Headline »

June 28, 2017 – 4:38 am | Edit Post

Share this on WhatsApp
Oleh: Ustadz Jakfar al Haddar Pasuruan
Siapakah orang kafir itu ? Dan siapakah yang memberi predikat kafir ?
Syarat untuk menjadi orang Islam adalah mengucapkan dua kalimat syahadat, persaksian tiada tuhan yang pantas disembah …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Kalam Salaf, Rudud

SIAPA KHALIFAH YANG SAH SETELAH NABI?

Submitted by on February 5, 2017 – 11:34 pm One Comment

khalifah

 

Para sahabat Nabi SAW sepakat bahwa mengangkat seorang khalifah (pemimpin) setelah wafatnya Nabi SAW adalah wajib. Bahkan, itu adalah kewajiban terpenting sehingga mereka melakukannya sebelum mengubur Nabi SAW. Pengangkatan seorang imam bisa berdasarkan musyawaroh sebagaimana pengangkatan Sayidina Abu Bakar ra, atau penunjukkan dari khalifah sebelumnya kepada orang yang layak menjadi khalifah sebagaimana pengangkatan Sayidina Umar ra, atau penunjukkan oleh ahlil hil wal aqd sebagaimana pengangkatan Sayidina Utsman, atau selainnya yang disebutkan dalam kitab-kitab fiqih.

Syarat terpenting orang yang ditunjuk sebagai khalifah adalah layak dan mampu melaksanakan tugas. Dalam hal ini tidak disyaratkan menunjuk orang yang paling utama. Buktinya Sayidina Umar ra menunjuk enam orang untuk dipilih menjadi khalifah setelahnya. Di antara mereka ada Sayidina Utsman ra dan Sayidina Ali ra yang adalah orang terbaik di masanya. Seandainya wajib memilih orang terbaik pastinya Sayidina Umar ra akan langsung menunjuk Sayidina Utsman ra untuk menjadi khalifah setelahnya. Imam juga tidak harus maksum, tidak harus keturunan Bani Hasyim dan tidak harus menunjukkan keajaiban sebagaimana yang diklaim oleh kaum Syiah.

Kesepakatan sahabat atas kepemimpinan Abu Bakar

Menurut sekte Syiah, sebelum wafat, Nabi SAW telah menetapkan Sayidina Ali ra menjadi khalifah (pengganti) Beliau SAW. Jadi kekhalifahan Sayidina Abu Bakar tidak sah. Beliau dianggap dzalim karena mencuri hak Sayidina Ali ra.

Pandangan ini tidak benar. Rasulullah SAW tidak pernah menunjuk seorang pun untuk menjadi khalifah setelahnya sebagaimana nanti akan kami jelaskan. Para sahabat telah menyepakati sahnya kepemimpinan Sayidina Abu Bakar ra. Ada pun kisah mengenai Sahabat Saad bin Ubadah ra yang tidak bersedia berbaiat itu tidak benar. Dalam Musnad Ahmad dikatakan, setelah Sayidina Abu Bakar ra memberikan penjelasan mengenai kepemimpinan, Sahabat Saad ra berkata:

صَدَقْتَ نَحْنُ الْوُزَرَاءُ وَأَنْتُمْ الْأُمَرَاءُ

Kau benar, kami (kaum Anshar) adalah penasihat sedangkan kalian (kaum Quraish) adalah pemimpin. (HR Ahmad)

Termasuk yang menceritakan kesepakatan para sahabat adalah Sayidina Ibnu Masud ra. Dalam riwayat al Hakim disebutkan:

عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ : مَا رَأَى الْمُسْلِمُوْنَ حَسَناً فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ ، وَمَا رَآهُ الْمُسْلِمُوْنَ سَيِّئاً فَهُوَ عِنْدَ اللهِ سَيِّءٌ ، وَقَدْ رَأَى الصَّحَابَةُ جَمِيْعاً أَنْ يَسْتَخْلِفُوْا أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ.

Dari Abdullah (bin Masud) ra berkata, “Apa yang dipandang kaum muslim sebagai kebaikan maka itu di sisi Allah adalah kebaikan. Dan apa yang dipandang kaum muslim sebagai keburukan maka itu di sisi Allah adalah keburukan. Sungguh semua sahabat memandang untuk menjadikan Abu Bakar ra sebagai khalifah.” (HR Hakim, beliau mengatakan ini adalah hadits yang shahih isnadnya)

Di dalam al Quran dikatakan:

لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. (QS al Hasyr: 8)

Allah SWT mensifati para sahabat dengan orang yang benar. Kaum yang disebutkan oleh Allah SWT sebagai orang jujur tentu tidak akan berbohong. Artinya ucapan mereka bahwa Sayidina Abu Bakar ra adalah khalifah Rasulullah SAW adalah ucapan yang benar.

