Headline »

June 29, 2017 – 5:55 am | Edit Post

Share this on WhatsApp
Pertanyaan::
saya pernah membaca sebuah buku kecil. disitu di sebutkan bahwa Allah menciptakan sumber air di bumi yg bernama “ainul hayat “. Barang siapa yang meminumnya seteguk,maka ia tidak akan mati sampai hari …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Headline, Rudud

MEMBANTAH ARGUMENTASI KELOMPOK INGKAR SUNNAH

Submitted by on February 9, 2017 – 6:06 am

sunnah

Oleh: Dzorif bin Yahya

Ahlu sunah wal jamaah telah sepakat bahwa sunah Nabi saw yang meliputi perkataan, perbuatan dan sikap diam Nabi (taqrir) atas sesuatu merupakan dasar hukum Islam bersamaan dengan al Quran. Tidak ada yang menyelisihi konsesus ini kecuali sekte yang sesat. Imam Ayub as Sakhtiyani berkata, “Jika engkau menyampaikan suatu hadits kepada seseorang kemudian ia berkata, ‘Jauhkan kami dari ini dan berilah kami al Quran saja.’ Maka ketahuilah bahwa ia adalah sesat.” Ungkapan yang lebih tegas disampaikan oleh Imam Suyuthi ra dalam kitabnya Miftahul Jannah, “Siapa saja yang tidak mengakui sunah Nabi baik perbuatan atau ucapan Beliau saw sebagai dasar hukum dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan dalam Ilmu Ushul maka ia telah kafir dan keluar dari lingkaran umat Islam.”

Asal pemikiran

Secara umum terdapat dua sekte sesat pengusung ide anti sunah; Kelompok Syiah Rafidhoh ghulat (ekstrem) dan gologan ahlu Ra`yi (kelompok pemikir) ghulat. Kaum Rafidhoh ghulat mengingkari sunah karena beberapa alasan. Sebagian mereka meyakini seharusnya Sayidina Ali bin Abi Thalib ra menjadi nabi, namun Malaikat Jibril ra salah memberikan wahyu (Maha suci Allah SWT dari persangkaan buruk ini). Mereka menolak ajaran sunah, sebab itu berasal dari “nabi yang tertukar.’ Sebagian lagi mengakui Nabi Muhammad saw sebagai nabi yang benar, mereka mengira Nabi saw meninggalkan wasiat untuk menjadikan Sayidina Ali bin Abi Thalib ra sebagai khalifah setelahnya. Ketika para sahabat menjadikan Sayidina Abu Bakar ra menjadi khalifah, kaum Rafidhoh ghulat yang hina ini mengatakan bahwa seluruh sahabat telah kafir karena tidak menjalankan wasiat Nabi saw. Lebih dari itu, Sayidina Ali ra pun mereka anggap kafir karena tidak menuntut hak untuk menjadi khalifah. Imbasnya, mereka menolak hadits-hadits Nabi saw karena menurut mereka hadits adalah riwayat dari orang-orang kafir.

Tidak perlu panjang lebar untuk menolak argumen konyol kaum ghulat ini. Jika benar mereka meyakini al Quran, maka sepenggal ayat ini dapat meruntuhkan argumen mereka:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat.. (QS al Fath: 29)

Dalam ayat ini disebutkan bahwa Nabi Muhammad saw adalah benar utusan Allah, bukan ‘nabi yang tertukar.’ Ayat ini juga menggambarkan para sahabat sebagai orang-orang mulia, bahkan ciri mereka disebutkan di dalam kitab terdahulu. Ini merupakan sanggahan telak atas mereka yang menggambarkan sahabat sebagai sekelompok manusia lemah iman yang dalam sekejap kembali kafir setelah wafatnya Rasulullah saw.

