Headline »

December 13, 2017 – 2:00 am | Edit Post

Share this on WhatsApp
Di antara umat beliau SAW, ada yang susah-payah mendatangi telaga dalam keadaan kehausan, namun ketika mendekat, ia dihalau dari telaga dan tidak diizinkan untuk meminum setetes pun darinya. Merekalah orang-orang yang merugi.
Imam …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Headline, Rudud

JANGAN ALERGI PADA HADITS DHOIF !

Submitted by on February 6, 2017 – 1:17 am

hadits
Oleh: Dzorif bin Yahya

Akhir-akhir ini muncul golongan yang alergi dengan Hadits Dhaif. Mereka menganggap semua Hadits Dhaif (lemah) sama hukumnya dengan Maudhu (palsu), padahal keduanya berbeda jauh. Menyamakan hukum antara hadits yang tidak Shahih (Dhaif) dan Maudhu adalah tindakan keliru yang muncul dari ketidak-fahaman tentang ilmu hadits. Az Zarkasyi dalam kitab Nuqot Ibnu Shalah mengatakan: “Ada perbedaan yang besar antara ucapan kami ‘Maudhu’ dan ‘Tidak Shahih.’ Yang pertama menunjukan adanya dusta dan kepalsuan suatu hadits, sedangkan yang kedua hanya menunjukkan bahwa hadits itu tidak kokoh.”

Definisi Hadits Dhaif

Dalam kitab musthalah hadits yang legendaris ‘Al Baiquniyah’ disebutkan tentang definisi Hadits Dhaif:

وَكُلُّ مَا عَنْ رُتْبَةِ الْحَسَنْ قَصُرْ*** فَهْوُ الضَّعِيْفُ وَهْوَ أَقْسَامٌ كَثُرْ

Setiap hadits yang derajatnya di bawah Hasan maka itu adalah Dhaif yang memiliki banyak ragam.

Hadits memiliki tiga tingkatan. Yang tertinggi adalah Hadits Shahih, kemudian Hasan, kemudian Dhaif. Hadits Shahih dan Hasan memiliki kekuatan yang hampir sama dalam hal dapat dijadikan landasan hukum syariat dan akidah. Sedangkan Hadits Dhaif secara umum tidak bisa dijadikan landasan hukum dikarenakan kelemahan yang ada di dalamnya.

Penyebab dhaifnya suatu hadits beragam. Di antaranya adalah terputusnya sanad, perawi yang tidak dikenal, syudzuz (bertentangan dengan hadits yang lebih shahih) atau lainnya. Karena itu, Hadits Dhaif memiliki banyak jenis. Sebagian ulama ada yang menyebutkan lebih dari empat-puluh jenis Hadits Dhaif.

Derajat kelemahan Hadits Dhaif pun berbeda-beda. Secara umum derajat Hadits Dhaif dibagi menjadi empat:

  1. Hadits yang kedhaifannya ringan sehingga dapat diperkuat dengan syahid atau hadits lain dari riwayat berbeda. Perawi hadits semacam ini umumnya dijuluki ‘Layinul Hadits’ (Yang lentur haditsnya). Haditsnya dinamakan juga Hadits Musyabah dan derajatnya mendekati Hadits Hasan.
  2. Hadits yang kedhaifanya standar. Perawi hadits semacam ini umumnya dijuluki ‘Dhaiful Hadits’ (Yang dhaif haditsya) atau ‘Mardudul Hadits’ (yang tertolak haditsnya).
  3. Hadits yang kedhaifannya berat (Syadidud Du`fi). Ini umumnya karena sebagian perawinya dicurigai pendusta atau fasik.
  4. Maudhu’ (palsu) yaitu ucapan yang bukan sabda Nabi SAW namun diklaim sebagai Hadits oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Hadits yang kelemahannya tidak terlalu berat tidak boleh langsung disingkirkan. Peneliti hadits hendaknya meneliti terlebih dahulu apakah ada hadits lain yang dapat menunjangnya sehingga ia bisa naik tingkatannya menjadi hadits Hasan lighairih dan dapat dijadikan hujjah dalam hukum syariat. Imam Nawawi dalam ‘Taqrib’ menyatakan, “Jika engkau melihat hadits dengan sanad (jalur periwayat) yang dhaif maka engkau boleh katakan bahwa hadits itu lemah jika memakai sanad itu. Engkau tidak boleh mengatakan bahwa matan (isi) hadits itu dhaif. Jangan pula engkau katakan hadits ini adalah Hadits Dhaif secara mutlak. Bisa jadi hadits tadi memiliki sanad lain yang shahih. Terkadang kedhaifan hadits menjadi hilang karena sesuai dengan qiyas seorang mujtahid, atau ucapan para sahabat atau tabiin, atau pemahaman dari nash syariat.”

