Headline »

August 20, 2017 – 3:29 am | Edit Post

Share this on WhatsApp
 
Al-Habib Muhammad bin Abdullah Al-haddar di dalam kitabnya Al-Masyrobus-Shofil-Haniy hal.173 mengisahkan:
Ada seorang laki-laki kaya raya dari Bani Isroil. Ia tidak mempunyai amal baik sama sekali, akan tetapi ia sangat menyukai untuk memberikan …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Headline

ANTARA KETEGASAN DAN KELEMBUTAN DALAM BERDAKWAH

Submitted by on January 23, 2017 – 10:02 am

 

air

 

Berawal dari sebuah diskusi di grup whatsapp beberapa waktu yang lalu, alfaqir tergerak hati untuk sedikit mengulas tentang sikap keras dan tegas para da’i dalam berdakwah memberantas segala macam bentuk aliran sesat.

 

Hal ini bertujuan agar tidak terjadi pembusukan makna dengan menggeneralisir bahwa semua tindak kekerasan yang dilakukan oleh para da’i dalam dakwahnya itu tercela dan patut dikecam serta dilaknat.

 

Islam memiliki cara dan metode dalam berdakwah sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi. Tentunya hal itu tidak lepas dari bimbingan syari’at. Terkadang dakwah harus disampaikan dengan sikap lemah lembut dan terkadang dengan sikap keras, tegas, dan lugas. Namun sikap yang kedua ini sering dianggap sebagai sikap yang salah dan tidak mengandung hikmah. Bahkan terkadang dianggap dapat menimbulkan akibat yang fatal bagi dakwah itu sendiri. Sehingga muncul protes dari berbagai pihak ketika salah seorang da’i bersikap keras, tegas dan lugas dalam dakwahnya.

 

Rasulullah SAW pernah melakukan 29 kali peperangan dalam sejarah hidupnya. Kita tidak bisa memungkiri bahwa perang adalah tindak kekerasan, yang mengakibatkan pertumpahan darah, kemusnahan harta benda, bahkan mengorbankan nyawa. Namun tentu saja, semua itu tidak dilakukan oleh Rasulullah SAW, kecuali sebagai solusi terakhir, setelah sikap lembut dan ramah dikedepankan dan didahulukan.

 

Sungguh pun demikian rupa yang dilakukan Rasulullah SAW dengan tegas dan keras, namun Allah SWT tidak pernah mengecamnya, apalagi menyebut beliau dan para Shahabatnya sebagai golongan “Radikal” atau menyatakan tindakan mereka ”Anarkis”, bahkan Allah SWT membenarkan dan memujinya.

 

KETEGASAN inilah yang telah diteladani oleh para Al-Khulafâ’ Ar-Râsyidîn ra. Lihatlah bagaimana Sayyidunâ Abu Bakar Ash-Shiddîq ra tanpa ragu-ragu memerangi kaum murtaddîn dari para pengikut Nabi Palsu Musailamah Al-Kadzdzab dan mereka yang tidak mau membayar zakat, setelah terlebih dahulu diajak untuk bertaubat dengan penuh kelembutan.

 

Dan lihat pula bagaimana Sayyidunâ ‘Ali Al-Murtadhâ krw dengan tegas menindak kaum bughât (pemberontak) yang durhaka terhadap Imam yang haq, setelah terlebih dahulu diajak untuk kembali kepada persatuan umat dan mentaati pimpinan.

 

Di dalam surat  At-Tahrîm ayat 9, Allah SWT memerintahkan Rasulullah SAW untuk bersikap keras terhadap orang-orang kafir dan munafiq.

 

Firman-Nya SWT :

 

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

 

Artinya : “Hai Nabi, Berjihadlah ( perangilah ) orang-orang kafir dan orang-orang munafiq itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahannam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-seburuknya ”. (At-Tahrîm : 9)

 

Selain itu, Allah SWT memuji para Shahabat Nabi karena sikap keras mereka terhadap kaum kafir dan berkasih sayang terhadap sesama. Firman-Nya SWT :

 

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

 

Artinya : “Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka ”. (Al-Fath : 29)

 

Nah, kekerasan yang dimaksud dalam kedua ayat tersebut adalah kekerasan yang terpuji dan ini biasa kita sebut dengan Ketegasan dalam berdakwah.

 

Ada pun kekerasan sebagai cerminan kasar sikap dan bengis hati adalah kekerasan yang tercela, dan dilarang keras oleh syari’at. Karenanya, Allah SWT memerintahkan Rasulullah SAW untuk berda’wah dengan hikmah, ‘arif, bijak, dan lemah lembut. Dan Allah SWT melarang Rasulullah SAW dari sikap kasar atau pun bengis, bahkan membimbing Rasulullah SAW agar pemaaf dan mengutamakan Musyawarah.

 

Oleh karena itu, sungguh tidak masuk akal, bila semua jenis kekerasan secara mutlak digeneralisir dan divonis sebagai sesuatu yang tercela dan terlarang.

 

Tentunya dengan pendefinisian yang benar nantinya kita mudah memilah mana kekerasan yang terpuji dan mana yang tercela, sehingga kita tidak lagi memposisikan dalil-dalil kelembutan sebagai lawan dari dalil-dalil kekerasan dalam arti ketegasan.

 

Jika kita lihat sekarang ini, sungguh banyak penyimpangan agama dan aliran sesat yang tumbuh subur dan berkembang di Indonesia. Tentunya para pejuang-pejuang islam bertindak memerangi aliran sesat tersebut sesuai proporsinya masing-masing. Ada yang bersikap lembut dalam dakwahnya dan ada juga yang bersikap keras dan tegas.

 

Tapi tidak seorangpun memungkiri bahwa sikap lembut dan bijak itu adalah sikap yang terpuji, bahkan harus dikedapankan di berbagai situasi dan kondisi, apalagi dalam beramar ma’ruf nahi munkar melawan aliran sesat..

 

Namun demikian, lembut bukan berarti tidak tegas terhadap kesesatan atau kemaksiatan, dan bukan pula berarti damai dengan segala bentuk perbuatan tersebut, karena tidak tegas terhadap aliran sesat disekitar kita adalah termasuk perbuatan fasik, serta sikap damai dengan pelaku kesesatan tsb adalah sebuah kemunafikan.

 

Islam itu adalah Agama perdamaian, tapi bukan pasrah kepada kesesatan.

Islam itu adalah Agama kelembutan, tapi bukan berarti diam terhadap segala bentuk kesesatan.

Intinya, sikap lembut itu ada tempatnya dan sikap tegas ada saatnya.

 

Memang kelembutan itu harus dikedepankan dan diutamakan dalam  memerangi aliran sesat, akan tetapi ketegasan merupakan solusi akhir jika kelembutan sudah tak mampu lagi menyelesaikan masalah..

 

Jadi, janganlah kita berkomentar atau menyalahkan pejuang-pejuang islam yang bertindak tegas dalam memerangi aliran sesat..

 

Intinya, sikap lembut itu ada tempatnya dan Tegas ada saatnya. Kelembutan harus dikedepankan dan diutamakan dalam menegakkan agama Allah SWT, sedang ketegasan merupakan solusi akhir jika kelembutan sudah tak mampu lagi menyelesaikan masalah.

Wallahua’lam..

 

Semoga bermanfaat..

 

(el_haddari25)

Tags: , ,

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.