Headline »

August 18, 2017 – 9:16 am | Edit Post

Share this on WhatsAppPesan Kemerdekaan yang disampaikan oleh Al – Habib Taufiq bin Abdul Qodir Assegaf dalam upacara hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-72 di lingkungan Pondok Pesantren Sunniyah Salafiyah – Pasuruan
Kamis, 17 Agustus 2017 …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Featured, Headline, Kalam Salaf

Kalam Imam Ghozali Tentang Bersikap Pada orang Kafir dan Fasik

Submitted by on November 23, 2016 – 1:37 am

kufur-dan-kafir

Siapa tidak kenal Imam Ghozali, maestro sufi dengan masterpiecenya Ihya Ulumudin yang menjadi rujukan semua ulama tasawuf untuk membersihkan hati.

Kaum sufi terkenal lembut hati, tapi jangan salah kelembutan itu ada pada tempat yang semestinya. Terkadang mereka juga mengharuskan diri untuk menampakkan kebencian kepada orang-orang yang menyelisihi perintah Allah SWT.

Untuk lebih jelas mari kita lihat penuturan Imam Ghazali dalam Ihya Ulumudin tentang menampakan sikap benci kepada orang yang menentang Allah SWT. Berikut ini terjemah bebas dari bagian dari Kitab Ihya Ulumuddin:

Menampakan kebencian yang dianjurkan

Menampakan kebencian dan sikap permusuhan kepada orang yang sudah semestinya dibenci karena Allah hukumnya jika tidak wajib adalah sunah.

Para pelaku maksiat dan orang fasik sendiri derajatnya berbeda-beda. Otomatis cara berhubungan dengan mereka pun berbeda-beda. Bagaimana cara agar sikap kita kepada mereka berbuah pahala?

Pertama yang perlu diketahui bahwa orang yang menyelisihi perintah Allah SWT itu bermacam-macam. Ada yang menyelisihi dalam akidah, yaitu orang kafir dan pelaku bidah. Pelaku bidah sendiri ada yang mengajak pada kebidahannya dan ada pula yang hanya diam. Yang diam itu, ada yang disebabkan ketidak-mampuan dan ada pula yang memang memilih untuk diam. Semua itu ada cara menyikapinya sendiri-sendiri.

Orang Kafir

Kerusakan dalam akidah ada tiga jenis, yang pertama adalah kekafiran. Orang kafir ada dua jenis:

  1. Kafir Harbi

Yaitu orang kafir yang memerangi Islam. Mereka berhak untuk diperangi dan diperbudak. Tidak ada penghinaan yang lebih buruk dari keduanya.

  1. Kafir Dzimmi

Yaitu orang kafir yang tidak memerangi Islam dan dilindungi pemerintah Islam. Mereka tidak boleh disakiti kecuali dengan cara berpaling darinya, merendahkannya, mendesaknya ke jalan yang paling sempit (ketika jalan ramai) dan tidak memulai sapaan salam kepadanya. Bila ia mengatakan, “Assalamu`alaikum.” Cukup dijawab, “Wa`alaika.”

Lebih baik menghindar untuk berbicara, berhubungan atau makan bersamanya. Beramah-tamah dan bersenda-gurau dengan mereka sebagaimana senda-gurau antara sahabat hukumnya sangat makruh. Bahkan berlebihan dalam hal ini hukumnya mendekati haram. Allah SWT berfirman :

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ

Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak mereka. (QS al Mujadalah: 22)

Rasulullah saw bersabda:

المسلم والمشرك لا تتراءى ناراهما

Seorang muslim dan seorang musyrik tidak saling melihat api masing-masing.

(Maksudnya tidak hidup berdampingan sehingga jika yang satu menyalakan api yang lain dapat melihatnya)

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia. (QS al Mumtahanah: 1)

Pelaku bidah yang berdakwah

Jenis kedua yang rusak akidahnya adalah pelaku bidah yang mengajak pada kesesatannya.

Jika bidahnya adalah sesuatu yang menyebabkan kekafiran maka ia disikapi lebih keras daripada kaum kafir dzimmi. Berbeda dengan dzimmi, ia tidak bisa dikenakan Jizyah (bayaran tahunan), dan tidak pula dapat diakad dzimmah (perlindungan).

Sedangkan jika bidahnya tidak sampai menyebabkan kekafiran maka posisinya di hadapan Allah pastinya lebih ringan daripada orang kafir. Tetapi inkar kepada mereka harus lebih keras daripada inkar kepada orang kafir. Orang kafir sudah jelas keburukannya, dan tidak dapat mempengaruhi akidah umat Islam, sebab umat Islam telah mengetahui bahwa ia adalah kafir sehingga tidak mempedulikan ucapannya. Ia juga tidak mengaku beragama Islam dan memiliki keyakinan yang benar. Berbeda dengan pelaku bidah yang mengajak kepada kesesatan, ia mengira mengira bahwa ajakannya adalah kebenaran. Inilah yang menyebabkan sesatnya orang lain sehingga kesesatannya pun menyebar. Oleh sebab itu menampakan kebencian, permusuhan, memutuskan hubungan dengannya, menghinakan mereka, mencela mereka karena bidahnya, dan menjauhkan manusia darinya adalah sunah yang ditekankan.