Demikianlah pandangan Ahlu Sunah wal Jamaah pada setiap zaman sejak masa sahabat hingga kini. Mereka meyakini bahwa Sayidina Abu Bakar ra adalah yang paling berhak menjadi khalifah menggantikan Rasulullah SAW. Al Baihaqi meriwayatkan dari Zakfaroni bahwa Imam Syafii berkata: “Semua ulama menyepakati sahnya kekhilafahan Abu Bakar. Ketika umat muslim terguncang dengan wafatnya Rasulullah SAW, mereka tidak menemukan di bawah kolong langit seorang yang lebih baik dari Abu Bakar. Maka mereka pun menjadikannya sebagai pemimpin mereka.”

Tidak ada seorang pun sahabat yang mengingkari kepemimpinan Sayidina Abu Bakar ra termasuk Sayidina Ali ra, dan tidak mungkin mereka bersepakat atas kesesatan. Seandainya kekhalifaan Abu Bakar ra tidak benar pastinya Sayidina Ali ra akan menentang sebagaimana beliau menentang kekuasaan Muawiyah ra. Kekuatan Muawiyah ra berkali-kali lipat dibandingkan kekuatan Sayidina Abu Bakar ra, namun Sayidina Ali ra tidak peduli dan tetap menentang Sahabat Muawiyah ra sebab kepemimpinannya dianggap tidak sah. Ketika Sayidina Ali tidak menentang Sayidina Abu Bakar ra ini menunjukkan pengakuan beliau atas kekhalifahan Abu Bakar ra. Diriwayatkan bahwa al Abbas ra pernah menawarkan untuk membaiat Sayidina Ali ra namun beliau menolak. Jika ada nash atas kepemimpinan Sayidina Ali ra pastinya beliau tidak akan menolak, terlebih beliau di dukung kekuatan besar seperti Sahabat Zubair yang pemberani, Banu Hasyim dan lainnya.

Nash tentang khalifah

Mayoritas Ahlu Sunah sepakat bahwa Rasulullah SAW tidak menentukan siapa yang akan menjadi khalifah setelahnya. Rasulullah SAW menyerahkan urusan kekhalifahan untuk dimusyawaratkan para sahabat.  Pendapat ini dikuatkan oleh hadits riwayat al Bazzar bahwa ketika Rasulullah SAW diminta menunjuk pengganti, beliau mengatakan:

إِنِّي إِنِ اسْتَخَلَفْتُ عَلَيْكُمْ فَتَعْصُوْنَ خَلِيْفَتِيْ يَنْزِلْ عَلَيْكُمُ الْعَذَابُ

Sungguh aku, jika aku menunjukan khalifah atas kalian kemudian kalian tidak taat pada khalifahku maka akan turun azab pada kalian. (HR Bazzar)

Sahabat Umar ra, menjelang wafatnya pun diminta untuk menunjukkan pengganti. Namun beliau menjawab:

إِنْ أَسْتَخْلِفْ فَقَدْ اسْتَخْلَفَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّي أَبُو بَكْرٍ وَإِنْ أَتْرُكْ فَقَدْ تَرَكَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Jika aku menunjuk khalifah, sungguh itu telah dilakukan oleh orang yang lebih baik dariku yaitu Abu Bakar. Dan jika aku tidak menunjuk khalifah, sungguh itu pun telah dilakukan oleh orang yang lebih baik dariku yaitu Rasulullah SAW. (HR Bukhari-Muslim)

Ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW tidak menentukan siapa khalifah setelah Beliau SAW.

