Headline »

August 18, 2017 – 9:16 am | Edit Post

Share this on WhatsAppPesan Kemerdekaan yang disampaikan oleh Al – Habib Taufiq bin Abdul Qodir Assegaf dalam upacara hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-72 di lingkungan Pondok Pesantren Sunniyah Salafiyah – Pasuruan
Kamis, 17 Agustus 2017 …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Featured, Headline, Rudud

MENYIKAPI AYAT MUTASYABIHAT DENGAN TAFWIDH DAN TAKWIL

Submitted by on February 6, 2017 – 2:29 am

nash
Oleh: Dzorif bin Yahya

Masalah sifat Allah SWT merupakan masalah pelik dalam ranah Akidah. Aliran-aliran bidah seperti Mujasimah/musyabihah (yang menyamakan Allah dengan makhluk), muathilah (yang meniadakan sifat bagi Allah), Mu`tazilah dan lainnya timbul karena perbedaan dalam menyikapi nash mutasyabihat mengenai sifat Allah. Padahal Allah telah menegaskan bahwa hanya Allah saja yang mengetahui makna ayat mutasyabihat :

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ} [آل عمران: 7[

Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (QS Ali Imran: 7)

Para ulama salaf memfokuskan pemahamannya pada ayat-ayat muhkamat (yang jelas maknanya) yang merupakan pokok-pokok ajaran Islam. Ketika melewati ayat mutasyabihah (yang samar maknanya) mereka hanya membaca, mempercayai dan tidak mentafsirinya sebab hanya Allah saja yang tahu makna sesungguhnya. Imam Malik ketika ditanya mengenai berbagai nash mutasyabihat mengatakan, “Jalankan (bacalah) sebagaimana datangnya tanpa penafsiran.” Sedangkan aliran bidah justru menjadikan nash mutasyabihat sebagai dalil utama untuk mensifati Allah dan mengabaikan ayat-ayat muhkamat.

Dalam ayat muhkamat, Allah SWT berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ [الشورى: 11[

”Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS Asyura: 11)

Berdasarkan ayat ini dan dalil-dalil qath`i (pasti) lain para ulama ahlu sunah menyepakati bahwa Allah berbeda dengan makhluk. Makhluk adalah jisim (rangkaian tubuh) yang dibatasi ruang, waktu, arah dan tempat sedangkan Allah Maha Suci dari semua itu. Bukankah Allah yang menciptakan ruang, waktu, arah dan tempat? Maka bagaimana mungkin Allah dibatasi oleh makhluk yang diciptakan-Nya?

Al Baghdadi dalam Farq Bainal Firaq  berkata :

 “Ulama telah bersepakat bahwa Allah tidak diliputi oleh tempat dan zaman.”

Kesepakatan ini juga dinukilkan oleh Imam Mula Ali Qari dalam Mirqatul Mafatih.

Nash mutasyabihah

Al-Quran turun dalam bahasa Arab yang fasih. Kata-kata Bahasa Arab sebagaimana kata dalam bahasa lain memiliki makna asli dan makna kiasan. Sebagai contoh kata asad dalam bahasa arab makna aslinya adalah singa. Namun kita juga bisa menggunakan kata tersebut sebagai kiasan bagi lelaki pemberani. Begitupula kata yad makna aslinya adalah salah satu anggota tubuh, namun kata yad juga bisa digunakan sebagai kiasan bagi kekuatan atau kekuasaan. Penggunaan kata asad atau yad dengan makna aslinya dinamakan penggunaan makna dzahir atau makna hakiki sedangkan penggunaan kata asad atau yad dengan makna kiasan dinamakan dengan penggunaan makna majas.

Di dalam al-Quran dan Hadits banyak disebut nash-nash yang jika diartikan secara dzahir/hakiki seolah menggambarkan Allah sebagai jisim, bertempat di atas Arsy, turun ke bumi, tertawa, lupa, memiliki tangan, wajah dan lainnya. Ayat dan hadits tersebut di kalangan ulama disebut sebagai ayat atau hadits mutasyabih atau ayat sifat yang jika difahami secara luarnya saja akan menjerumuskan kepada tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk).

Dalam memahami ayat dan hadits yang demikian, mereka yang tersesat menolak untuk mentakwil (memalingkan kepada makna majas) dan memilih untuk menetapkan makna hakikinya. Sehingga mereka mengatakan bahwa Allah benar-benar berada di arah atas, Allah benar-benar memiliki tangan, wajah, betis dalam arti sebenarnya dan seterusnya. Pemahaman ini sangat keliru dan sesat. Sebab seluruh ulama berdasarkan dalil-dalil yang pasti telah sepakat bahwa Allah tidak dibatasi oleh tempat dan arah serta bukanlah jisim (rangkaian tubuh).

Imam besar Ahlu Sunah, At-Thahawi dalam akidahnya mengatakan :

”Allah maha suci dari segala batasan,  ujung, rukun, anggota-tubuh, atau alat. Dan Allah tidak dibatasi oleh arah yang enam sebagaimana hal-hal baru (makhuk) .”