Ada pun hadits yang berat kedhaifannya maka tidak bisa diperkuat. Hadits ini tidak bisa diamalkan sama sekali dalam apa pun dan dinamakan hadits Matruk atau Mathruh. Namun apabila ada jalur-jalur hadits lain yang sejalan dengannya maka hadits ini tidak boleh dikatakan sebagai hadits Maudhu atau hadits la ashla lahu (tidak ada dasarnya).

Sedangkan Hadits Maudhu (palsu) sebenarnya tidak pantas disebut sebagai hadits sebab hakikatnya bukan sabda Nabi SAW. Ia dinamakan hadits hanya dari segi majaz atau agar lebih mudah dikenal. Para ulama memperingatkan dan melarang keras menyebarkan Hadits Maudhu dan hadits yang sangat lemah tanpa menjelaskan derajat haditsnya. Diantara Hadits Maudhu yang terkenal adalah Hadits Tsa`labah, kisah Thariq bin Ziyad yang membakar perahu, kisah perbincangan antara Nabi SAW dan Iblis, atau hadits lain yang telah dijelaskan oleh para ulama.

Mengamalkan Hadits Dhaif

Mayoritas ulama salaf dan khalaf menyepakati bahwa Hadits Dhaif yang kedhaifannya tidak berat dan tidak pula termasuk hadits maudhu boleh diamalkan dalam masalah keutamaan suatu amal, anjuran, ancaman, kisah-kisah, kebaikan akhlak, sejarah dan lainnya. Tetapi hadits ini Tidak boleh dijadikan sandaran dalam masalah hukum syariat, akidah atau tafsir (dalam pandangan sebagian ulama).

Ada beberapa syarat untuk mengamalkan Hadits Dhaif. Al Hafidz Ibnu Hajar sebagaimana dinukilkan oleh as Sakhawi dalam ‘al Qoul al Badi` menyebutkan tiga syarat utamanya yaitu:

  1. Hendaknya kedhaifannya tidak berat. Ini syarat yang disepakati. Jadi tidak boleh mengamalkan hadits yang diriwayatkan oleh para pendusta atau yang dicurigai berdusta atau yang kesalahannya sangat berat.
  2. Hendaknya hadits itu bisa dimasukan ke dalam dasar hukum yang sudah tetap dalam syariat. Misalnya hadits mengenai fadhilah puasa Bulan Rajab. Haditsnya memang dhaif namun puasa Bulan Rajab adalah cabang dari pada puasa sunah yang secara umum memang disyariatkan.
  3. Hendaknya yang mengamalkan tidak meyakini secara pasti bahwa hadits itu dikatakan Rasulullah SAW. Sebab Hadits Dhaif diamalkan hanya sebagai bentuk kehati-hatian. Bisa jadi Nabi SAW memang mengucapkannya atau bisa jadi tidak. Dikhawatirkan jika kita meyakini demikian, kita terjerumus pada menyandarkan kepada Nabi SAW apa yang tidak Beliau SAW sabdakan.