Apabila ia mengucapkan salam di tempat yang sepi maka tidak mengapa menjawab salamnya, namun jika ia mengetahui bahwa berpaling dan tidak menjawab salam dapat membuatnya menganggap buruk bidah yang ia lakukan dan memberikan pengaruh untuk menghentikan bidahnya maka yang lebih utama adalah tidak menjawab salam. Menjawab salam memang wajib namun kewajibannya bisa hilang dengan kemaslahatan yang paling kecil sekali pun. Kita tidak wajib menjawab salam jika sedang berada di kamar mandi atau sedang menunaikan hajat. Jika demikian maka tidak menjawab salam dengan tujuan mencegah perbuatan bidah tentu lebih penting daripada sekedar tujuan-tujuan tersebut. Jika ia mengucapkan salam di tempat yang ramai maka lebih utama untuk tidak dijawab dengan tujuan menjauhkan manusia darinya dan menunjukkan cela atas bidahnya di mata mereka. Begitu pula lebih utama untuk menghindar dari berbuat baik atau memberikan pertolongan terutama di hadapan manusia. Rasulullah SAW bersabda :

” من انتهر صاحب بدعة ملأ الله قلبه أمناً وإيماناً، ومن أهان صاحب بدعة أمنه الله يوم الفزع الأكبر، ومن ألان له وأكرمه أو لقيه ببشر فقد استخف بما أنزل الله على محمد صلى الله عليه وسلم ” .

Siapa yang membentak pelaku bidah maka Allah akan memenuhi hatinya dengan keamanan dan keimanan. Siapa yang menghinakan pelaku bidah maka Allah akan membuatnya aman di hari ketakutan terbesar (kiamat). Siapa yang berlaku lemah lembut kepadanya, memuliakannya atau menemuinya dengan wajah cerah maka ia telah merendahkan apa yang Allah turunkan kepada Muhammad SAW.”

Pelaku bidah Yang Diam

Yang ketiga adalah pelaku bidah awam yang tidak memiliki kemampuan untuk mengajak pada kesesatan dan tidak pula ditakutkan akan diikuti. Keadaanya lebih ringan daripada yang sebelumnya. Yang terutama hendaknya tidak memulai menyikapinya dengan keras atau penghinaan namun disikapi dengan lemah-lembut dalam menasihatinya karena hati orang awam cepat berubah.

Jika nasihat tidak lagi bermanfaat, apabila sikap berpaling dapat membuatnya menganggap buruk bidah yang ia lakukan maka kesunahan untuk berpaling lebih ditekankan. Bila itu tidak bermanfaat karena keras hati atau karena akidah sesatnya telah merasuk dalam hati maka lebih baik berpaling darinya. Sebab bidah apabila tidak disikapi keras dengan celaan kepadanya, ia akan menyebar dan merata kerusakannya.

Orang Fasik

Adapun orang yang bermaksiat dengan perbuatan dan amalnya bukan dalam akidahnya, adakalanya perbuatannya menyakiti orang lain seperti perbuatan dzalim, ghosob, sumpah palsu, ghibah, menghasut dan mengadu domba serta yang semisalnya. Dan ada yang terbatas pada dirinya dan tidak menyakiti orang lain. Golongan ini terbagi kepada yang mengajak orang lain kepada kerusakan seperti pemilik tempat maksiat yang mengumpulkan lelaki dan wanita dan menyediakan fasilitas untuk meminum minuman keras atau kerusakan bagi pelakunya. Ada pula yang tidak mengajak orang lain seperti orang yang berzina dan meminum minuman keras. Yang tidak mengajak itu adakalanya dosanya adalah dosa besar atau dosa kecil. Dan setiap dari mereka ada yang terus-menerus melakukan maksiat ada yang tidak.

Pembagian ini menghasilkan tiga golongan. Masing-masing golongan memiliki derajat tertentu, sebagian lebih keras dari yang lain dan tentunya kita tidak menyikapi mereka dengan sikap yang sama.

Yang pertama dan yang paling keras adalah yang dapat menyakiti orang lain seperti perbuatan dzolim, ghosob, sumpah palsu, ghibah dan adu domba. Yang paling utama dalam menyikapi mereka adalah berpaling, memutus hubungan pergaulan, dan keras dalam bermuamalah dengan mereka. Maksiat menjadi berat apabila ia menyebabkan gangguan kepada orang lain. Kemudian adakalanya perbuatan dzalim itu dalam masalah darah, harta atau kehormatan. Perlakuan kepada yang satu lebih keras daripada perlakuan kepada yang lainnya. Sangat ditekankan kesunahan untuk menghinakan mereka dan berpaling dari mereka. Dan selama penghinaan dapat mencegah mereka atau orang lain untuk melakukan perbuatannya maka kesunahannya lebih ditekankan dan lebih keras.

