Headline »

December 13, 2017 – 2:00 am | Edit Post

Share this on WhatsApp
Di antara umat beliau SAW, ada yang susah-payah mendatangi telaga dalam keadaan kehausan, namun ketika mendekat, ia dihalau dari telaga dan tidak diizinkan untuk meminum setetes pun darinya. Merekalah orang-orang yang merugi.
Imam …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Headline

Menyambut Maulid Nabi SAW

Submitted by on November 20, 2016 – 12:01 pm

hasiyah

Kelahiran para nabi merupakan awal dari segala kebaikan ajarannya. Dalam Islam, kelahiran para Nabi itu merupakan karunia agung yang patut disyukuri. Al-Quran banyak menuturkan kisah kelahiran para Nabi; penciptaan Nabi Adam as, kelahiran Nabi Ismail as, Nabi Yahya as, Nabi Isa as dan lainnya. Tahukan anda, salah satu alasan mengapa Jumat menjadi hari mulia adalah karena di hari itu Nabi Adam diciptakan. Jika demikian mulianya hari kelahiran para Nabi maka tentunya hari kelahiran Nabi Muhammad SAW merupakan hari yang jauh lebih mulia. Beliaulah pemimpin para nabi yang membawa risalah paling sempurna. Terbukti, Allah menciptakan banyak peristiwa di sekitar hari kelahiran beliau untuk menunjukkan betapa agungnya hari itu. Di antaranya adalah peristiwa pasukan gajah yang dihancurkan oleh burung Ababil sehingga dinamakanlah tahun itu dengan Tahun Gajah. Peristiwa lainnya direkam oleh al Baihaqi dalam kitab Dalailun Nubuwah :

Di malam dilahirkannya Rasulullah, Istana Persi bergetar meruntuhkan empat belas tiangnya. Api abadi yang ada di Persia padam setelah menyala selama seribu tahun dan danau Sawah mengering. (HR Baihaqi )

Ini semua adalah isyarat dari Allah mengenai agungnya hari kelahiran beliau. Maka tak heran apabila Syaikh Nawawi al-Banteni dalam kitabnya Nihayatuz Zain menyebutkan bahwa hari kelahiran Nabi Muhammad SAW lebih utama dari hari Isra Mikraj bahkan dari malam Lailatul Qadar. Ini karena kedua hari itu tidak akan pernah ada tanpa adanya hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Jika demikian, maka kita wajib bergembira atas kelahirannya untuk mengamalkan firman Allah SWT :

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُون

Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira… (QS Yunus : 58)

Dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan untuk bergembira atas karunia dan rahmat-Nya. Lalu karunia apakah yang lebih agung daripada lahirnya Nabi Muhammad SAW yang adalah rahmat bagi semesta alam?

BERSYUKUR ATAS KELAHIRAN (MAULID) NABI

Mengungkapkan rasa syukur dan gembira di hari kelahiran Nabi Muhammad SAW bukanlah bentuk penyerupaan perayaan kaum Nasrani, bukan pula diambil dari adat kaum syiah atau bidah yang sesat sebagaimana yang dikatakan sebagian kaum yang tidak bertanggung-jawab. Bahkan, ungkapan syukur ini dicontohkan secara langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Ketika Nabi SAW ditanya mengenai puasa hari Senin, beliau menjawab:

ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فيه وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أو أُنْزِلَ عَلَيَّ فيه

“Hari itu hari aku dilahirkan, dan hari aku diutus atau diturunkan kepadaku wahyu di hari itu.   (HR Muslim)

Rasulullah SAW bersyukur dengan berpuasa di hari kelahirannya. Maka kita sebagai umatnya lebih patut untuk mensyukurinya. Bersyukur atas kelahiran Nabi SAW bisa diimplementasikan dengan bermacam-macam cara. Imam Ibnu Hajar Atsqalani menuturkan  :

“Mengenai apa yang seharusnya dilakukan di hari ini (hari kelahiran Nabi SAW), hendaknya ia melakukan perbuatan yang mewujudkan rasa syukur kepada Allah seperti membaca al-Quran, bersedekah, membaca sebagian puji-pujian kepada Nabi SAW atau syair tentang zuhud yang menyemangati hati untuk melakukan kebaikan dan beramal untuk akhirat. Mendengarkan syair saja atau melakukan permainan jika masih dalam batas mubah dan dapat menyebabkan kegembiraan atas hari itu maka hukumnya disamakan dengan amalan tersebut. Namun, jika sampai batas haram atau makruh maka itu dilarang begitupula perbuatan yang sebaiknya ditinggalkan (khilaful aula).” (Al Hawi)

Pelaksanaan kebaikan-kebaikan itu sebenarnya tidak harus dilakukan di hari kelahiran Nabi SAW, namun di hari kelahirannya lebih utama. Sebab beramal di hari mulia lebih utama daripada beramal di hari lainnya.