Kebolehan mengamalkan Hadits Dhaif pada selain hukum syariat atau akidah merupakan pendapat jumhur ulama salaf dan khalaf seperti Imam Ahmad, Ibnu Mahdi, an Nawawi, al Hafidz Ibnu Hajar, as Syuyuthi, dan ulama-ulama lain yang tidak mungkin disebut semuanya. Imam Ibnu Hajar al Haitami berkata  dalam ‘Fathul Mubin’ hal 32:

قَدِ اتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى جَوَازِ الْعَمَلِ بِالْحَدِيْثِ الضَّعِيْفِ فِي فَضَائِلِ الْأَعْمَالِ

Ulama telah menyepakati bolehnya mengamalkan Hadits Dhaif dalam masalah fadhoilul `Amal (Pembahasan keutamaan suatu amal).

Perkataan ulama tentang beramal dengan Hadits Hhaif

Agar lebih jelas, kami akan membawakan sebagian ucapan ulama mengenai kebolehan beramal dengan Hadits Dhaif dalam selain hukum Syariat. Pemimpin para salaf, Imam Ahmad ra mengatakan:

“إذَا رَوَيْنَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْحَلالِ وَالْحَرَامِ شَدَّدْنَا فِي الأَسَانِيدِ. وَإِذَا رَوَيْنَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي فَضَائِلِ الأَعْمَالِ، وَمَا لا يَضَعُ حُكْمًا وَلا يَرْفَعُهُ تَسَاهَلْنَا فِي الأَسَانِيدِ

Jika kami meriwayatkan dari Nabi SAW mengenai halal dan haram (hukum syariat) maka kami perketat sanad periwayatannya. Namun jika kami meriwayatkan dari Nabi SAW mengenai keutamaan-keutamaan amalan selama tidak untuk menetapkan atau menghapus hukum, kami melonggarkan dalam masalah sanadnya. (Al Kifayah hal 134)

Ucapan ini juga dinukilkan dari Imam Ibnu Mahdi, Ibnu Mubarok, Ibnu Mu`in, Sufyan ats Tsauri, Sufyan bin Uyainah dan ulama salaf lainnya.

Terkadang ulama salaf menjadikan Hadits Dhaif yang tidak terlalu lemah sebagai dalil hukum syariat jika isinya adalah bentuk kehati-hatian. Sebagaimana Imam Ahmad bin Hanbal ra tidak menghukumi batalnya wudhu karena bersentuhan kulit antara pria dan wanita dewasa dengan dalil hadits Sayidah Aisyah ra yang mengatakan Rasul SAW menyentuhnya lalu meneruskan shalat tanpa berwudhu. Hadits ini dhaif, namun Imam Ahmad memakainya sebagai ketentuan hukum sebagai bentuk kehati-hatian. Begitu pula Imam Syafii yang menyatakan kebolehan Shalat di Mekah pada waktu yang terlarang untuk shalat, padahal Beliau mengetahui bahwa dalilnya adalah Hadits Dhaif. Namun beliau ra menetapkannya sebagai bentuk kehati-hatian. Ini karena dalam pandangan ulama salaf seperti Imam Ahmad bin Hanbal, Hadits Dhaif masih lebih baik dibandingkan dengan pemikiran seseorang.

Mengenai kebolehan beramal dengan Hadits Dhaif, Imam Nawawi ra juga mengutarkan pendapatnya dalam kitab ‘Al Adzkar’:

قَالَ الْعُلَمَاءُ مِنَ الْمُحَدِّثِيْنَ وَالْفُقَهَاءِ وَغَيْرِهِمْ ،يَجُوْزُ وَيُسْتَحَبُّ الْعَمَلُ فِي الْفَضَائِلِ، وَالتَّرْغِيْبِ ، بِالْحَدِيْثِ الضَّعِيْفِ مَا لَمْ يَكُنْ مَوْضُوْعاً،

Para ulama baik ahli hadits, ahli fiqih atau lainnya menyatakan kebolehan dan anjuran mengamalkan Hadits Dhaif dalam masalah fadhail (pembahasan keutamaan suatu amalan), anjuran dan peringatan selama tidak sampai derajat Maudhu.

