Headline »

October 17, 2017 – 1:05 am | Edit Post

Share this on WhatsApp
Oleh: Sayyid Husein Ali Assegaf*
Pertanyaan seperti itu akhir-akhir ini sering muncul bahkan dari mereka yang mungkin tidak mengerti apa yg dinamakan ” dalil ”
Memang betul , bahwa seseorang berhak menanyakan dalil atau …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Featured, Headline

MODUS SESAT MELARANG SHALAWAT

Submitted by on November 28, 2016 – 12:49 pm

418271_409714242387381_681554665_n_2

Berbagai macam cara dilakukan untuk mengingkari bentuk-bentuk shalawat yang diajarkan para ulama. Modus populer mereka adalah mentafsiri makna shalawat kepada makna yang menyimpang agar dapat diinkari. Umumnya shalawat-shalawat tersebut diarahkan kepada makna syirik yakni menyekutukan Allah SWT. Padahal jelas umat Islam yang mengucapkan shalawat pasti memiliki keyakinan bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.

Sebagai contoh shalawat Tafrijiyah atau Nariyah berikut:

اَللَّهُمَّ صَلِّ صَلَاةً كَامِلَةً، وَسَلِّمْ سَلَاماً تَامّاً عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ، وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكَرَبُ، وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ، وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِمُ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمْ، وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ فِى كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ

Ya Allah berilah shalawat dengan shalawat yang sempurna dan berilah salam dengan salam yang sempurna atas penghulu kami Muhammad yang dengannya terlepas segala ikatan, lenyap segala kesedihan, terpenuhi segala kebutuhan, tercapai segala kesenangan, diakhiri dengan kebaikan. Hujan diturunkan berkat dirinya yang mulia. Juga atas keluarga dan sahabat-sahabatnya dalam setiap kedipan mata dan hembusan nafas sebanyak hitungan segala yang ada dalam pengetahuan-MU.

Mereka menyatakan shalawat ini sebagai shalawat sesat sebab terdapat penyandaran perbuatan Tuhan kepada Rasulullah SAW. Yang dapat mengurai belitan masalah dan kesusahan hanyalah Allah SWT bukan Rasulullah SAW. Jadi menisbatkan hal itu kepada Nabi adalah bentuk penyekutuan Allah.

Begitulah tafsir dan persangkaan mereka ini. Yang jelas persangkaan mereka itu adalah kesalahan fatal yang bersumber pada penafsiran yang salah. Perkataan:

تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ

Yang dengannya terlepas segala ikatan

Maknanya bukan beliau SAW yang mengurai ikatan, namun dengan perantara dan wasilah beliau ikatan itu terlepas. Ini dapat difahami dengan mudah bagi yang mengerti bahasa arab. Begitulah pula lanjutan dari shalawat tersebut. Semua itu adalah bentuk tawasul dan tawasul berbeda jauh dengan syirik. Tawasul juga bukan bidah menurut para Imam terpercaya seperti Imam Ahmad ra. Ibnu Taimiyah sendiri menukilkan ucapan Imam Ahmad dalam kitabnya Rad `alal Ikhnai bahwa Imam Ahmad berkata tentang adab menziarahi makam Nabi SAW:

وَسَلِ اللهَ حَاجَتَكَ مُتَوَسِّلاً إِلَيْهِ بِنَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تُقضَ مِنَ اللهِ تَعَالَى

Kemudian mohonlah kepada Allah segala kebutuhanmu disertai bertawasul dengan Nabi SAW maka Allah ta`ala akan mengabulkannya.

Anjuran yang serupa itu juga disebutkan oleh Imam Nawawi, Ibnu Qudamah dan lainnya dalam doa-doa ziarah kubur Nabi SAW. Mengikuti pendapat para Imam besar ini dalam masalah diperbolehkannya tawasul lebih sesuai dengan petunjuk dan lebih jelas dalilnya bagi para pencari kebenaran.