Kelompok kedua pengusung anti sunah adalah Ahlu Ra`yi ghulat. Mereka memaksakan logika dalam memahami syariat. Dengan alasan tidak ‘logis’ hadits-hadits yang jelas shahih disingkirkan. Untuk menutupi jejak, mereka mempertentangkan hadits dengan ayat al Quran yang tentunya telah ditafsiri keliru sesuai hawa nafsu. Ini adalah pemikiran berbahaya yang dapat mencerai-beraikan umat Islam. Sayidina Umar bin Khathab ra—dalam riwayat al Baihaqi— pernah bertanya kepada Ibnu Abbas, “Bagaimana umat ini bisa berselisih padahal kitab mereka sama, nabi mereka sama dan kiblat mereka pun sama?” Sahabat Ibnu Abbas ra menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, Sesungguhnya al Quran diturunkan kepada kita. Kemudian kita membaca dan mengetahui mengenai apa ia turun. Sungguh setelah kita akan ada orang-orang yang membaca al Quran namun tidak mengetahui mengenai apa ia turun, sehingga setiap kaum memiliki ra`yi (pendapat) sendiri. Jika setiap kaum memiliki pendapat sendiri mereka akan berselisih dan jika mereka berselisih mereka akan saling berperang.” Dialog ini menunjukkan kepada kita bahayanya memahami al Quran dengan logika tanpa pengetahuan cukup tentang sebab turunnya al Quran. Dan pengetahuan itu hanya didapati melalui hadits Nabi saw.

Sayidina Umar bin Khattab ra sejak jauh hari telah memperingatkan bahaya ahlu ra`yi ini. Dalam riwayat Al Baihaqi, beliau berkata, “Hendaknya kalian berhati-hati kepada ashab Ra`yi. Mereka adalah musuh-musuh sunah. Mereka tidak mampu menghafal hadits-hadits Rasulullah saw sehingga mereka membuat hukum dengan ra`yi. Akibatnya mereka sesat dan menyesatkan.”

Sayidina Ali ra juga menyindir mereka dalam ucapannya:

لَوْ كَانَ الدِّينُ بِالرَّأْيِ لَكَانَ أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلَاهُ وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ

Seandainya agama didasari oleh ra`yi (logika) pastinya bagian bawah khuf (semacam kaus kaki yang kuat umumnya terbuat dari kulit) lebih utama untuk diusap (ketika bersuci) dari pada bagian atasnya. Namun sungguh aku melihat Rasulullah saw mengusap bagian atas dari kedua khufnya. (HR Abu Dawud)

Ajaran kontadiksi

Sekilas pemikiran anti sunah terkesan bagus seakan ingin mengagungkan al Quran di atas segalanya. Namun jika diteliti sebenarnya ajaran ini penuh kontradiksi. Di satu sisi mengakui kebenaran al Quran, namun di sisi lain ajaran ini bertentangan dengan al Quran itu sendiri. Al Quran dengan lugas memerintahkan untuk mengikuti semua sunah Nabi saw. Perhatikan firman Allah SWT berikut:

لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS al Ahzab: 21)

Ayat ini menyatakan bahwa Nabi saw merupakan teladan bagi orang yang beriman. Artinya segala perbuatan, ucapan dan sikap beliau adalah penting untuk dipelajari dan diikuti sebagai pedoman hidup beragama. Dengan kata lain, sunah Nabi saw wajib untuk dipelajari dan diteladani bukan malah diinkari.

Keterangan lebih jelas mengenai wajibnya menjadikan sunah Nabi saw sebagai dasar hukum terdapat dalam ayat:

وَأَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَٱحۡذَرُواْۚ فَإِن تَوَلَّيۡتُمۡ فَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا عَلَىٰ رَسُولِنَا ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ

Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (QS al Maidah: 92)

Allah SWT tidak hanya memerintahkan untuk taat kepada-Nya namun juga memerintahkan untuk taat kepada Rasul saw. Ini menunjukkan bahwa sunah Nabi saw adalah dasar hukum yang wajib ditaati. Taat kepada Rasulullah saw sama dengan taat kepada Allah SWT dan sebaliknya inkar kepada Nabi saw sama artinya dengan inkar kepada perintah Allah SWT:

مَّن يُطِعِ ٱلرَّسُولَ فَقَدۡ أَطَاعَ ٱللَّهَۖ وَمَن تَوَلَّىٰ فَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ عَلَيۡهِمۡ حَفِيظٗا

Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. (QS an Nisa: 80)

Tidak hanya itu, dalam al Quran juga terdapat ancaman yang mengerikan bagi orang yang mengingkari perintah Nabi saw.

فَلۡيَحۡذَرِ ٱلَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنۡ أَمۡرِهِۦٓ أَن تُصِيبَهُمۡ فِتۡنَةٌ أَوۡ يُصِيبَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (QS an Nur: 63)

Rasulullah saw pun bersabda:

مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

Siapa yang taat kepadaku ia akan masuk ke dalam surga dan siapa yang bermaksiat kepadaku sungguh ia telah menolak (masuk ke dalam surga). (HR Bukhari)

Ayat-ayat di atas telah demikian jelas menyatakan bahwa perintah dan perilaku Nabi saw wajib diikuti lalu bagaimana kita dapat mengetahui perintah dan perilaku Nabi saw jika bukan dari sunah? Jika mereka konsisten mengakui kebenaran al Quran seharusnya mereka menjadi orang pertama yang menjunjung sunah bukan malah menjadi golongan terdepan yang mengingkari sunah.

