍ وَطَائِرِ

Ketika kami unggul dan beristiwa (menguasai) mereka, kami jadikan mereka makanan bagi Nasar dan burung

Dalam bait itu pun disebutkan istiwa dengan makna berkuasa.

Sedangkan penyebutan Arsy secara khusus, padahal bukan hanya Arsy yang berada dalam Kuasa Allah, adalah karena Arsy merupakan makhluk paling agung. Dengan menyebutkan Allah SWT menguasai Arsy artinya Allah SWT menguasai seluruh alam ini. Inilah contoh takwil ulama khalaf, mereka tidak melakukan takwil kecuali ketika mulai mencemaskan goyahnya akidah umat muslim akibat rongrongan kaum musyabihah yang berdalil dengan ayat mutasyabihah untuk menyerupakan Allah SWT dengan mahluk.

Ada pun para salaf, mereka mengimani istiwa dan menyerahkan maknanya kepada Allah tanpa menyandarkan makna arah, menyentuh, ukuran, atas, atau bawah. Karena Allah SWT tidak disifati dengan hal-hal itu. Arah adalah ukuran yang nisbi, sesuatu yang kita katakan atas bisa jadi adalah bawah bagi selain kita dan sebaliknya. Tuhan kita Maha Suci dari hal itu. Imam Haroman al Juwain as Syafii w 478 H mengatakan: “Madzhab Ahlil Haq seluruhnya bahwa Allah SWT Maha Tinggi dari pada menempati atau dikhususkan dengan arah.” (al Irsyad 58)

 

Berdasarkan hal ini dapat difahami bahwa aliran yang mengatakan Allah SWT bertempat di mana-mana adalah aliran kufur yang batil. Tidak dikatakan kecuali oleh pengikut paham hulul (paham yang menyatakan Allah SWT menitis pada makhluk) yang kafir. Itu juga adalah paham wihdatul wujud dengan makna Allah SWT menyatu dengan makhluk.  Paham ditentang keras oleh ulama Ahlu Sunnah wal Jamaah.

Termasuk paham yang batil adalah paham sebagian pengikut Hanabilah yang menyatakan bahwa Allah SWT bertempat di Arsy. Mereka menetapkan arah atas bagi Allah SWT. Ini adalah paham  bidah yang sesat. Imam Ahmad ra sendiri terbebas dari paham yang menyimpang dari salaf ini. Beliau ra sama dengan para imam salaf lain, mengimani nash-nash mutasyabihat dan menyerahan maknanya kepada Allah SWT. Berikut sebagian dari ucapan para Imam mengenai istiwa:

Al Baihaqi meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Wahb berkata, “Kami berada di sisi Imam Malik bin Anas kemudian datang seorang lelaki bertanya, ‘Wahai Aba Abdir Rahman

ٱلرَّحۡمَٰنُ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ ٱسۡتَوَىٰ ٥

(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang beristiwa di atas ´Arsy. (QS Thaha: 5)

Bagaimana Tuhan beristiwa?’

Imam Malik menunduk dan mulai berkeringat. Lalu Beliau berkata,

الرَّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى كَمَا وَصَفَ نَفْسَهُ وَلَا يُقَالُ كَيْفَ وَكَيْفَ عَنْهُ مَرْفُوْعٌ وَأَنْتَ رَجُلٌ سُوْءٌ صَاحِبُ بِدْعَةٍ أَخْرِجُوْهُ

Tuhan Yang Maha Pemurah beristiwa di atas ´Arsy sebagaimaa Allah SWT mensifati diri-Nya. Tidak dikatakan bagaimana caranya sebab tata cara tidak dapat dinisbatkan pada-Nya. Engkau adalah lelaki yang buruk dan pelaku bidah. Keluarkan ia!’”

Imam Syafii ra sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Jauzi dalam kitab Daf`u Syubah ketika ditanya mengenai ayat tersebut mengatakan:

آمَنْتُ بِلَا تَشْبِيْه، وَصَدّقْتُ بِلَا تَمْثِيل، وَاتّهَمْتُ نَفْسِي فِي الْاِدْرَاك، وَأَمْسَكْتُ عَنِ الْخَوْضِ فِيهِ كُلَّ الْاِمْسَاك

Aku mengimaninya tanpa menyerupakan. Aku membenarkannya tanpa memberi permisalan. Aku mencurigai diriku dalam pemahamannya. Dan aku menahan diri dari mendalaminya dengan sungguh-sungguh.

Diriwayatkan pula dari Imam Abu Hanifah ra bahwa beliau mengatakan:

مَنْ قَالَ: لَا أَعْرِفُ اللهَ أَفِي السَّمَاءِ أَمْ فِي الْاَرْضِ فَقَدْ كَفَرَ

Siapa yang berkata, “Aku tidak tahu apakah Allah berada di langit atai di bumi.” Maka ia telah kafir.

Ini karena ucapan tersebut mengindikasikan bahwa orang itu berkeyakinan Allah SWT memiliki tempat namun ia tidak tahu di mana tempat-Nya. Orang yang menyangka Allah memiliki tempat ia adalah musyabih (yang menyerupakan Allah SWT dengan makhluk) yang sesat.

Imam Ahmad ra ketika ditanya mengenai istiwa, beliau ra menjawab:

اِسْتَوَى كَمَا أَخْبَرَ لَا كَمَا يُخْطَرُ لِلْبَشَرِ

Istiwa sebagaimana yang dikabarkan tidak seperti yang ada dalam benak manusia.

Kesimpulannya bahwa ayat mutasyabihat tidak boleh difahami berdasarkan makna zahirnya. Para ulama memiliki dua metode dalam memahami nash mutasyabihat. Pertama adalah metode tafwidh yang dilakukan oleh ulama salaf. Mereka mengimani ayat tersebut dan beritikad bahwa ayat tersebut memiliki makna yang layak dengan keagungan dan kebesaran Allah. Mereka tidak menentukan makna tersebut, namun mentafwidh (memasrahkan) maknanya kepada Allah SWT. Yang kedua adalah metode takwil yang dilakukan ulama khalaf. Mereka mentakwil ayat mutasyabihat dengan suatu makna yang difahami dari Bahasa Arab seraya memalingkannya dari makna zahir ayat tersebut sebagaimana dilakukan kaum salaf.

Kedua metode ini diakui oleh semua ulama Ahlu Sunnah wal Jamaah. Namun metode salaf lebih selamat, lebih berilmu dan kokoh. Hendaknya kita tidak beralih kepada metode Khalaf kecuali dalam keadaan mendesak, ketika dikhawatirkan goyahnya akidah umat Islam akibar rongrongan tokoh musyabihah. *Dzr

Tags:

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.