Headline »

August 18, 2017 – 9:16 am | Edit Post

Share this on WhatsAppPesan Kemerdekaan yang disampaikan oleh Al – Habib Taufiq bin Abdul Qodir Assegaf dalam upacara hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-72 di lingkungan Pondok Pesantren Sunniyah Salafiyah – Pasuruan
Kamis, 17 Agustus 2017 …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Featured, Headline, Kalam Salaf

Jikalau…

Submitted by on November 25, 2016 – 1:35 am

Kalam Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandariy

Wahai jiwa-jiwa yang hidup di atas dunia.

Wahai jiwa-jiwa..

yang sesungguhnya tak pernah menjalani kehidupan hakiki.,

Renungkanlah, tatkala lepas dari kehidupan yang fana ini, sudahkah kalian merasakan kenikmatan hidup yang paling didamba, yakni munajat kepada Sang Pencipta. Sayangnya tidak! Kalian senantiasa terlelap di malam hari bagai jasad yang sudah mati. Apabila kalian terhalang dari kenikmatan itu, maka segeralah memohon bantuan kepada Allah SWT. Ucapkanlah, “Wahai malaikat Allah, wahai utusan tuhanku, aku telah terlewatkan dari keuntungan yang para wali raih, yakni kelezatan munajat dan kecintaan yang murni.”
Jikalau ada seorang hamba merasa bangga dengan amal ketaatannya, merasa paling hebat dan paling agung dari hamba-hamba yang lainnya, lalu ia menuntut manusia untuk melunasi hak-haknya sementara dirinya enggan memberikan hak-hak mereka, maka hamba serupa ini berisiko mati dalam keadaan su’ul khotimah. Na’uzu billah!  Jikalau ada seorang hamba melakukan maksiat, akan tetapi kemudian ia menangis sedih lantaran menyesali maksiatnya yang penuh kehinaan itu, maka hamba semacam ini mempunyai peluang untuk mati dalam kondisi husnul khotimah.
Apabila kalian mencari pembaca Al-Quran yang bagus, mereka bisa didapati di banyak tempat. Apabila kalian mencari dokter, jumlah mereka banyak di sekeliling kita. Apabila kalian mencari pakar fikih, ulama semacam ini juga tak sedikit jumlahnya. Namun, bila kalian mencari ulama yang bisa membimbing kalian kepada Allah SWT, mengenalkan aib-aib yang berlumur dalam diri kalian, maka kalian akan sulit mendapatkannya. Apabila kalian telah menemukan ulama seperti yang satu ini, berpeganglah kepadanya selalu dan jangan pernah dilepaskan.
Jikalau kalian ingin senantiasa mendapatkan pertolongan Allah SWT, maka hinakanlah diri kalian seutuhnya di hadapan-Nya. Allah SWT berfirman:
“Sungguh Allah Telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang hina (lemah).” QS (Al-Imron 3;123)
Jikalau kalian ingin senantiasa mendapatkan curahan pemberian-Nya, maka jadikanlah diri kalian sepenuhnya fakir kepada-Nya. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya sedekah itu diperuntukkan bagi orang-orang fakir dan miskin.”
Jikalau diri kalian merasa tak kuat untuk banyak beribadah, maka genapilah ibadah kalian yang sedikit dengan tangisan dan perasaan rendah di hadapan-Nya. Jikalau kalian ditanya seseorang, “Siapakah manusia yang patut ditangisi?” maka berilah jawaban kepadanya, “Dia adalah hamba yang diberi kesehatan, akan tetapi ia memanfaatkan kesehatannya untuk bermaksiat kepada Allah SWT.”
Jikalau kalian tidur dalam kondisi campur aduk dengan urusan duniawi, maka kalian akan menyaksikan peristiwa-peristiwa yang campur aduk di dalam mimpi kalian. Seyogyanya, kalian tidur dengan kondisi bertobat dan steril dari urusan duniawi agar Allah SWT membuka hati kalian dengan cahaya-Nya. Barangsiapa tak mengingat Allah SWT di siang hari, niscaya ia bakal melupakan-Nya di malam hari.
Jikalau kalian melihat seorang wali Allah SWT, maka janganlah sampai perasaan takut kalian kapadanya menghalau kalian untuk duduk di hadapannya dengan tata krama yang baik dan mengharap berkah darinya. Ketahuilah, sesungguhnya langit dan bumi berlaku adab terhadap para wali Allah SWT seperti halnya manusia. Barangsiapa merasa bahagia manakala memperoleh dunia, maka ia benar-benar telah menampakkan kebodohannya. Yang lebih bodoh lagi adalah orang yang bersedih lantaran kehilangan dunia. Orang macam ini seumpama orang yang bertemu seekor ular yang hendak menggigitnya. Allah SWT menyelamatkan dirinya dengan menghindarkan ular itu darinya, akan tetapi ia malah bersedih lantaran ular itu berlalu darinya.