Imam as Sakhawi menukilkan ucapan Imam Ibnu Abdil Bar :

أَحَادِيْثُ الْفَضَائِلِ لَا يَحْتَاجُ فِيْهَا إِلَى مَنْ يُحْتَجُّ بِهِ

Hadits-hadits tentang fadhail tidak membutuhkan perawi yang bisa dijadikan hujjah.

Syaikh Ali al Halabi dalam ‘Insanul Uyun’ mengatakan:

لَا يَخْفَي أَنَّ السِّيَرَ تَجْمَعُ الصَّحِيْحَ وَالضَّعِيْفَ دُوْنَ الْمَوْضُوْعِ

Bukan rahasia lagi bahwa sejarah itu mengumpulkan hadits yang shahih dan dhaif bukan yang maudhu.

Ibnu Qudamah dalam al Mugni mengatakan:

اَلنَّوَافِلُ وَالْفَضَائِلُ لَا يُشْتَرَطُ صِحَّةُ الْحَدِيْثِ لَهَا

Mengenai anjuran-anjuran dan fadhail tidak dibutuhkan keshahihan hadits di dalamnya.

Ibnu Muflih al Hanbali dalam Adab Syariyah mengatakan:

وَالَّذِيْ قَطَعَ بِهِ غَيْرُ وَاحِدٍ مِمَّنْ صَنَّفَ فِي عُلُومِ الْحَدِيْثِ حِكَايَةً عَنِ الْعُلَمَاءِ أَنَّهُ يُعْمَلُ بِالْحَدِيْثِ الضَّعِيْفِ فِي مَا لَيْسَ فِيْهِ تَحْلِيْلٌ وَلَا تَحْرِيْمٌ كَالْفَضَائِلِ، وَعِنْ الإْمَامِ أَحْمَدَ مَا يُوَافِقُ هَذَا

Yang telah dipastikan oleh lebih dari satu orang yang menulis dalam ilmu-ilmu hadits dari para ulama bahwasanya Hadits Dhaif boleh diamalkan di dalam urusan yang bukan masalah halal dan haram seperti fadhail. Dinukilkan pula dari Imam Ahmad apa yang sesuai dengan ketetapan ini.

Al Hafidz Ibnu Hajar al Atsqalani menyataan dalam ‘Tabyinul Ujb’ hal 23:

اِشْتَهَرَ أَنَّ أَهْلُ الْعِلْمِ يَتَسَامَحُوْنَ فِي إِيْرَادِ الْأَحَادِيْثِ فِي الْفَضَائِلِ وَإِنْ كَانَ فِيْهَا ضُعْفٌ، مَا لَمْ تَكُنْ مَوْضُوْعَةً

Sudah  terkenal di kalangan orang berilmu bahwa mereka melonggarkan dalam mendatangkan hadits-hadits masalah fadhail meski pun di dalamnya ada kelemahan selama bukan maudhu.

Meriwayatkan Hadits Dhaif tanpa menjelaskan kedhaifan

Banyak ulama yang menuliskan hadits-Hadits Dhaif dalam kitab-kitab mereka. Seperti Imam Nawawi dalam al Adzkar dan Riyadus Shalihin (meski hanya sedikit), Imam Ghazali dalam Ihya Ulumudin, begitupula Adz Dzahabi dalam al Kabair, bahkan dalam kitab ini beliau membawakan beberapa hadits yang sangat dhaif  walau tidak sampai maudhu.