Majas Aqli

Penisbatan perbuatan Allah SWT kepada makhluk yang menjadi perantara terjadinya perbuatan tersebut bukanlah hal terlarang selama tetap meyakini bahwa Allah adalah pelaku hakikinya. Penisbatan ini dikenal dalam Bahasa Arab dengan istilah majas aqli. Di dalam al Quran dan hadits banyak contoh majas aqli. Di antaranya adalah ucapan Malaikat Jibril:

قَالَ إِنَّمَا أَنَا رَسُولُ رَبِّكِ لِأَهَبَ لَكِ غُلَامًا زَكِيًّا

Ia (Jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci”. (QS Maryam: 19)

Yang memberikan anak pada hakikatnya adalah Allah SWT, Malaikat Jibril hanyalah perantara saja. Tapi dalam ayat tersebut disebutkan bahwa yang memberikan anak adalah Jibril, inilah yang disebut majas aqli.

Dalam ayat lain disebutkan mengenai ucapan para malaikat kepada Nabi Ibrahim as mengenai Nabi Luth as dan kaumnya:

إِلَّا امْرَأَتَهُ قَدَّرْنَا إِنَّهَا لَمِنَ الْغَابِرِينَ

Kecuali istrinya. Kami telah menentukan, bahwa Sesungguhnya ia itu Termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya)”. (QS al Hijr: 60)

Yang menentukan (mentakdirkan) adalah Allah SWT, malaikat hanya pelaksana dari takdir yang telah ditentukan. Penisbatan menentukan (mentakdirkan) kepada para malaikat pada ayat tersebut adalah majas aqli.

Ini juga ditemukan dalam sabda Nabi as ketika menceritakan mengenai pamannya Abu Thalib:

وَجَدْتُهُ فِى غَمَرَاتٍ مِنَ النَّارِ فَأَخْرَجْتُهُ إِلَى ضَحْضَاحٍ

Aku menemukannya di kedalaman neraka kemudian aku keluarkan ke dasarnya. (HR Muslim)

Yang mengeluarkan pada hakikatnya adalah Allah SWT. Nabi SAW dengan syafaatnya hanyalah sebab dikeluarkannya Abu Thalib. Penisbatan mengeluarkan kepada Nabi SAW ini yang disebut majas aqli.

Apabila kita telah memahami makna majas aqli dan penggunaannya, maka mudah bagi kita untuk memahami bentuk-bentuk shalawat Nabi SAW yang seakan menisbatkan perbuatan Allah SWT kepada Nabi SAW. Sebagai contoh dalam salah satu bentuk shalawat disebutkan:

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا أَغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ وَالنَّاصِرِ الْحَقَّ بِالْحَقِّ وَالْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيمِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيمِ

Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Sayyidina Muhammad, pembuka segala yang terkunci, penutup perkara-perkara yang sudah berlalu, penolong kebenaran dengan kebenaran, dan penunjuk jalan kepada jalanMu yang lurus. Semoga Allah senantiasa melimpahkan shalawat kepada beliau, juga kepada keluarga beliau dan para sahabatnya, sesuai dengan derajat dan kedudukan beliau yang tinggi.
Yang membuka segala hal terkunci, mengakhiri segala yang terdahulu, menolong dan memberi petunjuk pada hakikatnya adalah Allah SWT. Namun karena Nabi SAW adalah perantara dan pelaksana hal-hal itu maka benar jika perbuatan itu disandarkan kepada Nabi SAW melalui jalur majas aqli.

Demikianlah tafsir yang benar atas shalawat-shalawat para ulama yang diakui. Mereka yang mengingkari bentuk-bentuk shalawat ulama ini tidak bisa membedakan antara tawasul dan syirik, dan tidak memahami makna majas aqli. Dengan Seenaknya mereka menafsiri tawasul dan majas aqli dengan syirik untuk menkafirkan umat Islam yang bershalawat dengan shalawat-shalawat ini.

Pujian berlebihan

Modus lain untuk mengingkari shalawat para ulama adalah dengan menuduhnya sebagai pujian berlebihan kepada Nabi SAW. Mereka juga menuduh syair-syair pujian kepada Nabi SAW sebagai pujian yang berlebihan yang bertentangan dengan sabda Nabi SAW:

 لَا تُطْرُونِي كما أَطْرَتْ النَّصَارَى بن مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أنا عَبْدُهُ فَقُولُوا عبد اللَّهِ وَرَسُولُهُ

 

Janganlah kalian berlebihan dalam memujiku seperti kaum Nasrani berlebihan dalam memuji Ibn Maryam. Aku Hanyalah hamba Allah maka katakanlah (mengenaiku)“Hamba Allah dan Rasul-Nya” (HR Bukhari)

Penentangan ini tidak benar. Dalam sabdanya Nabi SAW tidak hanya melarang pujian yang berlebihan namun juga menjelaskan makna berlebihan dalam memuji. Yaitu memuji sebagaimana kaum Nasrani memuji Nabi Isa as yaitu dengan menyandarkan sifat-sifat khusus bagi Allah kepadanya.

