Headline »

August 19, 2017 – 1:18 am | Edit Post

Share this on WhatsApp
Al-Habib Abdullah bin Alwi Alhaddad dalam kitab Ithafus Sail menuturkan pertanyaan seseorang mengenai orang yang membaca Surat Al-Waqiah dengan tujuan mendapatkan kecukupan, apakah itu salah?
Beliau RA menjawab:
Telah datang riwayat yang menyebutkan bahwa …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Featured, Headline

ANAK SEBAGAI PELITA HIDUP

Submitted by on November 9, 2016 – 8:10 am

 

Andai saja generasi manusia berhenti, apakah kiranya yang akan terjadi pada umat manusia? Tetapi Allah Mahakasih dan Mahabijak. Diberikannya keturunan kepada manusia sehingga generasi manusia berkelanjutan terus dari masa ke masa. Anak juga merupakan nikmat Allah yang tak ternilai harganya bagi tiap-tiap individu yang beruntung mendapatkannya. Dalam Al-Quran terdapat kutipan kata-kata Nabi Zakaria r.a.: رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ

“Tuhan, janganlah Engkau biarkan aku sendirian, dan Engkau  adalah sebaik-baik Pewaris”.

Mari kita perhatikan dengan seksama. Seorang nabi pun memohon karunia anak. “Jangan biarkan saya sendirian,” katanya, seolah bisikan perasaan gundah dan gelisah di balik permohonan itu.

Dengan mengutip kata-kata Nabi Zakaria ini, Allah seolah hendak menjelaskan alasan mengapa anak merupakan nikmat-Nya. Anak merupakan pewaris dan penerus diri dan cita-cita kita yang membuat kehidupan kita menjadi semakin berarti, khususnya ketika kita memasuki usia tua.

Di samping itu, anak adalah kawan atau pendamping yang membuat suasana rumah kita menjadi hidup dan meriah. Anak sekaligus juga pelita yang menerangi kehidupan rumah- tangga kita, dan berperan besar dalam merekatkan hubungan di antara kedua orang tuanya. Posisi anak sebagai kawan dan pelita seperti ini seringkali tidak tergantikan oleh orang lain seperti pembantu rumah- tangga atau pun oleh anak pungut. Oleh karena inilah maka mereka yang kebetulan tidak beruntung karena tidak mempunyai anak tampak nelangsa, meski mendapat limpahan nikmat lain berupa harta dan sebagainya. Biasanya, apa pun akan mereka lakukan guna mendapatkan keturunan, termasuk mengeluarkan biaya yang besar.

Oleh karena itu, nikmat anak ini haruslah disyukuri dan tidak disia-siakan. Anak merupakan titipan atau amanat Allah. Sebagaimana barang titipan, maka amanat harus dijaga dengan sebaik-baiknya. Suatu hari kelak, mereka harus dikembalikan lagi pada Sang Empunya dengan utuh seperti sedia kala. Kita harus merawat dan menjaganya dengan baik. Kita harus memenuhi segala kebutuhannya, baik kebutuhan yang bersifat fisik mau pun yang bersifat batin. Kita harus membantu anak kita meraih kebahagiaan dalam kehidupan mereka baik di dunia mau pun di akhirat. Sejak seorang anak dilahirkan ke dunia, maka tanggung- jawab dengan segala aktualisasinya terpikul di pundak kita. Kelak di akhirat kita akan dimintai pertanggung-jawaban oleh Allah mengenai anak-anak kita. Rasulullah SAW bersabda:

وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِىَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ

Seorang laki-laki adalah pengembala (pemimpin) atas seluruh penghuni rumahnya dan dia akan dimintai pertanggung-jawaban atas mereka semua. Perempuan itu pengembala (pemimpin) di rumah suaminya serta atas anaknya, dan dia akan dimintai pertanggung-jawaban atas mereka.” (riwayat Al-Bukhari, Muslim dan lain-lain)

Kepada Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash r.a. Rasulullah SAW bersabda:

وَإِنَّ لِوَلَدِكَ عَلَيْكَ حَقّاً

Artinya: … dan bagi anakmu ada hak atas dirimu. (riwayat Muslim)

Syariat Islam dan sunnah Nabi SAW telah memberikan tuntunan tentang apa saja yang harus dan perlu dilakukan orang tua kepada anak-anaknya. Bimbingan itu tidak hanya terbatas pada saat-saat setelah kelahiran anak, tapi juga sebelum kelahirannya.

Masa Bayi

Apabila istri Anda sudah mulai mengandung, seyogyanya Anda lebih mendekatkan diri pada Allah dengan membaca Al-Quran, berzikir dan berdoa. Doakanlah calon bayi Anda supaya kelak menjadi anak yang saleh, taat beribadah, berbakti pada kedua orangtua dan berguna bagi agama dan masyarakat. Bacakanlah Al-Quran, zikir atau salawat di dekat istri Anda. Tradisi selamatan di kalangan masyarakat muslim Jawa untuk mendoakan calon bayi sambil membaca surah-surah tertentu pada usia kandungan bulan ke-3 (disebut neloni) atau bulan ke-7 (disebut mitoni) adalah tradisi yang baik dan cocok dengan tujuan ini.

