Headline »

August 15, 2017 – 11:58 am | Edit Post

Share this on WhatsApp
Memberikan nama boleh dilakukan kapan saja, tetapi sunahnya dilakukan pada hari ke tujuh dari kelahiran berbarengan dengan akikah dan pemotongan rambut bayi. Sahabat Amar bin Syuaib ra berkata:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Headline

MENJADI WALI KARENA SABAR MENGHADAPI ISTRI

Submitted by on February 11, 2017 – 2:38 am
Pengertian Sabar Menurut Islam

Pengertian Sabar Menurut Islam

Dahulu di Kota Mekah Mukaromah hidup seorang lelaki bernama Abdullah al Qurasyi. Istrinya adalah wanita yang tidak berakhlak dan sering menyakiti hati baik dengan ucapan pedas dan perlakuan kasar. Namun Abdullah berusaha untuk selalu bersikap sabar menghadapi gangguan istrinya dan tidak pernah membalas perbuatan buruk sang istri. Dia bersabar menjalani kehidupan seperti ini selama empat puluh tahun lamanya.

Syahdan pada akhirnya Abdullah tidak sanggup lagi menanggung keburukan prilaku istrinya. Ia pun berkemas untuk pergi mengembara meninggalkan Kota Mekah. Di tengah perjalanan ia mendapati satu dusun yang hampir semua penghuninya adalah ahli ibadah. Kegiatan mereka sehari-hari hanya beribadah kepada Allah dan mempelajari ilmu-ilmu agama. Abdullah pun tanpa ragu singgah di dusun tersebut. Dia menjadi tamu mereka, menghabiskan harinya dengan banyak beribadah dan membaca al Quran.

Ketika itu orang Arab memiliki adat untuk tidak banyak bertanya tentang asal-usul serta tujuan perjalanan tamunya kecuali setelah berlalu tiga hari. Maka tidak ada yang mengetahui asal-usul Abdullah dan keadaaannya.

Pada malam pertama Abdullah menginap di tempat dua orang penghuni dusun.  Salah seorang dari mereka berkata kepada temannya, “Berdoalah kepada Allah SWT agar berkenan memberikan kita rizki untuk makan malam kita semua.”

Temannya itu berdoa dengan sangat khusyu, tidak lama setelah ia berdoa datang seorang dari penduduk dusun mengetuk pintu sambil membawa satu nampan makanan untuk mereka.

Pada malam berikutnya, giliran orang kedua yang berdoa kepada Allah agar memberikan makanan untuk santap malam. Ia berdoa dengan sangat khusyu. Di malam itu kembali pintu diketuk oleh seorang penduduk dusun yang membawa satu nampan makanan untuk mereka.

Pada malam ketiga, dua orang yang pada hari sebelumnya berdoa berkata kepada Abdullah al Qurasyi, “Hari ini giliran engkau yang berdoa. Berdoalah agar Allah memberikan rizki untuk makan malam kita semua.”

Abdullah ragu sejenak, ia berpikir tentang dirinya. Ia merasa banyak berbuat maksiat dan memiliki dosa yang tak terhitung. Bagaimana Allah akan mengabulkan doanya sedangkan ia sering lalai untuk mengingat Allah. Maka ia pun berdoa, “Ya Allah, berkat amal-amal kedua orang hamba-Mu ini, keshalehan dan keimanan mereka. Berilah rizki untuk makan malam kami semua.”

Ajaib, setelah Abdullah berdoa ternyata pintu diketuk oleh seorang penduduk dusun yang membawa dua nampan makanan untuk mereka.

Kedua teman Abdullah terheran, sebab di hari-hari sebelumnya ketika mereka yang berdoa, mereka hanya diberi satu nampan makanan. Namun ketika Abdullah yang berdoa, mereka diberi dua nampan makanan. Mereka tidak bisa menyembunyikan keheranannya lantas bertanya kepada Abdullah, “Dengan apa engkau berdoa wahai hamba Allah?”

Abdullah menjawab dengan jujur, “Demi Allah, aku tidak berdoa melainkan dengan perantara ketakwaan dan keimanan kalian berdua, tidak lebih.”

“Memangnya dengan apa kalian berdoa di hari-hari kemarin?” Abdullah bertanya.

Mereka berdua berkata, “Kami mendengar dari orang-orang bahwa di Kota Mekah terdapat seorang lelaki bernama Abdullah al Qurasyi. Ia memiliki istri yang buruk prilakunya dan sabar menghadapi semua gangguan istrinya. Maka kami berdoa kepada Allah dengan perantara kesabaran al Qurasyi itu menanggung keburukan istrinya. Dan doa kami pun dikabulkan.”

 

Tags:

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.