Para ulama ahlu sunah menyepakati bahwa makna dzahir/hakiki dari ayat dan hadits tersebut bukanlah makna yang di maksud. Jadi yang dimaksud adalah makna lain (majas). Mengenai makna tersebut, mayoritas ulama salaf memilih untuk diam dan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah SWT, inilah yang dinamakan ahli tafwidh. Sedangkan mayoritas ulama khalaf (ulama yang datang belakangan) memilih untuk menyebut dengan jelas berdasarkan kaidah bahasa arab yang disepakati, inilah yang dinamakan ahli takwil.

Sebagai permisalan ayat :

{كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ}

Artinya secara bahasa adalah : Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali wajh (wajah) Allah. (QS al Qashash: 88)

Kaum sesat musyabihah/mujasimah (yang menyamakan Allah dengan makhluk) memahami ayat ini dengan makna hakikinya. Jadi menurut mereka Allah memiliki wajah dan mengenai bagaimana wajah-Nya hanya Allah saja yang mengetahui. Pernyataan ini sesat sebab makna hakiki dari wajah adalah nama salah satu anggota tubuh. Menetapkan makna hakiki ayat ini sama dengan menetapkan anggota tubuh kepada Allah SWT padahal telah disepakati bahwa Allah Maha Suci dari itu semua.

Ulama ahlu sunah terbagi menjadi dua golongan dalam menyikapi ayat ini, ahli tafwidh dan ahli takwil. Ahli tafwidh menyatakan makna wajah yang dimaksud dalam ayat bukan makna hakikinya karena dapat mengarah pada tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk). Yang dimaksud adalah makna majasnya, namun hanya Allah saja yang Maha Mengetahui apa makna yang dimaksud. Sedangkan ahli takwil menyatakan bahwa wajah di dalam ayat ini tidak diartikan dengan makna hakikinya namun dengan makna majas yaitu kerajaan misalnya. Kedua kelompok ini, yaitu ahli tafwidh dan ahli takwil, adalah kelompok ahlu sunah yang benar.

Imam Zarkarsyi dalam kitabnya Al Burhan fi Ulumil Quran menyatakan,

“Ulama berselisih mengenai mutasyabihat yang berada dalam ayat dan hadits ke dalam tiga golongan,

  1. Tidak ada jalan untuk takwil (memalingkan kepada makna majas), ayat itu harus difahami secara dzohir (hakiki) dan tidak ditakwil sedikit pun. Merekalah golongan musyabihah (yang menyerupakan Allah dengan makhluk)
  2. Ayat ini memiliki takwil (arti majas), namun kami tidak menakwili (tidak menentukan artinya) dan kami mensucikan Allah dari keserupaan. Kami mengatakan, “Tidak ada yang mengetahui maknanya kecuali Allah.” Ini perkataan salaf
  3. Ayat itu ditakwil kemudian mereka mentakwilnya dengan apa yang layak untuk Allah.

Pendapat pertama adalah keliru. Sedangkan pendapat kedua dan ketiga telah dinukilkan dari para sahabat.”

Imam Nawawi dalam Syarah Muslim menyatakan hal yang sama dengan menambahkan bahwa sebagian ulama salaf terkadang juga melakukan takwil seperti yang diriwayatkan dari Imam Malik dan al Auzai.

Tafwidh dan takwil

Pada hakikatnya Tafwidh dan Takwil itu sama dalam hal menyingkirkan makna hakiki dari nash mutasyabihat. Namun keduanya berbeda dalam menentukan makna majas yang dimaksud. Ahli tafwidh menyerahkan makna tersebut kepada Allah sedangkan ahli takwil justru menyebutkan makna majas yang dimaksud sesuai dengan kaidah bahasa arab yang disepakati.

Imam Mula Ali Qori dalam jamul wasail mengatakan. “Pada hakikatnya tiada perbedaan di antara ahli tafwidh dan takwil. Mereka sepakat untuk mentakwil (memalingkan makna hakiki kepada makna majas). Namun para salaf (ahli tafwidh) memilih tidak menentukan makna yang dimaksud karena mereka tidak terdesak untuk itu. Aliran bidah dan pengikut hawa nafsu sedikit jumlahnya pada masa mereka. Sedangkan khalaf (ahli takwil) memilih untuk menentukan maknanya sebab banyaknya penasfsiran aliran bidah dan hawa nafsu di masa mereka yang tidak merasa puas dengan hanya pernyataan tanzih (pernyataan bahwa Allah Maha Suci dari sifat makhluk).”

Pernyataan serupa disebutkan oleh Imam Badrudin Ibnu Jamaah dalam Idhahul Ushul dan Imam Izuddin bin Abdus Salam dalam Syarah Misykat.

Meskipun takwil dan tafwidh adalah sama benarnya namun yang paling selamat adalah menetapi jalan para salaf yakni tafwidh. Para ahli takwil sendiri lebih mengunggulkan jalan para salaf dan menganggapnya paling benar. Mereka mengatakan jika bukan karena keharusan untuk menampakkan hujah bagi ahli bidah di masanya tentunya yang lebih selamat adalah tafwidh.