Sangsi
Di antara tanda-tanda kerdilnya akal seseorang ialah mengeluhkan sesuatu yang belum pasti terjadi dan tak merisaukan sesuatu yang pasti terjadi. Misalnya kalian berkata, “Bagaimanakah kondisi harga kebutuhan esok hari? Bagaimanakah situasi pasar tahun ini?” Kalian tak menyadari bahwa sesungguhnya “kerja detail” Allah SWT bergerak dengan metode yang tak pernah kalian sangka. Sangsi terhadap jaminan rejeki sama halnya dengan sangsi terhadap Sang Pembagi rejeki. Ketahuilah, seorang pencuri pada hakekatnya mencuri rejekinya sendiri. Selagi kalian masih dalam keadaan hidup, rejeki takkan pernah luput dari diri kalian.
Betapa bodohnya manusia yang mengeluhkan  kesumpekan kecil dan mengabaikan kesumpekan yang jauh lebih besar. Keluhkanlah, apakah kalian bakal mati dalam keadaan muslim atau kafir? Apakah kelak di akherat kalian tergolong celaka atau beruntung? Keluhkanlah kesuraman hidup di neraka yang abadi dan tiada berkesudahan! Keluhkanlah, apakah kalian kelak mengambil catatan amal dengan tangan kanan atau dengan tangan kiri? Itulah kesumpekan-kesumpekan yang patut untuk dikeluhkan. Jangan pernah mengeluhkan sesuap makanan atau seteguk minuman. Apakah Sang Maharaja yang menitahkan kalian berkhidmat takkan memberikan sesuap makan kepada kalian? Adakah Ia pernah menyia-nyiakan tamu-Nya? Sesungguhnya bentuk ketaatan yang paling Ia cintai adalah keyakinan yang utuh terhadap kemaujudan-Nya. Hidup khumul di atas dunia itu sesungguhnya lebih selamat bagi kalian daripada hidup khumul di akhirat kelak.
Wahai manusia yang senantiasa memakan gandum yang telah bersih diayak, kalian semestinya mengayak amal-amal kalian sehingga tiada tersisa kecuali amal-amal yang bersih. Buanglah kotoran-kotoran amal itu! Hindarilah terlalu banyak bergaul dengan orang-orang awam, sebab dalam pergaulan itu kalian akan kerap mendengarkan ghibah. Bahkan selanjutnya kalian akan lebih suka untuk larut dalam ghibah. Ketahuilah, ghibah adalah dosa yang membatalkan wudhu dan puasa.
Sungguh tak bijak diri ini apabila memiliki kecemburuan terhadap istri akan tetapi sama sekali tidak memiliki kecemburuan terhadap iman. Sungguh khianat diri ini apabila mencemburui istri lantaran harga diri akan tetapi tidak mencemburui hati lantaran Allah SWT. Apabila kita senantiasa menaruh perhatian terhadap segala sesuatu yang diperuntukkan bagi diri kita pribadi, akankah kita menelantarkan segala sesuatu yang kita peruntukkan bagi Allah SWT?
Apabila kalian melihat seseorang mengeluhkan rejeki di pagi hari, maka ketahuilah bahwa ia adalah orang yang jauh dari Allah SWT. Apabila ada orang menjamin kalian dengan berkata, “Besok kamu jangan bekerja! Aku beri kamu uang lima dirham.” Kalian tentu akan mempercayainya sementara ia hanyalah sesama makhluk yang fakir. Mengapa kalian tidak merasa cukup dengan Allah SWT yang Maha Kaya dan Maha Dermawan yang telah menjamin rejeki beserta ajal kalian?
Seorang pujangga berdendang:

اذَا اْلعِشْرُونَ مِنْ شَعْباَنَ وَلَّتْ       فَوَاصِلْ شُرْبَ لَيْلِكَ بِالنَّهاَرِ
وَلاَ تَشْرَبْ بِاَقْدَاحٍ صِغَارِ           فَقَدْ ضَاقَ الزَّماَنُ عَلىَ الصِّغَارِ

Makna syair ini bagi si pujangga adalah: tatkala dua puluh hari di bulan Sya’ban telah berlalu, itu artinya bulan Ramadhan telah dekat. Bulan Ramadan adalah bulan untuk memutus makan dan minum di siang hari. Ada pun bagi ahli thariqah, makna syair ini adalah: apabila kalian telah melewati usia empat puluh tahun, maka berkonsentrasilah untuk beramal shaleh di malam dan siang hari. Masa untuk menghadap Allah SWT telah dekat. Nilai amal kalian di waktu itu tidak sama dengan amal seorang  pemuda yang gigih menggunakan waktu mudanya untuk ibadah. Sementara kalian sebelumnya telah menyia-nyiakan masa muda.
Jikalau kalian memiliki semangat yang besar untuk beribadah akan tetapi kemampuan fisik kalian kurang menunjang, maka beramallah sesuai kemampuan kalian. Kemudian tutupilah kekurangan kalian dengan zikir-zikir. Sesungguhnya ibadah yang paling ringan adalah zikir. Zikir bisa kalian lakukan sembari berdiri, duduk, rebahan, dan bahkan tatkala kalian dalam kondisi sakit. Baginda Nabi SAW bersabda, “Hendaknya lisan kamu basah oleh zikir kepada Allah SWT!” Lazimilah zikir dan doa yang terasa ringan bagi kalian. Sesungguhnya energi untuk berzikir itu bersumber dari Allah SWT. Apabila kalian gemar berzikir, maka itu artinya kalian telah memperoleh kebaikan-Nya. Begitu pun sebaliknya, apabila kalian merasa berat untuk berzikir, maka itu berarti Allah SWT sedang murka kepada kalian……(*)
Sumber:
Majalah Cahaya Nabawiy Edisi 98

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.