Hadits Dhaif yang tidak berat kedhaifannya dan tidak pula termasuk Maudhu boleh diriwayatkan dan diamalkan tanpa menjelaskan kedhaifannya. Berbeda dengan hadits maudhu yang harus dijelaskan derajatnya. Al Hafidz al Iraqi mengatakan dalam syarah Alfiyahnya:

تَقَدَّمَ أَنَّهُ لَا يَجُوْزُ ذِكْرُ الْمَوْضُوعِ إِلَّا مَعَ الْبَيَانِ، فِي أَيِّ نَوْعٍ كَانَ ،وَأَمَّا غَيْرُ الْمَوْضُوْعِ، فَجَوَّزُوا التَّسَاهُلَ فِي إِسْنَادِهِ وَرِوَايَتِهِ مِنْ غَيْرِ بَيَانٍ لِضُعْفِهِ ،إِذَا كَانَ فِي غَيْرِ الْأَحْكَامِ وَالْعَقَائِدِ بَلْ فِي التَّرْغِيْبِ وَالتَّرْهِيْبِ مِنَ الْمَوَاعِظِ، وَالْقِصَصِ ، وَفَضَائِلِ الْأَعْمَالِ وَنَحْوِهَا

Telah ditetapkan bahwasanya tidak boleh menyebutkan Hadits Maudhu kecuali bersama dengan penjelasan mengenai keadaannya. Adapun yang selain maudhu maka mereka memberikan kelonggaran dalam sanad dan meriwayatkannya tanpa menjelaskan kedhaifan jika itu bukan pembahasan masalah hukum dan akidah melainkan masalah targhib atau tarhib daripada nasihat-nasihat, kisah-kisah dan keutamaan amal-amal dan semisalnya.

Senada dengan itu Imam Ibnu Sholah mengatakan dalam muqodimahnya yang terkenal:

يَجُوْزُ عِنْدَ أَهْلِ الْحَدِيْثِ وَغَيْرِهِمِ التَّسَاهُلُ فِي الْأَسَانِيْدِ وَرِوَايَةِ مَا سِوَى الْمَوْضُوْعِ مِنْ أَنْوَاعِ الْأَحَادِيْثِ الضَّعِيْفَةِ مِنْ غَيْرِ اهْتِمَامٍ بِبَيَانِ ضُعْفِهَا فِيْمَا سِوَى صِفَاتِ اللهِ تَعَالَى وَأَحْكَامِ الشَّرِيْعَةِ مِنَ الْحَلَالِ وَالْحَرَامِ وَغَيْرِهِمَا . وَذَلِكَ كَالْمَوَاعِظِ وَالْقِصَصِ وَفَضَائِلِ الْأَعْمَالِ وَسَائِرِ فُنُونِ التَّرْغِيْبِ وَالتَّرْهِيْبِ وَسَائِرِ مَا لَا تَعَلُّقَ لَهُ بِالْأَحْكَامِ وَالْعَقَائِدِ 

Boleh menurut ahli hadits dan selain mereka untuk melonggarkan dalam sanad dan dalam meriwayatkan hadits-hadits Dhaif yang selain maudhu tanpa perlu menjelaskan kelemahannya dalam selain pembahasan sifat-sifat Allah Taa`la dan hukum-hukum syariat. Yang boleh itu seperti dalam nasihat, kisah-kisah, fadhail amal, semua jenis anjuran dan peringatan, serta semua masalah yang tidak ada hubungannya dengan hukum dan akidah.

Dari penjelasan sederhana ini menjadi jelas bahwa Hadits Dhaif tidak boleh dipandang sebelah mata. Anggapan bahwa semua hadits Dhaif tertolak secara mutlak perlu dibenahi, buktinya para ulama salaf dan khalaf meriwayatkan dan mengamalkan hadits-hadits dhaif yang tidak membahas hukum syariat atau akidah selama hadits tersebut tidak maudhu atau sangat lemah. Mereka memberikan perhatiaan besar untuk mengamalkannya sebagai bentuk kecintaan dan kehati-hatian atas sabda Nabi SAW.

 

Tags:

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.