Kedua adalah pemilik tempat maksiat yang menyiapkan sarana untuk perbuatan maksiat dan mempermudah jalannya bagi manusia. Ia tidak mengganggu orang lain dalam masalah dunianya namun perbuatannya dapat merusak agama orang lain. Perlakuan kepada golongan ini dekat dengan perlakuan dengan kepada golongan pertama namun sedikit lebih ringan. Sebab maksiat yang terjadi antara hamba dan Allah lebih dekat pada pengampunan namun karena ia mempengaruhi orang lain maka ia dianggap berat sehingga menuntut penghinaan, berpaling, memutus hubungan dan tidak menjawab salam apabila ini semua dapat mencegahnya dan orang lain dari perbuatannya.

Yang ketiga adalah yang melakukan kefasikan sebatas pada dirinya sendiri seperti dengan meminum minuman keras, meninggalkan kewajiban atau melakukan hal yang diharamkan yang terbatas pada dirinya. Posisinya lebih ringan namun apabila ia didapati ketika sedang melakukan perbuatannya maka wajib untuk dicegah dengan hal yang dapat mencegahnya walaupun itu dengan memukul atau merendahkannya. Karena melarang terjadinya kemunkaran hukumnya adalah wajib. Apabila ia telah selesai melakukan maksiat yang menjadi kebiasaannya dan ia tidak akan berhenti melakukannya maka bila dapat dipastikan bahwa nasihat dapat mencegahnya untuk mengulangi maksiat wajib untuk menasihati. Jika tidak dapat dipastikan namun diharapkan maka lebih utama untuk menasihati dan mencegahnya baik dengan cara halus atau kasar apabila dinilai lebih bermanfaat. Bila nasihat tidak memberi manfaat dan ia terus meneurus melakukannya, maka mengenai tidak menjawab salam dan memutus pergaulan dengannya terdapat pembahasan. Sikap ulama dalam hal ini pun berbeda-beda. Yang benar bahwa sikap kepada mereka berbeda sesuai dengan niatnya. Dalam masalah ini dikatakan bahwa amalan itu tergantung niatnya. Jika dalam berlaku lembut dan memandang dengan rahmat terdapat sikap tawadhu dan dalam perlakuan kasar dan berpaling darinya terdapat niat mencegah maka masalah ini dikembalikan kepada hati. Apa yang dirasakan lebih condong kepada hawa nafsunya dan tuntutan wataknya maka yang lebih utama adalah melakukan kebalikannya. Karena bisa jadi sikap merendahkan dan perlakuan kasarnya ternyata bersumber dari sifat kesombongan dan bangga diri atau kesenangan untuk menampakan ketinggian dan menunjukkan kesholehan. Bisa jadi pula  perlakuan lembutnya ternyata adalah untuk menjilat atau menarik hati untuk mencapai suatu tujuan atau karena khawatir bila ia menjauh darinya akan berpengaruh kepada kedudukan atau hartanya baik kemungkinannya besar atau kecil. Semua itu adalah berasal dari isyarat setan dan jauh dari amal akhirat.

Orang yang ingin beramal untuk agamanya akan berijtihad pada nafsunya, meneliti dengan rinci dan mengawasi keadaan ini. Hatinya yang akan memberikan  fatwa. Terkadang ijtihadnya benar dan kadang keliru. Terkadang ia mengedepankan sesuatu untuk mengikuti hawa nafsunya dalam keadaan ia mengetahuinya. Terkadang ia mengedepankannya karena tertipu, ia mengira bahwa ia beramal untuk Allah dan berada pada jalan akhirat.

Termasuk yang menunjukkan tentang ringannya urusan kefasikan yang terbatas pada hubungan antara seorang hamba dan Allah adalah kisah yang diriwayatkan mengenai peminum khomer yang dihukum cambuk berkali-kali di hadapan Rasulullah SAW, dan ia tetap kembali melakukannya. Seorang sahabat mengatakan, “Semoga Allah melaknatnya, Betapa sering ia minum.” Maka Rasulullah saw bersabda, “

: ” لا تكن عوناً للشيطان على أخيك “

Jangan kamu menjadi penolong setan atas saudaramu

Atau perkataan yang semakna. Ini adalah isyarat bahwa berlaku lemah lembut lebih utama daripada perlakuan keras dan kasar.

Demikian penjelasan Imam Ghazali ra tentang cara menyikapi kaum kafir, ahli bidah dan fasik. Semoga bermanfaat..

 

 

Tags: , , ,

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.