Adapun acara hura-hura yang tak berfaidah atau kumpulan yang disana terdapat maksiat harus dihindari karena dapat mencederai hari mulia ini. Hal buruk akan menjadi lebih buruk jika dilakukan di hari mulia sebagaimana ghibah yang haram menjadi lebih keras keharamannya jika dilakukan di bulan puasa yang mulia.

HUKUM PERAYAAN MAULID

Perayaan maulid yang umum dilakukan umat muslim di seluruh penjuru dunia adalah mengumpulkan jamaah untuk mendengarkan sejarah baginda Nabi Muhammad SAW, bershalawat, memberi makan orang-orang yang hadir, memuliakan orang-orang fakir, serta menggembirakan hati orang-orang yang mencintai Nabi SAW. Perayaan maulid seperti ini adalah adat yang baik.

Perayaan tersebut memang tidak dikenal di tiga masa pertama Islam dan tidak ada dalil yang secara khusus menyebutnya, namun esensinya tidak bertentangan dengan syariat bahkan dianjurkan untuk dilakukan. Jika demikian maka ini bukanlah hal baru yang terlarang. Imam Syafii seorang pembesar salaf menyatakan :

“Hal-hal yang baru terbagi menjadi dua. Hal baru yang bertentangan dengan kitab al-Quran, sunnah, atsar, dan ijma. Ini adalah bidah yang sesat. Kedua, hal baru berupa kebaikan yang tidak bertentangan dengan satu pun daripadanya. Ini adalah hal baru yang tidak tercela. Sebagaimana telah berkata Umar ra mengenai shalat Tarawih di bulan Ramadhan, “Ini adalah sebaik-baiknya bid`ah,” maksudnya bahwasanya itu adalah hal baru yang sebelumnya tidak ada namun di dalamnya tidak terdapat sesuatu yang bertentangan dengan apa yang telah lewat.”(Ma`rifatus Sunan wal Atsar lil-Baihaqi)

Jadi,  hal baru ada yang baik dan ada yang buruk. Mengenai acara maulid yang isinya adalah mengumpulkan orang untuk  pembacaan sejarah nabi, bershalawat, berdzikir, dan memberikan makanan kepada mereka ini jelas tidak bertentangan dengan al-Quran dan hadits sehingga tidak dapat dikatakan sebagai bidah yang tercela bahkan seharusnya dikatakan sebagai bidah yang baik dan terpuji. Syaikh Shadrud Din, Mauhub bin Umar al-Jazari berkata :

“Bidah ini (maulid) tidak mengapa dilakukan sebab yang dibenci adalah bidah yang bertentangan dengan sunnah. Jika tidak bertentangan dengan sunnah maka tidak dibenci. Jadi, manusia yang melakukannya diberi pahala karena niat untuk menampakkan kebahagiaan atas lahirnya Nabi SAW. “ (Subulul Huda war Rasyad)

PERAYAAN MAULID DALAM PANDANGAN ULAMA

Orang pertama yang mengenalkan perayaan maulid secara besar-besaran adalah penguasa Irbil, (wilayah Iraq sekarang), bernama Sultan al-Mudzaffar, Abu Said Kukburi bin Ali, pada awal abad ke-7 Hijriyah. Ibnu Katsir, dalam tarikhnya berkata mengenainya :

“Beliau merayakan maulid yang mulia di bulan Rabiul Awal dengan perayaan yang meriah. Bersamaan dengan itu beliau merupakan seorang patriot yang berani, perkasa, berjiwa pahlawan, cerdas, alim dan adil -semoga Allah merahmatinya dan memuliakan tempat kembalinya.” (Bidayah wa nihayah juz 13 hal 159-160)

Adz Dzahabi, salah seorang ahli sejarah Islam menceritakan mengenai beliau :

“Beliau merupakan seorang yang tawadhu, baik hati dan sunni (beraqidah ahlu sunnah), mencintai ulama fiqih dan hadits dan terkadang berderma kepada penyair.” (Siyar `Alam Nubala juz 22 hal 336)

Sultan Mudzafar juga dikenal sebagai pribadi yang sederhana. Istrinya, Rabiah bintu Ayub yang adalah saudari dari Sultan Shalahuddin al-Ayubi pernah bercerita bahwa beliau memakai pakaian kasar yang harganya tidak lebih dari 5 dirham. Istrinya itu berkata : “ Aku menegurnya mengenai ini namun ia berkata, Saya memakai baju seharga lima dirham dan bersedekah dengan sisanya itu lebih baik daripada saya memakai pakaian mahal dan menelantarkan  fakir dan miskin.”