Bacaan-bacaan itu penting supaya si calon bayi mendapat barokah. Selain itu, menurut para ahli, janin sebenarnya sudah bisa mendengar suara-suara di sekitarnya. Suara-suara ini akan mengendap di batinnya, di bawah sadarnya.

Setelah bayi terlahir, hal pertama yang hendaknya Anda lakukan adalah mengumandangkan azan di kuping kanannya dan iqamat di kuping kirinya. Ini adalah sunnah Nabi SAW. sebagaimana beliau contohkan pada saat kelahiran cucunya, Hasan bin Ali r.a. Selain berbuat memberi contoh, beliau juga bersabda:

مَنْ وُلِدَ لَهُ فَأَذَّنَ فِي أُذُنِهِ الْيُمْنَى وَأَقَامَ فِي أُذُنِهِ الْيُسْرَى لَمْ تَضُرَّهُ أُمُّ الصِّبْيَانِ.

” Barangsiapa terlahir untuknya (seorang anak) lalu dia ber-azan di telinga kanannya dan ber-iqamat di telinga kirinya, maka anak itu tidak akan diganggu oleh jin yang menyertainya”.

Begitu bayi terlahir, jangan melakukan apa pun terhadapnya sebelum mengumandangkan azan dan iqamat, agar kalimat syahadat dan tauhid menjadi kalimat pertama yang menyusup ke dalam telinganya dan mengendap kuat di dasar hatinya.

Selain ber-azan dan ber-iqamat, disunnahkan pula untuk membaca penggalan ayat berikut ini di telinga kanan si bayi:

َإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Artinya: “Sungguh aku memohonkan perlindungan pada-Mu untuk dia dan keturunannya dari setan yang terkutuk”.

Baik dia bayi perempuan mau pun lelaki, bacalah penggalan ayat ini seperti apa adanya, tanpa mengubah kata gantinya. Kata ganti “ها” di ayat itu memang untuk perempuan. Namun, itu tidak perlu kita ganti karena niat kita adalah membaca ayat guna mendapatkan barokah darinya.

Selanjutnya, disunnahkan pula untuk menyuapi bayi dengan kurma atau apa pun yang manis. Caranya, kunyah dan mamahlah kurma atau buah manis tadi hingga halus, lalu masukkan ke dalam mulutnya sehingga ada sebagian yang masuk ke perutnya. Begitulah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW pada bayi-bayi. Seperti diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, ketika anak Abu Musa Al-Asy’ari r.a. lahir, beliau menamainya Ibrahim dan menyuapinya dengan kurma sembari mendoakan barokah untuknya.

Nama yang Baik

Nama adalah identitas diri yang sangat penting bagi setiap insan. Karena itu, menjadi kewajiban dari orang tua untuk memberi nama pada anaknya. Berilah anak nama yang baik. Rasulullah SAW bersabda:

إن من حق الولد على والده أن يعلمه الكتابة وأن يحسن اسمه وأن يزوجه إذا بلغ

“Sungguh, di antara kewajiban orang tua pada anaknya adalah mengajarinya tulis menulis, memberinya nama yang bagus dan menikahkannya setelah dia mencapai akil baligh”.

Nama yang baik itu penting sebab nama merupakan doa bagi si anak. Di hari kiamat kelak, setiap manusia akan dipanggil dengan namanya. Bila namanya buruk, dia akan merasa malu. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّكُمْ تُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِكُمْ وَأَسْمَاءِ آبَائِكُمْ فَحَسِّنُوا أَسْمَاءَكُمْ

 “Sungguh kalian di hari kiamat akan dipanggil dengan nama kalian dan nama bapak kalian. Karena itu, perbaguslah nama kalian. (riwayat Ahmad)”

Mengenai nama yang bagus, beliau mengajarkan dalam sabdanya:

أَحَبُّ الأَسْمَاءِ إِلَى اللهِ , عَزَّ وَجَلَّ , عَبْدُ اللهِ ، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ.

” Nama-nama yang paling dicintai oleh Allah ialah Abdullah dan Abdur Rahman.

Abdullah (hamba Allah) dan Abdur Rahman (hamba Sang Mahakasih) adalah nama yang paling bagus dalam Islam. Begitu pula dengan nama-nama yang didahului dengan “abd” (hamba) dan disertai dengan nama-nama Allah (asmaul husna) lainnya seperti Ar-Rahim, Al-Ghafur dan Al-Halim, yang kemudian menjadi Abdur Rahim, Abdul Ghafur dan Abdul Halim.

Nama-nama nabi seperti Muhammad, Ibrahim, Musa dan lain-lain juga bagus. Begitu pula dengan nama-nama orang saleh, seperti para sahabat Nabi SAW, para wali dan ulama-ulama lainnya.