Ada pun ocehan kaum Syiah yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW berwasiat pada Sayidina Ali ra untuk menjadi khalifah, itu tidak benar. Sayidina Ali ra sendiri membantah pendapat ini dengan berbaiat Sayidina Abu Bakar ra dan membuat pernyataan-pernyataan yang menyatakan ketiadaan nash. Diriwayatkan bahwa setelah perang Jamal, Sayidina Ali ra mengatakan:

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَعْهَدْ إِلَيْنَا عَهْدًا نَأْخُذُ بِهِ فِي الْإِمَارَةِ وَلَكِنَّهُ شَيْءٌ رَأَيْنَاهُ مِنْ قِبَلِ أَنْفُسِنَا ثُمَّ اسْتُخْلِفَ أَبُو بَكْرٍ رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَى أَبِي بَكْرٍ فَأَقَامَ وَاسْتَقَامَ ثُمَّ اسْتُخْلِفَ عُمَرُ رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَى عُمَرَ فَأَقَامَ وَاسْتَقَامَ حَتَّى ضَرَبَ الدِّينُ بِجِرَانِهِ

Sesungguhnya Rasulullah SAW tidak menentukan pada kita satu ketentuan untuk kita pegang mengenai kepemimpinan. Masalah itu diputuskan oleh pemikiran kita sendiri. Kemudian Abu Bakar dijadikan khalifah, semoga Allah merahmati Abu Bakar. Beliau menegakkan kekhalifahan dan lurus di dalamnya. Lalu Umar dijadikan khalifah, semoga Allah merahmati Umar.  Beliau menegakkan kekhalifahan dan lurus di dalamnya sehingga agama menjadi teguh. (HR Ahmad)

Perhatikan bagaimana Sayidina Ali ra menyatakan ketiadaan nash dari Rasulullah SAW atas pemimpin setelahnya. Selain itu beliau juga mengakui kekhalifahan Abu Bakar dan Umar ra dan memuji keduanya. Pada kesempatan lain Sayidina Ali mempertegas pendapatnya:

“دَخَلْنَا عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ اسْتَخْلِفْ عَلَيْنَا، قَالَ: إِنْ يَعْلَمِ اللهُ فِيْكُمْ خَيْراً يُوَلِّ عَلَيْكُمْ خَيْرَكُمْ، فَقَالَ عَلِيُّ رضي الله عنه: فَعَلِمَ اللهُ فِيْنَا خَيْراً، فَوَلىَّ عَلَيْنَا خَيْرَنَا أَبَا بَكْرٍ رضي الله عنه

Kami (Sayidina Ali ra) menemui Rasulullah SAW, lalu kami berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukan penggantimu untuk kami.” Nabi SAW bersabda, “Jika Allah mengetahui ada kebaikan pada kalian maka Allah akan menjadikan orang terbaik kalian menjadi pemimpin.” Sayidina Ali mengatakan, “Allah telah melihat kebaikan pada kami, maka Allah menunjuk orang terbaik, Abu Bakar menjadi pemimpin.” (HR Daruqutni)

Sekali lagi Sayidina Ali menegaskan bahwa tidak ada nash dari Rasulullah SAW tentang khalifah setelahnya. Beliau ra bukan hanya mengakui kekhalifahan Abu Bakar ra namun juga memuji beliau sebagai orang terbaik di kalangan sahabat.

Ketiadaan nash dalam kitab Syiah

Pernyataan kaum Syiah mengenai adanya nash dari Rasulullah SAW yang menunjukkan Sayidina Ali ra sebagai khalifah ternyata tidak didukung oleh referensi yang ada dalam kitab-kitab mereka sendiri. Dalam referensi Syiah banyak pernyataan yang mengisyaratkan ketiadaan nash atas kepemimpinan Sayidina Ali ra. Di antaranya adalah riwayat yang menyatakan bahwa ketika Sayidina Utsman ra terbunuh, para sahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshar datang kepada Sayidina Ali ra untuk dijadikan khalifah. Namun, beliau berkata:

دَعُوْنِيْ وَالْتَمِسُوْا غَيْرِيْ. وَاعْلَمُوْا أَنِّي إِنْ أَجَبْتُكُمْ رَكِبْتُ بِكُمْ مَا أَعْلَمُ وَإِنْ تَرَكْتُمُوْنِيْ فَأَنَا كَأَحَدِكُمْ لَعَلِّيْ أَسْمَعُكُمْ وَأَطْوَعُكُمْ لِمَنْ وَلَّيْتُمُوْهُ أَمْرَكُمْ. وَأَنَا لَكُمْ وَزِيْراً خَيْرٌ لَكُمْ مِنَّيْ أَمْيْراً