Para ulama memberikan apresiasi yang besar atas gagasan al-Mudzaffar. Dan menganggap kegiatan maulid semacam ini adalah bidah yang baik dan terpuji. Salah satunya adalah Imam al Hafidz Ibnu Dihyah, keturunan dari sahabat Dihyah al Kalbi ini mempersembahkan satu kitab maulid untuk beliau. Imam Ibnu Jauzi menyatakan :

Orang yang pertama melakukannya (maulid) dari golongan penguasa adalah penguasa Irbil. Ibnu Dihyah ra membuat satu kitab maulid untuknya dan dinamakan at-Tanwir Bimaulidin Basyirin Nadzir maka ia memberikan hadiah 1000 dinar.” (Subulul Huda war Rasyad)

Apresiasi yang besar mengenai maulid ini juga diungkapkan oleh Imam Abu Syamah, guru dari Imam Nawawi yang menyatakan :

“Termasuk hal baru yang paling baik di zaman ini adalah yang dilakukan di kota Irbil—semoga Allah melindunginya—setiap tahun di hari yang bertepatan dengan hari kelahiran Nabi SAW berupa berbagai sedekah, kebajikan dan menampakkan hiasan dan kebahagiaan. Itu semua disamping kebajikan kepada para fakir miskin yang ada di dalamnya juga menunjukkan kecintaan terhadap Nabi SAW, tindakan memuliakannya, agungnya derajat nabi di hati orang yang mengerjakannya, serta ungkapan syukur kepada Allah atas anugrah-Nya mewujudkan Rasulullah saw yang diutus sebagai rahmat bagi semesta alam. Orang pertama yang melakukan ini di Mosul adalah syaikh Umar bin Muhammad al Mala. Salah satu orang shaleh yang terkemuka kemudian penguasa Irbil dan lainnya mengikuti jejaknya.” (al-Baits ala Inkaril Bida wal Hawadits)

Mayoritas ulama yang ada setelahnya pun tidak mempermasalahkan acara maulid ini, bahkan banyak dari mereka yang justru menganjurkan dan memberikan landasan dalil atasnya.  Di antaranya adalah Imam al Hafidz Ibnu Hajar Atsqolani yang berkata :

Nampak bagiku pengambilan landasan dalil acara maulid dari hadits yang berada dalam dua kitab yang shahih (Bukhari-Muslim). Yaitu bahwa Nabi SAW ketika datang ke Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi berpuasa di hari Asyura. Beliau menanyakan mereka tentang hal itu dan mereka menjawab bahwa hari itu adalah hari dimana Allah menenggelamkan kaum Firaun dan menyelamatkan Nabi Musa, maka kami (Yahudi) berpuasa di hari ini sebagai wujud rasa syukur kepada Allah Ta`ala. Mendengar itu, Rasulullah SAW bersabda ”Kami lebih berhak atas Musa daripada kalian.” Maka Rasulullah SAW-pun berpuasa dan memerintahkan berpuasa hari Asyura”

Hadits ini memberikan faidah mengenai disyariatkannya bersyukur atas karunia Allah yang diberikan di hari tertentu, baik berupa pemberian nikmat atau perlindungan dari bencana. Bersyukur itu diulang-ulang di hari yang sama setiap tahunnya. Bersyukur kepada Allah bisa dilakukan dengan berbagai macam Ibadah seperti shalat, puasa, sedekah, membaca al-Quran. Jika demikian, Nikmat apakah yang lebih agung daripada nikmat lahirnya Nabi ini, Nabi yang rahmat di hari itu? Atas dasar ini maka sudah selayaknya agar hari kelahirannya diperhatikan sebagaimana kisah Musa di hari Asyura. Ada pula yang tidak memperhatikan makna ini sehingga tidak mempermasalahkan untuk melakukan acara maulid di hari apa saja dan di bulan apa saja. Bahkan sebagian mereka ada yang memindahkan acara maulid di suatu hari lain dalam satu tahun.” (al-Hawi)

Penjelasan al-Hafidz Ibnu Hajar menunjukkan bahwa merayakan maulid sebenarnya memiliki dalil yang kuat dari hadits yang shahih. Dan sudah selayaknya hari mulia itu diisi dengan berbagai macam ungkapan rasa syukur. Patut direnungkan pula perkataan Syaikh Syamsyu Din bin Al Jazari dalam kitabnya “Arfut Ta`rif”:

“Abu Lahab telah dilihat (oleh sahabat  al Abbas ra) di dalam mimpi setelah kematiannya. Kemudian ditanya, ‘Bagaimana keadaanmu?’ Ia menjawab, ‘Aku berada di dalam neraka namun aku diberikan keringanan setiap malam Senin. Aku menghisap air yang ada di antara jari-jariku seukuran ini –sambil menunjuk ujung jarinya—karena aku memerdekakan Tsuwaibah (budak wanitanya) ketika memberikan kabar gembira mengenai kelahiran Nabi SAW dan karena sebab ia menyusuinya.’