Yad adalah sifat

Sebagian kaum salaf terkadang menyebut nash mutasyabihat sebagai sifat. Misalnya Imam Abu Hanifah di dalam Fiqhul Akbar dan Imam al Asyari di dalam Ibanah. Di sana disebutkan bahwa yad (arti bahasanya: tangan) adalah sifat Allah, wajh (arti bahasanya: wajah) adalah sifat Allah dan seterusnya. Perlu digaris bawahi bahwa yad dan wajh makna hakikinya adalah nama anggota tubuh bukan sifat. Jadi dengan menyebut yad atau wajh sebagai sifat sebenarnya mereka ingin menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan yad dan wajh tersebut bukanlah makna hakikinya, melainkan makna lain yang menjadi sifat Allah dan layak dengan keagungan-Nya. Ini tak lain adalah bentuk tafwidh itu sendiri.

Takwil para salaf

Sebagian ahli bidah yang condong kepada tasybih seperti Ibnu Taimiyah dan kaum Wahabiyah mengingkari adanya takwil dalam artian penggunaan makna majas tertentu dan menyatakan bahwa itu bukan ajaran salaf. Pernyataan mereka jelas keliru. Memang pada umumnya para salaf memilih tafwidh namun sebagian salaf telah dipastikan melakukan takwil atas beberapa nash mutasyabihat. Al Alusi bahkan menyebutkan bahwa terdapat sebagian ayat yang disepakati untuk ditakwil oleh para ulama salaf dan khalaf. Untuk membuktikan kekeliruan mereka, berikut kami paparkan sebagian takwil yang dilakukan oleh para salaf:

Takwil Ibnu Abbas ra.

Sahabat Ibnu Abbas mentakwili ayat :

يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ} [القلم: 42[

Pada hari betis disingkapkan (QS al Qalam: 42)

Beliau ra mentakwil betis dengan kerasnya hari kiamat (syidah). Imam Ibnu Hajar al Atsqalani dalam Fathul Bari menukilkan takwil ini dengan sanad yang shahih. Athabari bahkan menisbatkan pula takwil ini kepada sekelompok sahabat dan tabi`in. Ini menunjukkan bahwa takwil sudah digunakan sejak masa sahabat.

Ibnu Abbas juga mentakwil ayat:

{وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ [الذاريات: 47]

Dan langit itu Kami bangun dengan aidin (tangan-tangan kami) (QS Adzariyat: 47)

Ibnu Abas sebagaimana diriwayatkan oleh Athabari mentakwil kata aidin (tangan-tangan) dalam ayat ini dengan kekuatan. Takwil ini juga dinukilkan dari sekelompok imam salaf seperti Mujahid, Qotadah, Mansur, Ibn Zaid, dan Sufyan.

Sahabat Ibnu Abbas juga mentakwil ayat:

فَالْيَوْمَ نَنْسَاهُمْ كَمَا نَسُوا لِقَاءَ يَوْمِهِمْ هَذَا } [الأعراف: 51]

 “Maka pada hari (kiamat) ini, kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini,…” (QS al Araf: 51)

Athabari dalam tafsirnya menyebutkan bahwa Ibnu Abbas ra mentakwil kata nisyan (lupa) di sini dengan Membiarkan dalam adzab. Diriwayatkan pula tafsir serupa dengan sanad-sanadnya dari Mujahid dan lainnya.

Takwil Imam Ahmad

Imam Ahmad bin Hanbal mentakwili ayat :

{ وَجَاءَ رَبُّكَ } ]

Dan datanglah Tuhanmu. (QS al Fajr: 22)

Maksudnya adalah datang pahala-Nya. Al Baihaqi menyebutkan bahwa sanad periwayatannya bersih.  Beliau mentakwil demikian karena Allah bukanlah jisim yang bisa disifati dengan datang atau pergi.

Takwil Imam Sufyan Atsauri

Adzahabi dalam Siyar al A`lam an Nubala menyebutkan bahwa ketika Imam Sufyan Atsauri ditanya mengenai ayat :

{ وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ]

Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. (QS al Hadid: 4)

Beliau berkata maksudnya adalah ilmu-nya.

Takwil Aturmudzi

Ketika menjelaskan hadits

وَإِنْ أَتَانِيْ يَمْشِيْ أَتَيْتُهُ هَرْوَلَة

Jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka aku akan mendatanginya dengan berlari. (HR Turmudzi)

Beliau ra mengatakan bahwa maknanya sebagaimana perkataan sebagian ulama adalah: “Jika hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan ketaatan dan apa yang aku perintahkan maka ia akan segera mendapatkan ampunan-Ku dan rahmat-Ku.

Ini hanya sebagian contoh kecil dari takwil para salaf. Semua ini menunjukkan bahwa takwil telah digunakan oleh para ulama salaf meskipun memang mayoritas mereka lebih memilih tafwidh.

 

 

Tags:

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.