Tinggalkan aku dan carilah orang lain.  Jika aku menerima tawaran kalian maka aku akan memperlakukan kalian dengan apa yang aku ketahui. Namun, jika kalian meninggalkanku maka aku akan menjadi salah satu dari kalian. Bisa jadi aku menjadi orang yang paling mendengar dan taat kepada orang yang kalian jadikan pemimpin kalian. Aku sebagai penasihat kalian itu lebih baik daripada aku sebagai pemimpin kalian. (Nahjul Balaghoh juz 1 hal 182-183)

Jika kepemimpinan Sayidina Ali telah ditetapkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya, tidak mungkin Sayidina Ali ra menolak mereka karena itu sama artinya menghalangi mereka untuk mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya. Dan tidak mungkin Sayidina Ali ra mengatakan “Aku sebagai penasihat kalian itu lebih baik daripada aku sebagai pemimpin kalian.”

Di dalam kitab Syiah lainnya disebutkan bahwa Sayidina Ali ra mengatakan:

اَلْوَاجِبُ فِيْ حُكْمِ اللهِ وَحُكْمِ الْإِسْلَامِ عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ بَعْدَمَا يَمُوْتُ إِمَامُهُمْ أَوْ يُقْتَلُ أَنْ لَا يَعْمَلُوْا عَمَلاً وَلَا يُحْدِثُوْا حَدَثاً وَلَا يُقْدِمُوا يَداً وَلَا رِجْلاً وَلَا يَبْدَؤُوءا بِشَيْءٍ قَبْلَ أَنْ يَخْتَارُوْا لِأَنْفُسِهِمْ إِمَاماً عَفِيْفاً عَالِماً عَارِفاً بِالْقَضَاءِ وَالسُّنَّةِ

Yang wajib berdasarkan hukum Allah dan hukum Islam atas kaum muslim setelah wafatnya atau terbunuhnya imam mereka adalah hendaknya mereka tidak melakukan apa pun, tidak berbuat apa pun, tidak menjulurkan tangan atau pun kaki dan tidak memulai sesuatu pun sebelum mereka memilih untuk mereka sendiri seorang imam (pemimpin) yang menjaga diri, berpengetahuan, memahami hukum dan sunah. (Al Majlisi, Biharul Anwar juz 8 hal 555)

Pernyataan ini jelas menunjukkan ketiadaan nash atas dua belas imam Syiah. Jika benar ada nash tentang mereka tentunya Sayidina Ali akan menyatakan yang wajib adalah mengangkat Imam yang sudah dinash, bukan malah memerintahkan mereka memilih Imamnya sendiri. Selain itu pernyataan ini adalah bukti benarnya tindakan para sahabat Nabi SAW selepas wafanya Rasulullah SAW yang langsung bermusyawaroh menentukan khalifah. Kebenaran itu diakui oleh Sayidina Ali ra melalui ucapannya dan juga perbuatannya yang membaiat Sayidina Abu Bakar, Umar dan Utsman ra.

Diriwayatkan pula dalam referensi Syiah, ketika Sayidina Ali ra ditikam oleh Abdurrahman bin Muljam. Kaum muslim menemui Sayidina Ali untuk meminta beliau agar menjadikan Sayidina Hasan ra sebagai pengganti. Namun Sayidina Ali ra berkata:

لَا إِنَّا دَخَلْنَا عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَقُلْنَا “اسْتَخْلِفْ فَقَالَ لَا, أَخَافُ أَنْ تَفَرَّقُوْا عَنْهُ كَنَا تَفَرَّقُوْا بَنُو إِسْرَائِيْلَ عَنْ هَارُوْنَ وَلَكِنْ إِنْ يَعْلَمِ اللهُ فِيْ قُلُوبِكُمْ خَيْراً يَخْتَرْ لَكُمْ وَسَأَلُوْهُ أَنْ يُشِيْرَ عَلَيْهِمْ بِأَحَدٍ فَمَا فَعَلَ. فَقَالُوْا لَهُ إِنْ فَقَدْنَاكَ فَلَا نَفْقِدُ أَنْ نُبَايِعَ الْحَسَنَ” فَقَالَ لَا آمُرُكُمْ وَلَا أَنْهَاكُمْ أَنْتُمْ أَبْصَرُ