Ada pun nama-nama yang tergolong buruk adalah seperti: setan, jin, zhalim, kafir, himar dan semacamnya. Pernah terjadi sebuah kisah nyata. Seseorang datang kepada kiai guna mengadukan anaknya yang sering sakit. Si kiai, yang tak lain adalah KH Hasan Abdillah dari Banyuwangi bertanya, “Siapa namanya?”

Orang itu menjawab, “Oh, namanya bagus, Yai. Nama itu saya ambil dari Al-Quran.”

“Siapa?” tanya Kiai lagi.

“Musyrikin,” ucapnya mantap.

Si kiai terpana. Walau pun diambil dari Al-Quran, namun artinya tidak baik, pikir Kiai. Lafal itu berarti “orang-orang musyrik.” “Itulah, makanya anakmu sering sakit,” ujar Kiai sambil menahan geli. “Ganti namanya!”

Jadi, mengambil lafal dalam Al-Quran untuk nama anak memang baik namun jangan asal comot. Harus dilihat dulu artinya. Ambil yang baik saja. Kalau tidak tahu artinya, tanyakan kepada ahlinya.

Ada pula lafal-lafal yang baik artinya tapi tidak cocok sebagai nama. Misalnya nama-nama Allah yang terkumpul dalam asmaul husna. Sebab, hanya Allah yang pantas dan berhak menyandang nama-nama tersebut. Nama-nama ini hanya cocok untuk Allah dan tidak boleh dipakai untuk nama manusia. Jadi, jangan menamakan anak Anda dengan “Rahman” dan “Khaliq (pencipta)” misalnya, tanpa menyertakan kata “abd” di depannya.

Nama-nama “Abdul ‘Uzza” dan “Abdul Lata” juga tidak baik karena Uzza dan Lata adalah nama-nama berhala orang musyrik Jahiliyah. Begitu pula nama-nama tuhan dan dewa dari agama lain, seperti Zoroaster (Majusi), Siwa, Brahma, dan Wisnu (Hindu). Semisal dengan ini adalah nama-nama baptis dalam agama Kristen seperti Christina, Lydia dan Agatha.

Akan lebih baik bila Anda meminta nama kepada orang saleh yang berilmu, semacam kiai dan wali. Pertama, karena mereka bisa membedakan nama-nama yang baik dari nama-nama yang buruk. Kedua, kita berharap barokah dari nama pemberian mereka seperti yang dilakukan oleh para sahabat kepada Nabi SAW.  Diriwayatkan bahwa ketika para sahabat mempunyai anak yang baru lahir, mereka datang pada beliau guna mendapat doa barokah sekaligus nama dari beliau. Begitulah seperti yang terjadi pada bayi Abu Thalhah r.a. yang beliau beri nama Abdullah.

Ketika Sayidatina Fathimah r.a. melahirkan putra pertama, suami beliau Sayidina Ali bin Abi Thalib r.a. memberinya nama Harb (perang). Namun, nama ini kemudian diganti oleh Rasulullah SAW dengan Hasan dan mereka pun mengikuti petunjuk Rasul. Begitu pula ketika bayi kedua lahir. Mula-mula, sebelum kedatangan Rasulullah SAW, bayi itu diberi nama Harb, namun beliau juga mengganti nama itu dengan “Husain.”

Jadi sekali lagi, pilihlah nama yang baik untuk putra putri Anda. Jika Anda kebetulan memiliki anak yang namanya tidak bagus, gantilah namanya dengan nama yang baik. Berkonsultasilah dengan orang alim dan saleh mengenai hal ini.

Pemberian nama yang baik disunnahkan dilakukan pada hari ketujuh kelahiran anak Anda. Tetapi bila Anda memberikan nama itu sebelum hari ketujuh atau sesudahnya juga tidak mengapa.

Aqiqah

Pada hari ketujuh juga disunnahkan mencukur habis rambut bayi lalu menimbangnya dengan emas atau perak. Emas atau perak seberat rambut itu kemudian disadaqahkan kepada kaum fakir miskin. Tentu saja kalau Anda memilikinya atau memiliki cukup uang untuk membelinya (emas atau perak). Kalau tidak, tentu tidak perlu memaksakan diri.

Sunnah pula pada hari ketujuh itu menyembelih hewan aqiqah, yaitu seekor kambing untuk bayi perempuan dan dua ekor kambing untuk bayi lelaki.

Bagaimana kalau pada hari ketujuh Anda tidak memiliki cukup uang untuk membeli kambing? Menurut mazhab Syafi’i, menyembelih hewan aqiqah boleh dilakukan setelah hari ketujuh hingga si anak mencapai akil baligh. Mengenai tata cara dan syarat-syaratnya, kita bisa mempelajarinya di kitab-kitab fiqih….!

(bersambung) Hamid Ahmad.

 

 

 

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.