Pujian yang selain itu tidak dikatakan berlebihan. Kita diperbolehkan memuji Rasulullah dengan pujian-pujian yang indah selama tidak ada isyarat untuk menuhankan Beliau. Maka sah-sah saja kita katakan beliau sebagai Manusia paling agung, paling dermawan atau apa saja, selama tidak menuhankan beliau.

Mengenai perkataan Rasulullah dalam hadits di atas yang menyebutkan dirinya hanyalah sebagai “hamba Allah dan Rasulnya”, itu bukanlah larangan untuk memuji beliau dengan pujian lain akan tetapi merupakan bentuk sifat tawadhu .

Nabi SAW adalah sumber segala keutamaan. Dahulu, para sahabat sering memuji Beliau SAW dengan syair-syair mereka. Sebagian mereka membacakan syair pujian itu di hadapan Nabi SAW. Sebagaimana yang dikatakan Sahabat Hassan kepada Sayidina Umar ra di dalam hadits riwayat Imam Muslim. Diceritakan bahwa Sayidina Umar mendapati Sahabat Hasan ra sedang membacakan Syair di masjid. Sayidina Umar menoleh kepadanya seakan mengingkari, lalu Sahabat Hassan berkata:

قَدْ كُنْتُ أُنْشِدُ وَفِيهِ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْكَ

Aku pernah membacakan syair dan di dalamnya (masjid) terdapat orang yang lebih baik darimu (yakni Rasulullah). (HR Muslim)

Dalam riwayat lainnya disebutkan bait qasidah gubahan Sahabat Hassan mengenai pujian kepada Nabi SAW, kepada Sayidatuna Aisyah dan kepada Bani Hasyim secara umum.

Jika pujian yang jujur diperbolehkan, maka paling utamanya manusia yang dipuji adalah Nabi SAW. Dan Jika syair yang jujur diperbolehkan maka paling utamanya yang disebut dalam syair-syair adalah shalawat dan pujian kepada Nabi SAW.

Para sahabat sering-kali menyatakan sanjungan kepada Rasulullah SAW. Di antaranya adalah pujian yang disampaikan sahabat Hassan bin Tsabit :

وَأَحْسَنُ مِنْكَ لَمْ تَرَ قَطُّ عَيْنِيْ … وَأَجْمَلُ مِنْكَ لَمْ تَلِدِ النِّسَاءُ

خُلِقْتَ مُبَرَّأً مِنْ كُلِّ عَيْبٍ … كَأَنَّكَ قَدْ خُلِقْتَ كَمَا تَشَاءُ

Yang lebih baik darimu, belum pernah mataku memandangnya

Yang lebih indah darimu, belum pernah dilahirkan oleh para wanita

Engkau tercipta terbebas dari setiap kekurangan

Seolah engkau tercipta sebagaimana yang kau kehendaki.

Rasulullah tidak melarang para sahabatnya untuk memujinya, bahkan Rasulullah pernah mendoakan Sahabat Hassan dengan doa yang agung yaitu:

للَّهُمَّ أَيِّدْهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ

Ya Allah teguhkanlah Hassan dengan ruh qudus (Jibril). (HR Muslim)

Tak kalah indahnya pujian yang disampaikan oleh Sahabat Sariyah :

فَمَا حَمَلَتْ مِنْ نَاقَةٍ فَوْقَ ظَهْرِهَا … أَبَرَّ وَأَوْفَى ذِمَّةً مِنْ مُحَمَّدٍ

 

Tidak pernah seekor unta pun membawa seseorang di atas punggungnya

yang  lebih baik dan menepati janji daripada Muhammad.