Jika Abu lahab yang kafir, yang telah turun ayat al-Quran untuk mencelanya dibalas di dalam neraka karena kebahagiaan di malam lahirnya Nabi SAW, maka bagaimana keadaan seorang muslim yang bertauhid dari umat Nabi SAW yang bergembira dengan kelahirannya dan mendermakan apa yang ia mampu untuk menunjukkan kecintaannya. sungguh balasannya dari Allah yang mulia adalah ia dimasukkan ke dalam surga. “

Masih banyak lagi komentar ulama yang memperbolehkan bahkan menganjurkan untuk mengisi hari kelahiran Nabi dengan berbagai ibadah dan syukur. Di antaranya adalah Asy-Syuyuthi dalam al Hawi, al Hafidz Sakhawi dalam Fatwanya, Ibnu Hajar al-Haitami, Asyihab al Qasthalani pensyarah Bukhari dalam Mawahib laduniyah, Ad Dimasyqi dalam Mauridus Shoda, Ibnu Abidin dalam syarah maulidnya, Abdur Rahim al Iraqi sebagaimana disebut dalam syarah Mawahib Laduniyah, Syaikh Muhammad bin Umar Bahraq dalam Hadaiqul Anwar dan sejumlah ulama salaf lainnya yang tak terhitung. Adapun ulama kontemporer yang menganjurkannya di antaranya adalah Syaikh Muhammad Thahir bin Asyur yaitu Syaikh universitas Zaituniyah dalam kitab Tahrir wat Tanwir, Syaikh  Hasanain Muhammad Makhluf yaitu Syaikh Universitas Al Azhar dalam Fatawa Syar’iyah, Muhammad Fadhil Asyur yaitu seorang ulama Tunisia dalam wamadhotul Fikr, Syaikh Muhammad Asyadzili an-Naifar yaitu seorang syaikh di masjid jami terbesar di Tunisia, Syaikh Mutawali Asy Syarawi dalam `ala Maidatil Fikr al-Islami, Sayid Muhammad bin Alwi al-Maliki dalam haulul ihtifal bidzikral Maulid asy-Syarif, Yusuf Qardhawi, Syaikh Said Muhammad Ramdhan al-Bhuti, Abdullah bin Bih, Nuh Qudhat mufti Yordan, Syaikh Ali Jum’ah, Syaikh Wahbah Zuhaili, al-Habib Umar bin Hafidz dan masih banyak lagi yang tak mungkin disebut satu per satu.

Kesimpulannya, mayoritas ulama ahlu Sunnah wal Jamaah semenjak munculnya acara peringatan Maulid sampai saat ini menyatakan bahwa acara maulid adalah acara yang terpuji untuk menampakan rasa syukur dan senang atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.  Jika ditanyakan, perayaan maulid yang datangnya pada bulan Robiul Awwal, juga bertepatan dengan bulan wafatnya Rasulullah SAW, mengapa tidak ada luapan kesedihan  atas wafatnya beliau? Imam Jalaluddin al-Suyuthi menjawab: “Kelahiran Nabi SAW adalah kenikmatan terbesar, sementara wafatnya beliau adalah musibah terbesar atas kita. Syariat memerintahkan untuk menampakkan rasa syukur atas nikmat dan bersabar, diam dan merahasiakan cobaan yang menimpa. Buktinya, agama memerintahkan untuk menyembelih kambing untuk aqiqoh pada saat kelahiran anak, dan tidak memerintahkan menyembelih hewan pada saat kematian. Sesuai dengan kaidah syari’at, maka yang baik pada bulan ini adalah menampakkan kegembiraan atas kelahiran Rasulullah SAW bukan menampakkan kesusahan atas musibah yang menimpa”.

Oleh karena hakekat dari perayaan maulid adalah luapan rasa syukur serta penghormatan kepada Rasulullah SAW, sudah semestinya tidak dinodai dengan kemunkaran-kemunkaran dalam merayakannya, seperti bercampurnya laki-laki dan perempuan, tampilnya perempuan diatas pentas di hadapan kaum laki-laki, alat-alat musik yang diharamkan dan lain-lain. Sebab jika demikian yang terjadi, maka bukanlah penghormatan yang didapat akan tetapi justru penghinaan kepada Rasulullah SAW.

Tags: ,

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.