Headline »

August 20, 2017 – 3:29 am | Edit Post

Share this on WhatsApp
 
Al-Habib Muhammad bin Abdullah Al-haddar di dalam kitabnya Al-Masyrobus-Shofil-Haniy hal.173 mengisahkan:
Ada seorang laki-laki kaya raya dari Bani Isroil. Ia tidak mempunyai amal baik sama sekali, akan tetapi ia sangat menyukai untuk memberikan …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Headline

KETAATAN YANG PALING UTAMA

Submitted by on February 2, 2017 – 6:34 am

cara-meninggalkan-maksiat

Oleh : Fahmi Hamid Assegaf Malang

Imam Hasan al Bashri pernah bertanya kepada murid-muridnya tentang, “ Apakah amal yang paling baik?” Mereka menjawab dengan jawaban beragam. Ada yang menyebut shalat, ada yang menyebut haji, ada pula menyebut ibadah lainnya. Semua jawaban itu tidak memuaskan Hasan al Bashri, sampai ada dari salah satu muridnya yang mengatakan, “Yang paling utama adalah meninggalkan kemaksiata.”

“Kamu benar, amalan yang yang paling utama di sisi Allah adalah meninggalkan kemaksiatan. “ Jawab Hasan al Bashri.

Mengapa demikian? Meninggalkan maksiat memang lebih berat daripada melakukan ketaatan. Ibadah shalat dan puasa misalnya, anak kecil pun sanggup melakukan keduanya. Tetapi untuk meninggalkan maksiat yang terkecil saja, banyak orang dewasa yang belum mampu melakukannya.

Salah satu kaidah fiqih berbunyi:

درء المفاسد أولى من جلب المصالح

Mencegah suatu resiko mafsadah (bahaya) lebih layak diutamakan daripada menarik suatu potensi maslahah (kebaikan).

Maksudnya, jika terpaksa harus memilih di antara keduanya maka mencegah mafsadah lebih didahulukan walau harus mengorbankan kemaslahatan.

Diceritakan dalam Kitab “Al Manhaajus Saawy,” ada seorang yang melewatu suatu gang yang sering dilalui manusia. Ia berinisiatif untuk menancapkan tiang di jalan itu. Ia bermaksud agar tiang itu dapat memudahkan orang yang ingin menggantung pakaian atau untuk fungsi lain untuk memudahkan orang.  Lalu datang orang kedua yang melewati gang, uniknya ia justru mencabut tiang itu. Ia memiliki pemikiran lain, ia khawatir tiang itu akan membuat celaka orang yang melewati gang seperti orang buta misalnya.  Dua orag ini sama-sama mendapatkan pahala atas dasar niat masing-masing, tapi orang kedua mendapatkan pahala yang lebih besar, sebab tujuan dia adalah mencegah satu resiko celaka walaupun harus mengorbankan potensi maslahat di sisi yang lain.

Wal hasil, jangan pernah kita menganggap remeh suatu kemaksiatan. Jika kita mampu meninggalkannya, itulah kesuksesan terbesar kita di sisi Allah SWT.

 وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ  ﴿١٥﴾؅ “

Dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.” (An Nuur : 15)

Semoga bermanfaat..

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.