Begitu juga pujian yang disampaikan para Sahabat dalam menyambut Rasulullah ketika sampai ke Madinah  :

طَلَعَ الْبَدْرُ عَلَيْناَ مِنْ ثَنِيَّاتِ الْوَدَاعْ…  وَجَبَ الشُّكْرُ عَلَيْنَا مَا دَعَا لِلهِ دَاعْ

Telah terbit rembulan di atas kita dari Tsaniyatil Wada (nama tempat)

maka wajiblah syukur atas kami selama masih ada penyeru ke jalan Allah

Masih banyak pujian-pujian yang disampaikan oleh para sahabat seperti pujian Ka`ab bin Zuhair yang membuat Nabi senang hingga menghadiahkan Burdah (selendang) kepadanya, dan pujian-pujian lainnya yang tak bisa dihitung jumlahnya.

Nama beliau sendiri, yaitu Muhammad, merupakan bentuk isim maf’ul dari Hammada yuhammidu tahmidan, yang secara bahasa artinya adalah yang banyak dipuji, ini merupakan isyarat bahwa Beliau memang pantas untuk selalu dipuji. Oleh karena itu, ketika Kakek Beliau, Abdul Muthalib, ditanya mengapa Beliau menamakan cucunya denganMuhammad, padahal nama Muhammad merupakan nama yang tidak umum di kalangan Arab saat itu, maka Abdul Muthalib berkata, “ Aku menamakannya dengan Muhammad agar dia selalu dipuji oleh Allah di langit, dan dipuji oleh manusia Di bumi”. Dan Allah pun mewujudkan apa yang diharapkan oleh Abdul Muthalib, Rasulullah menjadi orang yang selalu dipuji sepanjang masa,

Jika dikatakan bahwa Rasulullah SAW tidak memerlukan pujian makhluk karena Allah SWT telah memujinya di dalam al Quran ketahuilah bahwa:

  1. Kita memuji Beliau SAW bukan karena beliau membutuhkan pujian namun karena beliau memang layak untuk dipuji.
  2. Para sahabat telah memuji Nabi SAW dan Nabi SAW membiarkannya. Pembiaran Nabi SAW adalah salah satu dari bentuk sunah, mengikutinya adalah mengikuti sunah.

Pujian Allah

Dalam Al Qur’an, Allah berfirman dalam memuji Rasulullah SAW:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”(QS Al Qalam : 4 ).

Disini Allah menyebutkan bahwa Rasulullah memiliki budi pekerti yang agung.  Apa yang Allah sebut Agung tentu merupakan hal yang tidak bisa kita jangkau dengan pikiran batasnya. Ini artinya kita bebas untuk menisbatkan sifat-sifat kesempurnaan makhluk bagi Beliau, tanpa batas (kecuali menjadikan beliau sebagai tuhan) karena setinggi apa pun pujian kita tetap saja tidak bisa mengungguli pujian Allah kepada Rasulullah SAW.

Alangkah benarnya Apa yang dikatakan Imam Bushiri dalam Burdahnya :

دَعْ مَا ادَّعَتْهُ النَّصَارَى فِيْ نَبِيِّهِمِ **** وَاحْكُمْ بِمَا شِئْتَ مَدْحاً فِيْهِ وَاحْتَكِمِ

وَانْسُبْ إِلَى ذَاتِهِ مَا شِئْتَ مِنْ شَرَفٍ*** وَانْسُبْ إِلَى قَدْرِهِ مَا شِئْتَ مِنْ عِظَمِ

فَإِنَّ فَضْـلَ رَسُـوْلِ اللهِ لَـْيسَ لَـهُ***حَـدُّ فَيُعْرَبُ عَنْهُ نَاطِـقٌ بِفَـمِ

Tinggalkanlah apa yang dikatakan Kaum Nasrani mengenai Nabinya dan tetapkan serta sempurnakanlah apa yang kau kehendaki sebagai pujian Baginya

Nisbatkanlah pada dirinya apa yang kau kehendaki daripada kemuliaan dan nisbatkanlah pada kedudukannya apa yang kau kehendaki daripada keagungan

Karena keutamaan Rasulullah tidaklah ada baginya batas untuk diungkapkan seorang pembicara dengan mulutnya

Jadi sungguh sangat mengherankan jika pujian-pujian kepada Nabi SAW yang disebutkan dalam shalawat-shalawat para ulama dan dalam syair-syair dikatakan berlebihan. Bahkan puja-puji itu sebenarnya adalah kurang dan selamanya tidak bisa sebanding dengan keagungan Rasulullah SAW walau pun ditulis dalam ribuan jilid kitab.

Tags: , ,

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.