Sunah adalah tafsir al Quran

Tidak ada yang meragukan bahwa al Quran mencakup segala macam pokok ilmu. Tidak ada satu pun ilmu yang terlewatkan dalam al Quran.

مَّا فَرَّطۡنَا فِي ٱلۡكِتَٰبِ مِن شَيۡءٖۚ

Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab. (QS al An`am: 38)

Akan tetapi hanya Rasul saw yang mengetahui secara menyeluruh mengenai isi kandungan al Quran sebab Rasulullah saw tidak hanya diberikan al Quran namun juga wahyu mengenai tafsirnya. Rasulullah saw bersabda:

أَلَا إِنِّي أُوتِيتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ

Sungguh aku diberikan al Kitab (al Quran) dan yang semisal al Kitab (al Hadits)bersamanya. (HR Abu Dawud)

Pernah seorang berkata kepada Imam al Muthorif bin Ahmad, “Jangan engkau ucapkan pada kami kecuali al Quran saja.” Maka beliau berkata, “Demi Allah kami tidak mencari pengganti al Quran, namun kami menghendaki orang yang lebih mengetahui dari kami mengenai al Quran.” Maksudnya adalah Sayidina Muhammad saw.

Seandainya Nabi saw tidak menjelaskan dan menafsiri al Quran niscaya kita tidak akan memahami al Quran sesuai dengan makna yang dikehendaki oleh Allah SWT.  Imam Syafii  ra mengatakan, “Sesungguhnya semua kewajiban yang diwajibkan Allah dalam kitab-Nya seperti haji, shalat dan zakat jika bukan karena penjelasan Rasulullah saw mengenainya pastinya kita tidak mengetahui bagaimana tata-cara melakukannya. Dan pastinya kita tidak mungkin dapat melaksanakan satu pun daripada ibadah.”

Sungguh benar ungkapan Imam Syafii tersebut. Perhatikanlah firman Allah SWT:

وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُواْ ٱلزَّكَوٰةَ

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat. (Qs al Baqarah: 43)

Bagaimanakah kita dapat menunaikan shalat dengan benar? Al Quran tidak menjelaskannya namun Rasulullah saw yang menjelaskan melalui perbuatan dan sabda Beliau saw. Beliau saw yang mengajarkan bagaimana tata cara shalat, rukuk, sujud, i`tidal, tasyahud, khusyuk, rukun-rukun dan adabnya. Beliau saw juga menjelaskan mana saja shalat yang wajib dan apa shalat yang sunah. Kemudian setelah itu Nabi saw bersabda:

 وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat. (HR Bukhari)

Bagaimana pula cara kita menunaikan zakat? Apa saja yang wajib dizakati dan berapa ukuran zakat yang harus dikeluarkan? Kapan kita wajib mengeluarkan zakat? Jawaban dari semua pertanyaan ini tidak mungkin terjawab jika hanya berpegang pada al Quran. Sebab semua penjelasannya hanya terdapat dalam sunah Nabi saw.

Di dalam al Quran juga disebutkan:

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. (QS al Baqarah: 275)

Bagaimana cara jual-beli yang benar dan apa saja macamnya? Kapan jual beli dinyatakan sah, makruh atau tidak sah? Ada berapa jenis khiyar (pilihan membatalkan jual beli)? Lalu apakah itu riba? Ada berapa jenisnya? Dalam apa saja terdapat riba? Jawaban semua pertanyaan ini tidak terdapat di dalam al Quran tapi ada di dalam hadits-hadits Nabi saw.

Begitulah semua jenis ibadah dan muamalah yang disebutkan di dalam al Quran seperti puasa, haji, jihad dan lainnya. Semua itu tidak mungkin difahami kecuali melalui penjelasan Nabi saw. Bayangkan kerusakan macam apa yang akan meliputi kita jika kita meninggalkan sunah dan penjelasan Nabi saw. Semua orang akan bebas menafsiri al Quran sekehendak hati dan hawa nafsunya, jika demikian maka itu akan menjadi awal dari kehancuran Islam. (Bersambung)

 

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.