Headline »

August 18, 2017 – 9:16 am | Edit Post

Share this on WhatsAppPesan Kemerdekaan yang disampaikan oleh Al – Habib Taufiq bin Abdul Qodir Assegaf dalam upacara hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-72 di lingkungan Pondok Pesantren Sunniyah Salafiyah – Pasuruan
Kamis, 17 Agustus 2017 …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Featured, Headline, Kalam Salaf

MACAM-MACAM MANUSIA DI DALAM MENCARI ILMU.

Submitted by on December 17, 2016 – 2:24 am

diezalbumsstudyingthekoran
Dalam menuntut ilmu, manusia terbagi menjadi tiga golongan:

1- Orang yang mencari ilmu dengan tujuan untuk dijadikan bekal akhirat. Yang dicari hanyalah keridhoan Allah SWT. Manusia yang demikian ni termasuk golongan yang beruntung dan selamat dari adzab Allah SWT.

2- Orang yang menuntut ilmu dengan tujuan duniawi seperti ingin menjadi mulia, memiliki kedudukan, menjadi kuat, dan mendapatkan harta dengan ilmunya. Ia mengetahui bahwa perbuatanya itu keliru, mengakui kelemahan hatinya, dan menyadari bahwa tujuannya dalam mencari ilmu sangat hina. Manusia yang seperti ini tergolong manusia yang berada dalam resiko. Jika ajalnya datang sebelum ia bertaubat maka ia meninggal dalam keadaan yang buruk(suul khatimah).

3- Orang yang telah dikuasai setan. Dia menjadikan ilmu sebagai alat memperbanyak harta dan berbangga-bangga. Dengan ilmunya, ia menghalalkan segala cara demi mendapatkan harta duniawi dan kedudukan. Meskipun demikian hatinya sama sekali tidak merasa bersalah, bahkan ia menganggap dirinya memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah SWT. Dia juga meniru penampilan dan cara bicara para ulama. Manusia yang seperti ini adalah manusia yang bodoh dan akan binasa. Tidak ada harapan ia akan bertaubat karena dia menyangka dirinya termasuk orang yang berbuat baik dan mengamalkan ilmunya.

( Maraqil-ubudiyyah. hal.12-14)

Wallahu a’lam.

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.