Tidak, kami (Sayidina Ali ra) pernah menemui Rasulullah SAW kemudian kami berkata, “Tentukanlah pengganti.” Nabi SAW bersabda, “Tidak , Aku khawatir kalian akan berselisih mengenainya sebagaimana Bani Israil berselisih mengenai Harun. Namun jika Allah mengetahui kebaikan dalam hati-hati kalian, Allah akan memilihkan bagi kalian.” Kemudian mereka meminta Sayidina Ali untuk memberi isyarat kepada seseorang namun beliau tidak melakukan. Kemudian mereka berkata, “Jika kami tidak mendapati (perintah) darimu maka kami tidak akan kehilangan untuk membaiat al Hasan (putra Sayidina Ali ra).” Sayidina Ali mengatakan, “Aku tidak memerintahkan dan tidak pula melarangnya, kalian lebih mengerti.” (al Murtadho, Asy Syafi juz 3 hal 295)

Ini menunjukkan tidak adanya nash Rasulullah SAW atas kepemimpinan Sayidina Ali ra atau pun Sayidina Hasan ra. Sayidina Ali ra lebih menekankan musyawaroh untuk menentukan imam.  Imam Hasan sendiri dalam salah satu poin perjanjian damai dengan Muawiyah menyatakan:

عَلَى أَنَّهُ لَيْسَ لِمُعَاوِيَةَ أَنْ يَعْهِدُ لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ وَأَنْ يَكُوْنَ الْأَمْرُ شُوْرَى بَيْنَ الْمُسْلِمِيْن

Bahwasanya tiada hak bagi Muawiyah untuk menunjuk seorang pun yang menggantikan(kepemiminan)nya. Dan urusan (kepemimpinan) itu akan dimusyawarohkan di antara kaum muslim. (al Majlisi, Biharul Anwar juz 44 hal 65)

Ini menunjukkan bahwa penunjukan pemimpin itu bukan berdasarkan nash ilahi namun adalah hasil musyawarah antara kaum muslimin. Dalam referensi lain terdapat penegasan atas  salahnya mereka yang mengingkari hasil musyawaroh itu, dikatakan:

يَرْوِيْ الصَّدُوْقُ عَنِ الْاِمَامِ الرِّضَا عَنْ أَبِيْهِ الْكَاظِمِ عَنْ أَبِيْهِ جَعْفَرِ الصَّادِقَ عَنْ أَبِيْهِ محمد الْبَاقِرِ عَنْ عَلِيّ بْنِ الْحُسَيْنِ بْنِ عَلِيّ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ جَدِّهِ صلى الله عليه وسلم وَالَّذِيْ يَقُوْلُ فِيْهِ: “مَنْ جَاءَكُمْ يُرِيْدُ أَنْ يُفَرِّقُ الْجَمَاعَةَ وَيُغْضِبُ الْأُمَّةَ أَمْرَهُمْ وَيَتَوَلَّى مِنْ غَيْرِ مَشُوْرَةٍ فَاقْتُلُوْهُ فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ أَذِنَ بِذَلِكَ

Ash Shaduq meriwayatkan dari Imam ar Ridho dari ayahnya al Kadzim dari ayahnya Jakfar as Shadiq dari ayahnya al Baqir dari Ali bin al Husain bin Ali dari ayahnya dari kakeknya SAW yang berkata, “Siapa yang datang kepada kalian untuk memecah-belah jamaah dan membuat marah umat, mengangkat pemimpin tanpa musyawaroh maka bunuhlah ia karena Allah azza wa jalla telah mengizinkan itu.” ( As Shduq, Uyunul Akhbar ar Rido juz 1 hal 67)

Tidak ada yang berbuat demikian kecuali kaum Syiah yang memecah-belah umat, membuat marah umat Islam dengan tidak mengakui  pemimpin yang telah disepakati berdasarkan Musyawarah para sahabat.

Pernyataan-pernyataan yang datang baik dari referensi Ahlu Sunnah mau pun Syiah ternyata sama-sama menunjukkan bahwa tidak ada nash yang pasti mengenai khalifah pengganti Rasulullah SAW. Kekhilafahan dikembalikan kepada musyawaroh kaum muslimin. Dan hasil dari musyawaroh itu adalah menjadikan Sayidina Abu Bakar ra sebagai khalifah. Keputusan ini telah disepakati semua sahabat bahkan Sayidina Ali. Jika Sayidina Ali mendapatkan mandat dari Rasulullah SAW, pasti beliau akan memperjuangkan mandat itu sampai darah penghabisan, bukan malah bersembunyi dan mencari selamat dengan mambaiat Sayidina Abu Bakar ra sebagaimana anggapan kaum Syiah.

Oleh: Dzorif bin Yahya

 

One Comment »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.